Misi Jessy

Misi Jessy
Kunjungan Evan


__ADS_3

(Beberapa jam sebelumnya)


Evan yang baru tiba di bandara Surabaya langsung menghubungi Jessy yang tidak kunjung mengangkat teleponnya sejak ia berangkat dari Jakarta tadi.


"Halo sayang! Kamu kemana aja sih? Aku telponin kamu dari tadi ngga diangkat-angkat?"


"Iya maaf. Tadi masih ada urusan."


"Kamu lagi dimana?"


"Ini lagi cari makan di warung."


"Oh, pantes."


"Pantes kenapa?"


"Tadi aku telpon ibu karena kamu ngga bisa dihubungin. Kata ibu kamu lagi keluar."


"Ngapain pake telpon ibu segala sih?"


"Ya aku kan khawatir sama kamu."


"Aku kan udah gede, Mas. Bisa lah jaga diri sendiri."


"Aku kangen sama kamu."


Jessy tersenyum. "Aku juga."


"Ya udah, buruan pulang yah! Udah malam."


"Oke. Bye!"


Setelah menutup teleponnya, Evan bergegas masuk ke dalam taksi yang akan membawanya bertemu istrinya itu. Tapi ketika tiba di depan rumah Melva, sebuah mobil sedan berwarna hitam datang dari arah berlawanan dan langsung masuk ke dalam halaman rumah Melva.


Tak lama kemudian Melva terlihat keluar dari dalam mobil dan berpamitan dengan seseorang yang duduk di belakang kemudi yang Evan yakini adalah seorang laki-laki.


Setelah Melva masuk, mobil itu keluar dan pergi meninggalkan rumah Melva. Evan tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria yang ada di dalam mobil. Tapi entah kenapa, pria itu membuatnya cemas.


Setelah mobil Mirza pergi, Evan meminta sopir taksi untuk memasukkan taksinya ke halaman rumah Melva. Ia kemudian turun dari taksi dan memutuskan untuk bersikap seolah-olah baru saja tiba dan tidak tahu apa-apa.


Sementara itu, Mirza juga melihat sebuah taksi masuk ke dalam halaman rumah Melva setelah ia pergi. Rasa penasaran membuatnya berhenti sejenak dan memperhatikan sosok yang keluar dari dalam taksi itu.


Mirza melihat seorang pria turun dari taksi, mengetuk pintu lalu memeluk Melva yang membukakan pintu untuknya. Evan memutuskan untuk menunggu sampai pria itu keluar dari sana karena ia sangat penasaran dengan pria yang bertamu ke rumah seorang gadis malam-malam seperti itu.


Tapi sampai satu jam lamanya ia menunggu pria itu tak kunjung keluar. Ia malah melihat lampu rumah Melva mulai dimatikan satu per satu yang menandakan bahwa tidak akan ada orang lagi yang akan keluar dari sana.


'Siapa dia sebenarnya?' gumam Mirza pada dirinya sendiri. 'Kenapa Bu Rahma mengijinkan pria asing menginap di rumahnya?'


*******


Sementara itu, di dalam kamar, setelah bicara panjang lebar kesana kemari, Evan akhirnya tidak tahan lagi untuk tidak bertanya soal pria yang dilihatnya mengantar Melva tadi.

__ADS_1


"Tadi cari makan dimana?"


"Di Darmawangsa. Kenapa?"


"Sama siapa?"


"Sama dosen aku. Namanya Mas Mirza."


"Mirza? Kok bisa kamu makan malam sama dosen kamu? Emang dia ngga tahu kalau kamu udah punya suami?"


"Kak Evan kenapa sih? Ini tuh ngga seperti yang Kak Evan pikir. Tadi aku ada perlu sama dia. Terus karena laper, belum sempat makan, jadi aku makan dulu." jelas Jessy panjang lebar sambil mengusapkan serum ke wajahnya yang sudah dibersihkan.


"Emangnya ada perlu apa?"


"Adalah pokoknya. Kepo banget sih jadi orang." Ledek Jessy sambil naik ke atas ranjang.


"Aku ini suami kamu. Aku berhak dong tahu kamu ngapain aja dan sama siapa aja."


"Iya, iya... Tapi kan udah aku bilang kalau aku ngga ada apa-apa sama Mas Mirza. Dia cuma dosen aku. Itu aja. Udah ah, tidur yuk! Ngantuk banget."ujar Jessy sambil memasukkan tubuhnya ke dalam selimut dan memeluk tubuh suaminya. "Udah ngga usah mikir macem-macem!"


Evan tidak berdaya bila sudah dipeluk manja oleh istrinya seperti itu. Ia memutuskan untuk menyudahi pembahasannya tentang Mirza. Ia tidak ingin dicap sebagai suami yang terlalu pencemburu dan bawel. Selain itu, ia datang jauh-jauh karena merindukan Jessy, jadi ia ingin menghabiskan malam itu hanya untuk melepas rindu saja, bukan yang lain.


*******


Karena keesokan harinya kebetulan hari minggu dan mereka sedang libur, jadi Jessy dan Evan memutuskan untuk jalan-jalan mengelilingi kota Surabaya yang baru pertama kali Jessy datangi.


