
Hari berlalu dan Mirza merasa bahwa keputusannya untuk mengabaikan permintaan Melva bukanlah hal yang tepat. Bagaimanapun, Melva bukan tipe orang yang mudah untuk meminta pertolongan. Selain itu, ia bersikeras mengatakan bahwa itu adalah hal penting yang belum bisa ia jelaskan alasannya.
Mirza kemudian memutuskan untuk mendatangi Melva di rumahnya. Sore itu dari kejauhan ia melihat Melva belajar menyalakan motor, lalu mengendarainya pelan-pelan tapi kemudian oleng dan tak tentu arah hingga nyaris roboh.
Gadis itu kemudian mencoba lagi. Kali ini lebih berhati-hati. Ia sudah mulai bisa bertahan pada posisinya, tapi kesulitan mengendalikan laju motornya sampai nyaris menabrak pohon karena terlalu kencang menarik gas.
Mirza tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Melva yang dulu adalah gadis yang sangat jago mengendarai motor. Bahkan tidak sedikit yang menjulukinya pembalap edan. Sekalipun mengalami trauma, Melva tidak seharusnya kehilangan semua kemampuannya seperti itu. Melva yang sekarang terlihat seperti orang yang sama sekali belum pernah mengenal motor.
Mirza akhirnya memutuskan untuk turun dari mobilnya dan membantu Melva. Ia menghampiri Melva yang tengah terduduk di atas motornya yang sedang menyala.
Ia kemudian duduk di belakang Melva dan memposisikan tangannya di atas tangan Melva yang tengah memegang setang motor.
"Tarik gasnya perlahan! Seperti ini." Mirza mempraktekkan cara menarik gas motor.
"Loh kok Mas Mirza tahu rumah aku?"
Seakan tidak mendengar pertanyaan Melva, Mirza terus saja melanjutkan instruksinya. "Pastikan kamu mengendalikan rem ini dengan benar. Perhatikan haluan kamu dan jangan lupa menyalakan riting saat hendak berbelok."
Motor akhirnya melaju keluar dari rumah Melva menyusuri jalanan yang relatif sepi sore itu. Jessy sama sekali tidak menyangka bahwa Mirza akhirnya mau membantunya. Tapi ia sama sekali tidak konsentrasi mengingat tubuh dan tangan Mirza kini menempel kepadanya.
Keringat mulai mengalir membasahi pelipis dan punggung Jessy. Bukan karena cuacanya yang panas, melainkan karena jantungnya berpacu kencang melebihi kecepatan laju motor yang dikendaraainya.
"Eh, Mas. Bisa berhenti sebentar?" tanya Jessy tiba-tiba sambil menarik rem dengan sangat kencang sehingga tubuh Mirza tidak sengaja menabrak punggungnya.
"Ada apa?"
"Kita istirahat dulu." Jessy turun dari motor lalu mulai mengipas wajahnya dengan tangan.
Entah kenapa ia merasa wajah dan tubuhnya terbakar padahal hari sudah sore dan matahari hampir terbenam di ufuk barat.
Jessy tidak menyadari kepergian Mirza. Ia hanya tahu bahwa tak lama kemudian pria itu kembali dengan membawa dua botol air mineral. "Minum dulu, Mel!"
Jessy menerima air mineral itu lalu menenggaknya hingga hampir habis. Mirza menatap Melva dengan tatapan heran.
"Haus banget ya, Mel?"
"Iya, Mas. Panas banget."
__ADS_1
Mirza mengamati sekelilingnya dan masih juga tidak mengerti kenapa gadis itu merasakan panas padahal cuaca sore itu sangat sejuk.
"Jadi darimana Mas Mirza tahu kontrakan aku?"
Mirza tidak bisa mengatakan bahwa dialah pemilik rumah kontrakan yang ditempati Melva dan ibunya itu. jadi ia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Kita lanjut lagi yuk! Kali ini kamu coba setir sendiri."
