
Dan malam itu, malam yang akan mengubah kehidupan mereka sendiri.
Rey dan Renata masuk ke ruangan TU.
Kedua remaja itu duduk dipojokan, perut keduanya minta isi, tapi apa yang bisa di makan oleh keduanya.
Renata tadi siang hanya makan roti isi coklat sedangkan Rey mie rebus pakai telur. Mata Renata menatap jam dinding yang ada di ruangan TU, jam itu menunjukan pukul 21.00, tapi lingkungan SMP begitu sepi sekali.
"Ren, kamu disini ya, aku nyari makan ke Angsana.
Mungkin bisa beli gorengan atau apa?" kata Rey mau beranjak dari duduknya..Tapi gadis itu langsung menahan tangan Rey.
Gadis itu hanya menggelengkan kepala.
"Aku nggak mau Rey. Aku juga lapar, tapi diluar Masi hujan lebat. Kamu tega ninggalin aku disini. Seram, Rey." kata Renata, suara gadis itu bergetar.
"Tapi, Ren." ucap Rey menatap wajah gadis itu.
"Nggak, Rey. aku iku kamu aja," pinta Renta sambil merangkul bahu Rey.
Renata bukan manja.
Tapi ia masih trauma untuk ditinggal sendirian. Apalagi hujan masih deras.
Ia tidak mau mengambil resiko untuk sendirian di sekolah. sekolah yang gelap gulita hanya ada lampu di ruangan TU saja.
Akhirnya Rey merasa kasihan melihat Renata ketakutan.
Terlihat wajahnya pucat, akhirnya ia mengurungkan niat untuk membeli makanan. Perutnya terasa perih.
Tapi ia tahan demi Renata. Tangan gadis itu masih memegang tangan Rey dengan kuat, seolah oleh ia tidak mau kehilangan Rey.
Rey memakluminya perasaan takut terhadap Renata. Kalau mau jujur ia juga takut, tapi melihat Renata seperti itu.
Ia tidak ingin menunjukan, kalau ia menunjukan pada Renata otomatis gadis itu panik dan histeris. Untuk mencegah itu semuanya, Rey mengalah.
Antara sadar dan tidak. Rey dan Renata terbangun dari tidur kerena mendengar ketukan pintu ruangan TU.
sebenarnya pintu tidak terkunci hanya ditutup saja, kerena kuncinya tidak ada.
Rey menatap wajah Renata, begitupun Renata menatap wajah Rey. Hati Renata berdebar debat tidak karuan.
Rey langsung menghampiri daun pintu diikuti Renata, gadis itu memegang tangan Rey.
Saat pintu terbuka.
terlihat sesosok nenek dengan rambut putih, mata bersinar merah dan tangan belepotan darah segar, yang menetes ke lantai serta tubuh berbau mayat.
"Cucuku, jangan takut, kami hanya butuh kehangatan saja.
Kami butuh kalian, untuk mendoakan kami disini, kami bukan haus darah hanya kehangatan untuk kami.
mohon bantu kami," ujar nenek itu sambil menatap wajah kedua remaja itu dengan mata memohon dengan sangat.
Rey cowok itu bisa menguasai dirinya, sedangkan Renata kerena takut kencing di baju sekolah.
"Mak....mak...sud, nenek apa?" suara Renata bergetar melihat sang nenek masih berdiri di ruangan itu.
Awalnya Rey ingin berbicara, tapi keburu Renata yang angkat bicara.
"Kami disini hanya kambing hitamkan oleh segelintir orang. Katanya kami haus darah, kami bukan haus darah kami butuh kehangatan dari kalian," kata nenek itu.
__ADS_1
"Maksudnya kehangatan apa yang nenek maksud?" akhirnya Rey berhasil bertanya pada nenek.
Sang nenek itu tersenyum.
" Kami ingin kalian sebagai manusia memberikan kehangatan berupa membaca Al Qur'an setiap malam Selasa dan Jum'at,
kami sangat mengizinkan kalau siswa siswi di SMP ini tiap hari Jum'at mengaji kerena kami butuh itu.
Dan jangan lakukan pembakaran dupa di setiap malam Selasa dan Jum'at." kata nenek menjelaskan panjang lebar.
"Hati hati dengan siluman panda, ia melakukan tapi kami yang jadi fitnahnya."
"Ja..di, ne...nek bukan manusia seperti kami berdua," Renata memberanikan bertanya.
Sang nenek mengangguk membenarkan perkataan Renata.
Gadis itu maupun Rey tercekat melihat anggukan sang nenek.
"Nek, kenapa nenek harus menemui kami, kami nggak bisa berkata pada kapsek disini. Kami masih kecil, mungkin usulan kami nggak akan didengarnya," kata Rey yang di iya kan oleh Renata.
"Kami percaya sama kalian. Kalian harus amanah."
Tiba tiba sang nenek setelah berbicara itu ia menghilang dihadapan keduanya. Renata dan Rey sangat ketakutan.
Sebenarnya tadi mereka sudah takut, tapi saat ingin lari kaki seperti dipaku, tidak bisa gerak sama sekali.
Akhirnya, dengan sisa keberanian, keduanya lari menuju gerbang sekolah untuk minta pertolongan ke masyarakat kp Citoke.
Tapi naas kedua terlindas mobil Merci dari arah Munjul.
kedua remaja itu tidak menduga kalau ada mobil melaju kencang menuju Panimbang,
sang pengendara juga terkejut, sang pengendara langsung menghindar tapi fatal mobil masuk parit dan menabrak bahu jalan sebelah kiri.
Pagi itu! gempar seketika.
salah satu warga menemukan mereka bertiga bersimbah darah.
