
Belakang sekolah.
itu masih terlihat belum terurus.
kerena ilalang tumbuh subur disana.
sewaktu Ani dan Hamdi, lagi enak enak duduk di belakang. Sambil berbicara, tiba tiba mereka kedatangan sosok nenek.
Dengan sosok yang mengerikan. matanya merah, aroma tubuhnya berbau sangat tajam. Seperti bau bangkai, di mulutnya terlihat semburan darah segar.
Entah darah siapa? Dan sang nenek itu! Meminta darah untuk diminum setiap malam Selasa dan Jum'at.
Rey dan kak Apip, merinding. ciri ciri sang nenek yang menemui, Hamdi dan Ani sama. Seperti ciri seperti nenek yang datang pada dirinya.
Akhirnya kak Apip, menceritakan kalau dirinya bertemu dengan nenek. Dengan ciri yang disebutkan oleh Ani dan Hamdi.
Rey menatap kak Apip, dan tangan kecilnya memukul tubuh kak Apip dengan keras.
Rey akhirnya tahu alasan kenapa lelaki gendut itu lari menuju atas tanpa memperdulikan dirinya.
Malam itu benar benar malam yang sangat menyeramkan sekali bagi Rey sendiri.
Kemarin kemarin Rey, hanya menggoda gadis Tasik, tapi kenyataannya benar sekali. Kalau Rey ingat ia ciut sekali.
Tiba tiba. Mereka tersentak mendengar, teriakan berasal dari perpustakaan.
Mereka langsung berdiri. Dan menghampiri perpustakaan. Rey dan keempatnya langsung membuka pintu, untung ada kunci serepnya.
Dengan pencahayaan yang redup. Rey bisa melihat wajah Renata yang pucat, Vika pun demikian.
Akhirnya, kak Apip mengajak keduanya ke rumahnya untuk istirahat disana.
kelima siswa siswi SMP itu. menuju rumah kak Apip yang berada di dekat kelas 2A.
"Apa tiap malam selalu ada hantu?" celetuk Vika sambil memakan ubi jalar yang direbus.
"Baru kali ini kejadian ini. Dulu dulu kakak hanya menurut orang, tapi kenyataannya?" ujar kak Apip yang membuatkan teh hangat untuk anak anak SMP itu.
Ada perasaan terenyuh, melihat wajah wajah polos tanpa dosa. Harus menemukan hal hal ganjil diluar nalar.
Kak Apip yang sudah 5 tahun. mendiami rumah dekat SMP, baru kali ini bertemu. Dan merasakan harus bertemu dengan nenek.
Selama 5 tahun belum pernah. Merasakan apa apa, kini malah mengalami bersama anak anak tangung. Merek yang seharusnya belajar di rumah.
Tapi, kak Apip pernah mendengar kalau di SMP seram sekali. Itu hanya kata orang saja.
Paginya di SMP heboh!
Kak Apip, yang akan membersihkan ruangan. Menemukan ceceran darah, di sepanjang lorong sekolah.
Ceceran darah, yang masih segar dan berbau amis. Tercium sangat mual diperut.
Apalagi, ceceran darah yang terdapat di teras ruang TU, dan ruang guru. Tapi tidak, ditemukan bangkai apapun disana. Hanya darah segar, dan lalat lalat berpesta pora mendapat makan gratis.
Wajah pria muda itu pucat. seketika juga.
Anak anak, yang mulai bermunculan merasa syok. Melihat banyak darah segar tercecer.
Guru guru, yang datang juga dibuat syok melihat apa yang terjadi.
Menurut salah satu guru, kemungkinan.
Itu darah binatang atau juga darah manusia.
Rey yang melihat, hanya termenung saja. Begitu juga dengan empat orang, yang ikut dalam pemburuan hantu sang nenek.
"Apa mungkin darah manusia?" tanya Renata menatap keempat temannya.
Waktu istirahat.
Rey mengajak Hamdi, Vika, Ani dan Renata menuju lapangan bola yang dekat kelas 1 A.
