Misi Jessy

Misi Jessy
Pilihan Jessy untuk Melva


__ADS_3

Pagi itu Melva sudah tiba di tempat diadakannya olimpiade. Ia melakukan registrasi untuk mendapatkan kartu peserta dan perlengkapan yang akan ia gunakan dalam olimpiade matematika hari itu.


"Melva?!" Bu Karina, guru matematika SMA Galaxy terkejut melihat keberadaan Melva disana. "Kamu lagi apa?"


"Mau ikut olimpiade, Bu." jawab Melva singkat.


Ia tahu Bu Karina pasti bingung dengan jawaban Melva. Tapi ia sedang tidak ingin memberikan penjelasan panjang lebar pada oramg yang sama sekali tidak berusaha mempertahankannya saat kepala sekolah mengusirnya seperti kucing liar.


"Mel, sudah siap?" tanya Pak Roy, guru matematika SMA Merlion, sekolah baru Melva.


"Sudah, Mr."


"Pak Roy?"


"Bu Karina?"


Roy akhirnya berbaik hati menjelaskan bahwa Melva akan mewakili SMA Merlion dalam olimpiade matematika tingkat nasional kali ini. Dan penjelasan itu cukup untuk membuat Bu Karina was-was. karena ia tahu betul kemampuan Melva yang selama ini berada di bawah asuhannya.


******


Olimpiade dimulai dan semua siswa tengah berkonsentrasi di depan komputernya masing-masing. Melva terlihat sangat tenang namun yakin sehingga Roy juga santai menunggui proses pelaksanaannya di depan ruangan tes.


Sementara Karina justru sebaliknya, ia merasa sangat was-was dan tidak yakin timnya mampu bersaing mengalahkan Melva yang ternyata sudah menyelesaikan semua soal tujuh menit sebelum waktu tes berakhir.


Satu jam kemudian, mereka mendapatkan pengumuman hasilnya dan Melva berhasil menduduki peringkat teratas sebagai wakil dari propinsi DKI Jakarta dan sekolah Merlion. Sedangkan wakil dari SMA Galaxy harus puas menduduki peringkat ke sebelas, jauh di bawah Melva.


******

__ADS_1


Kepala sekolah Galaxy kebakaran jenggot. Tahun lalu Melva berhasil menjadi juara dan mengharumkan nama Galaxy tapi kali ini ia justru melambungkan nama SMA Merlion yang menjadi pesaing berat Galaxy.


"Mr.Joseph, bagaimana mungkin anda menerima dan memanfaatkan siswa yang sudah menikah hanya demi memenangkan olimpiade?"


"Dimana masalahnya, Pak Fatir? Kami hanya memberikan kesempatan pada yang terbaik untuk menang." bantah Mr. Joseph, kepala sekolah SMA Merlion.


"Anda tahu betul alasan kami mendiskualifikasi Melva dan mengeluarkannya dari sekolah."


"Itu adalah pilihan Galaxy, tapi kami memiliki pemikiran berbeda. Siswa kami mungkin melakukan kesalahan, dan tugas kami sebagai pendidik adalah mendidik mereka agar tahu kesalahan mereka, menyesal dan memperbaikinya di kemudian hari. Jika kita langusng membuangnya begitu saja hanya karena takut nama baik kita tercemar, apa layak kita disebut sebagai seorang pendidik? Lagipula Melva sangat cerdas, sangat disayangkan jika ia harus kehilangan masa depannya hanya karena sebuah kesalahan kecil." Mr. Joseph menjelaskan panjang lebar


"Kecil? Jika anda berfikir kesalahan seperti itu adalah hal kecil, maka siswa lain akan menganggapnya sama. Dan apa anda bisa bayangkan apa jadinya generasi muda kita jika menganggap pergaulan bebas dan pernikahan usia dini sebagai hal lumrah?"


"Apa Pak Fatir pernah bertanya bagaimana Melva bisa hamil di luar nikah? Saya ragu Pak Fatir tahu bahwa Melva diperkosa oleh salah satu atlet terkenal dan terpaksa dinikahi Evan demi menutupi aib gadis malang itu."


