Misi Jessy

Misi Jessy
Pengakuan Tarisa


__ADS_3

Sore itu mobil Mirza akhirnya tiba di pelataran sebuah makam di kota kecil yang berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari kota Surabaya.


"Kok kita ke makam sih, Mas?"


"Ada yang mau aku tunjukin sama kamu."


Mirza turun dari mobilnya lalu masuk ke dalam area pemakaman dan berhenti di depan sebuah batu nisan bertuliskan Gandhi Pratama bin Husain.


"Ini?" tanya Jessy tidak percaya.


"Iya, Mel. Ini makam ayah kamu. Beberapa tahun lalu, papa dinas di kota ini dan menangani korban tabrak lari yang tidak punya sanak famili. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di sini."


"Tapi gimana Mas Mirza tahu kalau ini ayah aku?"


Mirza menyerahkan sebuah dompet yang ia bungkus rapi dengan sebuah plastik kepada Melva.


"Papa nemuin ini di saku celana ayah kamu. Tapi tidak ada kartu identitas, ponsel, dan nomor telepon yang bisa dihubungi."


Jessy membuka dompet itu dan menemukan foto Melva kecil tengah tersenyum bersama kedua orang tuanya.


"Aku menyimpannya karena melihat foto kamu disana. Waktu ke Jakarta tiga tahun lalu, aku menceritakan soal ini kepada ibu kamu. Tapi beliau minta aku buat ngerahasiain ini kepada siapapun. Karena merasa aneh, aku memilih menyimpan dompet ini untuk bisa memberikannya kepada kamu."


Jessy menangis melihat senyum manis Melva di dalam foto itu. Ia tidak tahu kenapa nasib malang terus-terusan menimpa gadis manis itu. Melva bahkan bukan orang yang jahat tapi ia seakan tidak pernah mendapat keadilan dan selalu saja menjadi korban.


"Mel......"


Jessy buru-buru menghapus air matanya. "Ah, iya. Maaf Mas, aku ngga bisa nahan."


"Ngga papa, Mel. kalau kamu masih mau nangis disini nangis aja. Aku tunggu kamu di mobil."


"Ngga usah, Mas. Aku udah ngga papa." Jessy kembali melipat dompet ayah Melva.


Tapi saat hendak memasukkannya kedalam tas, ia kemudian melihat sebuah foto kecil jatuh dari dalam dompet itu. Jessy mengambil foto yang sudah terlihat rusak karena terlalu lama disimpan di dalam dompet yang lembab itu. Tapi meskipun samar, ia jelas bisa mengenali wajah yang ada di dalam foto itu. Ada Ayah Melva, Mamanya Evan dan juga papanya yang masih muda di sana.


********


Sementara itu, Evan sudah berhari-hari menyelidiki tentang dugaan keterlibatan mamanya dalam kasus kecelakaan Melva. Semakin ia mengetahui banyak fakta, semakin ia dibuat tercengang dengan apa yang mamanya lakukan selama ini.


Melalui penuturan asisten dan sopir pribadi mamanya, Evan mengetahui bahwa pada hari kecelakaan Melva, mamanya memang sedang pergi sendiri dengan mobil SUV hitam itu.


Bahkan Evan juga sempat mendengar dari salah satu kawannya di Oversea bahwa pada hari itu, ia memang sempat berpapasan dengan mamanya Evan di pintu gerbang menuju gedung olahraga tempat kejadian kecelakaan.

__ADS_1


Tidak hanya itu, menurut pemilik bengkel langganan Tarisa, mobil itu memang pernah diperbaiki karena mengalami beberapa penyok dan goresan di bagian depan. Katanya habis menabrak tiang.


Meskipun tidak berhasil mendapatkan satupun rekaman cctv, tapi Evan merasa bahwa kecurigaannya sangat beralasan. Terlebih lagi semua keterangan yang ia kumpulkan memang mengarah pada dugaannya.


Hari itu, Evan menemui James di pusat rehabilitasi. Ia ingin memastikan apa yang Jessy katakan kepadanya.


"Tapi apa sebenarnya hubungan anda dengan Melva? Kenapa Anda mencari tahu soal ini?"


"Melva istri gue."


"Ah.... Jadi anda yang menghamili Melva?"


Evan tersulut emosi dan hampir saja meninju wajah menyebalkan James. Tapi ia menahannya karena sadar masih memerlukan banyak informasi dari bajingan itu.


"Jadi apa yang lo tahu soal kecelakaan Melva hari itu?" ulang Evan sambil melepaskan James.


