Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Sebuah Perjanjian


__ADS_3

Di sini saya hidup tanpa tahu apapun tentang dunia luar, hidup saya bagaikan terbelenggu dalam “sangkar”. Yang saya rasakan saat ini hanyalah kehampaan. Rasanya hanya ada sepi, sunyi dan hening tanpa adanya kawan. Warna yang saya lihat terasa sangat monoton.


Ruangan ini kosong tanpa ada satupun benda atau perabot yang mengisi ruangan ini. Hanya ada warna putih yang menusuk mata. Rasa sunyi ini memekakkan telinga dan mencengkram jiwa. Dinding, langit-langit, dan semua yang ada di ruangan ini terlihat sama. Tidak ada satupun yang istimewa.


Kamar ini adalah penjara bagi saya. Inilah ruangan putih tempat uji coba metode pembelajaran paling mengerikan di seluruh dunia. Di balik dinding putih itu, di luar sana terdapat sebuah kebebasan, satu-satunya yang tidak saya dapatkan di sini. Saya harap saya dapat keluar dan menggapainya sebelum ulang tahun saya yang ke-11 nanti.


* * *


Saat ini saya sedang melihat ke cermin dengan ekspresi datar. Benar, itu adalah ekspresi kesukaan saya. Selain tidak mudah untuk diprediksi, ekspresi tersebut juga terlihat lebih alami dengan penampilan saya yang seadanya.


Mata saya tampak sayu tak bertenaga. Mungkin ini karena saya terlalu lama berada di whiteroom. Saya memutuskan untuk menguncir rambut saya yang agak panjang agar lebih memudahkan kegiatan saya.


Saya melihat seragam putih abu-abu saya sekali lagi di cermin.


Saya sangat menyukainya. Setidaknya pakaian ini tidak terlalu berlebihan dan tidak terlalu sederhana seperti pakaian putih polos di whiteroom.


Tunggu? Berapa kali saya harus mengatakan ruangan putih tersebut?


Saya melihat ke mata berwarna keemasan yang tampak di cermin tersebut dan berjanji. Saya berjanji akan melindungi kebebasan hidup saya ini dengan segala cara.


Sekarang, saya telah menjadi siswi di sebuah sekolah terkenal bernama SMA Rajawali. Sebuah sekolah elit dengan kisah kelamnya yang tersembunyi jauh terkubur di dalam tanah.


Saya menatap jam di dinding kamar asrama saya. Benda tersebut menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Saya memutuskan untuk segera pergi ke sekolah.


Bagi sebagian orang, ini masih pagi. Namun bagi saya, ini adalah waktu yang tepat untuk berangkat. lagipula, saya harus menemui seseorang pagi ini.


* * *


Cuaca mendung ketika aku menyusuri jalanan kota. Angin dingin berhembus cukup kencang. Daun-daun pohon di sekitar kota terbang berhamburan. Langit pun menghitam dengan awan kelabu yang pekat. Aku melangkah dengan cepat menuju SMA Rajawali.


SMA Rajawali merupakan sebuah sekolah elit yang menampung siswa berprestasi dari penjuru negeri.


Murid di sekolah ini diwajibkan untuk tinggal di asrama milik sekolah. Sekolah ini bukanlah sekolah negeri, melainkan sekolah swasta yang berada di bawah naungan Yayasan Kehidupan, sebuah lembaga swasta yang memiliki pengaruh besar di Distrik 7 tempatku tinggal. Aku sangat bersyukur dapat lulus ujian masuk sekolah ini. Begitu aku lulus, hidupku bakal terjamin karena sekolah ini memiliki banyak sekali koneksi di banyak perusahaan dan kantor pemerintahan serta perguruan tinggi.


Sebentar lagi hujan akan turun. Aku melangkah dengan cepat saat melewati halaman sekolah karena aku tidak ingin seragamku basah akibat hujan. Kelasku ada di lantai 1. Begitu juga dengan kelas tahun pertama lainnya.


Gedung utama SMA Rajawali memiliki tiga lantai. Sementara di belakangnya terdapat beberapa gedung kecil yang digunakan sebagai aula, perpustakaan dan kantin. Aku cukup senang memiliki kelas di lantai dasar, karena tidak perlu menguras tenaga untuk pergi ke kantin yang letaknya terpisah dari gedung utama. Jujur aku sedikit memiliki sifat pemalas.


Setelah menyusuri koridor aku tiba di kelas. Kelas masih sepi. Belum ada seorang pun yang datang, kecuali Maya. Rambutnya yang agak panjang diikatnya ke belakang sehingga mirip seperti kuncir kuda.


