Misi Jessy

Misi Jessy
Tahap Baru


__ADS_3

(Beberapa hari sebelumnya)


Setelah merayakan pesta kelulusannya dari SMA, Jessy yang ingin masuk Universitas Indonesia, sengaja membereskan kamarnya untuk mengganti suasana sambil menunggu pelaksanaan seleksi masuk perguruan tinggi negeri.


Ia ingin menata ulang kamarnya dan membuang barang-barang yang sudah tidak ia perlukan. Tanpa sengaja, Jessy menemukan sebuah buku harian milik Melva di antara tumpukan buku yang terletak di dalam sebuah kardus kecil berwarna coklat.


Jessy membuka dan membacanya perlahan. Ia kemudian merasakan bahwa ia mulai mengenal Melva, apa yang dialaminya, bagaimana perasaannya dan apa yang ia inginkan selama hidupnya. Meskipun sedikit terlambat, namun Jessy merasa bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk mengenali dirinya yang baru.


Jessy mengingat kembali semua kejadian yang ia alami belakangan ini. Ia sudah menetapkan misi hidupnya dan berhasil mewujudkannya satu per satu bersama Evan. Tapi ia lupa bahwa ia bisa melalui semua itu karena tubuh Melva.


Setelah membaca buku harian Melva, Jessy sadar bahwa kehidupan yang ia miliki sekarang seharusnya tidak hanya tentang dirinya sendiri saja. Mungkin ia memang tidak ditakdirkan untuk menjadi seorang atlet renang profesional kelas dunia seperti yang selama ini ia impikan.


Mungkin Tuhan ingin ia membantu Melva untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang guru matematika lulusan dari salah satu universitas tehnik yang ada di Surabaya, tempat yang meninggalkan begitu banyak kenangan bagi seorang Melva.


Jessy menutup buku harian Melva yang belum habis ia baca dengan cermat saking tebalnya.


"Oke, Mel. Sekarang giliran kita wujudin misi hidup lo satu per satu!" gumam Jessy sambil menatap dirinya tersenyum di depan cermin.


*******


Hari itu Jessy pergi menemui James di pusat rehabilitasi. Ia ingin menemui pria itu sebelum pergi meninggalkan Jakarta untuk kesekian kalinya. Sempat merasa ragu untuk melangkahkan kaki memasuki tempat keberadaan James itu, Jessy akhirnya membulatkan tekad untuk menuntaskan misinya.


"Mel?!" tanya James ketika akhirnya bertemu Melva di ruang kunjungan. "Aku seneng kamu mau datang. Gimana kabar kamu?"


"Baik."


"Kamu ngga nanya kabar aku?"


"Buat apa nanyain sesuatu yang sudah pasti. Lo kelihatan bahagia banget ada disini."


"Kok kamu ngomongnya gitu sih, Mel?"


"Salah? Lo seharusnya ada di tempat yang jauh lebih buruk daripada ini."


"Mel...."


"Lo udah ngehamilin gue dan ngebunuh Jessy dan gue ngga bakal biarin lo lolos gitu aja."

__ADS_1


"Mel! Jaga omongan lo! Gue mungkin emang ngga sengaja nidurin elo. Tapi itu kita lakuin atas dasar suka sama suka. Dan soal Jessy, gue ngga tahu apa-apa soal kematian Jessy."


"Bohong! Hari itu lo sengaja kasih Jessy obat sampai dia mati."


"Mel! Tahu apa lo soal gue dan Jessy?! Dia sedang mengalami serangan panik akut dan gue cuma kasih dia obat penenang."


"Narkoba maksud lo?"


James menatap Melva tajam. Ia sadar bahwa ia tidak bisa main-main lagi dengan gadis naif itu. "Kalau lo masih mau terus ngelantur, gue ngga akan segan buat nuntut lo atas fitnah dan pencemaran nama baik."


Jessy tertawa makin lebar. "Serius lo nuntut gue?! Yakin bukan lo yang bakal langsung ditahan karena gue buka mulut?"


James tidak tahu bahwa Melva yang dulu sangat penurut kini berubah menjadi gadis yang sangat berani sekaligus menakutkan baginya. Melawan tentu bukan hal yang menguntungkan buat James, mengingat situasinya yang sulit saat ini.


"Dengar Mel. Lo ngga tahu apa-apa soal gue dan Jessy. Jadi gue harap lo ngga ikut campur soal kematian Jessy. Ini semua ngga seperti yang lo pikir. Gue ngga pernah benci ataupun punya dendam sama Jessy. Jadi gue ngga punya motif buat ngebunuh dia."


