
Fania menghampiri Jessy dengan berapi-api.
"Lo pasti bohong kan, Mel?"
"Soal apa?"
"Soal sekolah lo di luar negeri. Gue yakin lo ngga bener-bener ada di Kanada."
"Maksud lo apa?"
"Kakak gue bilang pernah lihat lo terlibat sebuah kecelakaan di jalan."
"Terus kenapa kakak lo ngga nolongin gue kalau emang kenal? Ngarang aja sih lo."
"Mel lo tahu kan bokap gue punya banyak chanel? Lo bakal ungkap semua kebohongan lo. Gue bakal buktiin kalau semua yang lo dan Pak Evan omongin itu semuanya rekayasa."
"Gue ngga sabar nunggu karena gue juga punya kejutan buat elo." Melva menyerahkan flashdisk berisi rekaman cctv ketika Fania dan Mei menuangkan minyak di dekat kolam renang waktu itu.
******
Jessy akhirnya bisa menuntaskan misinya satu per satu, kini ia bukan hanya seorang siswa jenius tapi juga calon atlet renang masa depan. Selain itu, ia juga istri dari seorang pengusaha yang baru merintis usahanya di bidang pengembangan tehnologi.
Semua rencana Evan dan Jessy berjalan mulus. Melva akhirnya diterima kembali di SMA Galaxy dan mendapat pelatihan intensif dari Coach Andre, pelatih profesional sebuah club renang ternama. Mantan atlet renang nasional itu merasa sangat tertantang untuk melatih bibit baru dengan kondisi tidak lazim seperti Melva.
Selain itu, Andre juga memiliki alasan khusus. Ia melihat Melva memiliki banyak kesamaan dengan mantan atlet berbakat yang dilatih dan dibesarkan oleh mantan kekasihnya, Rosana. Dan mantan atlet berbakat itu adalah Jessica Abraham.
Selain jadwal latihan renangnya yang lebih banyak, tidak ada hal lain yang berubah dari proses belajarnya di SMA Galaxy. Oh, ada satu lagi yang berubah. Sejak kembali ke SMA Galaxy, sikap Diana terhadapnya berubah seratus delapan puluh derajat.
Gadis yang dulu menjadi musuh bebuyutan Jessy gara-gara dikalahkan Jessy dalam kontes Miss Galaxy itu sekarang menjadi sangat baik dan perhatian kepada Melva. Diana berkali-kali mengatakan bahwa ia sangat menyesal telah berbuat buruk kepada Jessy dan ingin menebusnya kepada Melva karena ia merasa sejak kembali, Melva selalu mengingatkannya kepada sosok Jessy.
Ketika Jessy absen dari beberapa kelas pelajaran, maka Diana yang juga sekelas di kelas aksel bersama Jessy, akan diam-diam meninggalkan buku catatan ataupun flashdisk yang sudah berisi kopian materi yang disampaikan guru pada hari itu. Ia juga tidak ragu untuk membantu Jessy mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru mereka dengan suka rela. Dan itu semakin membuat Fania jengah.
*****
Pagi itu, Diana membawakan bekal berisi roti lapis dan buah-buahan kesukaan Jessy di meja Melva. Ia tahu bahwa hari itu Melva akan melakukan tes di luar sekolah.
"Di, lo gila ya? Ngapain lo segitunya sok mau support Melva segala?" Fania mulai memprovokasi Diana.
"Dia berjuang melawan traumanya untuk bisa ikut club renang dan memenangkan lomba antar sekolah. Apa salahnya kalau kita dukung dia?" Jawab Diana dengan antusias.
__ADS_1
"Lo tu bego apa gimana sih? Ini bukan lomba antar sekolah lagi tapi tingkat nasional. Seleksi masuk timnas yang akan berlaga di olimpiade tahun depan."
"Apa?"
"Posisi yang sama dengan Jessy dulu."
*****
Sementara itu, di tempat lain kedekatan Evan dan Melva juga semakin erat. Hari itu Evan merasa sangat menyesal karena tidak bisa menemani Melva ke gedung olahraga untuk mengikuti seleksi timnas karena ia ada pekerjaan penting yang tidak bisa ditinggalkan.
"Aku ke tempat Pak Andre dulu yah? Banyak yang mesti disiapin buat seleksi nanti siang."
Evan menarik tangan Melva, "Kenapa sih, kamu jadi makin lengket sama Andre daripada aku."
"Kak! Apaan sih? Kita kan lagi prepare buat seleksi msuk timnas. Ya, jelas intens lah.."
Evan memasang muka manyun. "Tapi aku ngga suka kamu akrab dan dekat sama cowok manapun selain aku."
"Lah, gimana ceritanya? Kalau gitu kenapa Kak Evan ngga jadi couch aku aja daripada terus-terusan nganiaya komputer sampai pusing gitu?"
"Passion, sayang!"
