Misteri Pernikahan Remaja

Misteri Pernikahan Remaja
Bertemu Mbah Mardi


__ADS_3

Malam mulai datang!


pria tua muncul kembali.


Rey tidak bereaksi sama sekali.


Ya, Rey sejak kabur di rumah Renata masih berada ditempat itu.


Pria tua itu datang kembali, ditempat Rey.


Mbah Mardi nama itu terucap di mulut pria tua itu.


Kerena malam tiba! kakek itu mengajak Rey ke sebuah pondok bersamanya.


Rey hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia tidak mau.


Akhirnya mbah Mardi meninggalkan Rey, tapi cowok itu langsung meraih kaki Mbah Mardi yang akan meninggalkan tempat itu. Ia ngeri kalau sampai pria tua itu meninggalkan dirinya di tempat itu.


"Kek, aku mohon jangan tinggalkan aku, kakek mau kemana lagi?" ujar suara Rey itu.


""Kamu mau ikut bersama aku, atau tidak?


Kalau mau ikut ayo cepat bangun ikuti kemana aku berjalan, tapi kalau kau nggak ikut ya udah disini saja," tatap Mbah Mardi nanar.


Rey mengangguk.


Ia, akhirnya mengikuti orang tua itu.


Disaat Rey ikut dengan Mbah Mardi.


Rey itu tidak tahu kalau perasaan orang tuanya lebih takut kehilangan anak tunggal satu satunya.


"Kita jangan mengambil keputusan, terlalu bahaya." kata sebuah suara menggema di ruangan tamu.


Suara itu seperti berasal dari tv. tapi, tv yang berukuran 14 inc diam saja tidak ada keanehan sama sekali.


Pak Hamdi menatap tv mendengar suara itu. pak Hamdi langsung mendekati tv, tiba tiba terlihat sosok panda yang berwarna putih dan hitam berada dihadapan pak Hamdi.


Lelaki 40 tahun itu terkejut hampir saja ia berlari kalau tidak ditangkap oleh beruang yang ada dihadapannya.


Ibu Rey dengan spontan langsung berteriak dan berlari, tapi tubuh itu tersungkur menabrak tembok penghubung ruang tamu dan ruangan tengah.


Pak Hamdi mau menolong, tapi sang panda masih menggenggam tangan pak Hamdi, akhirnya ia membiarkan istrinya pingsan disana tanpa pertolongan sama sekali.


"Kamu sebenarnya siapa, apa yang kau ketahui." suara bergetar terdengar mulut pak Hamdi.


"Kalian mau menjodohkan Rey dan Renata, kami sebagai siluman panda akan membantu kalian asal kalian," kata panda dihadapannya.


"Asal apa?" kata pak Hamdi tidak sabar.


"Asal setelah kalian menikahkan putra kalian, kalian harus mencari tumbal darah manusia tiap malam Selasa dan Jum'at.


darah itu akan menjadikan kekuatan bagi keluarga panda,


kalau kau ingkar kau dan keluargamu akan mengalami nasib yang mengenaskan."suara panda menggema di ruang itu.


Pak Hamdi diam saja, ia tidak berkutik. syarat yang digunakan sangat berat, keluarganya yang menjadi tanggungan.


Akhirnya pak Hamdi menyetujui syarat itu.


Siluman Panda tertawa renyah mendengar persetujuan pak Hamdi.


tapi siluman Panda, merasakan kalau  Rey berada dilingkungan yang tertutup.


Sinyal yang diberikan oleh siluman Panda tidak bisa menembus aliran yang menjaga Rey. Rey di tempat yang aman pikir siluman panda itu kecewa.


****


Satu bulan Rey berada di pondok tua itu..


Orang tua Rey sangatlah mengharapkan Rey pulang.


Tapi orang yang ditunggunya seperti ditelan bumi. Setelah satu bulan Rey menghilang, ia muncul di hadapan Renata.


Cowok itu memeluk tubuh Renata dengan hangatnya. Renata berusaha mengorek keterangan keberadaan Rey.


Rey akhirnya cerita kalau selama ini ia berada di hutan kecil di desa Kramat manik dan bertemu dengan Mbah Mardi yang baik.


Selama ini Rey di pondok, seperti di rumah sendiri.


