
Keesokan harinya, Evan mengantar Jessy ke kampusnya dengan sepeda motor yang sengaja ia belikan untuk Jessy.
"Jadi kamu belum berani naik motor sendiri, Jess?" tanya Evan
Jessy menggeleng. "Ngapain juga repot-repot naik motor? Ada Aldo yang antar jemput aku tiap hari dan mau anterin aku kemana aja."
"Hmmm, dasar! Bukannya kamu orang yang ngga suka bergantung sama orang lain yah?"
"Ya ngga bergantung juga. Kalau Aldo ngga ada, aku juga masih bisa kok kemana-mana sendiri."
Karena jaraknya yang sangat dekat dengan kampus, mereka sudah sampai padahal belum sempat ngobrol banyak. Evan kemudian memarkir motornya dan menggandeng tangan Jessy masuk ke dalam kampus.
"Tunggu!" Jessy menarik tangannya. "Kak Evan mau kemana?"
"Nganter kamu ke kampus. Bukan ke parkiran kampus."
"Tapi Kak. Aku kan udah gede, malulah dianter sampe kelas."
"Kenapa mesti malu?" Evan kembali menarik tangan Jessy dan menggandengnya memasuki pelataran kampus.
Para mahasiswi yang kebetulan berpapasan dengan mereka terpesona dengan ketampanan dan kegagahan Evan. Jessy merasa de javu. Ia seperti kembali ke masa SMA nya dulu ketika Evan sering mengantarnya ke sekolah dan selalu menjadi pusat perhatian teman-teman ceweknya.
[Ya ampun... cakep banget tu cowok. Jurusan apa sih?]
[Kayanya bukan mahasiswa sini deh.. aku ngga pernah liat dia di sekitar sini.]
[Cakep banget, sumpah! Baru kali ini aku lihat cowok seganteng itu secara langsung. Biasanya cuma di tivi doang.]
Dan masih banyak lagi gombalan cewek-cewek yang Jessy dengar. Tidak hanya itu beberapa dari mereka memberanikan diri menyapa walaupun hanya direspon senyuman oleh Evan. Sebagian lagi pura-pura tertabrak tapi lagi-lagi hanya dihadiahi senyuman oleh Evan.
[Itu ngapain yah dia gandeng tangannya tu cewek?]
[Ceweknya kali..]
[Bukan. Ngga mungkin tu cowok mau sama cewek kaya gitu.]
[Iya. Ngga mungkin itu ceweknya. Ngga cocok banget. Masih cocokan aku.]
Dan komentar model begini yang selalu bikin Jessy kesal. Tapi Evan yang seakan hafal dengan tabiat Jessy, semakin mengeratkan genggaman tangannya supaya Jessy tidak meninju cewek-cewek yang mencibirnya dan tentu saja, mempercepat langkahnya menuju kelas.
"Jadi yang mana kelas kamu?" tanya Evan setelah lelah berputar-putar mengelilingi empat lantai.
Jessy berkecak pinggang dan geleng-geleng menyaksikan kebodohan suaminya itu. "Makanya, lain kali jangan cuma cari perhatian cewek-cewek aja, tapi fokus sama tujuan!"
__ADS_1
Jessy berbalik arah hendak menuju ke kelasnya yang berjarak beberapa ruangan saja dari tempatnya berada. Tapi ia kemudian bertemu dengan Mirza yang berjalan dari arah berlawanan.
Jessy buru-buru membalik badan dan mengajak Evan kembali ke parkiran. Tapi Evan justru berbalik dan menyapa Mirza.
'Aduh! Kelakuan deh tu orang!'
"Selamat siang, Pak!"
"Siang." jawab Mirza.
Jessy buru-buru menyusul Evan. "Maaf, Mas. Ini Kak Evan. Dan Kak Evan ini Mas Mirza, dosennya Mel."
"Oh, jadi ini dosen kamu? Kirain teman kamu."
Mirza tersenyum dan seperti biasa, dengan senyuman yang selalu terasa manis buat Jessy.
"Kalau gitu kami permisi dulu ya, Mas?" Jessy menarik Evan dan mengajaknya kembali ke parkiran.
Setelah Mirza masuk ke dalam kelasnya yang terletak di samping kelas Jessy, Evan berhenti dan menyuruh Jessy kembali ke kelasnya. "Kelas kamu udah mau dimulai tuh. Buruan masuk gih!"
"Kak Evan bisa kan balik ke parkiran sendiri?"
