
"Lho mau ikut nggak?" kata Rey menatap wajah Renata yang tanpa make up.
"Ikut? Ikut kemana?"
"Menurut orang, di SMP kita ada hantu lho!"
Renata menatap wajah Rey. Cowok itu mengangguk dekan cepat.
"Sueeer! kami bakal menyelidiki malam ini di sini,"kata Rey serius.
"Emang disini ada apanya?" tanya polos Renata.
"Hantu, nenek nenek yang haus darah." kata Rey menjelaskan..
Renata bergidik. mendengar ada nenek nenek yang haus darah.
Ia ciut. Kalau nenek harus minum darah segar apalagi darah manusia.
Pikiran Renata berimajinasi liar.
Kalau memang, ada seorang nenek yang haus darah, pasti korbannya para siswa di SMP ini. Apalagi tempat ini terdapat kuburan terbesar.
Rey yang melihat Renata ketakutan.
Hanya tersenyum saja, dan Rey tanpa memperdulikan ketakutan Renata.
cowok itu, menceritakan kalau ada orang yang pernah ketemu nenek yang haus darah.
"Cukup!" teriak Renata histeris ketakutan. Renata benar benar ketakutan.
Rey hanya tersenyum manis. Melihat Renata yang ketakutan.
"Non, ini siang hari." Rey mengucek rambut Renata dengan lembut.
Renata, langsung memukul Rey. Dengan kerasnya.
Rey berjingkrak jingkrak, melihat Renata merajuk, menambah kecantikan asal Tasik itu.
Renata, langsung meninggalkan Rey, yang di ruang perpustakaan.
Sedangkan Rey, hanya melihat kepergian Renata menuju kelas 2B.
Apa yang Rey, ceritakan tentang hantu pada Renata itu benar adanya.
Renata ,hari itu mendapatkan cerita oleh penjaga sekolah. kak Apip.
Benar atau tidaknya itu hanya katanya.
Mungkin saja benar, tapi mungkin saja bohong.
Masa, ada mahluk halus yang haus darah. Kecuali, orang yang punya ilmu yang melanggar aturan agama. Misal bersekutu sama setan, siluman atau apalah.
Ya, sebelum pulang sekolah kak Apip. Menceritakan, kalau di ruang perpustakaan sering terjadi keanehan.
Malam hari. Sering terdengar tangisan, teriakan, atau ada orang yang berbincang seperti orang berkumpul.
Kejadian aneh pun terjadi. saat acara pelantikan yang diadakan di sekolah.
Menurut saksi ada orang yang melihat nenek yang membutuhkan darah yang segar.
Semua yang ikut pelantikan ketakutan, mereka akhirnya kabur pulang. ke rumah masing masing.
Renata, yang mendengarnya merasa ciut sekali. Kalau memang benar, pasti siswa siswi yang jadi korbannya. Mereka seharusnya sekolah, menimba ilmu. Harus meninggal begitu saja oleh setan.
Renata, benar benar bergidik. Kalau memang itu harus terjadi.
Sejak itu pelantikan Pramuka ditutup. Untuk mencegah kemungkinan yang terjadi.
Untungnya, tidak ada korban. Hanya siswa siswi trauma, kalau mengingat kejadian yang pernah terjadi.
Sebenarnya, yang bertemu nenek hanya satu orang itu juga benar atau tidaknya.
Itu hanya misteri, belum terkuak sama sekali.
Sejujurnya. Renata juga ingin, menguak misteri sang nenek yang haus darah. Apa benar haus darah, atau hanya omongan orang yang dilebih lebihkan.
Atau mungkin saja. Sang nenek, hanya korban. Dari segelintir orang, yang ingin merusak citra baik sang nenek itu.
itu yang dipikirkan oleh Renata sendiri. Mungkin ada mahluk lain yang haus darah. Tapi sang nenek itu yang jadi kambing hitamnya.
Pikiran. Renata terus dihantui, oleh sang nenek. Nenek yang belum pernah ia temui, tapi menganggu pikirannya.
__ADS_1
Kalau saja. Orang tuanya, mengizinkan ia ikut gabung. Untuk mencari tahu, sosok nenek. Dan misteri apa yang harus dipecahkan.
******
Malam Selasa Kliwon!
