
"Apa maksud mama? Apa ini?" Evan menyerahkan data transaksi gelap penjualan narkotika yang melibatkan kedua orang tuanya. "Mama membunuh Melva untuk menyelamatkan diri mama sendiri."
"Darimana kamu tahu semua ini?"
"Hari dokumen itu terbuka, Evan tahu bahwa papa dan mama terlibat dalam kasus narkoba seperti ini. Tapi Evan merasa sangat malu untuk mengungkapkannya kepada publik. Evan berharap dengan menyimpan masalah ini, Mama akan menyesali perbuatan mama dan berubah jadi lebih baik. Tapi setelah mengetahui apa yang mama lakukan, Evan sadar bahwa Evan telah melakukan kesalahan besar karena menutupi masalah ini."
"Ngga, Van. Kamu ngga salah. Tindakan kamu sudah benar, sayang. Tama sudah mati dan Melva masih hidup. Mama sudah menebus kesalahan mama dengan membiarkan kamu menikahi dia. bukankah itu sudah cukup?" bujuk Tarisa.
Evan tersenyum sinis. "Lalu kenapa Mama berusaha mencelakai Melva dan Bu Rahma lagi? Gara-gara mama, Melva kehilangan bayinya."
"Bayi itu bukan anak kamu, Van! Lagipula mama hanya berusaha mencegah dia untuk ikut campur terlalu jauh dalam masalah ini. Bagi mama menemukan dokumen itu sangatlah penting. Tapi setelah tahu dimana dokumen itu dan yakin bahwa kamu pasti bisa memecahkan sandi pelindungnya, maka gadis malang itu sudah tidak kita perlukan lagi. Jika dibiarkan hidup, dia hanya akan menjadi masalah buat kamu, buat kita."
"Mama!!!" teriak Evan dengan mata membulat dan rahang bergetar. Ia tidak menyangka bahwa mamanya akan berfikir sejahat itu.
Evan kemudian berusaha mengatur nafasnya, "Mama sebaiknya bersiap-siap. Tidak lama lagi polisi akan datang menjemput mama."
"Evan!"
Evan mencium tangan mamanya, "Maafin Evan, Ma. Semua sudah berakhir, dan ini adalah satu-satunya hal benar yang bisa Evan lakukan kepada Mama."
Tak lama kemudian polisi datang untuk menjemput Tarisa dengan tuduhan pengedaran narkoba dan percobaan pembunuhan. Setelah melakukan penyelidikan, polisi juga menemukan keterlibatan Tarisa dengan James dimana James mendapatkan happy five dari Tarisa.
__ADS_1
James kemudian ditahan atas tuduhan penyalahgunaan dan pengedar narkotika. Tomi Abraham melalui kuasa hukumnya meminta agar kasus kematian Jessica dibuka kembali karena adanya dugaan keterlibatan James disana.
********
Hari itu, Jessy mendengar kabar bahwa Evan sudah ada di rumahnya. Jessy yang masih ada urusan dikampus buru-buru menyelesaikannya dan bergegas pulang untuk menemui Evan di rumahnya.
"Kenapa ngga angkat telpon sih? Wa juga ngga dibales!" bentak Jessy ketika Evan membukakan pintu rumah untuknya.
Evan diam saja dan membiarkan Jessy mengomelinya sampai puas. Setelah merasa cukup, Jessy akhirnya duduk juga di sofa di samping Evan. Kebetulan hari itu Bu Rahma sedang keluar rumah, jadi ia merasa bebas berteriak dan memaki sepuasnya.
Setelah melihat wajah lesu Evan dari dekat, Jessy akhirnya berhenti. "Bagaimana?"
Jessy memeluk dan menepuk punggung Evan perlahan.
Evan akhirnya menceritakan semuanya kepada Jessy.
"Maafin aku, Jess..."
"Kenapa minta maaf? Kak Evan ngga salah. Kak Evan sudah ngelakuin semuanya dengan baik. Kak Evan udah nyelesaiin semuanya seperti seharusnya. Aku bangga sama Kak Evan. Seharusnya aku yang bilang makasih sama Kak Evan."
Evan kemudian menyodorkan amplop coklat berisi surat permohonan cerai kepada Jessy.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Aku tahu pasti sulit buat kamu untuk hidup bersama anak dari orang yang berusaha membuhun kamu. Aku sudah memikirkan semuanya baik-baik dan aku rasa inilah yang terbaik untuk kita."
Jessy meletakkan kembali amplop coklat itu di atas meja.
"Sekarang Kak Evan jawab pertanyaan aku. Kenapa dari tadi Kak Evan ngga jawab telpon dan wa aku?"
"Tadi aku ngelihat kamu lagi sama Mirza."
Jessy membuang nafas kesal. "Jadi karena itu Kak Evan nyuekin aku?"
Evan membuang muka karena tidak ingin Jessy mengamati wajahnya yang memerah karena malu. Tapi Jessy hafal betul kebiasaan suaminya saat hendak menghindari rasa malu karena ketahuan cemburu. Jadi Jessy justru meraih dan memutar wajah Evan hingga kembali berhadapan dengannya.
Jessy jadi ingat ketika ia sedang ngobrol dan bercanda dengan Mirza di kampus tadi. Evan pasti sudah salah sangka terhadapnya dan Mirza.
"Dengar! Kami hanya sedang ngobrol biasa. Tidak akan terjadi apa-apa karena aku adalah wanita yang sudah bersuami." ujar Jessy yakin sambil menatap mata Evan, lalu tersenyum.
Evan langsung mencium bibir istrinya itu dengan hangat. Kali ini Jessy tidak ingin ragu lagi. Sejak kepergian Evan tanpa kabar hari itu membuatnya sadar bahwa ia tidak akan pernah bisa kehilangan pria yang selalu bisa membuatnya nyaman itu, pria yang selalu membantunya menuntaskan semua misi hidupnya. Ia sudah memutuskan akan mempertahankan pemilik ciuman yang paling ia rindukan itu.
\*\*\*\*\*\*\* TAMAT \*\*\*\*\*\*\*\*
__ADS_1