
Keesokan malamnya, Jessy mendapati Evan sudah berdiri di depan pintu rumahnya dengan dua kopor besar dan dengan wajah sayu karena lelah.
"Kok Kak Evan sudah pulang?"
Evan tidak menjawab tapi langsung memeluk tubuh Jessy dan merebahkan kepalanya di pundak Jessy. Tahu bahwa suaminya pasti sangat lelah, Jessy buru-buru membawanya masuk ke dalam kamar dan membiarkannya beristirahat.
"Siapa, Mel?" tanya Bu Rahma yang baru selesai sholat.
"Kak Evan, Bu." jawab Jessy sambil memasukkan koper Evan ke dalam kamar.
"Loh Nak Evan sudah pulang?"
"Iya, Bu. Tapi sepertinya kelelahan jadi langsung tidur."
"Ya sudah. Kalau gitu siapin makan malem, Mel. Siapa tahu dia belum sempat makan malam."
"Baik, Bu."
"Ibu ke kamar dulu yah?"
Jessy mengangguk, "Met istirahat ya, Bu."
Dan Bu Rahma membalasnya dengan senyuman.
Jessy buru-buru menutup pintu kamarnya dan memeriksa keadaan Evan. Pria itu terlihat sudah tertidur lelap sekali. Jessy kemudian melepaskan sepatu dan kaos kakinya juga dasi yang masih terikat di krahnya.
Ia kemudian berniat mengganti pakaian kotor Evan dengan baju tidur yang lebih nyaman. Tapi saat hendak melepas kancing kemejanya, tangan Evan justru meraih dan menghentikan tangan Jessy sehingga membuat Jessy sedikit terkejut.
"Kak Evan belum tidur?"
Evan tersenyum masih dengan memejamkan kedua matanya. "Gimana bisa tidur kalau belum puas peluk kamu?"
Evan langsung menarik tangan Jessy sehingga tubunya menimpa tubuh Evan dan wajah mereka nyaris bertabrakan. Evan kemudian melingkarkan tangan kanannya di pinggang Jessy dan tangan kirinya di belakang kepala Jessy. Aksi selanjutnya tentu sudah bisa ditebak. Ia meraih bibir Jessy dan menciumnya dengan penuh gairah.
Belum siap dengan serangan tiba-tiba dari Evan membuat Jessy sedikit menarik tubuhnya dari Evan. Pipinya memerah dan pandangan matanya kikuk tak tentu arah karena berusaha menghindari tatapan mata Evan yang sangat tajam menelanjangi wajahnya yang tersipu malu.
__ADS_1
Evan kemudian melonggarkan pelukannya lalu bangun dari posisi tidurnya. Sekarang mereka sudah duduk dengan jarak yang sangat dekat dan berhadapan satu sama lain. "Kamu baik-baik aja, kan?"
Jessy mengangguk. Merasa memiliki kesempatan untuk lolos dari serangan Evan, Jessy buru-buru mengambil handuk di dalam lemarinya. "Kak Evan mandi dulu yah? Aku mau siapin makan dulu buat Kak Evan."
Evan memegang handuk yang Jessy berikan sambil terus menatap Jessy yang salah tingkah sampai menghilang di balik pintu kamar. Evan tersenyum melihat tingkah lucu istrinya itu.
*******
"Kak Evan sudah mandi?" tanya Jessy ketika melihat Evan keluar dari kamar dengan wajah yang jauh lebih segar.
"Kamu masak apa?"
"Taraaaaa...... Soto lamongan dalam bentuk mi instan!"
Evan akhirnya tertawa. "Jadi ini yang kamu sebut masak?"
"Emangnya mi instant ngga pake dimasak? Dimasak juga kali...." kilah Jessy membela dirinya sendiri.
Malam itu mereka menikmati mi instan hangat bersama-sama. Meskipun sederhana, tapi Evan sangat menikmatinya. Bukan karena mi instannya, tapi karena ada Jessy yang membuatkannya dan menemaninya makan malam itu.
"Oh, itu.... David bilang dia sudah bisa mengatasi semuanya sendiri. Dan dia sudah bosan diawasi sama diperintah-perintah terus. Jadi dia minta aku pulang duluan."
"Oh..."
Mereka kemudian membahasa tentang Andre dan semua yang Jessy alami karena pria itu. Evan terlihat sangat emosi sekaligus bersemangat untuk memberi pelajaran pria yang sudah berani menyusahkan istrinya.
"Aku bikin minum dulu, yah?" pinta Evan.
"Biar aku bikinin Kak. Kak Evan istirahat aja."
"Ngga usah. Aku bisa bikin sendiri kok."
Jessy masuk ke dalam kamar dan melihat ponsel Evan berdering tak henti-henti. Karena melihat nama David muncul di layar, maka Jessy memberanikan diri untuk mengangkat telepon itu.
"Halo?"
__ADS_1
"Loh, Melva?! Evan udah di Surabaya?"
"Iya, Kak. Barusan dateng."
"Tu anak bener-bener yah! Mana dia sekarang? Kenapa ngga angkat telpon gue?"
"Lagi bikin minum."
"Awas ya lo!"
"Kak David kok marah-marah mulu sih? Bukannya Kak Evan sudah pulang seperti maunya kak David?"
"What? Maksud lo apa, Mel? Lo tahu kan kalau urusan kita di sini tuh masih banyak banget. Tapi habis rapat kemarin, dia kerja kaya orang gila. Ngga tidur-tidur dan ngga mau istirahat. Katanya mau seleseiin semuanya karena ada urusan yang lebih penting. Tahu-tahu tadi pagi dia udah ngilang, kata anak-anak dia balik ke Jakarta. Dan sekarang dia udah ada di rumah lo. Gimana gue ngga kesel coba?"
"Jadi kak Evan pergi tanpa pamit? Bukannya karena Kak David yang minta dia pulang duluan?"
"Ya nggaklah! Gila aja... Urusan di sini masih banyak banget. Dan keberadaan dia tuh penting banget di sini."
"Haloo! Hallo! Mel!"
Jessy langsung menutup teleponnya begitu mendengar suara Evan membuka pintu kamar. Lalu meletakkan kembali ponsel Evan di tempatnya semula.
Evan melihat Jessy tengah duduk di tepi ranjang sambil menatapnya. "Ada apa, Jess?"
Jessy langsung memeluk Evan dan mencium bibirnya. Evan yang sedikit kaget menerima serangan mendadak dari Jessy memilih untuk mengikuti arus. Ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang Jessy dan membiarkan istri kesayangannya itu melepaskan semua emosi dan kerinduannya.
"Ada apa, Jess?" ulang Evan ketika Jessy akhirnya menyudahi aksi panasnya.
"Kenapa Kak Evan bohong?"
"Bohong? Soal apa?"
"Soal Kak David. Kak Evan bilang kerjaannya sudah selesai dan disuruh pulang duluan sama Kak David. Padahal kan -"
Belum sempat Jessy menyelesaikan kalimatnya, Evan sudah kembali meraih tubuhnya dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi di bibirnya. Ia kemudian menggendong tubuh Jessy dan merebahkannya ke ranjang. Ia akan memberikan jawaban yang Jessy inginkan.
__ADS_1
*******