"Sapa yang suruh pake nempel-nempel? Awas aja kalau sampai kalian dekat melebihi jarak lima puluh centi!"
"Cih! Pak Andre kemarin peluk aku waktu latihan meluncur."
"Apa?!"
"Sama Bu Rosana juga, sayang! Cemburu?"
"Dih, siapa juga yang cemburu? Andre pasti butuh tes kewarasan kalau memilih kamu daripada Rosana."
"Awas ya!"
*****
Jadwal seleksi mengalami keterlambatan karena ada beberapa kendala tehnis. Tapi semua kembali berjalan lancar sesuai rencana sesudahnya. Beberapa peserta telah melakukan aksinya di lintasan kolam yang disediakan hingga tiba giliran nama Melva dipanggil untuk menempati lintasan ke empat, posisi yang pernah diduduki Jessy tahun lalu.
Pistol ditembakkan ke udara dan Melva mulai meluncur dan berenang mengarungi lintasan sepanjang empat ratus meter dengan gaya bebas. Tidak ada hambatan yang berarti dan Melva berhasil mencatatkan namanya sebagai pencetak catatan waktu terpendek dan berhasil menduduki peringkat pertama.
__ADS_1
Jessy merasa senang bisa menuntaskan misi ketiganya. Ia merasa bangga kepada dirinya sendiri dan juga Melva. Tiba-tiba saja Evan datang dan memeluknya lalu memberinya sebutir coklat sebagai ucapan selamat.
Semuanya sempurna dan kesempatan untuk bisa bergabung dengan tim nasional dan menakhlukkan arena olimpiade sudah di depan mata. Sampai Diana datang dan mengacaukan hidup Jessy untuk kesekian kalinya.
Ia membuat keributan dan mengatakan kepada panitia bahwa Melva sudah menikah dan diduga sedang hamil. Sontak saja berita itu kembali menghebohkan panitia dan seisi gelora.
Andre dan Evan kompak mencegah Diana bicara lebih banyak dan buru-buru membawanya keluar dari gelora. Sementara itu Melva diminta untuk menghadap panitia dan memberikan klarifikasi kepada pihak federasi. Dan untuk sementara waktu kemenangannya hari itu ditangguhkan sampai federasi mengeluarkan keputusan terkait hal itu.
Diana yang terlihat sangat kacau menghampiri Melva yang berjalan gontai keluar dari ruangan sidang internal.
"Mel, tolong maafin gue. Gue ngga bermaksud buat ngerusak keberhasilan lo." ujar Diana ditengah isak tangisnya.
"Lalu kenapa Di? Kenapa lo tega ngelakuin ini ke gue?"
"Karena gue ngerasa bersalah sama Jessy. Gue ngga pengen lo ngerebut mimpi Jessy. Lo punya tempat sendiri di olimpiade matematika, Mel. Tapi bukan di renang dan timnas."
"Lo ngga berhak nentuin dimana tempat gue! Lo ngga tahu usaha yang gue lakuin buat sampe disini! Lo udah ngancurin hidup gue, Di! Lo jahat!!" Melva mendorong tubuh Diana.
"Mel tunggu!" Andre berusaha menenangkan Melva tapi sia-sia.
"Mel!" Rosana juga tidak berhasil menahan Melva.
Gadis itu mengunci diri di kamar mandi wanita dan menumpahkan semua amarah dan kekesalannya disana.
"Van, gimana ini? Semua hancur gara-gara ini. Kenapa lo ngga bilang dari awal kalo kalian udah nikah?" Andre terlihat sangat kecewa.
"Karena gue pikir Mel masih punya kesempatan. Karena gue berharap dengan ngerahasiaiin ini Mel masih bisa mewujudkan cita-citanya."
"Lo egois Van. Kalau lo tahu Mel berhak mencapai mimpinya, mestinya lo ngga nikahin apalagi ngehamilin dia! Elo yang jahat. Elo yang udah ngancurin hidup Mel!" Rosana tidak kalah geram.
"Tapi bukan gue -" Evan sadar bahwa ia tidak mungkin menjelaskan bahwa Melva mengandung anak James di luar nikah. "Sori..."
Harapannya kepada Melva tidak kalah besar. Ia merasa menemukan kembali Jessy dan memiliki kesempatan untuk kembali membawanya ke puncak karir. Tapi kenyataan telah merusak segalanya.
"Gue tahu. Ini semua salah gue dan gue siap menanggung semua resikonya. Tapi apa ada peluang untuk Mel-?"
"Ngga ada Van. Satu-satunya kesempatan yang Mel punya sekarang sudah hancur berkeping-keping!" Suara Rosana kian meninggi tak terkendali.
Andre tahu bagaimana perasaan Rosana, tapi ia tidak ingin emosi semakin memperburuk keadaan. Jadi ia memilih untuk menenangkan Rosana dan membawanya menjauh sesaat dari Evan. Mereka perlu menenangkan diri masing-masing.
__ADS_1