Rey tubuhnya hancur, terlindas mobil. Kakinya putus, tangannya remuk apalagi bagian muka sudah tidak karuan.
Sang pengemudi mobil pun tidak bisa diselamatkan. Hanya tubuh gadis masih ada harapan.
orang tua Rey menjerit melihat kenyataan yang ada.
Tapi mau marah sama siapa, Renata langsung dibawa ke puskesmas Angsana tapi langsung di rujuk ke Pandeglang hari itu juga.
Seminggu kemudian orang tua Renata mendengar kalau orang tua Rey juga meninggal dunia, menurut kabar burung: mereka meninggal kerena orang tua Rey tidak memberikan tumbal ke siluman Panda.
seharunya selama 1 bulan mereka memberikan tumbal untuk keselamatan hidup mereka, tapi mereka tidak memberikannya..
Orang tua Rey mengikuti perjanjian tersebut. saat Rey tahu kalau orang tua bersekutu dengan siluman untuk perjodohan ini.
Rey kecewa sama ibu dan ayahnya. Ia curhat pada Renata. Gadis remaja itu tidak bergeming sama sekali mendengar curhatan Rey.
Ya tanpa diduga oleh mereka. siluman Panda ingin tumbal darah segar tapi gagal orang tua Rey selalu mengulur janjinya. Maka dari itu siluman panda membunuh Rey dan pengemudi. Renata selamat.
Tapi pak Iskandar takut kalau siluman panda mengincar Renata melalui Rey.
Mungkin siluman Panda ingin Renata jadi tumbal tapi takdir berkata lain.
Ibu Renata senang putrinya selamat dari kecelakaan biarpun ia harus kehilangan memory ingatannya.
__ADS_1
Itu kata dokter. Mungkin satu bulan, dua bulan ada kemungkinan satu tahun kata dokter menjelaskan keadaan Renata.
"kalau ibu dan bapak ingin putri kalian sembuh total. bawa putri kalian ketempat tempat dimana ia pernah disana," kata dokter menjelaskan.
Setelah keluar dari RSUD Pandeglang. Renata langsung diboyong oleh kedua orang tuanya menuju Taman Ciruas Permai blok 6 no 17.
Rumah itu untuk sementara waktu. Ibu Renata menentang keinginan suaminya untuk diam di Serang, tapi pak Iskandar tidak ingin putrinya mengingat Rey kembali.
Renata yang masih belum sembuh total Marasa asing daerah itu, kadang ia merasa heran kenapa nuansa yang dulu dan sekarang beda. Saat ditanyakan pada orang tuanya, pak Iskandar hanya menjawab tidak tahu apa apa. Mungkin itu cuma mimpi. pak Iskandar mencoba menutupi apa yang terjadi.
"Mas, apa kita nggak ceritakan semuanya saja," ujar ibu Vinda menatap suaminya.
"Nggak, Bu. fatal. Kalau kita cerita ini akan membuat dia syok, dan trauma,"tahan pak Iskandar..
"Tapi, pak! Kita cerita tentang Rey."Ibu Vinda sebenarnya ingin anaknya tahu.
Tapi pak Iskandar menahannya.Renata yang mendengar pembicaraan orang tuanya langsung menghampirinya. Gadis itu menatap wajah kedua orang tua seksama..
"Kalian menyembunyikan apa?"
"Kami tidak menyembunyikan apa apa sayang." ujar pak Iskandar cepat ia langsung meraih tangan Renata tapi gadis itu menepiskan.
wajah gadis itu penuh keinginan Tahuan.
"Bu, siapa Rey? aaaah," jerit Renata memegang kepalanya yang begitu teras berat dan sakit sekali.
Ia tiba tiba melihat lintasan cowok remaja sebayanya, wajahnya samar tidak jelas.
Otak Renata belum maksimal mengingat Rey. Akibat benturan di kepal Renata yang parah, yang membuat ingatan Renata tidak seimbang.
"Ren!" teriak ibu Vinda meraih tubuh putrinya. Hampir saja gadis itu tersungkur untungnya tangan kedua orang tua cepat menangkap tubuh Renata.
ibunya langsung membawa Renata ke kursi untuk duduk.
Sedangkan ayahnya langsung mengambil air dan menyodorkan ke putrinya.
Aneh! Renata merasa heran akhir akhir ini ia selalu diganggu oleh kelebatan bocah remaja sebaya dirinya.
Tapi siapa, dimana, untuk apa?
Ia sekolah tapi merasa asing. Teman temannya juga memandang aneh pada Renata.
Tidak seorangpun yang menemani atau cerita apa saja, di ruangan perpustakaan juga. Ada sesuatu yang hilang.
Tapi ia harus menjalani semuanya, ada rindu tanpa terungkap.
pak Iskandar sebenarnya tahu Renata kesepian, tapi mau bagaimana, ia yang selalu menemani putrinya, naik sepeda keliling taman Ciruas.
Pak Iskandar memperkenalkan tempat tempat di Ciruas, tapi itu yang menambah pusing di kepala Renata.
Kadang pak Iskandar memberikan waktunya buat Renata termasuk ibunya. Tapi semuanya hanya menambah Renata stres. Dan kadang gadis remaja itu menangis tidak karuan.
"Apa yang harus kita perbuat?"
"Kita harus menyakinkan kalau Renata hidup disini bukan disana?"
"Tapi kita tidak melihat perubahan yang baik, mas?"
"Kita harus berusaha?" ujar pak pak Iskandar merangkul tubuh istrinya.
Istrinya ingin menceritakan yang terjadi. Tapi, pak Iskandar menolak usulan istrinya.
__ADS_1
Apalagi kesehatan Renata belum sempurna sama sekali.
Renata hanya menuju pemulihan saja*