"Apa?"


Karena tidak memiliki banyak waktu di SMA Merlion, Jessy menghabiskan semua waktunya untuk mengejar ketertinggalannya dengan sangat giat belajar. Jessy tidak ingin mengecewakan Melva yang sangat ingin lulus dengan hasil memuaskan. Ia juga ingin menebus kesalahannya kepada Bu Rahma dengan membuatnya merasa bangga dengan semua percapaian dan prestasi Melva.


Waktu ujian tiba dan Jessy berhasil melaluinya dengan sangat baik. Ia merasa sangat bersyukur karena Melva terlahir dengan otak super brilian seperti itu, sehingga ia tidak perlu merasa tersiksa hanya karena harus menghafal banyak rumus atau mengingat kembali semua yang sudah dibacanya seperti dulu ketika ia masih berada di dalam tubuhnya sendiri.


Hasil ujian kelulusan keluar dan sesuai harapan, Melva kembali muncul sebagai peringkat teratas di Merlion. Ia mendapat penghargaan berupa sertifikat dan juga beasiswa untuk masuk ke universitas ternama di ibu kota.


Tapi untuk saat ini, Jessy belum menginginkannya. Baginya ijasah saja sudah cukup. Ia tidak ingin kuliah di tempat yang sama dengan kebanyakan teman sekolahnya sekarang. Jadi ia mulai berfikir untuk memilih kampus di luar kota dan memulai hidup baru disana.


"Mel, kenapa kamu menolak masuk UI, Nak? Bukankah itu yang selama ini kamu pengen?" tanya Bu Rahma.


"Maaf, Bu. Mel emang pengen banget kuliah disana. Tapi setelah apa yang terjadi, Mel ngerasa sangat tertekan jika harus kembali bertemu dengan teman-teman SMA Mel dan orang-orang yang mengenal Mel. Karena itu, Mel pengen kuliah di luar kota, Bu. Mel ingin mencari suasana baru dan memulai kehidupan baru Mel disana."

__ADS_1


Bu Rahma sangat memahami perasaan putrinya saat itu. Mereka memang telah melalui banyak masa-masa sulit dan sangat wajar jika Mel ingin melupakan segalanya dan memulainya kembali dari awal.


"Bagaimana dengan Nak Evan? Apa dia setuju?"


*******


Malam sebelumnya, Jessy sudah mendiskusikan tentang niatnya kuliah di luar kota dengan Evan.


"Apa kamu yakin, Jess?"


Jessy mengangguk yakin.


"Aku kerja disini dan untuk saat ini, akan sangat sulit jika aku harus pindah ke luar kota. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan disini."


"Ngga masalah. Kita masih bisa LDR-an kan? Sekarang mah gampang, udah ada telepon, vidio call, kita bisa terus terhubung kapanpun dan dimanapun."


Evan hanya terdiam dan menatap mata Melva dalam-dalam. Ia tahu betrul bahwa sekalipun ia tidak setuju dan menentang keinginan gadis itu, ia tidak akan mendapatkan apapun karena ia yakin Jessy akan tetap pergi dengan keinginannya.


Tapi entah kenapa ia merasa akan kehilangan gadis itu kalau saja ia melepaskannya kali itu. Evan tahu itu tidak masuk akal karena jarak antara Jakarta dan Surabaya hanya memerlukan waktu satu jam perjalanan dengan pesawat. Tapi perasaan cemas itu terus saja mengganggunya.


"Dari sekian banyak kota, kenapa harus Surabaya, Jess?"


"Entahlah, aku juga tidak yakin. Tapi ada dorongan kuat dari dalam diriku untuk pergi kesana. Ada perasaan yang tumpang tindih dan tidak bisa aku mengerti dan aku merasa harus mencari tahu sendiri dan meluruskannya." Jessy tidak ingin mengatakan kepada Evan bahwa ia ingin pergi setelah membaca buku harian Melva yang tidak sengaja ia temukan beberapa waktu lalu.


"Jika hanya itu cara untuk membuatmu merasa tenang, pergilah!"


*******

__ADS_1


__ADS_2