Misteri Pernikahan Remaja

Misteri Pernikahan Remaja
Nasehat Buat Renata


__ADS_3

Siluman panda. Beberapa kali memukul tubuh pak Hamdi.


Pak Hamdi, hanya diam saja. Bukan hanya siluman panda saja, yang heran. Kenapa ada dua Rey dalam satu malam.


Rey, siluman Panda pun, syok melihat kenyataan yang sebenarnya.


Ia, tidak menyangka. Kalau ia ada dua sosok yang berbeda.


Pak Hamdi juga heran. Ia benar benar merasa gagal, untuk melakukan yang terbaik buat siluman panda.


Saat itu!  Juga tubuh pak Hamdi, dilemparkan begitu saja oleh ketua siluaman panda.


Geram. Sekali.


Matanya, merah menahan marah..


Ketua pergi meninggalkan tempat itu. Tapi, Sebelum siluman panda, meninggalkan tempat itu. Tiba tiba, sebuah sinar menelan tubuh siluman panda.


Semua, yang ada di tempat itu, hanya bisa memandang saja.


Sebuah sinar, yang tiba tiba menelan tubuh ketua siluman panda.


Sebelum, sinar itu datang! Angin yang sejuk, tapi lambat yang, mereka rasakan dulu.


Tidak, terlalu lama. Sinar itu datang, begitu saja.


Sinar, berwarna merah. Melumatkan tubuh ketua dengan sekali peras.


Tubuh itu tercabik tercabik. Hanya remah remah tubuh yang berserakan di tanah. Tidak, ada teriakan dari mulut siluman panda.


Tidak, ada teriakan.


Diam.


Mata memandang syok.


Semua, siluman seperti tersapu gelombang itu..


Tertiup angin yang meniupkan dedaunan yang tumbuh disana.


Rey siluaman panda lemah. saat tubuh ketua itu lenyap. Rey pun merasakan kesakitan dalam tubuhnya bagaikan diiris dan dicabik.


Renat,  hanya bisa melihat. Sosok Rey siluman panda. ia menatap wajah Renata dengan perasaan yang lain.


Ia.melolong lolong menahan sakit yang dirasakan didalam tubuhnya.


Roh Rey yang melihat itu hanya membiarkan saja. Renata langsung membungkuk diatas mayat ayahnya..


Ayah yang selama ini, membuangnya. Ayah yang tidak mengakui, tapi dari darah ayahnya ia hidup sampai sekarang.


Ya, ia akhirnya tahu. Saat ayah cerita kalau ayah nya mendonorkan darah buat dirinya.


Ya, dari darah ayahnya lah, ia bisa melanjutkan hidupnya.


"Ayah!" Isak Renata.


Ia, menangis melihat tubuh ayahnya. Rey siluman telah musnah. Rey menghampiri tubuh ayahnya.


"Ayah, ibu, ini kerena Renata.


"Semuanya telah berakhir." bisik Rey menatap gadis di depannya.


Pak Iskandar, merangkul tubuh Renata dengan lembutnya.


Gadis manis itupun.


Bahagia sekali, biarpun ada sesal di hati. Pertemuan yang tidak, di sangkarnya.


Wajah, pak Iskandar. Menyiratkan kegembiraan, begitu juga Gio dan mbah Mardi yang masih ada di tempat itu.


Ia, merasa kasihan pada Renata. Renata harus merasakan kehilangan orang orang yang ia sayangi.


Dan, mengalami berbagai peristiwa.


Tapi, ia berjanji. Dihadapan pak Hamdi, ia berjanji akan mendidik Renata menjadi wanita yang bisa di harapkan.


Tiba tiba Rey menyentuh tangan Renata dengan lembutnya. akhirnya keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


"Kak!" hanya itu yang bisa Renata sebutkan.


Ada keharuan di hati Renata. Hanya pertemuan ini yang ia rasakan.


Bukanya Renata tidak bersyukur. Tapi, kenapa pertemuan mereka seperti ini, pertemuan antara roh dan jasad yang hidup.


