
Pagi itu!
Sisa air hujan masih terlihat. Pagi itu, mentari pagi enggan untuk melihat wajah bumi.
Ia masih bersembunyi. Di awan yang masih menghitam. Tanda tanda hujan akan turun kembali.
Angin dingin. Hujan gemericiknya masih ada.
Di depan gerbang SMP Negeri Angsana.
Terlihat kerumunan orang orang yaang melihat kecelakaan yang terjadi.
Semua orang merinding saat melihat kedua tubuh yang tergeletak..
penuh darah.
Awalnya.
Pak Hamdi, akan datang sendiri ke TKP. Tapi, niat itu diurungkannya. Akhirnya mereka menuju SMP.
Ibu Risnawati. Tidak, diberitahu sebelumnya. pak Hamdi tidak menceritakan, ia hanya mengajak istrinya.
Istrinya, akan ke kamar Rey, tapi pak Hamdi langsung menarik tangan istrinya untuk masuk mobil.
"Mas, kenapa kita pergi? kemana?" tanya istrinya.
Ia merasa heran sama suaminya. Tapi pak Hamdi tidak menyahut pertanyaan istrinya.
Dengan perlahan lahan ia membawa roda empatnya.
Ibu Risnawati, hanya menatap wajah suaminya.
Dengan penuh keheranan.
Setelah sampai di depan SMP. Mereka melihat yang terjadi!
Pak Hamdi dan istri terguncang saat tahu Rey meninggal di tempat.
Ia tidak menyangka kalau kecelakaan akan merenggut Rey di hadapan mereka.
Ibu Risnawati meraung raung. melihat Rey seperti itu.
Pertahanan ibu Risnawati bobol juga. Pak Hamdi hanya bisa termangu melihat apa yang terjadi.
Tubuh Rey. remuk. tanpa bentuk, kepala hancur, tangan terputus, kaki satunya terpental.
Darah membanjiri tempat itu!
Ibu Risnawati tidak menduga kalau Rey mengalami itu.
Ya, ia baru sadar. Kemarin sebelum Dzuhur hujan menguyur desa Angsana. Rey tidak pulang.
Awalnya, ia menyangka kalau Rey pulang terlambat saja.
Tapi kenyataan yang ada. Ibu Risnawati kembali menangis lagi. Hatinya tercabik melihat keadaan Rey.
Ibu Risnawati baru sadar. Kalau Rey, memang pada malam itu tidak pulang. ia mencari cari Rey ke teman temannya.
menurut teman temannya Rey masih di sekolah. Ketika magrib tiba, ia tertidur kerena kecapean..
Ibu Risnawati tidak sadar. Kalau ia tidur kerena siluman panda yang melakukan penyireupan dulu. Memang, hujan masih lebat saat itu.
Malam itu. Ibu Risnawati tidak menyadari hal itu. Akhirnya, ia tertidur dengan pulas. dan paginya ia bangun. Disangkanya Rey sudah pulang.
Ia menyesal sangat menyesal.
__ADS_1
Tidak menjemputnya di sekolah. Membawakan payung buat Rey.
Kalau saja. Semuanya, bisa kembali ke awal.
ibu Risnawati, ingin menjemput Rey.
kalau ingat itu. Ia hanya bisa menangis. Menyesali tindakan dirinya, yang begitu percaya pada Rey.
Hari ini Rey tidak pulang.
Rey pulang ke pangkuan tuhan.
Tidak tahunya. Rey kini telah meninggal. Meninggalkan dirinya.
Tangis, ibu Risnawati masih terdengar. Memilukan hati yang melihat.
Segelintir, orang menyalahkan kedua orang tua masing masing.
Anak belum pulang..Tidak dicarinya. Saat terjadi kecelakaan baru menyalahkan sendiri.
ibu Risnawati, benar benar terpukul sekali. ia tidak menduga sama sekali, kalau Rey akan mengalami hal itu.
ibu Risnawati, duduk di samping suaminya. Di atas rerumputan yang tumbuh di pinggir sekolah.
mata mereka kosong. Menatap, kerumunan orang orang yang masih berkerumun.
kadang ibu Risnawati menghampiri tubuh anaknya.
warga banyak yang tersentuh. Tapi, hanya diam saja, ada salah satu warga yang memapah ibu Risnawati..
untuk duduk kembali.
Pak Hamdi tidak kuat melihat kenyataan anak yang disayang, anak yang dibanggakan kini hilang lenyap.
bisik hati pak Hamdi. Ada kecamuk, sesal, marah.
