
Angsana, 07 Agustus 1999.
Hari itu hari yang tidak terduga.
Keluarga Renata dan Rey bertemu di rumah Renata, awalnya pertemuan itu akan dilakukan di rumah Rey, tapi kerena kesibukan pak Iskandar.
Terpaksa pertemuan pertama antara dua keluarga dilaksanakan di rumah pak Iskandar.
Rey merasa heran orang tuanya membawa ke rumah Iskandar yang jalannya juga penuh lumpur.
Biarpun itu di hari kemarau, jalan becek, licin.
Cowok remaja itu tidak habis pikir, mau maunya coba orang tuanya ke rumah pak Iskandar? pikir Rey..
Rey sudah menanyakan tapi kedua orang tuanya bilang hanya silaturahim saja.
Ya, Rey akhirnya mengikuti orang tuanya, sambil ia membawa buku untuk mengerjakan PR yang di kumpulkan besok.
Setelah mereka bertiga sampai.
Renata dan Rey tidak diizinkan untuk menguping apa orang dewasa bicarakan.
Sebenarnya Rey penasaran ingin tahu apa yang akan dibicarakan oleh kedua orang tuanya dan orang tua Renata.
Terpaksa Rey dan Renata menjauh sejenak. Renata mengajak Rey ke kebun belakang rumah.
Mereka mengerjakan PR bersama sama.
Rey merasa betah ditempat itu, tempat yang sejuk sekali.
Ia menatap belakang rumah Renata yang asri sekali. banyak pohon yang rindang.
Pohon kopi, pohon kapuk, pohon kecapi, pohon jambu air, pohon kelapa.
halaman belakang yang rapi, kerena sang pemiliknya mengurus lingkungan. di belakang ada kebun yang kecil.
Ada tanaman tomat, cabai, terung, nanas, jambu, dan masih banyak lagi yang ditanam oleh ayah Renata.
Angin sepoi Sepoi, terasa sejuk sekali. panas siang hari tidak terasa kerena sinar matahari. Tertutupi dedaunan yang rindang.
Suara burung burung kecil bernyanyi riuh sekali.
Burung kecil berlarian diantara ranting ranting pohon sambil bercanda bersama keluarganya.
Mungkin hanya 30 menit berselang.
setelah Rey dan Renata menyelesaikan PR mereka.
Tidak lama kemudian.
Orang tua Rey dan Renata menuju belakang, menghampiri kedua remaja yang sedang asyik berbicara tentang sekolahan.
"Ren, maafkan kami ya. Kami hanya ingin pertemanan kami semakin akrab jadi kami menjodohkan kalian,"suara ibu Vinda menatap wajah putrinya.
Perkataan ibu Vinda yang tiba tiba tanpa hujan dan angin membuat Renata dan Rey syok mendengarnya.
pak Iskandar yang masih di dalam langsung ke luar menghampiri istrinya.
Ia juga kaget mendengar kata kata istrinya pada Renata.
Belum sempat pak Iskandar bicara, sepatah dua patah kata.
"Buuu!" Renata syok mendengar ucapan Ibunya.
__ADS_1
Bukan hanya Renata yang menolak.
Rey juga menolak secara langsung di hadapan kelima orang, termasuk Renata.
"Kami masih kecil! kalian hanya mementingkan diri kalian saja,"sembur Rey marah. c
Cowok itu berlari meninggalkan tempat itu.
Renata yang melihat itu, ia juga langsung masuk kamar dan tidak mau keluar kamar.
Hatinya tidak menerima sama sekali perjodohan yang akan terjadi?
Renata langsung menangis. Ia tidak menyangka kalau ibu punya niatan menjodohkan dirinya dengan Rey.
Memang Rey baik, perhatian dan baik. Apa tidak terlalu dini. Renata mau marah tapi marah sama ibunya?
"Rey!" teriak Ibunya yang melihat Rey tanpa permisi lagi langsung meninggalkan tempat itu.
ibu Rey ingin mengejar tapi tidak jadi. Wanita itu hanya bisa menatap kepergian putra tercintanya.
"Kalian? Apa yang lakukan pada Rey dan Renata? Kalian sadar apa tidak,
mereka masih dibawah umur,
seharusnya nya kalian tahan dulu kata kata itu!" pak Iskandar marah besar.
Mukanya merah padam menahan amarah yang meluap.
"Pak, kami tidak,...." suara pak Hamdi ciut.
Pria itu tidak menyangka kalau pak Iskandar akan marah mendengar perjodohan yang diungkapkan pada Renata dan Rey, menurutnya itu lebih baik daripada perjodohan disembunyikan saja.
"Tidak, apa? Apa kalian ingin merusak masa depan mereka!" teriak pak Iskandar dengan kerasnya.
Ibu renta berkerut ketakutan melihat suaminya seperti itu. Ibu Rey terisak. pak Hamdi mematung..
"Kalian pergi dari sini. Kita bicarakan masalah ini setelah kedua anak itu kuliah atau lulus kuliah." lanjut pak Iskandar mengusir kedua suami istri itu.