Dan Rey cerita kalau selama ini orang tuanya berkomplot dengan siluman panda untuk mengambil Renata di orang tuanya.

__ADS_1


Renata yang mendengar cerita itu syok mendengarkannya, ia tidak menyangka kalau orang tua Rey akan berbuat itu Sama keluarganya, termasuk pada dirinya.


"Kita harusnya tidak menikah?" kata Rey menatap wajah Renata.


"Maksudnya?"


"kita masih saudara,"ujar Rey.


Renata menatap wajah Rey dengan keheranan.


"Kata Mbah Mardi kita saudara kandung, itu benar atau tidaknya," ujar Rey.


"Maksudnya kakak adik?"


Rey mengangguk ragu. Renata syok.


"Kamu percaya begitu saja, sama orang yang belum Lo kenal?"


Belum sempat Rey menceritakan semuanya bel masuk sekolah berbunyi.


Akhirnya mereka langsung menuju kelas.


Renata masih terpikirkan kata kata Rey tentang persaudaraan antara dirinya dan Rey. mustahil desahnya.


Selama pelajaran pikiran Renata kacau balau memikirkan ucapan Rey,


ia ingin sekali menanyakan ini pada orang tuanya, tapi keinginan


Renata tidak selalu berjalan dengan rencananya. Rencana Tuhan lebih indah. Sebelum jam pulang tiba.


Hujan turun dengan lebat, disertai petir dan gemuruh langit. hujan seperti sengaja diturunkan.


Hari itu bumi mengamuk, angin kencang berliuk liuk.


Renata hanya menatap air yang turun dari langit.


Sejak siang hujan mengguyur Angsana dengan derasnya.


Hujan seperti ditumpahkan dari langit. Kaki kaki hujan  menghunjamkannya perut bumi yang rindu nyanyian hujan.


Sudah tiga bulan desa Angsana dan sekitarnya tidak tersentuh air hujan.


Hari ini Kamis Angsana hujan dengan lebatnya. Angin tertiup begitu hebatnya.


Mau hujanan ia takut ada guntur dan kilat apalagi perjalanan pulang masih jauh.


Jarak Angsana dan Pamarihan memakan waktu 1,5 jam jalan kaki.


Tapi untuk kendaraan roda dua mungkin 5 menitan itu juga kalau jalannya bagus. Sedangkan jalan menuju Pamarihan masih jauh dari sempurna.


Ya jalan ke Pamarihan masih rusak tanpa aspal.


Jalan di lalui juga sangat susah, apalagi kendaraan roda dua tidak akan mungkin bisa, paling bisa di dorong.


Apalagi jalan desa Kramatmanik yang terhubung ke perbatasan anatar desa karyasari sebelah barat.


Di desa karyasari untuk sampai ke Pamarihan sangatlah rumit, akibat jalan yang penuh lumpur yang pekat.


Menjadikan jalan hancur tidak berbentuk.


Sebenarnya kalau jalan bagus, pemandangan desa kramatmanik sangat menakjubkan kerena penuh dengan hamparan padi yang menguning.


Tapi teman teman yang rumahnya dekat malah berani hujanan,


mereka menerobos air yang begitu lebat, disertai gemuruh angin yang tidak henti hentinya bergoyang.


Tapi buat Renata ia masih bertahan untuk tidak beranjak dari berdirinya.


Matanya memandang lesatan kaki hujan, menimbulkan air yang keruh.


Renata masih anteng dengan pikirannya. Akhirnya teman teman yang lain satu persatu pulang, dengan cara mencari daun pisang yang dijadikan payung.


Mereka menunggu hujan tidak pernah reda, ya hujan seperti ini memang sangat lama untuk reda juga.


Rey yang masih berada di sekolah. Ia, dari tadi dalam kelas bersama teman temannya. Saat teman temannya pamit pulang,


akhirnya ia keluar dari kelas menuju luaran. Tiba - tiba ia melihat Renata menatap lesatan hujanan.


Cowok manis itu menghampiri gadis itu.


"Ceritanya lagi melamun ya?"usik Rey mengusap pipi Renata yang sedang berdiri menunggu hujan berhenti.

__ADS_1


Gadis itu agak terkejut mendapat sentuhan dari Rey.


Ya sejak mereka bertemu cowok itu tidak pernah menyentuh pipinya, baru kali ini ia mendapatkan sentuhan dari Rey.


