Misi Jessy

Misi Jessy
Jebakan Andre


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Melva justru kembali dipanggil ke ruang dosen. Kali ini bukan oleh Pak Andre tapi oleh komiti disipliner jurusan.


Jessy yang tidak tahu masalah yang akan dihadapinya, berjalan santai memasuki ruangan kecil yang ada di bagian kanan ruang dosen. Ruangan itu biasanya digunakan untuk menerima tamu atau mengadakan rapat internal.


Ketika memasuki ruangan kecil itu, sudah ada lima orang dosen yang sudah menunggunya. Dan ada tumpukan dokumen di atas meja yang ada di depan mereka.


"Silakan duduk, Mel!"


Jessy mengambil posisi duduk yang telah disediakan untuknya.


"Apa kamu sudah tahu alasan kami memanggil kamu kesini, Mel?"


Jessy menggeleng, "Saya datang untuk mencari tahu, Bu."


Bu Wiwik, salah satu komdis menjelaskan, "Kami menerima laporan bahwa kamu memanfaatkan kemampuan kamu untuk membantu mengerjakan disertasi milik para doktor di kampus saingan kita. Apa benar seperti itu, Mel?"


Jessy cukup terkejut dengan penjelasan yang baru saja didengarnya.


"Membantu mengerjakan? Doktor di kampus saingan kita?" ulang Jessy. "Maaf tapi saya ngga ngerti maksud ibu."


Bu Wiwik kemudian menyodorkan beberapa disertasi yang pernah ia koreksi. "Menurut info yang kami terima, kamu membuka jasa pengerjaan disertasi bagi para doktor ilmu matematika. Apa benar seperti itu?"


Sekarang Jessy paham bahwa Andre sengaja menjebaknya sebelum aibnya terbongkar. Ia hanya belum siap dengan serangan Andre yang begitu besar dan mendadak seperti itu.


"Apa benar, Mel?" tanya Pak Abdul


Jessy menggeleng dan menolak dengan tegas. "Itu ngga bener, Pak. Ada orang yang meminta saya untuk mengoreksi makalah-makalah itu. Awalnya saya tidak tahu kalau itu disertasi. Tapi setelah mengerjakannya beberapa kali saya akhirnya sadar kalau ada yang aneh. Jadi saya mencari tahu dan mendapatkan informasi bahwa itu adalah disertasi yang sudah masuk daftar tunggu untuk disidangkan. Sejak itu, saya memutuskan untuk berhenti membantu dan disinilah saya sekarang."


"Siapa orang yang memberi kamu disertasi ini?"


"Pak Andre."


"Ngga mungkin, Mel. Justru Pak Andre orang pertama yang menyadari dan menemukan kecurangan ini." elak Pak Dicky

__ADS_1


"Pak Dicky, coba Bapak panggil Pak Andre supaya masalah ini bisa lebih jelas." pinta Pak Abdul, ketua komdis, kepada Pak Dicky.


"Baik, Pak. Tunggu sebentar!"


Tak lama kemudian Pak Dicky datang bersama Pak Andre. Pak Abdul kemudian menjelaskan bahwa Melva menuduhnya telah memberikan disertasi itu kepada Melva.


"Pak, Bu, mana mungkin saya akan melaporkan kalau saya sendiri yang memberikan disertasi itu? Sama aja bunuh diri namanya." elak Andre.


"Kalau gitu, kita tanya saja pada pemilik disertasinya. Tanyakan siapa yang membantu mereka mengerjakan disertasi itu!"


Pak Dimas, salah satu tim komdis, kemudian menyerahkan rekaman hasil wawancara dengan para pemilik disertasi itu dan mereka semua mengatakan bahwa mereka tidak mengenal Pak Andre dan mengaku tergiur dengan tawaran joki disertasi yang Melva tawarkan kepada mereka.


Jessy benar-benar emosi sekarang. Itu adalah fitnah paling kejam dan terencana kedua setelah kasus kematiannya yang diduga bunuh diri.


"Bagaimana, Mel?" tanya Bu Wiwik.