"Terus, kenapa lo kasih dia obat yang gue yakin lo pasti tahu kalau itu terlarang dan berbahaya?"


"Gue cuma pengen nenangin Jessy. Tapi gue ngga sengaja kasih dia obat yang salah. Sumpah gue ngga ada niatan buat ngebunuh Jessy."


"Dia sepupu gue."


"Cuma itu?"


"Maksud lo apa?"


Melva menatap James penuh intimidasi dan itu membuat James merasa tidak nyaman. "Oke, gue emang pacaran sama dia. Jauh sebelum gue kenal sama elo."


"Jadi lo selingkuhin gue?"


"Kalian berbeda. Gue tahu gue salah, tapi gue ngga bermaksud untuk sampai sejauh ini, Mel. Plis, ngertiin gue!"


Tawa sinis Jessy kembali terdengar, "Lo udah ngancurin hidup dua gadis ngga berdosa dan sekarang lo minta dingertiin. Lo sehat?"


Jessy berniat pergi meninggalkan James. ia tahu bahwa sia-sia saja bicara dengan pria brengsek itu. Hanya akan membuatnya makin kesal dan emosi.


"Tunggu, Mel. Gue bakal kasih tahu lo satu rahasia tentang penyebab kecelakaan lo. Asal lo janji ngga bakal ngungkit soal kematian Jessy lagi."

__ADS_1


********


Setelah semua persiapan beres, Evan mengantar istri dan mertuanya untuk pindah ke Surabaya. Ia sudah menyiapkan sebuah kontrakan yang tidak terlalu besar tapi cukup nyaman untuk Jessy dan Bu Rahma tinggali. Ada sebuah teras kecil yang ditumbuhi banyak pepohonan rindang dan rerumputan yang menghijau dan tertata rapi.


Hanya dengan melihat sekilas saja, Jessy tahu persis bahwa rumah itu pasti dirawat dengan sangat baik oleh pemiliknya. Dan yang lebih Jessy sukai adalah, rumah itu terletak tidak jauh dari kampus tempat Melva akan kuliah. Jadi ia hanya perlu mengendarai sepeda angin atau berjalan kaki jika ingin pergi kuliah, karena ia sama sekali tidak berani mengendarai motor sendirian meskipun Evan juga sudah menyiapkan sebuah sepeda motor matic untuknya.


"Gimana, Mel? Kamu suka?"


"Suka banget, Kak. Nyaman rumahnya. Iya kan, Bu?"


"Bener Nak Evan. Rumahnya bersih dan nyaman. Dan yang penting jaraknya dekat dari kampus Mel."


Evan tersenyum bangga atas jerih payahnya menemukan rumah kontrakan itu.


"Tapi, Kak. Kok bisa sih Kak Evan dapat kontrakan di deket kampus gini? Bukannya kebanyakan rumah di sini ini rumah dinas para dosen dan dekan yah?"


"He'em, ini memang rumah dinas yang kebetulan ngga ditempati sama pemiliknya."


"Kok boleh disewakan?"


"Kepo banget sih kamu, Mel. Yang penting kan kita udah dapetin rumah ini." protes Evan kesal.


"Ya, aku wajib tahu lah... Ngga lucu aja kalau tiba-tiba lusa kita diusir karena ketahuan menempati rumah dinas dosen tanpa ijin pihak kampus."


"Udah, tenang aja. Ini aman. Aku dapat rekom dari teman yang bisa dipercaya. Jadi kamu ngga usah mikir macem-macem." Evan bergegas memasukkan barang-barang Melva ke dalam kamarnya.


"Kamarnya nyaman banget, Kak. Jendelanya langsung menghadap ke halaman."


Evan menghampiri Jessy yang masih berdiri di depan jendela setelah membukanya, lalu memeluknya dari belakang. "Aku sudah mempertimbangkan semuanya dan aku pengen kamu betah tinggal di sini supaya bisa fokus kuliahnya."


"Kak Evan bakalan sering dateng ke sini, kan?"


Evan membalik tubuh Jessy, "Aku bakalan langsung kesini setiap ada kesempatan. Jadi jangan coba-coba pergi dari rumah tanpa ijin dan kabar! Karena aku ngga mau beli tiket sia-sia."


Melva melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya, "Siap Kak Bos!"


*******

__ADS_1


__ADS_2