Tapi, ia merasakan kalau Rey pun memeluknya. Kalau saja ia tahu dari dulu. Ia, mungkin tidak akan ingin berpisah dengan Rey.


"Kakak, maafkan Renata. Renata,..."tangis Renata dipelukan  Rey.


cowok itu, membalas pelukan Renata.  Sang adik yang akan tetap menjadi adik kecilnya.


Ia, merasa senang bertemu dengan Renata.  biarpun bukan di dunia nyata tapi di dunia lain.


Pak Hamdi dan Ibu Risnawati, muncul dan memeluk tubuh Renata.


"Ayah!" tangis gadis itu..


Renata langsung membalas pelukan kedua orang tuanya.


Pelukan yang sama. Pelukan, seperti dulu. Hangat.


Pak Hamdi, terguncang! Saat tubuh memeluk gadis yang akan dikorbankan.


Gadis, yang pernah dibuangnya. Kini berada di hadapannya. Dan panggilan ayah mengetarkan hatinya.


Pak Iskandar yang melihat itu hanya tersenyum. ia bahagia sekali melihatnya. Biarpun dua yang berbeda, tapi mereka bisa bersama.


Mungkin sementara waktu. Kerena, mereka telah beda alam.


Renata benar benar bahagia melihat kedua orang tuanya tersenyum dan memeluknya.


"Aku ingin kalian bahagia.  Apa yang aku lakukan untuk kalian?"tanya Renata menatap wajah kedua orang tuanya.


"Mungkin, hanya ini yang aku bisa berikan buat kalian. Maafkan Renata," lanjut Renata, wajahnya berseri seri.


"Ren, jangan lupakan kami ya.


Kami butuh kehangatan, yang hanya kalian yang mampu melakukan itu sayang."


Wanita muda itu, langsung memegang tangan Renata. menatap wajahnya, seperti dulu.


Ibu Risnawati menangis.


"Kami hanya butuh kamu, membaca Al Qur'an di malam Jum'at. Supaya kami merasakan alunan suci Alqur'an." Kata ibu Risnawati.


"Kami nggak butuh kemenyan atau apa lah.


Itu hanya menyesatkan kalian.


Kalian manusia  yang diberi kan kelebihan akal oleh Allah, jangan sampai mengikuti jalur yang menyesatkan.


Kami, telah lakukan. Kami terhasut oleh keindahan dunia, tanpa melihat keindahan akhirat." kata pak Hamdi angkat bicara. Setelah istrinya lama tidak bersuara.


"Siluman dan syetan, tidak bisa mengunakan akal itu untuk kebajikan ya.


Kita yang diberi akal harus, selalu berjalan dijalan yang diridhoi oleh Allah." lanjut pak Hamdi.


BLAR BLAR BLAR


"Kata kata itu..." ujar Renata seperti mengingat.  Kata kata yang pernah ia dengar,  tiga tahun yang lalu.


"Kamu masih ingat kata kata itu, Renata? tanya Rey tersenyum menatap Renata.


Ada kehangatan. Dimata Rey, untuk Renata.


Gadis itu mengangguk setuju. Ya kata kata yang pernah terucap ketika sebelum kecelakaan itu.


"Lakukan demi kami, kami butuh itu, dik!" kata Rey sambil mencium rambut Renata.


Renata menangis.


Rey tersenyum. Pak Hamdi dan istrinya tersenyum bahagia.


Pak Iskandar, Gio dan Mbah Mardi hanya tertunduk mendengar percakapan keluarga itu.


"Kalau Renata mampu untuk membaca Al Qur'an dan sholat. Mbah akan mengikuti, Nak.

__ADS_1


Kerena, selama ini Mbah juga salah." kata Mbah Mardi menatap wajah Renata.


Renata mengangguk. Ia, juga kini jauh. Jauh meninggalkan Allah. Biarpun ia jauh, tapi Allah selalu menolongnya.


"Renata. Apapun yang terjadi, kau harus bersyukur. Apa yang Allah berikan padamu, syukuri semuanya.


Jangan sampai, kau seperti ayah. Ayah, selama ini tidak pernah bersyukur. Ayah, malah protes sama Allah, dan mengikuti nafsu ayah." kata pak Hamdi kembali.


