Misi Jessy

Misi Jessy
Fakta lain


__ADS_3

Setelah kedatangan Melva ke rumahnya malam itu, Mirza memutuskan untuk kembali ke kampus. Meskipun ia berusaha untuk menjaga jarak dan bersikap dingin kepada gadis itu setelah mengetahui alasannya meninggalkan Mirza dulu.


Mirza yang berasa buruk karena keterlibatan ayahnya dalam kasus kematian Lili, sahabat Melva, juga tidak ingin lagi memaksakan perasaannya kepada Melva. Ia memilih untuk menyerah dan mengalir apa adanya.


Namun sikap dingin Mirza justru membuat Jessy makin tertantang. Ia sangat menyukai Mirza yang cuek dan easy going seperti dirinya. Ia merasa menemukan karakter yang pas dan sesuai dengan dirinya.


Semakin Mirza bersikap tidak peduli kepadanya, semakin Jessy sering menggodanya. Mulai dari diam-diam memberikan makanan di mejanya, mempersiapkan bahan presentasi untuknya sampai memberikan novel cinta terpopuler saat itu di atas meja mengajarnya.


Awalnya Mirza tetap bersikap tidak peduli meskipun sering menemukan makanan di atas mejanya atau menemukan materi presentasi sudah tersaji di layar saat ia masuk kelas. Tapi melihat ada novel cinta di atas meja tempatnya mengajar rupanya sukses membuat Mirza kalang kabut.


Bagaimanapun juga, ia tidak ingin citranya sebagai dosen cool, smart dan scientific tiba-tiba saja hancur karena novel fiksi itu. Ia buru-buru menutupi novel itu dengan buku materinya sebelum ada mahasiswanya yang melihat dan tentu saja Jessy tertawa senang melihat tingkah lucu dosen kesayangannya itu.


Merasa dipermalukan lagi oleh Melva, hari itu Mirza sengaja memberinya soal latihan yang membuatnya harus tinggal di kelas bila belum bisa memecahkannya. Dan berkat itu, hari itu Melva benar-benar harus pulang dua jam lebih lambat dari biasanya.


*******


Meskipun dikerjai oleh Mirza, tapi hari itu Jessy merasa sangat senang. Setidaknya Mirza kembali menjadi pria normal yang punya malu dan emosi lainnya, bukan hanya patung yang terus saja berusaha menyembunyikan perasaannya kepada semua orang termasuk dirinya.


Ketika ia hendak masuk ke dalam rumah, sebuah mobil masuk ke dalam halaman rumahnya. Ketika mesin dan lampu mobil dimatikan, Jessy baru bisa melihat bahwa itu adalah sebuah mobil jenis SUV berwarna hitam dengan plat nomor B 1174 ** . Tak lama kemudian Evan terlihat keluar dari dalam mobil dan memeluk Jessy yang tengah terpaku itu dengan hangat.


"Aku sengaja bawa mobil dari Jakarta supaya bisa ajak kamu ke Bromo."


Tidak mendengar jawaban dari Jessy, Evan akhirnya melepaskan pelukannya. Tubuh Jessy bergetar, wajahnya masih terlihat kaget dan air mata terlihat menggenang di pelupuk matanya.


"Sayang, apa kamu khawatir karena aku bawa mobil dari Jakarta? Ngga usah takut. Aku ditemenin David kok, dia lagi tidur di dalam mobil."


"Apa ini mobil Kak Evan?" tanya Jessy dengan suara parau dan bergetar.


"Bukan. Mobil aku lagi di bengkel. Ini aku pinjem mobil mama."

__ADS_1


"Apa?"


Jessy kembali teringat perkataan James waktu itu, tentang jenis, warna dan plat nomor mobil yang menabrak Melva. Juga tentang keyakinan James bahwa pengendaranya adalah wanita karena mengenakan jarinya terlihat lentik di atas kemudi dan mengenakan cincin di jari kelingking kirinya yang berkilau terkena cahaya matahari dan terlihat samar dari luar kaca jendela mobil yang gelap.


"Sayang, kamu kenapa?"


Jessy memegangi dadanya yang naik turun tak karuan. Ia bahkan nyaris terjatuh karena kesulitan mengatur nafas. Untung saja Evan dengan sigap menahan tubuhnya.


Jessy buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam. Evan langsung mengejarnya dan menggedor-gedor pintu, meminta Jessy untuk membukanya.


"Nak Evan, ada apa ini? kenapa ribut-ribut?" tanya Bu Rahma yang baru keluar dari kamarnya.


"Melva, Bu. Saya ngga tahu Melva kenapa. Tadinya semua baik-baik saja, tapi dia tiba-tiba terkejut dan ketakutan melihat saya datang membawa mobil. Sekarang dia malah mengunci diri di kamar."