"Gue udah pernah kasih tahu semuanya sama Melva. Soal jenis, warna dan nopol mobil yang menabrak dia."


"Apa lo sempat lihat pengendaranya?"


"Ngga terlihat jelas karena kacanya gelap dan sinar matahari siang yang membuat silau."


"Bagaimana soal cincin yang lo ceritain?"


Evan menunjukkan cincin yang ada di jari kanan mamanya. "Seperti ini?"


"Mirip. Sudah gue bilang. Gue ngga lihat jelas karena kacanya gelap."


Evan langsung pulang untuk menemui mamanya.


"Hai, Van. Ada apa? Tumben jam segini sudah pulang?" tanya Tarisa yang sedang membaca majalah di ruang tengah.


"Ma, Evan mau nanya sesuatu sama Mama."


Tarisa menutup majalahnya dan meletakkannya di meja. Ia kemudian kembali ke posisi duduknya semula dan bersandar di sofa.


"Ada apa, Van?"


"Apa mama tahu soal kecelakaan yang menimpa Melva?"


"Melva? Kenapa tiba-tiba nanyain itu sama mama?"

__ADS_1


"Jawab, Ma!"


"Mama ngga tahu kenapa mama harus menjawab pertanyaan konyol kamu." tukas Tarisa sambil meminum tehnya.


"Karena ada orang yang melihat mama keluar dari gelora hari itu dan seolah sengaja melaju kencang untuk menabrak Melva."


"Dan kamu percaya?" tanya Tarisa santai.


"Ma!"


Sebuah pesan gambar masuk ke ponsel Evan.


"Mama ngga punya alasan buat ngelakuin hal konyol kaya gitu, Van."


"Oh ya?" tanya Evan penuh emosi. "Bagaimana dengan ini?"


Evan menunjukkan foto mamanya bersama Gandhi Pratama dan Tomi Abraham. Kali ini Tarisa cukup terkejut tapi ia berusaha mengontrol emosinya dengan baik.


"Memangnya kenapa dengan foto itu?" tanya Tarisa berlagak bodoh.


"Apa hubungan mama sama papanya Melva, Ma?"


"Dia teman mama. Sama seperti papanya Jessy. Dimana masalahnya?"


"Tapi Om Tomi mengatakan hal yang berbeda."


Evan memperdengarkan rekaman suara Tomi Abraham yang mengatakan bahwa Tarisa pernah dekat dengan Tama, ayahnya Melva tapi hubungan mereka ditentang keluarga Tarisa. Pada akhirnya Tarisa menikah dengan papanya Evan dan mendirikan MicroChip.


Setelah papanya Evan meninggal, MicroChip diambil alih oleh Mr. Joe, pemegang saham terbesar yang kemudian terlibat kasus korupsi dan dipernjara. Sekarang, MicroChip kembali ke tangan Evan sebagai pewaris sah perusahaan IT ternama itu.


"Itu cerita masa lalu, Van."


"Justru itu, Ma. Evan ngga ngerti kenapa mama harus berbuat sejauh itu kepada Melva? Apa salah dia, Ma? Dia bahkan ngga pernah tahu masa lalu papanya juga tumbuh tanpa kehadiran papanya. Kenapa Mama ngelakuin itu, Ma? Kenapa?!!!!" bentak Evan sambil menangis.


Ia benar-benar kecewa kepada mamanya. Wanita yang begitu dipuja dan dicintainya itu ternyata tega berbuat hal sekeji itu.


"Karena mama berharap Tama akan datang dengan sendirinya bila mengetahui bahwa putrinya mati. Mama sangat putus asa untuk menemukan dia. Mama ingin menyelamatkan MicroChip yang dibangun papa kamu, Van."


"Tapi kenapa Mama ngga pernah bilang kalau Mama pemilik MicroChip sebenarnya, Ma? Evan dengan bodohnya menjadi budah Mr. Joe tanpa tahu apa tujuan kalian sebenarnya. Kalian bahkan berkali-kali hampir mencelakai Melva hanya demi menyelamatkan diri kalian sendiri."


"Mama ngga bisa mengatakan bahwa MicroChip milik kita, Van. Mama harus melindungi papa kamu."

__ADS_1


"Apa maksud mama? Apa ini?" Evan menyerahkan data transaksi gelap penjualan narkotika yang melibatkan kedua orang tuanya. "Mama membunuh Melva untuk menyelamatkan diri mama sendiri."


"Darimana kamu tahu semua ini?"


__ADS_2