__ADS_1
Disana mereka berlima, berdiskusi tentang kejadian malam dan tadi. Ketika.melihat ceceran darah.
Bukan hanya di teras Tu, dan teras Guru saja. Ceceran darah itu.
Di perpustakaan, ceceran darah ada. Apalagi, dibandingkan di tempat lain. Darah di perpustakaan, banyak sekali. berbau amis pula. di kelas 1 sampai 3 juga ada.
Di perpustakaan, tidak hanya di terasnya saja, di dalamnya juga banjir darah.
Sedangkan malam kemarin. Renata dan Vika tidak melihat apapun, hanya buku buku yang berterbangan. Seperti, ada orang yang melempar lempar. Tapi saat dilihat tidak ada, orang selain mereka berdua.
Mereka pun. Tidak bertemu, dengan siapa siapa. Seperti yang dialami oleh, Hamdi dan Ani maupun kak Apip.
"Tapi, kayanya darah binatang, tapi darahnya mirip manusia.
Kaya darah menstruasi," ujar Vika menambahkan.
"Emang darah mentruasi kaya gitu warnanya?" tatap Rey menatap wajah Vika.
Vika gelagapan."Cuma menurut sih! tapi entah itu darah apa?" ujar Vika lagi..
"Apa darah itu?" tanya Renata tergantung..
"Utarakan!"
"Kita'kan tadi malam disini kok ujung ujung pagi ini ada darah demikian banyak.
Kalau misal sang pelaku melakukan malam itu, seharusnya ketemu sama kita. Ya biarpun lampunya redup juga," jelas Renata tapi nada bicaranya masih ragu, apa yang ia keluarkan.
"Mungkin saja pelakunya bukan manusia. Mungkin saja nenek yang kita temui Di." kata Ani menatap wajah cowok tangung itu..
"Aku sependapat dengan Ani.
Mustahil kalau manusia. biasa melakukannya, pasti si nenek itu!" ujar Hamdi melihat reaksi keempat temannya.
"Di, jangan mengkambing hitam,kan nenek.
Kita nggak tahu kan siapa yang melakukannya," ujar Renata tidak sependapat.
Belum sempat Renata menjelaskan alasannya.
Tiba tiba bel masuk berbunyi dengan nyaring.
Dengan malasnya. Mereka akhirnya, menuju kelas masing-masing. Untuk mendapatkan pelajaran dari ibu dan bapak guru.
Di kelas. pikirannya, masih tentang darah tercecer. menjadi pertanyaan siapa pelakunya?
Hantu?
Nggak akan mungkin? Masa hantu bisa memegang ember, dan membuat darah itu! tercecer sedemikian rupa.
Kalau manusia? Untuk apa dia melakukannya? Hanya mengotori tempat belajar. Dan, tidak ada gunanya. Kerja tanpa ada manfaat.
Kasihan anak anak, yang harus belajar terganggu. Kerena ceceran darah, yang menimbulkan aroma yang tidak sedap.
Apa yang dipikirkan oleh Renata. tidak jauh berbeda dengan Rey.
Cowok itu. Benar benar tidak konsentrasi, pada pelajaran yang diberikan ibu gurunya. Apalagi malam itu, ia tidak sempat untuk memejamkan mata sekejap pun.
Pikiran masih tentang darah, pelaku, untuk apa, kapan melakukannya?
Pertanyaan pertanyaan, yang tidak terjawab membuat ia makin penasaran saja. Penasaran yang membawa kepada kejadian yang tidak akan Rey dan Renata duga.
Rasa penasaran itulah, yang membuat cerita yang akan menjadi sebuah perjalanan yang akan diukir oleh Renata sendiri. Tanpa adanya Rey bersamanya.
"Aku penasaran sama nenek itu!"ungkap Rey, pada Renata waktu mereka pulang sekolah.
Mereka pulang jalan kaki, kerena rumah Rey berada di kp Taraju sedangkan Renata di pamarihan.
