
Angsana, 09 September 1998.
SMPN l Angsana, sebuah sekolah negeri pertama yang berada di Perbukitan.
Berlokasi di Citoke Kecamatan Angsana.
Di depan SMP, terdapat sebuah peristirahatan. Bagi orang orang, yang telah lelah beraktivitas. Di dunia yang penuh tipu dan daya.
Tempat peristirahatan yang tidak terurus. Menjadikan tempat itu, ditumbuhi semak belukar dan tumbuhan lainnya.
Jadi kalau malam tiba, tempat itu sangat menyeramkan sekali. angker.
Ditambah lagi, di depan SMP tidak ada penerang sama sekali. Kalau malam terlihat sangat menyeramkan.
Apalagi jalan yang dilalui masih belum sempurna.
Tanjakan SMP licin, pernah diaspal hanya kuat beberapa bulan. setelah itu rusak lagi. Apalagi jalan yang curam banyak para pengendara jatuh tergelincir kalau tidak hati hati, bisa fatal.
Hari itu.
adalah hari yang berkesan sekali bagi seorang gadis bernama Renata 14 tahun.
Tidak berkesan gimana, baru kali ini ia menginjakan kaki di sekolah yang asri sekali.
Biarpun minim fasilitas.
Sekolah negeri di wilayah Angsana. para siswa siswi datang dari berbagai desa. paling jauh adalah desa Perdana .
Di Perdana, menurut orang ada SMP negeri l Sukaresmi. ada di Perdana perbatasan dengan Karyasari.
Renata, putri pertama seorang konglomerat yang hidup bergelimang kekayaan.
Ayahnya berasal dari Yogyakarta , sedangkan ibunya berasal dari Tasikmalaya.
Mereka hidup nyaman. Di sebuah perkampungan kecil, yaitu kampung Purwa Desa Dayak kecamatan Perbukitan.
Ya Renata hari itu, masuk kelas 2 SMP. ia pindahan dari Tasikmalaya. Selama ini ia dan keluarganya hidup di Tasik tepatnya Manonjaya.
Tapi, Renata harus ikut orang tua. kerena ayahnya pak Iskandar, pindah kerjaan ke kecamatan Perbukitan
Awalnya pak Iskandar, ingin punya rumah di Anhsana biar bisa dekat dengan sekolah Renata. tapi tidak ada yang kosong.
Jarak antara Angsana dan Pamarihan, 1 jam jalan kaki. Tapi kalau naik kendaraan roda 2 hanya 5 menit saja.
Renata, hanya bisa menggelengkan kepala. saat ia tahu jalan menuju Pamarihan, sungguh menyedihkan sekali.
Jalannya licin sekali, penuh lumpur.
Renata hampir menangis saat ia menuju rumahnya.
Rumah yang jauh menurutnya.
Baju yang dipakainya, penuh dengan lumpur. Kalau kakinya, salah menginjak. Bisa fatal. Bisa bisa, tergelincir ke sawah yang menghampar.
pak Iskandar, memegang tangan putrinya. Dengan sabar, ia mengarahkan jalan Renata untuk tidak tergelincir.
Setelah, ada orang yang memberitahunya. Kalau di Pamarihan, ada rumah yang akan di jual oleh pemiliknya. Maka, pak Iskandar tidak men sia siakannya.
Ia langsung, membeli rumah di kampung itu. Kampung yang jauh dari keramaian kota kabupaten.
__ADS_1
Biarpun, kampung itu. Desa tertinggal, tapi masyarakatnya ramah dan tamah. tetangga kanan kiri super baik, perhatian.
Pokoknya, Renata akan betah di rumah itu. Teman teman sebayanya juga baik baik sekali.
Rumah berukuran 800m² kini jadi milik dirinya dan keluarga.
Rumah yang asri, di depan rumah terdapat taman bunga.
Banyak bunga bunga yang terawat rapi dan segar.
Di dalam rumah, terdapat dua kamar tidur. mushola, gudang, dan kamar mandi. serta sumur timba.
Renata berjingkrak, saat tiba di rumah itu. Perasaan lelah menghilang, saat melihat rumahnya. tapi waktu sekolah tiba, Renata pasti melalui jalan itu lagi.
Renata hampir menyerah, tapi ayahnya pak Iskandar memberikan semangat untuk putrinya.
Renata hanya mengangguk saja. ia tidak bisa protes apa apa pada kedua orang tuanya.
"Jalani ini semuanya dengan ikhlas," masih terhiang hiang kata kata ibunya ketika itu. Waktu ia merajuk tidak mau tinggal di Pamarihan
Akhirnya. Renata mengikuti perjalanan itu. pagi berangkat ke sekolah dengan jalan kaki, percuma punya sepeda juga tidak bisa dipakai sama sekali.
Akibat, kondisi jalan yang tidak bisa dilalui. bisa dipaksakan itu pasti merepotkan.
Renata berangkat sekolah pukul 06.00, lama diperjalanan membuat Renata sering terlambat masuk kelas.
Renata juga harus, menunggu kendaraan roda empat. Menuju sekolahnya itu sulit sekali, kerena ini bukan kota tapi kampung kecil yang sepi sekali.