"Bisalah. Kalau ngga bisa juga, aku yakin banyak yang mau nganter."
*******
Merasa tidak tenang selama mengikuti kuliah, Jessy ijin keluar untuk memastikan bahwa Evan sudah pulang. Ia tidak melihat Evan di sekitar kampus, jadi ia ke tempat parkir untuk memastikan.
Motor Evan masih tetap di tempatnya. Jadi Jessy kembali mencari Evan ke seluruh sudut kampusnya mulai dari toilet sampai perpustakaan. Tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Evan di sana.
Ketika hendak kembali ke kelas, Jessy melewati kantin dan tidak sengaja melihat Evan tengah duduk di salah satu meja kantin dan bercengkrama dengan beberapa gadis yang terlihat keganjenan menggoda Evan.
Entah apa yang merasuki Jessy karena ia tiba-tiba saja menghampiri Evan, menariknya berdiri lalu membawa Evan pergi dari gadis-gadis penggoda itu.
"Eh, tunggu! Siapa kamu? Main bawa pergi aja."
Jessy menghentikan langkahnya, berbalik dan menghampiri gadis yang mempertanyakan siapa dirinya. "Lo mau tahu siapa gue? Gue istrinya! Puas lo?!"
Sementara gadis-gadis itu terperanjat mendengar pengakuan Jessy yang tidak masuk akal, Jessy sudah kembali menyeret Evan yang sedang cengar-cengir ke parkiran.
"Ngapain cengar-cengir kaya gitu?" protes Jessy.
"Ngga ada. Heran aja kenapa juga kamu mesti bilang kalau kamu istri aku ke mereka? Bukannya kamu bilang ngga mau ada yang tahu kalau kamu udah nikah?"
__ADS_1
"Tenang aja! aku ngga kenal sama mereka. Lagian mereka ngga bakal percaya kalau kita beneran udah nikah."
"Oh ya? Gimana sama dia?"
Jessy mengikuti arah pandangan Evan dan ternyata ada Mirza yang sedang berjalan dari arah kantin menuju ke perpustakaan.
"What the ****!" Jessy tiba-tiba bingung sendiri. Ia takut Mirza mendengar pengakuannya tadi.
Evan kembali tertawa malihat kelakuan aneh Jessy. Setelah melihat gadis itu berlari kembali ke kelasnya, Evan kembali menemui beberapa siswa lain yang mungkin bisa memberinya petunjuk penting tentang Andre.
*******
Saat hendak kembali ke kelas, Jessy berpapasan dengan Aldo yang terlihat buru-buru keluar dari kelas.
"Eh, Do! Mau kemana lo?"
"Ada urusan." jawab Aldo sambil setengah berlari meninggalkan Jessy.
Tak mau ambil pusing dengan urusan Aldo, Jessy memilih untuk kembali ke kelasnya dan melanjutkan kuliahnya yang sempat tertinggal gara-gara Evan.
******
Isu tentang Melva yang menjadi joki disertasi ternyata menyebar dengan sangat cepat melebihi perkiraan Jessy. Tidak sedikit yang merasa penasaran dengannya dan diam-diam membicarakannya di belakang.
Jessy merasa tidak nyaman dengan situasi yang menyudutkannya seperti itu, jadi hari itu dia memilih untuk bolos kuliah.
"Loh, kamu ngga kuliah?" tanya Evan yang melihat Jessy masih bermalas-malasan di atas ranjang padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
"Ngga. Lagi males. Lagi pengen di rumah aja sama Kak Evan."
Evan kembali tersenyum. Ia tahu betul bahwa Jessy sedang berbohong. Semalam Aldo sudah memberitahunya tentang gosip yang sedang banyak dibahas di kampus.
"Oke, kalau gitu kita tidur lagi aja." Evan menarik selimutnya dan menutupkannya ke tubuhnya dan Jessy.
"Bisa-bisanya Kak Evan bermalas-malasan disini, padahal Kak David sedang kalang kabut di sana."
"Itu urusan dia. Urusan aku cuma kamu."
Jessy menatap Evan yang pura-pura memejamkan matanya dari balik selimut. Ia mulai membandingkan wajah itu dengan Mirza. Entah kenapa bayangan Mirza tiba-tiba muncul padahal ia sedang berduaan dengan Evan.
Jessy buru-buru bangkit dan menggeleng-gelengkan kepalanya yang mulai kacau.
"Loh, mau kemana, Jess?"
__ADS_1
"Mau mandi dulu." jawab Jessy singkat.