Siang hari begitu teriknya. Tapi bagi anak tangung seperti Rey dan Renata, jalan kaki adalah perjalanan yang sangat menyenangkan. Kerena bukan hanya mereka saja yang jalan kaki.
Semua siswa siswi, di SMP berjalan kaki, menuju rumahnya masing masing.
__ADS_1
Apalagi, angin siang hari. Membuat merasa sejuk sekali. Rambut Renata yang sebahu, berkibar kibar ditiup angin.
Rey terkesima. Melihat anak anak rambut, Renata yang menutupi pelipis gadis itu.
Ingin rasanya, ia menyentuh. Tapi cowok itu, tidak berani untuk menyentuh anak anak rambut. Dari wajah Renata yang putih bersih.
"Apalagi aku, wujudnya pun aku nggak lihat seperti apa?" ujar Renata.
"Tapi, aku nggak mau ya kamu ajak aku untuk ketemu mahluk halus itu lagi," Renata cepat sambil tersenyum.
Rey yang belum sempat bicara, langsung memukul bahu Renata.
Tapi gadis itu, menghindar dan lari menjauh dari Rey. cowok itu langsung menyusul Renata.
Cowok itu menarik tali tas Renata dengan lembut. Renata berontak.
Akhirnya, mereka tertawa bersama. Rey mensejajarkan dirinya dengan Renata.
"Lo tahu aja kalau aku bakal ngajak Lo lagi." tawa Rey melihat wajah Renata yang penuh keringat, tapi itu yang Rey suka dari gadis itu..
"Gue ogah ikutan lo lagi. bisa bisa gue mati sebelum nikah," sambut Renata mengusap cucuran keringatnya dengan tangan.
Ia lupa tidak membawa tissue muka, terpaksa tangannya yang mengeringkan keringatnya.
"Lo penasaran nggak? sama nenek itu!" kata Rey sambil memegang tali tas Renata.
"Penasaran sih tapi, nggak mau lagi ah.
nyari mati aja." ujar Renata yang berusaha melepaskan tangan Rey yang memegang tasnya.
Awalnya. Rey tidak melepaskan, Renata merasa gemas akhirnya ia mencubit lengan Rey dengan kuat.
Rey tidak menduga itu. Langsung melepaskan pegangan dari tas Renata.
Rey, langsung mencubit pipi Renata gemas. Renata marah ia memukul bahu Rey.
Rey tertawa renyah. Saat melihat gadis manis itu marah dan memukul bahunya.
tidak sakit, kerena Renata hanya memukul pelan saja.
Siang hari yang panas, jalan yang penuh dengan aspal yang terkelupas tidak membuat keduanya lelah.
Mereka asyik bercanda riang. kendaraan roda dua maupun roda empat hilir mudik.
Renata maupun Rey tidak berusaha menghentikan kendaraan roda empat, mereka malah asyik berjalan.
Teman teman, yang lain sudah sampai rumah masing masing.
Rey dan Renata baru saja, melewati kp Babakan karet, perjalanan masih panjang.
Mereka berdua, akan melewati tanjakan pasir muhun.
sebuah tanjakan yang sepi, kerena masih ditumbuhi tumbuhan semak belukar.
Pohon yang ditanam, rata rata pohon mahoni, kecapi, dan pohon pohon lainnya.
"Kamu berani pulang ke rumahmu?" tanya Rey ketika meraka telah sampai di rumah Rey.
kedua orang tua Rey menyambut mereka dengan ramahnya.
Renata merasa menemukan orang tua, seperti orang sendiri. Di rumah itu Renata diajak makan dan istirahat.
Tidak lama kemudian ibu Renata Vinda menjemput putrinya.
Ibu Vinda dan ibunya Rey, sebenarnya teman waktu SMA. Pantas saja, Renata disambut begitu hangat oleh ibunya Rey.
Jam 16.00 Renata sampai ke rumah. Di rumah ayahnya belum pulang.
Ibu Vinda dan Renata, akhirnya masuk dapur untuk masak kesukaan ayahnya.
Renata riang sekali diajari masak oleh ibunya.*
__ADS_1