
Setelah pulang dari mall sore itu Evan tiba-tiba saja jadi irit bicara dan itu sangat mengganggu Jessy.
"Kak Evan masih marah?" tanya Jessy ketika tiba di bandara.
"Ngga." Jawab Evan singkat.
"Kok dari tadi diem aja?"
"Ya mau ngomong apa? Ngga ada lagi yang mau diomongin. Kalau ada yang perlu kamu omongin, ngomong aja biar aku dengerin."
Jessy menggeleng. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya Evan maksud dan kenapa pria itu berubah jadi dingin seketika. Ia kembali mengingat-ingat semua kejadian hari itu tapi tak kunjung menemukan sesuatu yang salah dan mungkin membuat Evan kesal.
Tiba waktunya Evan boarding, jadi ia memeluk Jessy dan berpamitan. "Besok aku berangkat ke Jepang. Ada kerjaan disana."
"Berapa lama?"
"Belum tahu, mungkin satu atau dua minggu tapi juga bisa lebih."
"Kok Kak Evan ngga bilang kalau mau pergi jauh dan lama? Kak Evan sengaja?" Jessy mulai mewek tidak jelas.
"Karena itu aku sempetin nemuin kamu sebelum berangkat. Take care yah? Keep contact!"
Jessy tahu bahwa ia seharusnya terbiasa berada jauh dari Evan karena selama beberapa minggu ini pun mereka sudah berhubungan jarak jauh. Tapi mengetahui bahwa Evan akan pergi ke luar negeri selama beberapa hari membuatnya merasa sedih ditinggalkan.
Ia tahu bahwa mereka tetap bisa saling bicara melalui panggilan suara dan vidio tapi entah kenapa Jessy tidak bisa menahan emosinya dan terus saja menangis seperti anak kecil. Sekeras apapun ia berusaha menahan diri dengan logika dan akal sehatnya, ia tetap tidak bisa menahan air matanya.
"Kak Evan!" Jessy berlari menghampiri dan memeluk Evan yang hendak masuk ke ruang tunggu keberangkatan. "Jangan lama-lama yah? Kalau sudah pulang langsung kesini yah?"
"Memangnya mau ngapain?"
"Kak Evan harus ajak aku ke Bromo!"
Evan tersenyum lalu kembali memeluk istrinya yang menggemaskan dan selalu membuatnya rindu itu. "Jangan sekali-kali nyuekin telpon lagi yah!"
"Janji!"
********
Hari itu Mirza kembali mengajar di salah satu kelas Jessy. Tidak seperti hari-hari lain dimana Jessy selalu duduk di bangku paling ujung deretan belakang dekat jendela, setiap kali kelas Mirza, Jessy selalu memilih duduk di bangku paling depan yang berhadapan langsung dengan kursi dosen yang ditempati Mirza.
__ADS_1
Jessy merasa senang hanya dengan melihat Mirza berdiri di depan papan tulis atau layar proyektor dan menjelaskan beberapa rumus dan soal latihan. Jessy sendiri tidak tahu apa yang ia sukai dari seorang Mirza, tapi semua yang ada pada Mirza tak bisa membuatnya berpaling begitu saja. Wajahnya, senyumnya, diamnya, gerak tangannya, bahasa tubuhnya, Jessy menyukai semuanya.
Tapi sejak mengantarnya pulang malam itu, Mirza jadi sangat irit bicara kepadanya. Ia bahkan berpura-pura tidak melihat saat tidak sengaja berpapasan dengan Melva di lorong kampus. Sikapnya jadi sangat dingin dan cuek seolah tidak pernah kenal dekat dengannya. Dan tentu saja itu cukup mengganggu buat Jessy.
'Lo mikir apaan sih, Jess? Inget! Lo tu udah nikah dan Mirza ini mantannya Melva. Lo udah gila yah?' batin Jessy sambil memukuli jidatnya sendiri.
"Kamu kenapa, Mel? Ada yang belum paham sampai sini?" tanya Mirza yang diam-diam memperhatikan tingkah aneh Melva.
"Ah, ngga Mas. Bukan apa-apa. Saya permisi ke toilet dulu." Jessy buru-buru pergi untuk menemukan kembali kewarasannya.
Ketika melewati lorong di dekat jalan menuju kantin yang sedang sepi, Jessy tidak sengaja melihat Pak Joni, dekannya, sedang memarahi dan memukul-mukul kepada Aldo. Tak lama kemudian Pak Joni pergi meninggalkan Aldo dan Jessy bersembunyi agar tidak ketahuan.
Aldo kemudian masuk ke toilet pria dan cukup lama berada di dalamnya. Karena khawatir, Jessy memanggil-manggil namanya dari luar agar Aldo segera keluar dari kamar mandi.
"Do! Aldo! Lo masih di dalam?"
Tak lama kemudian ada seorang mahasiswa yang hendak masuk ke dalam kamar mandi pria. "Kamu ngapain disini?"
"Sori, aku ada perlu sama Aldo. Dia lagi di dalem. Ngga keluar-keluar dari tadi. Bisa tolong panggilin ngga?" pinta Jessy.
"Oh, tunggu bentar!"