Tidak, aku tidak boleh mengatakan hal tersebut bukan?


Matanya yang berwarna kuning keemasan, tampak sayu dan selalu terlihat mengantuk setiap saat. Dan, itu searah dengan sikapnya yang selalu bolos kelas. Wajahnya sebenarnya cukup manis. Hanya saja dia terlalu acuh tak acuh sehingga tidak populer di kelas.


Dia duduk bersebelahan denganku. Saat ini dia sedang asyik memainkan laptopnya.


"Maya, apa kau tidak belajar?"


Wajahnya yang datar tanpa ekspresi menoleh ke arahku.


"Kata Ibuku, Jangan belajar terlalu keras. Hal itu hanya akan menguras tenaga."


Sudah kuduga dia akan mengatakan hal yang aneh. Mana mungkin seorang Ibu akan memberikan nasihat seperti itu. Dia pasti bercanda.


"Memang sesedikit apa sih tenagamu itu? Lagipula sebentar lagi kita kan ada Ujian Akhir Semester. Bukankah sebaiknya kau belajar seperti yang lain."


Aku tahu bahwa aku ini sedikit pemalas. Namun, kurasa gadis ini jauh lebih pemalas.

__ADS_1


"Kata Ibuku 'jangan terlalu berusaha'. Usaha memang tidak pernah mengkhianatimu. Namun dapat mengkhianati mimpimu. Pada akhirnya kerja keras akan kalah melawan nasib dan keberuntungan murid berbakat di luar sana."


Aku menghela napas. "Aku tidak tahu harus menyebutmu realistis atau pesimis."


Dia pura-pura bertingkah malu-malu. "Ahh jangan terlalu memuji.”


"Aku tidak sedang memuji. Lagi pula apakah semua itu perkataan Ibumu? Aku kurang yakin."


Dia tidak peduli dengan tanggapanku dan kembali fokus ke laptopnya. Yah mau bagaimana lagi, begitulah sifatnya sejak aku mengenalnya. Aku menyerah dan duduk di kursiku di sebelahnya.


Teng...teng....


Mata pelajaran pertama pun dimulai. Maya masih sibuk dengan laptopnya ketika Bu Reflesia masuk ke kelas. Dia adalah guru muda yang ramah dan mudah berbaur dengan murid. Setidaknya tidak ada murid yang membencinya.


“Selamat pagi semua.” Beliau tersenyum hangat menyapa kami.


Dia melihat ke arahku. Tidak, aku salah. Yang dilihatnya adalah Maya. Dia berjalan kemari.


"Anu, nak Maya. Bisa kau simpan laptopmu saat mata pelajaranku," pinta Bu Reflesia.


"Aku sedang sibuk."


Berkat dia suasana kelas menjadi hening. Seluruh murid terperanjat mendengar jawaban tidak terduga dari Maya. Aku merasa malu memiliki teman sepertinya. Seluruh pasang mata menatapnya.


"Ta...tapi, ini mata pelajaranku."


"Aku datang ke sekolah hanya untuk mengisi absen. Jika kau protes, buatlah mata pelajaranmu tidak membosankan."


Maya sudah kelewatan. Tidak seharusnya dia berkata demikian. Meskipun, pelajaran Bu Reflesia memang membosankan. Saat aku melihat keadaan Bu Reflesia, tubuh beliau gemetar. Kristal bening mengalir di wajahnya. Dan akhirnya dia pergi.


Beberapa siswi mengejar beliau, sementara para murid di kelas saling berbisik tentang yang terjadi di sini. Aku kagum dengan Maya yang membuat Guru Sastra Klasik itu pergi dari kelas sambil menangis.


* * *


"Aria!"


Aku menghentikan langkahku karena seseorang memanggilku dari arah belakang.


“Siapa?”


“Ini aku.”


Ketua kelasku, Amelia datang menghampiri. Rambutnya yang hitam panjang bergoyang diterpa angin. Dia adalah wanita yang cantik. Saat ini dia terlihat cemberut.


"Ada apa?"


"Huft... Ini sudah ketiga kalinya Maya membuat guru pergi dari kelas kita sambil menangis. Tolong beritahu pacarmu itu untuk tidak melakukan hal konyol lagi."


"Hey, dia bukan pacarku."


Dia tertawa kecil. “Yah aku hanya bercanda. Pokoknya tolong bujuk dia agar tidak mengacau di kelas. Karena kupikir kalian teman dekat.”