Lima orang, siswa siswi SMP negeri l Angsana. Yaitu; Renata, Rey, Ani, Hamdi dan Vika menuju sekolah di Angsana.
Renata, minta izin sama ibunya menginap di rumah Vika.
Orang tua Renata. Tidak tahu kalau malam itu! Putrinya akan menguak misteri, keberadaan sang nenek yang menghebohkan.
Jam 22.00 kelima anak dibawah umur, telah sampai di SMP.
Angin malam. Menembus ke tulang sum sum, bulu kuduk Renata terasa berdiri. Saat menghampiri ruang perpustakaan yang lampunya padam.
Ada lampunya. di depan ruangan guru, itu pencahayaan redup sekali.
"Kita bagi tugas ya? Aku sendirian.
Renata sama Vika dan Hamdi dan Ani,"kata Rey membagi tugas pencarian hantu yang menggemparkan SMP.
Lingkungan SMP yang penuh dengan pepohonan menambah rasa ngeri saja.
Vika dan Renata, berjalan menuju perpustakaan. Mereka berjalan berlahan lahan.
Ruangan, yang penuh dengan bahan pustaka yang berserakan tanpa diurus. Dimasuki oleh kedua gadis yang manis itu.
Vika memegang tangan Renata dengan erat.
Tiba tiba, kedua gadis itu terkejut. Mendengar buku buku, yang tergeletak di lantai semuanya berterbangan menuju keduanya.
Renata dan Vika, yang tidak menduga hanya berteriak histeris sekali.
Tiba tiba, pintu perpustakaan seperti tertutup. Kedua gadis itu memburu ke arah pintu tapi, pintunya sepeti terkunci.
Buku buku, itu melayang layang. Senter yang dibawa oleh Renata, terpental entah kemana larinya.
Vika sampai kencing di celana.
Untung Renata tidak, biarpun ia juga menggigil melihat kejadian itu.
Nyata! Di depan mata. Kakinya sakit akibat tadi lari ke arah pintu ia terjatuh.
Akhirnya, Vika langsung menuju pintu. Tapi pintu itu terkunci!
Renata biarpun kakinya sakit. ia berusaha untuk menuju pintu keluar.
Keduanya akhirnya menangis.
Sambil tangannya, menggedor gedor pintu. Ruang perpustakaan yang tiba tiba terkunci.
Renata dan Vika, bisa masuk ruang perpustakaan kerena mengunakan kunci yang di pinjam dari kak Apip.
Kak Apip, yang tahu lima orang akan menyibak misteri. sang nenek akan menemani mereka.
Ya, kak Apip ikut memburu hantu di SMP, menemani Rey.
Cowok belia itu. menuju kelas 1, yang ada di bawah.
Untuk, menuju bawah. ada tangga yang terbuat dari bambu yang dibuat tangga.
Rey dan kak Apip, menuju tiga ruangan yaitu; kelas 1A, 1B dan kelas 2A ini.
Di belakang kelas 1. Terdapat tumbuhan kaso yang liar. Tumbuhan itu, tumbuh tanpa ditanam tumbuh begitu saja.
Semak belukar, yang tumbuh tanpa dibersihkan sama sekali. Membuat terlihat hutan kecil, yang tidak terurus sama sekali.
"Rey, awas!"teriak kak Apip spontan.
Tiba tiba tanpa disangka. oleh Rey maupun kak Apip, sebuah pohon tiba tiba berdiri di hadapan mereka.
Pohon beringin.
Setahu Rey maupun kak Apip, di sekolah tidak pernah menanam pohon beringin. Sekolah itu, hanya menanam pohon lamtoro itu pun, di depan perpustakaan.
Rey yang melihat itu, langsung memeluk kak Apip.
Lelaki berumur 30 tahu, tidak menduga kalau Rey akan memeluk tubuhnya.
Terkejut!
__ADS_1
Dan tanpa diprediksi lagi. Keduanya, berguling ke semak semak tumbuhan kaso.
Dataran rendah, membuat mereka terguling beberapa kali ke bawah.
Tubuh keduanya. Terbentur bambu, kayu, serta batu batu yang ada di sekitarnya.
Mereka baru berhenti berguling. Ketika tubuh keduanya terbentur, kesebuah batu yang besar. Mereka merasa sakit, saat tubuhnya dengan keras membentur batu itu!