Bu Rahma sama bingungnya dengan Evan. Dengan mendengar penjelasan Evan saja tidak bisa membuat Bu Rahma memahami sikap aneh putrinya itu. Tapi ia tahu persis bahwa memaksa Melva tidak akan menghasilkan apa-apa. Mungkin malah menambah keributan saja.


"Nak Evan, Nak Evan kan baru datang. Sebaiknya Nak Evan mandi dan istirahat dulu. Soal Mel, biarkan saja dia tenang dulu. Nanti juga dia bakalan keluar sendiri."


"Eh, ada Nak David juga tho? Ayo masuk!"


"Terima kasih, Bu."


"Duduk dulu. Kalian pasti cape sudah berkendara sangat jauh. Biar ibu bikinin minum dulu yah?"


"Lo kenapa sih, Bro? Kusut banget? Bukannya lo harusnya seneng bisa ketemu sama bini lo?" tanya David setelah Bu Rahma pergi ke dapur.


"Ngga tau, Vid. Melva tiba-tiba aja kaget dan nangis begitu tahu gue dateng naik mobil."


"Hemmm, pasti dia worry banget sama elo, Men."

__ADS_1


"Masalahnya, dia makin aneh waktu tahu kalau mobil itu mobilnya mama. Gue yakin ada yang ngga beres."


"Santai bro! Kita kan udah disini, besok juga lo bisa ngomong lagi baik-baik sama dia. Btw, ini rumah lo kecil banget yak? Gue ngga ngelihat ada kamar tamu. Terus ntar malem gue tidur dimana?"


Evan mengarahkan pandangannya menuju sofa yang sedang mereka duduki.


"Di sini?" tanya David memastikan. "Becanda kan lo?"


Dan begitulah adanya, setelah mandi dan makan malam, mereka akhirnya tidur di sofa malam itu.


*******


Malam itu Jessy tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan alasan yang mungkin Tarisa miliki untuk membunuh Melva. Jessy ingat betul bahwa Evan hanya kebetulan mengenal Melva dalam sebuah perjalanan menuju rumahnya dan mereka tidak pernah bertemu lagi setelah itu. Jadi Jessy yakin bahwa bukan Evan alasan Tarisa melakukan kejahatan yang sangat keji itu.


Ia kemudian memikirkan alasan lain. Apa mungkin ada hubungannya dengan Jessy? Tapi Jessy yakin mereka tidak saling mengenal sebaik itu sampai Tarisa tahu bahwa Melva bersalah karena berselingkuh dengan James, kekasih Jessy.


Selain itu, hubungan segitiga mereka sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tarisa dan Evan. Terlebih lagi, jika itu ia lakukan untuk Evan, karena kesal mengetahui calon istri anaknya berselingkuh, seharusnya yang ia salahkan adalah James, bukannya Melva.


Sekeras apapun Jessy berusaha memikirkan motif Tarisa membunuh Melva, ia sama sekali tidak menemukan kaitan yang masuk akal. Jadi ia hampir yakin bahwa James mungkin salah lihat atau salah mengingat plat nomor.


Bagi Jessy menyalahkan James tetap lebih mudah daripada memecahkan teka-teki yang jauh dari kata pasti itu. Jessy meyakinkan dirinya bahwa James mungkin salah lihat atau sengaja menuduh ibunya Evan untuk merusak hubungan Melva dan Evan.


Tapi untuk apa? Apa untungnya James merusak hubungan Melva dan Evan? James seharusnya bersyukur karena berkat Evan, ia tidak harus dipaksa menikahi Melva. Atau jangan-jangan James benar-benar mencintai Melva dan tidak rela Melva menikah dengan Evan?


Memikirkan itu saja membuat hati Jessy sakit dan dadanya terbakar cemburu. Bagaimanapun juga ia masih belum bisa terima bahwa Evan mengkhianatinya dengan gadis lain, terlebih lagi bahwa gadis itu adalah Melva, tubuh yang ia miliki sekarang.


"Ngga bisa! Gue ngga bisa jawab pertanyaan ini sendirian." gumam Jessy bicara sendiri.


"Tapi apa ia gue harus bahas ini sama Kak Evan. Ini kan soal mamanya? Gimana kalau ternyata kecurigaan gue salah? Dia pasti bakalan benci dan nyalahin gue karena memfitnah mamanya."

__ADS_1


Jessy kembali membentur-benturkan kepalanya yang terasa buntu ke sandaran ranjang. Pikirannya benar-benar kacau malam itu. Dan karena tak kunjung mendapatkan jawaban semalaman, pagi harinya ia memutuskan untuk membahas ini dengan Evan. Bagaimanapun juga, dialah satu-satunya orang yang paling berpotensi memiliki banyak informasi soal Tarisa dan juga Melva.


__ADS_2