Misi Jessy

Misi Jessy
Kepingan Masa Lalu


__ADS_3

Ketika memasuki hari pertamanya, Jessy merasa ragu apakah keputusannya untuk menghabiskan empat tahun pendidikannya di kampus itu adalah keputusan yang tepat. Bagaimanapun juga, angka merupakan momok yang menakutkan bagi Jessy sekalipun ia bisa mengatasinya dengan mudah menggunakan otak encer Melva.


Semasa hidup, Jessy tidak pernah memikirkan hal lain selain berenang. Ia tidak ingin kuliah apalagi mengambil jurusan pendidikan matematika seperti yang dilakukannya sekarang. Dulu, ia hanya ingin menjadi atlet renang profesional, berlatih dan berlomba tanpa pusing memikirkan akar sin, cos, tan, pangkat, kuadrad dan kawan-kawannya.


Fakta bahwa Jessy tidak mengenal siapapun dan bisa lebih bebas menjadi dirinya sendiri di kampus barunya memberi sedikit angin segar baginya.


"Kamu juga mahasiswa baru?" tanya salah seorang pria berkulit putih dan berwajah bulat cubby.


"Ah, iya. Elo?"


"Sama. Aku Aldo. Kamu?"


"Jess- Ah, Melva."


Jessy sedang tidak ingin berurusan dengan siapaoun pagi itu, jadi ia memilih untuk menghindari obrolan lebih panjang dengan Aldo yang mungkin akan membuat keduanya jadi lebih akrab.


"Gue mau ke kantin dulu." Jessy sengaja mencari jalan lain agar tidak terus bersama Aldo sampai ke kelasnya.


Tapi bukannya bergegas pergi, Jessy justru berdiri terpaku melihat sesosok pria yang begitu mempesona. Perawakannya tinggi, kulitnya sedikit kecoklatan, dengan tulang rahang dan pipi yang tegas, juga tatapan mata yang dingin, jelas menunjukkan bahwa dia bukan tipikal orang yang usil dan suka mencampuri urusan orang lain. Tipe yang sangat ideal bagi seorang Jessica Abraham.


'What the h**l! Gimana mungkin ada cowok sekeren itu disini?' gumam Jessy dalam hati.


Pandangannya tidak bisa beralih dari pria yang terus berjalan ke arahnya itu.


'Tuhan inikah rencana terindah yang kau persiapkan untukku? Bahwa aku akhirnya bisa menemukan pria yang sudah lama kuimpikan? Pria yang hanya sibuk mengurusi hidupnya dan hidupku saja, yang satu kerlingan matanya sanggup meluruhkan semua keluh kesah dan rasa kesal yang sering menghampiriku.'


Jessy terus saja membantin sampai ia lupa bahwa ia sudah menikah dan tidak sadar bahwa pria itu semakin mendekat ke arahnya.


Ketika sadar dari lamunannya, Jessy bersiap untuk berpura-pura menabrak pria keren itu seperti di film-film agar ia memiliki kesempatan untuk mendekati pria itu.


Tapi belum sempat Jessy beraksi, pria itu sudah lebih dulu memeluknya dan mendekapnya erat sampai ia kesulitan bernafas.


"Aku senang kamu akhirnya benar-benar datang." ujar pria itu sambil tetap memeluk Jessy.


Jessy yang masih shock dengan sikap pria itu hanya bisa diam dan mendengarkan saja tanpa bisa berkata-kata. Ia senang karena berada di pelukan pria idamannya, tapi juga heran kenapa pria itu memeluknya begitu saja.

__ADS_1


"Aku tahu kamu pasti kembali. Aku sudah lama nungguin kamu, Mel."


Jessy langsung melepaskan pelukan dan menjauhkan tubuhnya dari pria itu. "Mel? Siapa lo?! Ngga diajarin sopan santun? Enak aja main peluk orang sembarangan."


Suara lantang Jessy langsung menarik perhatian banyak mahasiswa yang lewat di sekitar mereka, termasuk Aldo yang juga masih berdiri di sana, tidak jauh dari Jessy.


Merasa dipermalukan oleh Jessy, pria itu langsung pergi tanpa mengatakan apapun.


"Mel, bukannya kamu mau ke kantin?" tanya Aldo sembari mempercepat langkahnya mengikuti langkah Jessy.


"Selera makan gue ilang." jawab Jessy singkat.


"Kamu kenal sama cowok tadi?"


Jessy menggeleng yakin. Ia sama sekali tidak mengenal pria itu dan ia kecewa karena pria itu malah mengenal Melva, bukan dirinya.


'Kenapa sih Mel mereka selalu aja ngenalin elo? bukannya gue? Dulu Evan dan sekarang cowok itu.' batin Jessy kesal.


