Misi Jessy

Misi Jessy
Balap Liar (2)


__ADS_3

Jessy segera berlari menghampiri Mirza. "Mas, boleh ya aku pinjem mobil Mas Mirza? Kali ini aja, plisss....."


"Tapi buat apa? Memangnya kamu bisa nyetir mobil?"


"Kita coba dulu aja yah?"


Mirza bergidik ngeri mendengar kata 'kita coba dulu aja' dari mulut Melva. Ia melihat bagaimana parah dan kacaunya gadis itu ketika mencoba mengendarai motor tadi sore dan sekarang ia berniat untuk mencoba-coba keberuntungan dengan mobil kesayangannya.


Jessy tahu Mirza meragukannya dan bahkan sama sekali tidak bisa mempercayainya. "Mas, plis, kali ini aja. Aku janji bakalan nukar kesempatan ini dengan satu permintaan Mas Mirza. Oke?"


Mirza akhirnya mengalah dan bergeser ke kursi penumpang. Jessy kemudian duduk di belakang kemudi, mengatur nafas, menatap Ali yang sudah berada di dalam mobil sedan di depannya, lalu mulai menyalakan mobil Mirza.


Mereka kemudian mengambil posisi permulaan. Salah seorang teman Ali yang bernama Ratu memberikan aturan permainan dan petunjuk tentang perlintasan yang akan mereka lalui juga garis finis yang harus mereka capai lebih dulu.


"Tunggu, kamu mau balapan sama Ali?" tanya Mirza tidak percaya.


"Mas Mirza tenang aja. Percaya sama aku!" Jessy menatap Mirza, lalu mengecek sabuk pengaman Mirza dan juga miliknya.


Ratu kemudian memberikan aba-aba dan kedua mobil melaju kencang pada hitungan ketiga.


Jessy mengendarai mobil Mirza dengan sangat mulus dan kencang. Ia terlihat mahir memindahkan gigi, menginjak pedal gas, rem dan kopling juga mengendalikan kemudi.


Sungguh jauh berbeda dengan Melva yang ia lihat sangat payah mengendarai motor tadi sore. Melva yang kini duduk di sampingnya itu terlihat sangat tenang dan profesional mengendalikan laju mobilnya.


Meskipun tubuhnya serasa diguncang-guncang akibat hentakan roda dan aspal yang sangat keras, tapi Mirza merasa bahwa dirinya tengah menyaksikan balap mobil sungguhan. Melva bahkan bisa melakukan tehnik drifting dengan sangat mulus dan terkontrol ketika melewati lintasan berbelok.

__ADS_1


Tinggal satu belokan lagi sebelum mencapai garis akhir dan kini Melva memacu mobilnya dengan kecepatan maksimal. Ia terlihat begitu tenang, perlahan tapi pasti mobilnya kini berhasil menyalip mobil Ali.


Ponsel Melva berdering berkali-kali tapi Mirza sama sekali tidak ingin mengganggu konsentrasi Melva. Jadi ia membiarkan ponsel itu begitu saja.


Jessy kemudian melakukan satu manuver drifting cantik lagi lalu melaju kencang mencapai garis akhir dan berhenti dengan mulus tepat di belakang garis akhir.


"Wow!" hanya itu kata yang bisa keluar dari mulut Mirza begitu Melva menghentikan mobilnya dan kembali ngos-ngosan seakan baru saja menahan nafas panjang dan lama.


"Mas Mirza ngga papa?" tanya Jessy sembari membuka sabuk pengamannya dan memeriksa keadaan Melva.


Mirza yang masih terperangah hanya bisa menatap Melva dengan penuh rasa kagum.


"Mas Mirza kenapa? Mabok?"


Mirza buru-buru melepas sabuk pengamannya lalu turun dari mobilnya dan menghampiri Ali.


"Lili juga mati karena kecelakaan, terus kenapa Mas Mirza ngga khawatir sama dia?"


"Ali! Sadar, Li! Itu kecelakaan. Sekalipun kamu bunuh Melva sekarang, Lili ngga akan pernah kembali lagi sama kamu."


Jessy kemudian menyusul Mirza dan menghampiri Ali, "Mas! Aku mau ngomong sama Ali. Mas Mirza tunggu di mobil bentar yah?"


Mirza terpaksa menuruti permintaan Melva dan kembali ke dalam mobilnya.


"Gue menang kali ini. Gue harap mulai hari ini lo ngga bakalan nyalahin gue lagi atas kematian Lili. Gue ngga tahu lo percaya ato ngga, tapi Lili mati bukan karena gue. Kalau gue sengaja, gue pasti ikut mati bareng adek lo, Li. Motor gue ringsek di bagian belakang, karena ada orang yang sengaja buat nabrak gue."

__ADS_1


Ali mengatur nafasnya yang menderu tak karuan. Ia marah karena kalah dari seorang gadis amatir seperti Melva. Tapi Ali adalah seorang pria yang selalu bersikap sportif, jadi ia mengakui kehebatan dan kemenangan Melva malam itu.


"Jadi siapa orang yang berusaha ngebunuh adik gue malam itu?"


"Gue ngga tahu, Li. Gue ngga tahu siapa dia, apa motifnya dan siapa yang pengen dia celakai, gue atau Lili. Yang pasti, gue ngga mungkin ngebunuh sahabat gue sendiri, Li. Gue yakin lo paham betul soal itu."


Jessy kemudian meninggalkan Ali dan kembali ke dalam mobil Mirza. Kali ini ia kembali duduk di kursi penumpang di samping Mirza.


Ali memandangi kepergian gadis yang nyaris tidak dikenalinya sama sekali itu. Melva yang ia kenal dulu adalah gadis manis yang sangat pandai menahan diri, tidak pernah mau menerima tantangan apapun dari Ali dan selalu memilih untuk mengalah. Tapi malam itu, ia melihat seorang gadis yang sangat gigih dan bertekad mengalahkannya tanpa ragu sedikitpun. Ali tidak tahu bahwa kecelakaan itu telah merubah Melva menjadi gadis yang begitu pemberani dan tangguh.


*****


"Jadi dari mana lo belajar mobil?" tanya Mirza ketika Jessy selesai memasang sabuk pengamannya.


"Youtube." jawab Jessy singkat.


Ia tidak mungkin menjawab jujur dan mengatakan bahwa James yang mengajarinya sejak SMP atau bahwa ia juga pernah berlatih di salah satu club balap mobil terkenal di ibu kota meskipun tidak berlangsung lama karena ia tetap lebih mencintai renang daripada balapan.


Mirza tertawa. Ia tahu betul bahwa Melva sedang berbohong. Jika youtube bisa melatih seseorang menjadi begitu profesional dalam waktu singkat, Melva seharusnya tidak perlu menabrak rengkek tadi sore.


"Gimanapun juga, kamu hebat, Mel. Aku kagum sama keterampilan mengemudi kamu."


Jessy hanya tersenyum mendengar pujian Mirza. Tapi ia sungguh tidak ingin melanjutkan pembahasan soal balapan itu lagi, apalagi soal alasan Ali menantangnya. Ia takut tidak bisa mengontrol perkataannya dan akhirnya memberi tahu MIrza bahwa ayahnya terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Melva dan Lili.


"Kalau gitu, gimana kalau Mas Mirza traktir aku makan malam? Laper banget."

__ADS_1


******


__ADS_2