Misi Jessy

Misi Jessy
Tantangan Ali


__ADS_3

Aldo menyodorkan sebotol air mineral kepada Jessy. "Makasih ya, Mel. kamu udah mau bantuin dan belain aku tadi."


"Ngga papa, Do. Gue suka olahraga dan gue udah biasa lari kaya gitu (tapi itu dulu, sebelum aku terjebak di dalam tubuh lemah Melva)"


"Mereka sengaja ngelakuin itu, bukan tanpa sebab."


"Maksud kamu?"


"Itu karna Papa aku yang terkenal sebagai dosen killer. Mereka pasti menyimpan dendam dan ingin melampiaskannya ke aku."


"Tunggu! Papa kamu dosen di sini?"


Aldo mengangguk. "Pak Angga, dekan kita."


Jessy mengacak-acak rambutnya karena kesal. Tenyata seniornya benar, ia sama sekali tidak tahu apa-apa dan bersikap sok pahlawan.


"Sori, Mel. Aku belum sempat kasih tahu kamu -"


*******


Malam harinya, mereka mengadakan malam keakraban dengan melakukan beberapa permainan kecil, hukuman dan hiburan kecil lainnya di sekeliling api unggun.


Awalnya semua berjalan lancar dan menyenangkan, sampai mereka kedatangan tamu dari luar. Mereka adalah tiga orang pria yang menurut informasi Aldo berasal dari jurusan tehnik mesin.


Rupanya ketiga mahasiswa tehnik itu adalah teman-teman para senior mereka karena mereka terlihat sangat akrab. Ketiga pria itu bergabung dan ikut duduk mengitari api unggun.


Permainan kemudian dilanjutkan sebuah botol kembali dipindahkan dari satu orang ke orang lain secara bergiliran dan tiba giliran Melva menerima hukuman botol itu berada di tangannya ketika musik berhenti.


"Melva! Melva!" teriak teman-temannya menyemangati Melva untuk maju dan menerima hukumannya.


Jessy terpaksa maju tapi kemudian salah satu dari mahasiwa mesin yang baru tiba itu maju dan menghampiri Melva.


"Elo?!! Lo masih hidup?" tanya Ali, salah satu dari mahasiswa tehnik mesin itu.


"Lo kenal gue?" tanya Jessy santai.


Ali tertawa, "Jadi sekarang lo mau pura-pura lupa dan ngga ngenalin gue?"


"Siapa lo?"


"Bener-bener yah ni anak! Lo pikir gue bakal ngelupain elo gitu aja? Kalau bukan karena elo adik gue ngga bakalan mati. Lo seharusnya juga mati dalam kecelakaan itu. Tapi kenapa lo masih hidup dan ada di sini?"

__ADS_1


Jessy memegangi jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak karuan. Bagaimana mungkin pria itu tahu bahwa Melva mengalami kecelakaan dan hampir mati? Lalu siapa adik Ali yang katanya mati karena Melva? Apa lagi ini? Kenapa dia malah tidak bisa tenang sedikitpun setelah datang ke tempat itu?


"Ali! Kamu kenapa sih?" seorang senior bernama Kris menahan Ali yang terlihat sangat emosi dan memaki-maki Melva.


"Ini urusan aku sama ni cewek. Jadi kamu ngga usah ikut campur."


"Tapi ini acara aku. Aku penanggung jawab disini. Jadi aku berhak buat ikut campur."


Ali menatap Kris dengan penuh emosi.


"Denger ya, Mel! Urusan kita belum selesai!"


Ali akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan pelataran kampus Melva malam itu.


********


Beberapa hari kemudian, sepulang kuliah, Ali tiba-tiba saja sudah ada di kampus Melva dan berusaha menghadangnya.


"Akhirnya kita ketemu lagi." Ujar Ali yang berhasil menghadang Melva.


"Mau apa lo?" tanya Jessy tanpa rasa takut sedikitpun.


"Aku mau balas kematian adik aku."


Ali kembali tertawa terbahak-bahak. "Andai aku punya kesempatan buat ngelakuin itu, kamu pasti sudah ketemu sama Lili sekarang."


"Lili?" Jessy mengingat-ingat nama itu.


"Jadi lo abangnya Lili?" tanya Jessy setelah berhasil mengingat bahwa Lili adalah sahabat Melva yang tewas karena tabrak lari.


"Kamu masih mau pura-pura ngga inget aku?!" tanya Ali geram.


'Bukan pura-pura, tapi gue emang ngga kenal elo, bego!' batin Jessy.


"Sori. Tapi sepertinya lo salah paham. Lili meninggal bukan karena gue, tapi -"


"Mel! Ngapain kamu di sini?" Mirza tiba-tiba saja datang dan memotong pembicaraan Jessy. "Dan kamu Ali, ada urusan apa disini?"


"Ngga ada, Mas. Kebetulan aja ketemu Melva disini. Jadi kami ngobrol sebentar." Ujar Ali berbohong.


Ali kemudian mendekati Melva dan berbisik. "Kita balapan di jalan Merdeka hari sabtu jam sembilan malam."

__ADS_1


**********


Jessy tahu persis bahwa perkataan Ali adalah hal konyol yang tidak perlu ia pikirkan. Tapi entah kenapa, ia justru tidak bisa berhenti berfikir soal tantangan dari Ali tersebut. Andai saja itu balap mobil, Jessy pasti akan langsung menyetujuinya. Tapi ini balap motor. Jessy bahkan tidak bisa mengendarai motor dengan benar. Bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan Ali dalam balap liar seperti itu?


Fakta bahwa Ali mungkin berniat mencelakainya saat balapan, membuat Jessy semakin gelisah. Tapi menyerah tanpa mencoba, jelas bukan karakter seorang Jessy. Jadi ia memutuskan untuk menemui Mirza. ia butuh bantuan untuk bisa memenangkan tantangan Ali.


Bagaimanapun juga ayah Mirza terlibat dalam kecelakaan Lili. Tapi memberi tahu Ali kebenaran itu saat ini, mungkin tidak akan berpengaruh besar karena tidak ada bukti yang kuat. Yang ada mungkin hanya kebencian tanpa sebab Ali yang semakin besar kepada Mirza.


********


Siang itu seusai jam pelajaran, Jessy menemui Mirza di ruangannya.


"Eh, Mel! ada apa?"


"Bisa kita bicara sebentar?"


Mirza mengajak Melva ke taman kampus. "Ada apa?"


"Tolong ajari saya naik motor!" pinta Jessy tanpa tedeng aling-aling.


Mirza malah tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Jessy. "Mel, candaan kamu ngga lucu. Buat apa pembalap kaya kamu minta ajarin sama saya? Apa kamu ngga bisa mencari alasan lain yang lebih kreatif kalau ingin mendekati saya?"


Mirza berlalu begitu saja. Ia menunjukkan sikap bahwa Melva tidak terlalu penting lagi baginya.


"Tunggu, Mas! Aku serius. Sejak kecelakaan itu, aku ngga berani lagi naik motor. Tapi sekarang aku harus bisa."


"Untuk apa?"


"Ada alasan yang ngga bisa aku jelasin sama Mas Mirza sekarang."


"Kalau gitu kamu cari aja tempat kursus." Mirza kembali melanjutkan langkahnya kembali ke ruangannya.


"Mas! Aku ngga punya banyak waktu. Mas Mirza harus bantu aku!"


"Harus?" tanya Mirza memastikan.


Jessy mengangguk.


"Kenapa?"


"Pokoknya ini penting."

__ADS_1


******


__ADS_2