"Maaf, Pak, Bu, tapi saya merasa dijebak dan difitnah sekarang. Saya akan membicarakan masalah ini dengan kuasa hukum saya. Saya akan membuktikan kebenarannya dan membersihkan nama baik saya."


"Tunggu, Mel! Apa perlu kita sampai membawa ini pada jalur hukum? Bagaimana kalau kita selesaikan dengan cara kekeluargaan?" bujuk Pak Dicky.


Para komisi disipliner saling berpandangan satu sama lain. Sadar bahwa berada di sana lebih lama hanya akan membuat dadanya semakin sesak, Jessy memutuskan untuk pergi tanpa meminta persetujuan siapapun.


Saat keluar dari ruang dosen, Jessy berpapasan dengan Mirza. Tapi kali itu ia benar-benar sedang tidak mood untuk beramah-tamah. Dadanya sudah hampir meledak menahan emosi yang membakarnya.


*******


Setelah agak tenang, Jessy memutuskan untuk menghubungi Evan. Tapi berkali-kali memanggil, Evan tidak juga menjawab panggilan telepon darinya.


Entah Evan memang masih sangat sibuk dengan pekerjaannya di Jepang atau sedang meninggalkan ponselnya di dalam mobil, tapi semua pikiran itu membuat Jessy semakin marah. Ia tanpa sadar memcahkan salah satu pot di taman kampus dengan tendangan kakinya.


Dan Mirza yang memandangi kelakuan Melva dari balik jendela ruangannya tahu betul bahwa gadis itu pasti sedang berada dalam masalah besar. Ia kemudian mendatangi ruang keamanan untuk memeriksa rekaman cctv saat Melva menemui Andre di ruangannya beberapa kali. Tapi sayang sekali semua rekaman itu sudah dihapus dengan alasan pembaruan berkala.


Mirza perlu memikirkan cara lain untuk membantu gadis itu. Ia tidak bisa diam saja seperti saat ia tahu Ali menantangnya dengan aksi yang cukup berbahaya. Karena kali ini, Melva harus berhadapan dengan lawan yang sangat licik dan tidak sepadan dengannya.

__ADS_1


*******


Jessy melampiaskan kekesalannya di dalam kamar. Ia melempar semua yang ada di dekatnya dan membuat kamarnya terlihat seperti kapal pecah terhantam badai.


Ia sama sekali tidak menyangka bahwa bantuan dan niat baiknya justru dimanfaatkan dan diputarbalikkan untuk menjebaknya seperti ini. Jessy kembali menyesali kebodohannya yang mau saja diperalat oleh dosen freak seperti Pak Andre.


Kringg....


Sebuah panggilan telepon dari Evan masuk ke ponsel Jessy.


"Kak!" sapa Jessy dengan suara seraknya.


Ia tidak mampu lagi menahan isak tangisnya ketika akhirnya bisa berbicara dengan Evan.


"Ada apa, sayang?"


"Kak Evan lagi sibuk?"


"Ngga. Ada apa?"


Evan terpaksa berbohong ketika mendengar suara parau Jessy. Ia yakin hal buruk pasti sedang terjadi dan ia butuh Evan untuk membantunya. Ia kemudian memberikan aba-aba pada David untuk menunda rapat pentingnya beberapa menit demi bisa mendengarkan keluh kesah istrinya lebih dulu.


Jessy kemudian menceritakan semua yang dialaminya kepada Evan.


"Oke, Jess. Kamu tenang aja! Aku pasti bisa menemukan cara untuk memberi bajingan itu pelajaran. Kamu tenang aja yah?"


"Jadi kapan Kak Evan pulang?"


"Sepertinya beberapa hari lagi karena ternyata masih banyak yang harus aku selesaiin di sini."


"Katanya cuma satu minggu? Ini sudah hampir satu bulan." protes Jessy sembari merajuk.


"Iya, sayang. Maaf yah? Aku juga ngga tahu kalau bakalan molor sampai selama ini. Ya sudah kamu tenangin diri dulu aja yah? Nanti aku telpon lagi. Oke? Bye!"

__ADS_1


Evan bergegas menutup teleponnya katika David hendak menghampirinya dengan wajah merah padam karena marah.


********


__ADS_2