Sebelum aku sempat menyanggah, Amelia telah pergi. Di lubuk hatiku yang terdalam aku meratapi nasibku yang tidak dapat menolak permintaan seorang gadis, meskipun itu merepotkan. Apa mungkin aku memang takut kepada wanita?


Ketika aku sibuk melamun, aku mencoba meregangkan tubuhku agar dapat lebih rileks. Tanganku menyentuh sesuatu yang agak kenyal dan lembut.


Apa itu?

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan, mesum?!" Seorang gadis terdengar marah di belakangku. Spontan aku berpaling. Dari wajahnya, aku menurunkan pandanganku ke tempat dimana tanganku mendarat.


Wajah Maya memerah. "Kemana kau melihat?!"


Maya berdiri menatapku dengan dingin. Matanya yang sayu, tiba-tiba mendelik dengan sinis. Rambutnya yang terkuncir bergoyang sedikit di terpa angin.


"Aku tidak sengaja. Maaf."


Tanganku tanpa sengaja menyentuh dadanya. Ah, gawat, dia akan marah. "Maafkan aku Maya."


Dia diam sambil menatapku dengan tajam. Matanya yang berwarna keemasan memandangku dengan sinis.


"Se...sebenarnya ada yang ingin kubicarakan denganmu."


Kuharap dia akan mendengarkanku setelah kejadian tadi.


Maya mengalihkan pandangannya ke lapangan sekolah. "Maaf aku tidak tertarik menjalin hubungan asmara denganmu."


Astaga, aku langsung ditolak. "Sebenarnya bukan hal itu.”


“Lalu?”


“Ini permintaan ketua kelas kita. Sebaiknya kau tidak berkata kasar lagi kepada guru yang mengajar di kelas kita."


"Baiklah." Dia langsung menyetujuinya tanpa pikir panjang.


“Benarkah?”


Aku merasa lega. Sepertinya dia terlalu mudah untuk dibujuk. "Janji?"


"Yap, Jika nilai Ujian Akhir Semester mu nanti lebih tinggi dari nilaiku. Aku tidak akan membuat masalah lagi. Namun jika nilaiku lebih tinggi dari nilaimu. Kau harus jadi pacarku. Sepakat?"


Untuk beberapa detik aku berusaha mencerna apa yang baru saja dia katakan. Dan saat dia sampai di kalimat terakhir aku hanya dapat memenuhi kepalaku dengan banyak pertanyaan.


"Bukankah kau tidak ingin pacaran denganku?” Itu salah satu pertanyaanku yang bocor keluar. Sebenarnya aku punya banyak pertanyaan lainnya.


"Aku hanya ingin kau menjadi pembantuku di sekolah. Karena aku bosan, kau boleh menganggapku sebagai pacar."


Aku menghela nafas. Jadi itu yang dia maksud dengan pacaran.“Sepertinya kau tidak tahu definisi pacaran yang sebenarnya.”


"Apa kau takut?" kejar Maya. "Mau taruhan?"


Dia mengatakannya dengan wajah datar. Maya tidak memiliki prestasi akademik yang membanggakan. Nilai rapotnya di middle test lalu juga dibawah nilaiku. Aku tidak melihat adanya ancaman kekalahan disini. Jika aku menang, maka Maya tidak dapat lagi berbuat ulah dengan perjanjian yang dibuatnya sendiri.


"Ah satu hal lagi. Jika kau tidak setuju dengan taruhan tadi, aku akan melaporkan kejadian tadi ke komite disiplin. Mereka dapat menemukan sidik jarimu di sini sebagai bukti."


Tangannya menyentuh dada ratanya yang tadi ku sentuh secara tidak sengaja.


Dia mengancamku dengan itu? Oh bagus. Ini yang kusebut jenius. Memberi sedikit dan mendapatkan hasil yang besar.


Aku segera memalingkan wajahku.


"Baiklah kuterima tantanganmu!" Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhku.


"Ingat, jika nilaiku lebih tinggi kau harus berhenti berbuat ulah terhadap Guru."


Maya mengangguk. "namun jika nilaiku lebih tinggi. Ku anggap kita pacaran dan kau harus menuruti semua perintahku. Kalau tidak, kejadian hari ini akan kuanggap pelecehan seksual."

__ADS_1


Ancamannya benar-benar menakutkan. Jika aku kalah, sepertinya aku lebih seperti pembantu ketimbang pacar. Namun aku tidak akan kalah. Aku akan berjuang. Setelah itu perjanjian kami pun dibuat secara tertulis.


__ADS_2