Misi Jessy

Misi Jessy
Eksekusi


__ADS_3

Keesokan harinya Melva kembali dipanggil ke ruang dosen untuk menerima surat sanksi berupa skorsing atas tindakan Melva menjadi joki pembuatan disertasi.


"Mel, kami sudah membahas masalah ini dan kami tidak menemukan satupun bukti keterlibatan Pak Andre seperti yang kamu tuduhkan." ujar Bu Wiwik membuka pembicaraan mereka pagi itu.


"Memangnya bukti apa yang ibu harapkan? Lalu apa ibu juga punya bukti kalau saya memang terlibat dalam kasus menjijikkan seperti itu? Apa ada bukti bahwa para doktor itu mengenal saya?"


"Mereka semua mengaku mengenal kamu dan tergiur dengan tawaran kamu untuk mengerjakan disertasi mereka." Pak Dimas kembali mengingatkan tentang bukti rekaman yang sudah mereka miliki.


"Apa Bapak pernah berfikir bahwa Pak Andre mungkin sengaja merekayasa rekaman itu dan memaksa mereka mengaku seperti itu supaya dia bebas dari segala tuduhan?" tanya Jessy lagi.


Para komisi disipliner kembali saling pandang.


"Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, saya berniat membawa kasus ini ke jalur hukum karena saya sama sekali tidak merasakan adanya keadilan dan ketidakberpihakan di sini. Soal sanksi yang Bapak & Ibu berikan kepada saya, saya akan menerimanya dengan senang hati. Meskipun saya perlu memikirkan kembali akan mematuhinya atau tidak."


"Melva!" bentak Pak Dicky emosi.


Tok... Tok...


Seseorang mengetuk pintu ruang dosen dan tak lama kemudian seseorang mengantarnya menuju ruang rapat tempat Melva tengah diintrogasi oleh para tim komdis.


"Permisi.."


"Kak Evan?! Ngapain Kak Evan kesini?"


"Maaf anda ini siapa? Kami sedang rapat -"


"Perkenalkan Pak, Bu, saya walinya Melva. Nama saya Evan."


"Oh, Pak Evan. Ada yang bisa kami bantu?" tanya Pak Abdul.


"Boleh saya duduk?" tanya Evan santai.


"Tentu."


'Bisa-bisanya dia berulah kaya gitu padahal situasi lagi tegang.' rutuk Jessy kesal.


"Jadi saya datang ke sini untuk mendampingi Melva. Dia sudah cerita banyak soal masalah disertasi itu. Dan saya dengar hari ini dia akan dikenai sanksi atas kasus itu."


"Maaf Pak Evan, kami turut prihatin dengan adanya masalah ini. Tapi isu ini sudah menyebar luas dan menjadi buah bibir di seluruh penjuru kampus. Kami khawatir kalau dibiarkan begitu saja, nama baik kampus kami akan tercemar karena kesalahan satu orang."


"Oh, jadi begitu. Sebenarnya saya datang karena tidak paham kenapa harus Melva yang disalahkan padahal kalau saya perhatikan dia lebih pantas disebut sebagai korban daripada pelaku."


"Maksud Pak Evan apa?"


Evan menyodorkan amplop coklat yang berisi beberapa bukti yang berhasil ia kumpulkan beberapa hari ini.

__ADS_1


Pak Abdul menerima dan membukanya satu per satu. "Apa ini?"


"Itu ada rekaman percakapan wa antara para Pak Andre dengan para doktor itu. Disitu juga ada bukti penerimaan dana dari para doktor itu ke rekening Pak Andre. Juga foto yang saya kumpulkan dari beberapa tempat yang menunjukkan bahwa Pak Andre bertemu dengan mereka beberapa kali."


Evan kemudian mengeluarkan ponselnya dan memutar salah satu rekaman vidio amatir yang diambil salah satu mahasiswi yang tidak sengaja merekam ketika Melva masuk ke dalam ruang dosen dengan tangan kosong dan kembali dengan setumpuk dokumen yang tidak lain adalah disertasi yang diserahkan oleh Andre.


"Saya sudah mengkroscek ketepatan waktunya dan memang benar pada saat itu Pak Andre sedang tidak ada di dalam kelasnya dan tempat lain. Karena dia sedang menemui Melva di ruangan ini, satu-satunya ruagan yang tidak terjangkau cctv."


Para tim komite disipliner merasa tercengang dengan bukti-bukti yang Evan bawakan. "Bagaimana Pak Evan bisa mendapatkan semua ini?"


"Seharusnya saya yang bertanya, bagaimana bisa tim komdis sama sekali tidak menemukan bukti yang begitu banyak bertebaran?"


Brak!


Pak Dicky menggebrak meja dan berdiri dari duduknya. "Pak Evan menuduh kami bersekongkol dengan Pak Andre?"


"Maaf, apa Bapak mendengar saya bicara seperti itu?" balas Evan santai. "Seperti yang Melva katakan, kasus ini tidak hanya mencemarkan nama baik kampus tapi juga nama baik Melva. Karena itu, kami berniat membawa kasus ini ke jalur hukum."


Jessy tersenyum mendengar perkataan suaminya. Pria itu selalu tahu apa yang ia inginkan dan bagaimana cara mendapatkannya.