********
"Ya ampun Mel, motornya kenapa? Kok bisa penyok gitu?" tanya Bu Rahma panik
"Tadi ngga sengaja nabrak rengkek besi, Bu."
"Lah kok bisa?"
"Tau ah." Jessy bersengut-sengut kesal sekaligus malu dengan kejadian yang dialaminya tadi lalu memutuskan untuk masuk ke kamarnya.
Mirza akhirnya menjelaskan bahwa Melva salah menarik gas ketika hendak mengerem di dekat lampu merah sehingga menabrak rengkek besi pedagang tahu yang kebetulan sedang berhenti menunggu lampu merah.
"Terus orangnya ngga papa?" tanya Bu Rahma.
"Ibu ngga tahu kenapa Mel tiba-tiba ngga bisa naik motor, padahal kan dulu dia suka banget naik motor kemana-mana."
"Mungkin seperti yang Mel bilang, Bu. Karena terlalu lama ngga naik motor setelah kecelakaan itu."
Bu Rahma terlihat tidak puas dengan alasan yang Mirza sampaikan tapi ia juga tidak menemukan alasan lain yang lebih masuk akal.
*******
Sementara itu, Jessy yang berada di dalam kamar terus menatap jam di dinding dengan cemas. Malam ini ia harus menghadapi Ali tapi ia tidak mungkin nekad mengendarai motor padahal hampir celaka karena menabrak rengkek.
Jessy merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia memikirkan segala cara untuk menyelesaikan masalahnya dengan Ali. Pria itu terlihat berbahaya baginya, jadi Jessy tidak ingin berlama-lama berurusan dengan pria itu.
"Ah, aku ada ide!"
********
__ADS_1
Jessy tiba di jalan Merdeka tepat waktu. Ia melihat Ali dan beberapa orang temannya sudah menunggunya di sana.
"Mel, ada apa ini? Kenapa kita kesini?"
"Mereka sudah menunggu kita."
"Mereka? Kita?"
Mirza mengikuti arah pandangan Melva dan menemukan Ali sedang duduk dan merokok di atas motornya bersama beberapa orang temannya. "Ali?"
Jessy mengangguk. "Mas Mirza tunggu disini!"
Jessy turun dari mobil Mirza lalu menghampiri Ali dan teman-temannya.
"Gede juga nyali lo!" puji Ali ketika melihat Melva menghampirinya.
Ia lalu celingukan melihat ke sekeliling, "Mana motor lo?"
"Gue ngga bisa naik motor setelah kecelakaan itu." jawab Jessy ragu.
Dan sontak disambut tawa cibiran dari Ali dan teman-temannya. "Jadi lo datang kesini buat ngaku kalah?"
"Bukan. Gue datang buat balapan sesuai tantangan lo. Tapi bukan dengan motor melainkan mobil."
"Apa?" Ali cukup kaget mendengar tantangan Melva.
Ali tahu betul bahwa Melva sangat jago mengendarai motor. Tapi mobil? Ali tidak yakin.
Setahu Ali, Melva tidak bisa mengendarai mobil karena ia tidak punya mobil waktu itu dan juga sekarang. Tapi bagaimana mungkin gadis itu justru menantangnya balap mobil.
Bagaimanapun juga, Ali tidak mau menyerah dengan gadis yang telah membunuh adiknya itu. Jika memang itu yang dia inginkan, maka Ali sebagai lelaki sejati yang tidak takut apapun, akan meladeninya dengan senang hati.
Ia kemudian menelepon seseorang dan tak lama kemudian sebuah sedan berwarna hitam datang menghampiri mereka.
"Gue terima tantangan lo!" ujar Ali sumbar.
Jessy segera berlari menghampiri Mirza. "Mas, boleh ya aku pinjem mobil Mas Mirza? Kali ini aja, plisss....."
__ADS_1
"Tapi buat apa? Memangnya kamu bisa nyetir mobil?"
"Kita coba dulu aja yah?"