"Kau harus bersyukur, punya Ayah seperi pak Iskandar. Ia,  ayah sejati, nak. Maafkan ayah, ayah salah samamu dan ibumu.


"Gio, aku titip adikku. Jaga ia, sayangi ia. Seperi kau menyayangi dirimu sendiri." kata Rey, menepuk bahu Gio dengan lembut.


"Rey, kamu yang tenang ya. Semoga, Allah memberikan yang terbaik buat kalian." kata Gio, sambil mengangguk mendengar kata kata Rey.


"Kami pergi, nak."


ujar ibu Risnawati lemah.


Pak Iskandar dan Renata, akhirnya membaca salah satu surat di Al Qur'an, untuk mengiringi mereka.


Renata, masih melihat senyum mereka. Biarpun samar. Ketiganya pergi dengan tenang, di pelukan Illahi.


Renata menangis. Pak Iskandar merangkul putrimu. Ia, berjanji pada istrinya. Akan, mendidik anaknya. Anak mereka.


Sebelum. Mereka; Renata, pak Iskandar, Mbah Mardi dan Gio meninggalkan tempat itu. Renata menarik tangan ayahnya.


"Ayah, apa ayah dan Mbah Mardi akan meneruskan perjanjian ini." tatap Renata, pada ayah dan Mbah Mardi.


"Perjanjian pernikahan antara aku dan Gio?" Kata Renata menatap mereka semuanya.


Pak Iskandar dan Mbah Mardi saling tatap. Gio, hanya menundukkan kepalanya.


"Semua memang telah selesai. Aku dan Rey tidak menikah. Apa perjanjian perjodohan pun batal," lanjut Renata kembali.


"Baik! Kita putuskan semuanya sampai tuntas. Kalian, berdua bisa menentukan.


Kami, dulu salah menjodohkan kalian. Hanya, ingin menyelamatkanmu Renata!" kata Mbah Mardi bijak.


"Perjodohan boleh dilakukan. Tapi, jangan memaksa salah satu orang, atau dua duanya untuk menikah.


Kalian bisa lanjutkan, atau kalian bisa batalkan itu terserah kalian." sambung Mbah Mardi kembali.


Renata dan Gio bernafas lega.


"Gio, maafkan keputusanku. Aku ingin kita berteman saja ya. Insya Allah, mungin kalau kita berjodoh. Allah bakal menyatukan kita,"


"Ren, nggak apa apa. Kita masih remaja, tidak baik pacaran. Ya, Allah akan mempertemukan  kita, kalau memang berjodoh." ujar Gio mantap.


Akhirnya, malam itu.  Mereka kembali dengan hati riang dan gembira.


Dan, mereka berjanji. Akan meneruskan hidup yang lebih baik lagi.


Malam itu!


Mereka pulang. Gio memeluk tubuh Renata. Renata, merasakan pelukan Gio, seperti pelukan Rey.


Renata dan ayahnya, langsung  pulang ke Serang. Sedangkan Gio dan Mbah Mardi pulang ke tempatnya.


Renata baru ingat, kalau selama ini ia selalu meninggalkan shalat lima waktu.


Dan membaca Al Qur'an  di malam Jum'at ia rindu itu.


Sebelum kecelakaan. Ia sering membaca Al Qur'an. di saat membaca, ia merasakan hatinya begitu tenang sekali..


Ia ingin sekali bersujud di hadapanNya.


Bersujud, bersama ayah dan ibunya dulu.


Tidak lama kemudian Adzan subuh berkumandang dengan kerasnya menyadarkan Renata dari tidur lelapnya.


Ia langsung kamar mandi, ia mandi lalu mengambil wudhu.


Dalam sujud nya ia memohon pada Allah untuk memberikan ke tenangkan dan kedamaian, pada orang tuanya di alam kubur. Dan, ia mengambil Al Qur'an.


Ia, membaca dengan merdunya. Setiap membaca, air mata turun dengan derasnya. Rindu ia serahkan pada Allah.


TAMAT

__ADS_1


__ADS_2