Tapi sama siapa? dirinya? ya, seharusnya, ia menyalahkan dirinya.
kerena dirinya lah semua peristiwa terjadi.
Pak Hamdi, hanya bisa mendesah. Tidak bisa berbuat apa apa.
Hatinya hancur. Melihat kenyataan yang terjadi, orang yang disayangi jadi korban.
korban kerena nafsu dan keserakahan..
membawa bencana dalam keluarganya.
kalau boleh mengulang. Ia ingin hidup sederhana saja, tanpa harus di korbankan. Tapi, terlambat..
kerena ini telah terjadi.
Ia terduduk. Pikirannya kosong. Ia tidak menggubris istrinya. ibu Risnawati masih meraung, memegang tubuh anaknya.
Tubuh itu.
Tubuh yang di urus, saat sakit. Kini hancur.
Warga disana diam. Tidak bisa apa apa melihat tubuh ibu Risnawati. RT setempat langsung memberikan evaluasi pada warganya.
Untuk mengurus dua remaja itu.
Tubuh Renata dibawa ke Puskesmas Angsana. ibu Vinda dan pak Iskandar pun kesana.
Awalnya, tubuh Rey akan dibawa ke puskemas Angsana. Tapi, melihat ibu Risnawati dan pak Hamdi seperti itu. Mereka akhirnya mendiamkan mayat Rey di sana.
__ADS_1
Mereka hanya, melihat sekilas tubuh Rey. ibu Vinda dan pak Iskandar merinding melihat tubuh Rey seperti itu.
Pak Hamdi hanya bisa diam terduduk. Pandangan kosong. semua warga langsung mengurus tubuh Rey.
ibu Risnawati hanya bisa pasrah. Awalnya mereka melarang tubuh Rey diangkut. Tapi kepala desa Angsana..
memberikan nasehat untum kedua ssuami istri. akhirnya mereka mengizinkan untuk kebaikan Rey sendiri.
pandangan wajahnya pak Hamdi kosong.
ibu ibu di sana. membantu ibu Risnawati dan pak Hamdi, untuk tetap tegar dan sabar..
Tapi, ibu Risnawati diam tidak bicara apa aapa. Wajahnya menunduk.
Mereka juga terenyuh melihat ibu Risnawati seperti itu.
Lebih parah lagi ibu Risnawati yang telah membesarkan Rey dengan ketulusan dan kesabaran.
Ia hanya ingin melihat anaknya Basar, menikah punya anak, punya rumah, tapi itu hanya bayangan saja.
Orang orang disana menolong keluarga pak Hamdi dan pak Iskandar.
Tubuh Rey, yang terputus dikumpulkan, lalu dibawa dengan kantong jenazah dari puskesmas Angsana untuk dikuburkan dengan layak.
Ibu Vinda dan pak Iskandar tidak bisa menjenguk keluarga pak Hamdi, mereka hari itu meluncur ke Pandeglang.
Untuk menyelamatkan nyawa Renata.
Ibu Vinda dan pak Iskandar. Hanya termangu, saat dokter mengatakan kalau Renata butuh donor darah.
kerena persediaan darah di rumah sakit habis, Ibu Renata hanya bisa meraung memeluk suaminya.
Pada hari itu pak Iskandar mengunjungi pak Hamdi, biarpun bukan waktu yang tepat bagi mereka bertemu..
Tapi bagaiman lagi nyawa Renata lebih penting.
Setelah penguburan selesai.
Pak Hamdi dan ibu Risnawati hanya bisa memandang keramaian di rumahnya.
apalagi jasad Rey setelah di mandikan, disholatkan warga dan lalu di kubur di tempat itu.
Warga kampung itu banyak melakukan Tazkia untuk menemani ibu Risnawati dan pak Hamdi.
Ibu Risnawati terkejut melihat kedatangan pak Iskandar..
Wajah kedua suami istri itu saling pandang satu sama lainnya.
"Maaf, sebelumnya.
Memang waktu ini belum tepat untuk bicara. apalagi kita lagi mendapatkan musibah."
kata pak Iskandar tiba tiba sambil menunduk..
Ada keraguan dalam hati untuk mengungkapkannya.
Pak Hamdi dan ibu Risnawati hanya diam saja.menunggu apa yang akan dibicarakan oleh pak Iskandar.
"Kami hanya butuh darah.
Renata membutuhkan darah ayah kandungnya." ujar pak Iskandar menatap wajah pak Hamdi dan ibu Risnawati bergantian.
Pak Iskandar sebenarnya sudah pasrah apa yang akan terjadi.
Tapi melihat pak Hamdi mengangguk, pak Iskandar bernafas lega.*
__ADS_1