Jadi waktu Rey menyentuh ia sedikit terkejut sekali.


"Rey!" ujarnya.


Ia masih ingat kalau dia dan Rey saudara kandung.


Adakah saudara kandung menyentuh saudara kandung. Batin Renata berkata, tapi ditepiskan saja.


"Ke ganggu nih!" senyum Rey manis.


Rey ingin menggoda Renata, ia tidak ingin perjodohan orang tuanya merusakkan keakraban yang pernah terjadi.


Rey tahu kalau Renata tidak menerima perjodohan ini, termasuk dirinya sendiri.


"Nggak, cuma kaget saja ujung ujung ada kamu disini," kata Renata tersenyum manis..


"Ini udah jam 15.00, tapi..."ucapan Renata menggantung.


Ia menatap jam yang ada di ruang TU, memang benar jam menunjukan angka yang pendeknya ke nomor 03.


sedangkan jarum panjangnya ke 12. Rey mengambil nafas dan mengeluarkan dengan cepat seperti ia membuang beban di dalam dada.


"hujan masih deras, kalau kita hujanan takut sakit," kata Rey seperti tahu perasaan Renata.


"Bukan itu, yang lain udah pulang, masa kita disini terus. aku takut kalau hujan nggak berhenti terus kita bagaimana?" kata Renata,


ia masih trauma untuk menginap di sekolah. Ia masih ingat buku buku yang terbang begitu saja, trus menghantam tubuhnya. Buku buku yang melayang seperti dilempar orang begitu saja.


Ada yang kena muka, kepala, kaki, pinggang, tangan, bahu.


Membayangkannya saja Renata takut sekali itu terulang pada dirinya.


Rey merasakan apa yang dirasakan Renata. di wajah gadis itu terlihat kecemasan kalau kejadian itu terulang kembali.


Rey langsung merangkul bahu Renata erat memberikan perlindungan buat Renata. Gadis itu langsung melepaskan rangkulan tangan Rey. Cowok itu diam saja melihat perilaku Renata sepeti itu.


Rey langsung pergi meninggalkan Renata yang masih berdiri, tidak lama kemudian ia kembali lagi dengan membawa kursi dua mengunakan tangannya.


satu bangku diberikan sama Renata sedangkan satu untuk dirinya.


Renata menerima kursi yang diberikan Rey. Renata duduk melepas lelah.


Rey pun ikut duduk mereka saling berhadapan satu sam lainnya.


Tapi pandangan Renata seperti menghindar dari tatapan mata hangat Rey.


Apa yang ditakutkan Renata terjadi juga.


Hujan masih deras turun, seperti sengaja tidak berhenti.


Awalnya Renata mau pulang saja tapi ia takut di jalannya.


Rey yang masih setia menanti Renata, ia tidak ingin meninggalkan Renata sendirian di sekolah tanpa penghuni sama sekali.


Akhirnya mereka menuju rumah kak Apip, tapi rumah itu kosong.


Terkunci. Kedua anak remaja saling pandang, mereka bergidik kalau mereka sampai menginap di sekolah.


Ya biarpun beberapa pintu ruangan masih terbuka lebar, seperti ruang guru, TU dan WC masih terbuka.


Akhirnya keduanya kembali keatas.


Baju Renata agak basah akibat kehujanan. Rey melihat Renata kedinginan membuka jaket dan memberikan pada gadis itu.


Awalnya Renata menolaknya tapi Rey memakai jaketnya di tubuh Renata.


Akhirnya Renata mau memakai jaket warna biru langit itu. warna kesukaannya. Rey juga suka warna itu.


"makasih ya."


"Oke!"


Malam pun tiba. Renata menghidupkan lampu di ruangan TU dan guru.


cahaya yang redup sekali. Tangan Renata memegang tas Rey.


Cowok itu merasa kasihan melihat gadis itu ketakutan. Jadi ia menjaga Renata.

__ADS_1


Hujan masih turun. Seperti ingin membiarkan Renata dan Rey berdua di sekolah tanpa penghuni sama sekali.


Dan,mereka tidak tahu mungkin tidak akan pernah tahu kalau malam itu adalah malam yang sangat mencekam untuk mereka berdua.***


__ADS_2