Kalau menunggu, mobil atau motor. ia menunggu di kp Rancajaya , di jalan raya. kadang kadang Renata malah memilih jalan kaki menuju sekolah.
Benar benar melelahkan sekolah tanpa berkendaraan.
begitu sejuk dan damai, masih banyak pohon pohon yang rindang dan nyanyian burung yang berkicau dikala pagi hari.
Itu yang membuat keluarga pak Iskandar termasuk Renata betah tinggal di kampung Pamarihan yang asri dan sejuk sekali.
Renata, juga tercatat sebagai murid baru di SMP negeri l Angsana.
Gadis itu riang sekali. Apalagi di halaman SMP terdapat pohon lamtoro, jarak, pohon coklat yang berada dipojok kelas 3B.
Halaman yang luas, banyak rumput yang dirawat oleh penjaga sekolah membuat sekolah itu tampak mempesona sekali.
Apalagi SMP itu berdiri di perbukitan kecil yang indah.
SMP terlihat tinggi kalau dilihat dari kp kelapa dua.
Ketika pertamakali datang ke SMP, gadis itu takjub melihat SMP yang begitu rimbun oleh pohon pohon yang rindang.
Ada sebuah taman di setiap kelas. Dan di dalam taman itu, ditanam berbagai bunga, mawar, melati, rose, anggrek, dan masih banyak lagi. tanaman yang ada dihalaman sekolah.
di lapangan upacara terlihat rumput yang dirawat oleh penjaga sekolah..
Rumput rumput, tumbuh dengan indah menghiasi lapangan upacara.
Beberapa kali, gadis itu berdecak kagum.
ada senyuman manis bibirnya yang tipis.
Rambut sebahu dibiarkan tergerai indah tertiup angin.
__ADS_1
biarpun berkeringat, masih membasahi wajahnya. Itu membuat wajahnya terlihat cantik alami.
Sebelum gadis itu, ke kelas yang ditunjuk Bu guru.
Renata menuju ruang guru.
Di ruang guru itu salah satu guru bertanya pada pak Iskandar, ayahnya Renata yang mengantarkan Renata ke sekolah.
Setelah pertanyaan cukup. Salah satu guru, yaitu ibu Ririn mengantarkan Renata masuk ke ruangan kelas 2b.
ibu Riri guru mapel Matematika.
Di kelas, yang di masuki oleh Renata. Ada bu Dian, yang sedang menjelaskan pelajaran bahasa Indonesia. Suaranya nyaring sekali, terdengar sampai ruang TU. Ruang TU berada tidak jauh dari WC guru.
Sedangkan, ruang guru berada dekat jalan utama masuk. Sejajar dengan ruang TU. Diantara ruang TU , dan ruang Guru terdapat lorong yang dimasuki, oleh murid murid yang datang dari arah Angsana.
Ruang Perpustakaan di pinggir sebelah kanan.
Ibu Dian, mempersilahkan Renata untuk memperkenalkan diri, alamat, tanggal, bulan lahir beserta umur dan hobi.
Renata langsung menyebutkan nama, tanggal, bulan lahir, alamat, hobi dan umurnya.
Setelah itu ia dipersilahkan mencari tempat duduk yang kosong, akhirnya ia menemukan bangku kosong, ia menghampiri dan meminta izin pada cowok itu.
cowok itu mengangguk dan mengulurkan tangannya kehadapan Renata yang akan duduk di samping cowok itu.
"Aku Rey!"ujar cowok manis itu tersenyum saat Renata duduk disamping Rey.
Kerena di kelas 2B tidak ada bangku kosong kecuali bangku disamping Rey.
Mau tidak mau, akhirnya Renata harus mau. Duduk di samping cowok sebayanya.
"Renata," ujar gadis itu sambil menerima uluran tangan Rey.
Jam pertama habis, oleh perkenalan dengan Renata, semua orang suka sama Renata..
Apalagi, Rey yang duduk di samping gadis itu.
Waktu istirahat. Rey mengajak ke kantin kak Apip, yang berada di belakang kelas 2A. Rey traktir nasi uduk buatan teh Aswi.
Gadis itu, sangat menikmati uduk buatan teh Aswi yang enak di lidah.
Melihat itu Rey tersenyum melihat cara Renata makan nasi uduk.
Tidak lucu bagaimana, mata gadis itu perem.melek menikmatinya.
"Sueeer, enak banget pokoknya nggak ada yang bandingan makanan ini," puji Renata mengajukan jempol keatas.
Apa yang diucapkan oleh Renata itu benar.
Ia baru merasakan nikmat makan nasi uduk. Apalagi, nasi uduk diberi taburan bawang goreng, tempe goreng, telur dan balado jengkol yang penuh sensasi.
Sejak di Tasik. Ia, suka semur jengkol. Apalagi, kalau lagi makan di masakan Sunda. Ya sudah nasi dua sendok pun amblas habis.
Renata benar benar. menikmati sekolah di Angsana.
Teman teman yang baik, ramah serta guru gurunya pun penuh dengan perhatian pada siswa siswi.
Tapi yang dipikirkannya. Bagaimana pulangnya, ia harus melewati jalan yang sama tiap harinyaa****
__ADS_1