
Sejak kejadian sore itu, Jessy hampir tidak melihat keberadaan Mirza di kampus. Bahkan kelasnya hari ini diisi oleh dosen pengganti yang mengatakan bahwa Mirza sedang cuti sakit.
Mendengar kabar tersebut, sore itu sepulang kuliah, Jessy langsung mendatangi rumah Mirza yang selalu terlihat sepi seperti biasanya. Ia mengetuk pintu dan harus menunggu lebih dari lima menit sampai Mirza akhirnya mau keluar untuk membukakan pintunya dan membiarkan Jessy masuk.
"Ngapain kamu kesini, Mel?" tanya Mirza ketika gadis itu nyelonong masuk begitu saja dan langsung duduk manis di sofanya.
"Saya dengar Mas Mirza lagi sakit. Makanya saya kesini buat bawain ini." Jessy menunjukkan bungkusan makanan yang dibawanya.
Tanpa menunggu ijin dan perintah, Jessy langsung masuk ke dapur dan mencari alat makan dan menatanya di meja makan.
"Mas Mirza ngga capek berdiri di situ terus?" tanya Jessy ketika melihat Mirza masih mematung di tempatnya semula. "Temenin aku makan dong.. Laper banget nih. Ngga sempet makan siang gara-gara si dosen pengganti yang molor sampai jam istirahat habis."
Mirza akhirnya duduk di kursi yang sudah Jessy siapkan. Ia melihat ada satu porsi nasi madura lengkap di hadapannya dan sepiring nasi, tumis pokcoy dan daging lada hitam di hadapan Jessy.
"Mau nambah sayur?" tawar Jessy.
Mirza menggeleng kemudian mulai memakan nasi maduranya perlahan. Ketika sedang enak-enaknya makan, Jessy tiba-tiba memeriksa dahi Mirza dengan tangannya dan membandingkannya dengan suhu dahinya sendiri.
"Mas Mirza demam. Sudah punya obat turun panas?"
Mirza bergeming. Dan Jessy buru-buru bangun dari duduknya.
"Aku cari obat dulu di apotek yah?"
__ADS_1
Mirza menarik tangan Jessy dan mencegahnya pergi. "Ada di kotak obat."
Jessy kemudian mencarinya di kotak p3k lalu memberikannya kepada Mirza.
Setelah memakan makanannya, Mirza langsung meminum obat yang Jessy berikan kepadanya.
"Sudah selesai. Kamu boleh pergi." ujar Mirza datar.
"Tapi aku belum selesai makan."
"Habiskan makanan kamu lalu pulang. Tolong kunci pagarnya dengan benar!" Mirza langsung masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Jessy sendirian di meja makan.
Meskipun ia terbiasa dengan Mirza yang dingin, datar, dan pendiam, tapi melihat kondisi Mirza kali itu membuat Jessy khawatir. Terlebih lagi, pria itu tinggal sendiri di rumahnya. Tidak akan ada seorangpun yang tahu kalau ia tiba-tiba pingsan atau semacamnya.
*******
Setelah meminum obat dan tertidur lelap, dua jam kemudian Mirza terbangun dan berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Ketika hendak kembali ke kamarnya Mirza melihat Melva tengah tertidur dalam posisi duduk di atas karpet dan merebahkan kepalanya di atas meja.
Mirza mendekati Melva yang tengah tertidur. Sudah sangat lama ia tidak melihat gadis itu tertidur pulas dari jarak sedekat itu. Ia kemudian mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh Melva yang mungkin kedinginan karena suhu ac di ruang tamunya yang sangat rendah.
Jessy tiba-tiba terbangun dan sadar bahwa Mirza sudah ada di dekatnya jadi ia buru-buru mengeluarkan buku dari dalam tasnya. "Eh, Mas Mirza sudah bangun? Oh ini tadi ada tugas banyak banget dan aku ngga tahu gimana cara ngerjainnya. Jadi aku nunggu Mas Mirza bangun supaya bisa minta diajarin."
Mirza memandangi Jessy yang kikuk dan asal-asalan mengeluarkan buku dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Jadi kamu mau diajarin soal cinta yang tak terungkap?" tanya Mirza sambil melihat judul buku yang dikeluarkan Jessy dari dalam tasnya.
Sadar bahwa ada yang aneh dengan pertanyaan Mirza, Jessy buru-buru memasukkan kembali novel yang asal dibelinya dari jalan semarang beberapa waktu lalu itu ke dalam tasnya.
Wajahnya memerah karena malu. "Itu bukan punyaku. Aku ngga sengaja beli novel itu di jalan semarang kapan hari gara-gara ngga ngedapetin buku yang aku cari."
Mirza hanya tersenyum tanpa kata sambil menatap Jessy yang sedang salah tingkah. "Kalau gitu, gimana kalau novelnya buat aku aja?"
"Hah? Mas Mirza suka buku gituan?"
"Buku gituan gimana maksud kamu?"
"Ya... itu... buku fiksi yang ngga masuk akal dan ngga bisa dianalisa dan dijelaskan dengan pembuktian ilmiah."
Mirza lagi-lagi tertawa mendengar perkataan Jessy.
"Memangnya kenapa kalau kita baca buku fiksi? Bagus juga kok. Menghibur! Dan bagus buat asupan otak kiri dan kanan kamu supaya lebih seimbang."
Jessy dengan ragu mengeluarkan kembali novel itu dan memberikannya kepada Mirza. "Sekarang Mas Mirza bisa ajarin aku kan?"
Mirza tahu Melva sedang berbohong. Tidak mungkin seorang Melva mengalami kesulitan untuk soal matematika dasar di semester satu. Tapi karena Mirza merasa butuh teman untuk ngobrol malam itu, ia membiarkan saja gadis itu dan berpura-pura percaya bahwa ia benar-benar butuh bantuan.
"Jadi mana yang kamu kurang paham?"
__ADS_1
*******