Akhirnya dengan perasaan tidak karuan Pak Hamdi dan istrinya akhirnya pamit. Mereka harus mencari Rey.
cowok itu pulang setelah mendengar pembicaraan kedua orang tuanya.
Memang Rey tidak memungkiri kalau dirinya suka Renata tapi apa mungkin mereka harus menikah dini, kerena keegoisan orang tua masing masing.
Ia ingin sekolah tinggi meraih cita cita, bekerja dan baru menikah.
Rey kecewa sama orang tuanya, benci, marah.
Cowok itu berlari dengan kecamuk hati tidak karuan sama sekali.
Ia berjalan kaki menuju ko sawah dan belok ke arah jambu ***.
Rey merasakan ia seperti dituntun ke suatu arah yang asing baginya.
Ia berlari dan berlari menuju jalan sawah yang basah.
Lahan persawahan yang luas, membuat ia memandang kearah mana saja.
Kakinya berjalan menuju sebuah perbukitan yang kata orang perbukitan yang disana terdapat patung kuda.
Entah benar atau tidaknya tempat itu tidak terjamah manusia.
Kerena lelah Rey berhenti dulu, ia duduk istirahat di bawah pohon namanya entah apa.
__ADS_1
Semilir angin membuat badannya sejuk sekali, apalagi keringat di tubuhnya banjir.
Rey, memandang pemandangan yang begitu indah. pesawahan yang luas,
bagaikan lautan, padi padi yang mulai tumbuh subur.
Disisi lain .
Orang tua Rey juga bingung harus mencari kemana anaknya, anaknya yang akan meneruskan hidup mereka harus pergi kerena keegoisan Meraka.
"Mas, apa kita tidak berburu buru," ibu Rey bertanya pada ayah Rey.
"Nggak, Bu." Ini udah di rencanakan oleh mereka, kita tinggal terima beresnya saja.
"Mas, apa Rey harus tahu ini? Masalah kita?" ucap ibu Rey memandang dedaunan yang tertiup angin.
"Jangan dulu. Dia bakalan tidak akan menerima , kehadiran kita. Apa ibu ingin Rey pergi setelah tahu kebenarannya?"
Ibu Rey terdiam. Mereka pulang berjalan kaki, kerena jalan yang akan dilalui penuh lumpur.
Jadi percuma membawa kendaraan juga, kerena tidak akan mungkin dibawa dan ditumpangi.
Mereka bicaranya sambil berjalan melalui jalan yang penuh lumpur. Celana yang dipakai juga harus dilipat supaya tidak kena kotor dan basah.
Pak Hamdi dan istrinya telah sampai di rumah tapi Rey tidak ditemukan sama sekali di rumah itu.
Akhirnya mereka mencari ke rumah teman temannya tapi Rey tidak ditemukan sama sekali.
Ibu Rey hanya memandang wajah suaminya, ada rasa khawatir berkecamuk dalam dadanya.
pak Hamdi hanya bisa memeluk tubuh sang istri dengan perasaan bersalah.
Ya apa yang diomongkan pak Iskandar ada benarnya, tapi rencana ini harus dilakukan.
Pak Hamdi hanya ingin supaya rencana yang dibuat oleh sang panda terencana rapih, lancar, tapi melihat Rey dan Renata seperti itu kemungkinan besar gagal.
Apalagi sekarang keberadaan Rey tidak diketahui sama sekali.
Orang dipikiran oleh pak Hamdi masih di hutan desa Kramat manik. Ia terduduk, dengan perasaan sedih, kecewa atas keputusan orang tua yang begitu bergegas gegas mengambil
keputusan tanpa ada rundingan dan persetujuan yang kuat dengan dirinya maupun Renata sendiri.
"Cu, kenapa kau disini,"suara pria itu menghampiri cowok yang duduk bersila di bawah pohon yang rindang.
Cowok remaja itu agak terkejut mendengar suara pria yang ada dihadapannya. Pria yang berpenampilan urakan, kulit yang telah keriput, mata yang bersinar cerah menyiratkan kepedihan yang mendalam.
Ia bergidik melihat wajah dan tatapan mata seperti itu. Rey berangsur menjauhi pria itu. Pria itu duduk disamping kanan Rey. Tiba tiba Rey berdengus,
ia mencium bau tidak sedap datang dari tubuh pria itu. Pria seperti tidak memperdulikan tingkah laku Rey yang begitu tidak nyaman di dekatnya.
"kalau ada masalah cerita, jangan dipendam begitu saja."
"Aku mau dijodohkan sama Renata?"
"Kau nggak mau, terus kamu kabur kesini,"tebak pria itu tertawa nyaring.
Rey menatap pria itu dengan herannya. Kenapa pria itu tahu?
"Jangan risau, kau tidak akan berjodoh dengan Renata, kau hanya bersahabat. Tapi tidak tahu dimasa depan." kata pria itu beranjak dari duduknya.
Dan ia meninggalkan tempat itu, tanpa menyuruh Rey untuk pulang ke rumah.
Rey hanya memandang kepergian sang kakek.
__ADS_1
cowok remaja itu mendesah, ada kesal dalam dadanya yang langsung dihempaskan melalui nafas.*