Misi Jessy

Misi Jessy
Pahlawan Kesiangan


__ADS_3

Jessy membaca lagi buku harian Melva dengan penuh emosi. Ia berharap mendapat lebih banyak petunjuk tentang Mirza tapi nihil.


Ia hanya tahu bahwa Melva akhirnya pindah ke Jakarta setelah keluar dari rumah sakit dan menulis surat untuk Mirza begitu tiba di Jakarta. Ia lalu mendaftar di SMA Galaxy dan bertemu dengan James di sebuah toko buku.


Kisah selanjutnya dipenuhi dengan kisah cinta Melva dan James yang membuat Jessy semakin mual setelah membacanya. Kenangan buruk tentang James yang berusaha dikuburnya dalam-dalam justru terbuka kembali malam itu dan sukses membuat selera makan malam Jessy hilang seketika.


'Kenapa sih Mel, lo malah bikin masalah sama Mirza? Padahal kan dia most wanted banget. Dan kenapa lo masih pengen balik ke kota ini lagi dan kuliah di tempat Mirza mengajar? Apa sih yang sebenernya lo pengen, Mel?' gumam Jessy kepada dirinya sendiri.


"Mel, ngomong sama siapa?" tanya Bu Rahma yang memutuskan untuk masuk ke kamar Jessy karena tidak mendapat jawaban saat mengetuk pintu.


"Oh, ngga kok Bu. Mel lagi ngomong sendiri, hehe.."


"Ya sudah, makan malam dulu yuk! Ibu sudah masakin tumis kupang kesukaan kamu."


'Tumis kupang?'


*******


"Mel, kok makanannya cuma dilihatin aja?"


"Ah, iya, Bu. Mel lagi ngga selera makan."


"Ada apa, Mel? Apa ada yang mengganggu kamu di kampus?"


Jessy menggeleng. "Tapi Mel ketemu sama Mas Mirza."


"Mirza? Ngapain Mirza di kampus kamu?"


"Dia dosen walinya Mel, Bu."


"Oh, jadi karena itu kamu ngga nafsu makan? Memangnya kamu masih suka sama dia?"


"Memangnya Mel suka sama dia?"


"Kamu ngga ingat?" tanya Bu Rahma ragu.


Dan tentu saja Jessy menggeleng.


"Kalian pernah pacaran dulu. Tapi ngga lama."


"Pacaran?!" Jessy tidak percaya bahwa Melva sudah lebih dulu memacari pria idamannya itu.


"Tapi ngga lama. Kalian putus karena kesalahpahaman. Dan ibu pikir Mirza akan membenci kamu karena itu."

__ADS_1


"Kesalahpahaman?"


"Ibu ngga terlalu yakin kenapa kamu tiba-tiba memutuskan Mirza gitu aja. Padahal ibu tahu kalau kamu sangat mencintai Mirza dan Mirza selalu memperlakukan kamu dengan baik. Tapi hari itu Mirza datang ke Jakarta untuk mencari kamu dan kamu mengatakan bahwa kamu sudah pacaran dengan pria lain."


"James?"


Bu Rahma mengangguk.


"Tapi tadi Mas Mirza bilang dia tahu kalau aku bakalan dateng dan dia sudah lama nungguin aku."


"Kalau ngga salah, waktu itu Mirza sedang menyelesaikan S2-nya di Jogja. Mungkin dia berencana menjadi dosen supaya bisa ketemu lagi sama kamu."


"Tapi kenapa kampus ini, Bu?"


"Ibu juga ngga tahu, Mel. Ibu yang seharusnya nanya gitu sama kamu."


Jessy jadi merasa bodoh karena mempertanyakan hal yang seharusnya ia sendiri yang tahu kepada orang lain.


"Jangan terlalu banyak memikirkan Mirza, Mel. Ingat! Kamu sudah nikah sama Evan."


'Ah benar juga.'


Jessy mencicipi tumis kupang yang baru pertama kali ia lihat. Seperti kerang tapi berukuran lebih kecil dan ditumis dengan irisan bawang dan cabai. "Ini apa sih, Bu?"


"Kupang, kesukaan kamu. Masa kamu juga lupa? Coba deh! Kamu pasti ketagihan."


Malam harinya, tubuh Jessy gatal dan bentol-bentol setelah makan kupang. Ia juga merasa pusing seperti orang mabuk. Bu Rahma yang mengetahui kondisi Melva buru-buru pergi untuk membeli air kelapa muda dan meminumkannya kepada Melva.


"Gimana, Mel? Sudah enakan?"


Jessy mengangguk. Ia tidak tahu bahwa tubuh Melva bisa alergi padahal kata ibunya ia begitu menyukai makanan laut yang satu itu.


"Kok kamu bisa keracunan ya, Mel? Padahal dulu kamu suka banget makan kupang dan ngga pernah alergi sekalipun."


"Mungkin kondisi tubuhnya Mel lagi ngga bagus, Bu. Jadi kena makanan asing sedikit aja bisa langsung alergi."