Mereka mengunjungi beberapa destinasi wisata yang sudah sempat Evan cari tahu sebelumnya lewat internet. Terakhir mereka mengunjungi salah satu mall terbesar di kota Surabaya untuk berbelanja dan nonton film.


"Mau makan apa malam ini?" tanya Jessy kepada Evan. "Biar aku yang masakin."


"Emang kamu bisa masak?"


"Hemmm, menghina! Gini-gini aku sempet berniat ikutan Master Chef."


"Baru berniat?"


"Kan niat aja udah dicatat, apalagi kalau sampai kejadian."


Kali ini Evan tertawa terbahak-bahak. "Oke, oke. Biar kita coba! Gimana kalau steak salmon aja?"


Evan sudah membayangkan bahwa ia akan merasakan steak dengan saos istimewa ala resto favoritnya dengan aneka sayuran segar sebagai garnis. Selain itu, ia mempertimbangkan kesederhanaan tehnik memasak agar tidak terlalu merepotkan istrinya.


"Good choice!"


Jessy langsung memasukkan salmon segar, mix vegetables frozen dan saos barbeque ke dalam troli belanjanya.


"What?" Evan tidak percaya bahwa salmon segarnya akan sangat merana di tangan calon chef yang baru berniat ikut kompetisi masak karena hanya akan ditemani sayuran frozen dan saos instan sejuta umat.


Setelah merasa cukup, Jessy membawa troli belanjanya ke meja kasir dan mengeluarkannya satu persatu.


"Apa aku memasukin ini?" tanya Jessy ketika menemukan banyak keju slice kemasan di dalam trolinya.

__ADS_1


"Aku yang memasukin." jawab Evan sambil mengetik pesan di ponselnya.


Jessy memandang Evan ragu, karena ia tahu betul bahwa pria di hadapannya itu tidak terlalu menyukai keju.


"Karena kamu suka roti lapis. Stok keju kamu sudah habis." jelas Evan sembari menyodorkan kartu debitnya kepada kasir.


Jessy tidak tahu bahwa Evan sudah sempat mengecek stok kejunya padahal ia sendiri yang setiap hari makan tidak ingat apakah masih banyak atau sudah habis.


Ketika keluar dari supermarket yang ada di dalam mall, Jessy yang sedang bergandengan tangan mesra dengan Evan, tidak sengaja bertemu dengan Aldo.


"Melva!"


"Aldo?!" Jessy buru-buru melepaskan tangannya dari genggaman Evan.


"Siapa?" tanya Evan kepada Jessy.


"Aldo, teman kampus aku."


Evan menghampiri dan menjabat tangan Aldo, "Saya Evan, su -"


"Sendirian aja, Do?" tanya Jessy memotong perkenalan Evan.


"Iya." Jawab Aldo bingung melihat tingkah Evan dan Melva.


Evan yang tahu bahwa Jessy sengaja mencegahnya untuk memperkenalkan diri sebagai suami Melva, menatap Melva penuh tanya dan penjelasan.


"Oh ya, Do. Kita lagi buru-buru nih. Duluan yah?" Jessy buru-buru menarik lengan Evan dan membawanya pergi menjauhi Aldo yang masih mematung di tempatnya.


"Kamu kenapa sih, Jess? Kamu ngga mau teman kamu tahu kalau kita ini sudah nikah dan aku ini suami kamu?"


Jessy cengar-cengir, "Bukan gitu kak, aku kan masih mahasiswa baru. Kebayang ngga gimana ngga nyamannya kalau teman-teman tahu aku udah nikah. Aku khawatir aja kalau kami jadi canggung karena beda status gitu."


Jessy berusaha mengarang alasan sekenanya. Tapi jauh di lubuk hatinya, ia tidak ingin Mirza tahu dan menjauhinya. Pria itu sudah melumpuhkan hati Jessy sejak pertama kali bertemu, meskipun Jessy tidak yakin betul apa alasannya bersikap dan berfikir seperti itu.


Evan tiba-tiba saja berhenti di hadapan Jessy dan membuat gadis yang tengah melamun itu menabrak tubuh Evan tanpa sengaja.


"Duh, Kak Evan kok ngga bilang-bilang sih kalau mau berhenti?!"


"Jess, kamu ngga lagi mikirin cowok lain kan?"


"Kak Evan ini ngomong apa sih? Maksud Kak Evan, Aldo?"


"Jess -"


Evan ingin mengatakan betapa takutnya ia kehilangan Jessy, betapa ia khawatir gadis itu akan dekat dengan pria lain ketika tidak bersamanya, tapi tak sepatah katapun bisa keluar dari mulutnya.


"Apa?" tanya Jessy yang mulai gerah dengan sikap kekanak-kanakan Evan.


"Kita pulang aja."


"Lah... Kak Evan tadi mau ngomong apa? Kok tiba-tiba ngajak pulang? Kak! Tunggu! Jangan cepet-cepet dong jalannya! Kak!"

__ADS_1


********


__ADS_2