****


Ia duduk di samping Aldo yang ternyata sekelas dengannya dan memutuskan untuk memilih mengekornya.


Tak lama kemudian seorang pria berkaca mata masuk lalu menutup pintu dan mulai memperkenalkan diri sebagai dosen.


"What?!" Jessy tidak percaya bahwa pria yang ditemuinya tadi ternyata adalah dosennya.


"Mel...." Aldo tak kalah kagetnya dengan Jessy.


"Karena usia kita tidak terpaut jauh, jadi kalian bisa panggil saya Mas Mirza. Saya akan mengajar mata kuliah Aljabar. Dan kebetulan saya dipercaya untuk menjadi dosen wali kalian."


Pertama kalinya Jessy merasa ingin mewek dan melarikan diri karena malu dan merasa sangat bodoh telah mempermalukan dosen walinya sendiri. Ia benar-benar frustasi membayangkan bahwa ia akan menjalani tiga sampai empat tahunnya ke depan bersama pria itu.


Seakan dapat membaca pikiran Jessy, Mirza terlihat memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk membalas perbuatan Jessy.


"Ini bangku depan kenapa dikosongi? Semua orang di DPR saling berebut kursi paling depan, eh disini malah disia-siakan. Ayo yang duduk di deretan belakang paling ujung bisa maju. Kita baru akan memulai kelas kalau semua bangku di deretan depan sudah terisi penuh."

__ADS_1


Jessy benar-benar tidak percaya bahwa ia akan dipaksa menduduki bangku kosong yang tepat berada di hadapan meja dosen. 'Sial! Mimpi apa sih gue semalem?'


Karena tidak punya pilihan lain, Jessy terpaksa menurut dan pindah tempat duduk. Jessy memiliki firasat bahwa hari-harinya akan semakin berat karena harus berurusan dengan orang yang salah.


******


Sepulang kuliah, Jessy buru-buru mencari buku harian Melva dan mencari cerita tentang Mirza. Jessy yakin Melva pasti tidak akan melewatkan cerita untuk pria sekeren dan seseram Mirza.


Setelah membolak-balik banyak halaman, Jessy akhirnya menemukan sesuatu. Sebuah surat yang tidak terlipat rapi dan terselip di dalam buku harian itu, namun pernah terkirim kepada si penerima.


Jakarta, 04 September 2016


Dear Mas Mirza,


Maaf karena harus pergi dengan cara seperti ini. Hari itu aku berniat pergi untuk menemuimu di stasiun seperti kesepakatan kita. Tapi sesuatu terjadi dan aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku hanya berharap bahwa Mas Mirza akan lulus dan bisa segera menjadi dosen agar kita bisa bertemu kembali di kampus impian kita.


Salam,


Melva.


Jessy kemudian mencari catatan lain di dalam buku harian Melva tentang kejadian yang dibicarakan Melva dalam suratnya itu.


1 September 2016


Kemarin sore Mas Mirza akan kembali ke Jogja jadi aku bergegas pergi untuk menemuinya di stasiun. Tapi Lili tiba-tiba saja datang ke rumah dan memaksa untuk ikut. Aku tidak punya pilihan lain selain mengajaknya karena tidak punya lebih banyak waktu berdebat dan mencari-cari alasan untuk mencegahnya.


Tapi tiba-tiba saja seorang pengendara motor menabrak kami dengan sangat kencang dari belakang sampai motor kami oleng dan Lili terlempar beberapa meter. Orang itu melarikan diri dan tidak ada satupun saksi di sana.


Tak lama kemudian beberapa orang datang dan menolong kami. Mereka membawa kami ke rumah sakit, tapi Lili akhirnya meninggal dunia karena mengalami pendarahan hebat di bagian kepala.


Itu adalah kali pertama aku menyaksikan kematian di depan mata kepalaku sendiri dan dia adalah sahabatku sendiri yang sedang pergi bersamaku. Aku merasa sangat terpukul tapi orang-orang kemudian menyalahkanku dan menuduhku membunuh Lili karena mengebut.


Tak seorangpun percaya bahwa kami korban tabrak lari. Tak seorangpun mau mendengar penjelasanku. Karena aku bahkan tidak sanggup mengatakan bahwa orang itu adalah papanya Mas Mirza. Aku sudah memutuskan bahwa akulah penyebab kematian Lili dan bersedia menanggung semua akibatnya.


Aku ..........

__ADS_1


Cerita di dalam buku harian Melva terputus hanya sampai di situ. Jessy tidak percaya bahwa ayahnya Mirza terlibat dalam tabrak lari seperti pengecut dan bahwa Melva yang berotak encer memilih untuk menyalahkan diri sendiri dan demi menutupi kejahatan yang dilakukan orang lain.


__ADS_2