"Kak, itu pohon apa?" suara Rey bergetar menahan takut yang mendera hatinya.
Ia tidak memperdulikan rasa sakit yang mendera badannya.
Sebenarnya kalau mau jujur. Ia, merasa tubuhnya ringsek tidak karuan. Mungkin badannya ada memar memar yang terdapat di badannya.
Tapi, rasa takut lebih mendominasi. Kerena ia benar benar melihat pohon itu di hadapannya.
Pohon beringin itu! seperti ingin memeluk tubuhnya.
Rey yang takut. Langsung berbalik arah mau berlari, tanpa disangka sama sekali ia memeluk tubuh kak Apip dengan eratnya.
Kak Apip pun terkejut! Melihat Rey, menabrak tubuhnya. Otomatis, keduanya terjungkal masuk samak belukar.
"Kayanya pohon beringin," suara kak Apip bergetar.
Menahan sakit, akibat tubuhnya terbentur. Beberapa kali, ke bebatuan serta semak belukar.
Bekas mereka terjatuh. Terlihat kalau ada cahaya yang terang, sebagian tumbuhan itu menunduk semuanya. Akibat tubuh Rey dan kak Apip, yang terguling ke semak semak.
"Apa sekolah ini menanam pohon beringin,"ujar Rey masih belum menguasai perasaan takutnya.
"Cu!"
tiba tiba panggil seorang nenek. Muncul dihadapan kak Apip dan Rey, yang masih duduk di bawah.
Rey langsung berteriak histeris.
Kak Apip pun terkejut kedatangan nenek dengan penampilan urakan, mata yang bersinar merah.
Di mulutnya, terdapat taring yang panjang. Tangannya, penuh dengan darah segar, yang berbau amis.
Kak Apip. Langsung berdiri dan berlari, meninggalkan Rey yang dibawah.
Melihat kak Apip berdiri, dan berlari tanpa ba bi bu lagi Rey juga mengikuti kak Apip. Dari belakang. Sendal yang dipakai oleh Rey entah kemana, hilangnya.
Nafas, Rey terdengar memburu. Keringat membasahi wajah, dan badannya. Keduanya berlari sampai di halaman upacara.
Akhirnya keduanya berhenti di tangga kerena kecapean.
Rey hampir pingsan! akibat ketakutan yang sangat.
Napas mereka memburu, naik turun. Angin malam terasa sejuk menyentuh keduanya.
"Kak, kenapa lari ada apa?" kata Rey sambil melihat pria umur tiga puluhan dengan seksama ya.
Kak Apip, hanya bengong. Menatap bocah itu dengan perasaan heran dan aneh.
Pria muda, yang berat badan 78 kg hanya diam. mendengar ocehan anak tangung itu.
Ia heran, kenapa hanya dirinya saja yang bertemu dengan nenek. Dan melihat wujud asli nenek?
Apa, itu wujud asli nenek atau bukan? Kak Apip tidak langsung menjawab pertanyaan Rey. Bocah tanggung, yang masih menunggu jawaban dari dirinya.
Rey, remaja usia 14 tahun menunggu jawaban dari kak Apip.
Ia ikut lari, kerena ia melihat kak Apip penjaga sekolah itu berlari. Tapi diri tidak merasa melihat siapa siapa.
Kalau saja kak Apip, tidak lari mungkin dia juga nggak akan lari. Apalagi harus naik tebing menuju atas.
Belum sempat kak Apip. Menceritakan sosok nenek, tiba tiba sekelebat sosok memburu Rey dan kak Apip.
Mereka berdua terkejut. hampir saja mereka jatuh ke bawah.
Dua sosok itu, adalah Ani dan Hamdi yang seperti orang dikejar hantu.
"Kalian, kenapa?" tanya kak Apip menatap duanya.
"kak, tadi kami bertemu dengan nenek." ujar Hamdi dan Ani bersamaan.
Setelah Ani dan Hamdi mengaso dulu dan melepas lelah.
Ani yang dikomando oleh Hamdi. Terbata bata, menceritakan pertemuan pertama mereka dengan sang nenek.
__ADS_1
Menurut Ani, saat keduanya menuju belakang kelas 2B dan kelas 3A, B.****