*******
"Gue lagi males ikut kelasnya Mas Mirza tapi juga ngga punya temen buat bolos di kantin kaya gini. Makanya gue ajakin elo. hehe..."
"Tapi sori, Mel. Aku ngga bisa lama-lama disini. Aku harus balik ke kelas sekarang. Kalau ngga aku pasti ketinggalan pelajaran Mas Mirza."
Jessy menatap punggung Aldo yang buru-buru pergi meninggalkannya sendirian di kantin. Kalau memang takut ketinggalan pelajaran, tidak seharusnya ia berlama-lama di dalam toilet. Jessy jadi semakin penasaran dengan tingkah Aldo dan juga alasan kenapa ayahnya bersikap seperti itu kepadanya.
*****
Sebelum mengakhiri mata kuliahnya hari itu, seperti biasa Mirza memberikan tugas untuk dikumpulkan minggu depan. Dan kali ini Mirza akan menggunakan nilai dari tugas kali itu sebagai nilai quis sehingga harus mereka selesaikan dengan sebaik mungkin untuk mendapatkan nilai maksimal.
Aldo terlihat lesu dan tidak bersemangat. Jadi Jessy kembali mendekatinya dan mengajaknya untuk mengerjakan tugas itu bersama-sama.
"Sori, Mel. Lain kali aja yah ngerjainnya. Hari ini aku capek banget. Pengen langsung pulang."
"Oh oke. Oh ya, Do. Lo tahu ngga dimana ada orang jual buku-buku bekas? Gue butuh beberapa buku lawas yang udah ngga terbit dan ngga dijual lagi di toko buku modern."
__ADS_1
"Di jalan Semarang."
"Dimana itu? Gue belum lama tinggal di Surabaya, jadi ngga banyak tahu nama-nama jalan. Eh, tapi ngga papa, biar gue tanya google aja deh.. Lagian gue bisa nanya juga sama abang angkot kan yah?"
"Kamu mau kesana naik angkot?"
"Ya kan gue ngga bisa naik motor, kalau pake taksi atau ojek online pasti habisnya banyak banget."
"Ya udah buruan, aku anterin!"
"Yey! Makasih ya, Do? Lo baik banget."
Jessy yang hanya mengarang alasan soal buku bekas akhirnya terpaksa membeli buku yang sebenarnya tidak ia butuhkan. Karena bingung memilih akhirnya, ia membeli sebuah novel bekas yang harganya sangat murah.
"Udah Do. Ngga ada yang punya buku itu disini. Kita balik aja yuk!"
*****
Dengan kecerdikannya, Jessy akhirnya berhasil mengajak Aldo nongkrong di salah satu kafe tidak jauh dari rumahnya. Ia bercerita banyak tentang ayahnya yang sudah meninggal, tentang hidupnya yang harus terus berpindah-pindah, tentang perundungan yang diterimanya dari teman-teman SMA-nya dulu dan keputusannya untuk kuliah di kampusnya sekarang.
"Parah banget kan, Do?"
"Kamu beruntung dikaruniai otak encer, Mel. Kamu bisa bertahan dimanapun kamu berada. Ngga kaya aku."
"Kenapa ngga? Kamu suka matematika dan sekarang bisa kuliah di jurusan yang tepat."
"Siapa bilang aku suka matematika? Matematika adalah pelajaran yang paling aku benci. Sejak kecil, aku bercita-cita kuliah di jurusan desain grafis. Aku suka menggambar animasi, membuat komik dan juga fotografi. Tapi papa selalu aja maksa aku buat masuk jurusan tehnik mesin atau elektro. Bagi papa, seni dan desain grafis bukan jurusan yang prestisius dan menjanjikan seperti kakak pertama aku yang hampir menyelesaikan pendidikan dokter spesialis penyakit dalamnya di Amerika dan kakak kedua aku yang sedang kuliah S2 Farmasi di Aussie. Karena aku berkali-kali gagal tes masuk jurusan tehnik, papa akhirnya maksa aku masuk jurusan pendidikan matematika. Kamu tahu kan gimana rasanya? Aku sama sekali ngga tahu dan ngga suka dengan angka-angka tapi dipaksa untuk masuk jurusan pendidikan matematika dan dituntut untuk mendapat nilai tinggi agar tidak membuat papa malu."
Jessy berdiri lalu bergegas ke meja pemesanan dan kembali dengan segelas es coklat krim andalan di kafe itu.
"Nih!" Jessy meletakkan gelas minuman yang baru dibelinya di hadapan Aldo. "Kata orang, minuman manis bisa meningkatkan mood kita."
"Kamu sengaja mau bikin aku tambah gendut kan, Mel?"
Jessy menggeleng, "Gue rutin lari pagi setiap senin, rabu dan jumat pagi. Gue juga rutin renang setiap kamis dan sabtu sore. Lo boleh ikut gue kalau mau cepet langsing, hehe..."
Aldo tertawa mendengar tawaran Jessy. "Makasih, ya Mel?"
"Do, kalau lo ngerasa kesulitan, lo boleh kok belajar bareng gue. Gue ngga bisa janjiin lo bakalan dapat apa yang bokap lo targetin, tapi gue bakalan bantu lo buat ngerti soal angka-angka itu dan bertahan di sini sampai akhir."
__ADS_1
"Thanks."
*******