"Baiklah, kalau begitu kami permisi." Evan mengajak Jessy pergi meninggalkan mereka.


"Pak Evan, tunggu! Mari bicarakan ini baik-baik! Pak Evan! Tunggu!"


********


"Hp-nya Andre yang diam-diam dicuri Aldo, dari para gadis cantik di kantin dan dari hasil meretas beberapa kamera cctv."


"Waw!" Jessy tidak bisa berkata-kata lagi.


Di satu sisi, ia merasa sangat senang dan berterima kasih karena Evan berhasil membantunya dan membersihkan nama baiknya. Tapi di sisi lain, ia juga merasa malu karena sudah salah menilai Evan dan gadis-gadis di kantin itu.


"Oh ya, ada satu lagi. Dari Mirza. Dia yang menemukan petunjuk tentang tempat-tempat yang sering dikunjungi Andre untuk bertemu dengan kliennya."


"Mas Mirza?"


Evan mengangguk. "Tapi kamu ngga perlu lagi berterima kasih sama dia karena dia ngga ada urusan lagi sama kamu. Aku udah beresin semuanya."


"Apaan sih?" Jessy tersenyum melihat tingkah suaminya yang tak kalah menggelikan darinya. "Jadi apa kita benar-benar perlu membawa masalah ini ke jalur hukum?"


"Tentu. Apa yang Andre lakukan sudah mengarah ke tindak pidana penipuan. Kalau dibiarkan akan lebih banyak lagi orang yang menggunakan jasanya untuk menipu almamater mereka. Terlebih lagi dia sudah memanfaatkan dan memfitnah kamu. Dan aku ngga akan pernah bisa maafin itu."


"Oke, lakuin aja apa yang terbaik menurut Kak Evan."


******

__ADS_1


Setelah menuntaskan misinya di Surabaya, Evan akhirnya kembali ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan yang sudah menumpuk akibat absennya beberapa hari ini.


Jessy kembali menjalani kesehariannya sebagai mahasiswa yang berhasil mengungkap skandal joki disertasi yang dilakukan oleh oknum dosen. Ia yang awalnya dicerca karena dianggap sebagai pelaku sekarang berubah jadi pahlawan.


Namun, diantara banyaknya pujian itu makin merebak juga gosip yang menyebutkan bahwa dirinya sudah menikah. Dan itu cukup membuat Jessy lelah harus berkali-kali mendengar pertanyaan yang sama dari teman-temannya.


[Emang kamu beneran udah nikah, Mel?]


[Katanya suami kamu masih muda dan ganteng banget.]


[Katanya gagah juga kaya bintang film]


[Dan kaya juga.]


[Ada yang bilang kalau dia pemilik perusahaan IT di Jakarta. Emang beneran?]


[Wah, hebat banget kamu, Mel. Punya suami yang masih muda, ganteng dan kaya raya. Cowok idaman banget...]


[Ganteng mana sama Mas Mirza?]


[Katanya sih sama gantengnya. Tapi suaminya Melva lebih ramah daripada Mas Mirza.]


"Bisa ngga kalian berhenti ngegosipnya? gue bosen banget kalian bahas itu seharian. Plis...." pinta Melva pada teman-temannya yang tak henti-hentinya bergosip.


"Mel, tinggal jawab aja apa susahnya sih? Kamu beneran udah nikah apa belum?"


"Iya! Gue udah nikah! Puas lo?!" Jessy bangun dari duduknya dan bergegas pergi keluar kelas.


Tapi ia melihat Mirza yang sedang berdiri mematung di depan pintu. Kali ini ia yakin Mirza mendengar jelas tentang pengakuannya. Tapi ia tidak peduli. Ia sedang tidak ingin memungkiri hubungannya dengan Evan. Sekalipun itu di hadapan Mirza.


Sementara itu, Mirza yang mendengar pengakuan Jessy merasa sangat terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Melva akan semudah itu melupakan dan mengkhianatinya. Ia bahkan mempertanyakan tujuan kedatangan Melva ke kampus itu jika bukan karena dirinya.


"Pak!" sapa salah seorang mahasiswa yang cukup mengejutkan Mirza.


"Ya?"


"Kenapa Bapak berdiri di situ aja? Ngga mau dimulai kelasnya?"


"Oh iya.." Mirza kembali ke mejanya lalu membuka kelas hari itu dengan pikiran kalut.


Melva tidak ada di bangkunya. Sejak keluar tadi, ia belum juga kembali. Mirza gagal fokus hari itu. Ia banyak melakukan kesalahan saat menerangkan dan membuat mahasiswanya semakin bingung. Ia akhirnya menyerah, menyudahi kelas hari itu lebih awal dan memberikan tugas untuk diselesaikan sampai jam pelajaran berakhir.


"Pak Mirza kenapa yah? Ngga biasanya dia salah-salah kaya gitu.." ujar salah satu mahasiswi.


"Iya loh... Padahal biasanya dia lebih cepat dan akurat daripada kalkulator. Kenapa hari ini kacau gitu yah?" timpal mahasiswi lainnya.

__ADS_1


Aldo yang tidak terlalu memahami situasinya hanya diam saja dan memilih untuk mengirim rekaman vidio pengakuan Melva kepada Evan.


__ADS_2