"Banyak perubahan yang kamu alami setelah kecelakaan itu, Mel. Ibu bahkan tidak tahu bahwa makanan yang dulunya kamu sukai, sekarang malah nyaris membahayakan kamu."


"Maafin Mel ya, Bu?"


Bu Rahma menggeleng, "Ngga, Mel. Bukan salah kamu. Ibu hanya perlu lebih banyak belajar untuk mengenal kamu yang sekarang."


Entah kenapa senyum dan perkataan Bu Rahma membuat Jessy merasa sangat bersalah.

__ADS_1


*******


Masa ospek tentu menjadi semacam tradisi tak tertulis yang dibudidayakan secara turun temurun dari senior ke juniornya. Begitu juga dengan Jessy yang terpaksa mengikuti kegiatan ospek yang sengaja diadakan pada akhir pekan pertama agar tidak mengganggu proses pembelajaran.


Para mahasiswa baru akan melakukan serangkaian kegiatan perpeloncoan yang mengatasnamakan perkenalan dan keakraban yang amat sangat dibenci Jessy. Meskipun tidak sepandai Melva, tapi Jessy sangat benci dibodohi dan diperlakukan seperti kambing congek.


Sabtu pagi itu, semua mahasiswa baru sudah berkumpul di pelataran kampus dan diberikan beberapa pengarahan terkait kegiatan yang akan mereka laksanakan tiga puluh enam jam ke depan.


Para mahasiswa baru yang datang dengan banyak perlegkapan untuk bermalam di kampus itu kemudian dibagi menjadi beberapa kelompok dan kebetulan Jessy berada dalam kelompok yang sama dengan Aldo.


Acara dimulai dengan berbagai sambutan dan pengarahan dari perwakilan pengajar dan juga panitia. Berbagai acara outbond kemudian dilakukan satu per satu. Mulai dari yang receh seperti permainan untuk melatih kekompakan antar tim sampai dengan permainan yang menurut Jessy sama sekali tidak masuk akan dan sengaja dibuat untuk menyalahkan mahasiswa baru agar bisa dihukum oleh para seniornya.


Jessy yang awalnya menurut saja ketika diperintahkan untuk bermain dalam tim, lama-lama tersulut emosi juga ketika tiba-tiba saja Aldo disalahkan karena gagal menyelesaikan salah satu misi yang menurut Jessy sangat konyol, yaitu mendapatkan tanda tangan dekan.


Aldo kemudian dipanggil dan dibentak-bentak karena dianggap meremehkan para seniornya. Yang membuat Jessy semakin geram adalah karena para senior memaki Aldo dan mengatainya sebagai anak manja yang ngga bisa apa-apa.


Seakan belum puas memaki Aldo, mereka kemudian menyuruh Aldo yang tambun untuk berlari mengelilingi kedung fakultas sebanyak tiga kali.


"Maaf, Kak. Saya rasa kakak sudah kelewatan." Sela Jessy yang tidak tahan lagi dengan tingkah konyol para seniornya.


"Siapa kamu? Mau jadi pahlawan?"


"Perkenalkan Kak, saya Melva dari jurusan pendidikan matematika angkatan 2018." tantang Jessy tanpa rasa takut sedikitpun.


"Oke, sekarang kamu mau apa?"


"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa Aldo tidak seharusnya dimaki dan dihukum seperti itu, Kak."


"Wah, baru masuk udah berani ngelawan yah? Kamu pikir kamu hebat?"


"Maaf, Kak. Bukan itu. Saya tahu saya mungkin tidak lebih baik dari kakak-kakak semua, tapi sejak awal, tugas yang diberikan kepada Aldo memang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin dia bisa meminta tanda tangan dekan padahal hari ini adalah hari libur?"


Aldo berusaha menarik tangan Melva untuk menghentikannya, tapi sia-sia. Gadis itu tetap saja merancau dengan semua argumen-argumennya.


"Lalu Kakak memaki Aldo dan mengatai bahwa dia anak manja yang tidak tahu apa-apa. Apa menurut kakak itu pantas untuk dikatakan seorang senior kepada juniornya?"


"Wah.."


"Dan terakhir, Kakak menghukum Aldo yang memiliki kelebihan berat badan untuk lari mengelilingi gedung fakultas sebanyak tiga kali. Apa kakak pikir dia akan sanggup?"


"Lalu apa kamu mau menggantikan dia? Lari tiga putaran?"


"Apa?!"

__ADS_1


"Dengar, anak baru! Jangan hanya karena kalian sudah diterima sebagai mahasiswa di kampus ini terus kalian merasa bahwa kalian hebat dan tahu segalanya. Hari ini kalian adalah junior kami, jadi kalau kamu keberatan dengan hukuman yang kami berikan kepada teman kamu, ada baiknya kalau kamu menggantikan dia atau kalian lari bersama supaya lebih akrab."


Dan hari itu Jessy tidak punya pilihan lain selain terpaksa menuruti perintah seniornya.


__ADS_2