Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Fraksi Noah


__ADS_3

Saat aku tiba di kantin. Sepertinya sedang terjadi perdebatan sengit antar siswa. Beberapa siswa bergerombol melihat perdebatan tersebut. Ketika aku mendekat, aku melihat pihak yang sedang berdebat.


Seorang siswa dengan marah mencemooh Kak Virga.


"Heh. Dasar anggota OSIS gadungan. Aku akan menghancurkan kalian hingga ke akar."


"Hee~ begitu kah. Namun, sekarang kalian lah yang seperti anggota OSIS gadungan. Bukankah kalian yang terjebak dengan prestasi masa lalu kalian?"


Itu adalah kalimat yang menjadi pukulan telak bagi lawan Kak Virga.


"Cih. Ayo kita pergi." Gerombolan murid di belakangnya pun pergi mengikuti siswa tadi.


Kak Virga terlihat kelelahan. Saat dia melihatku, dia melambaikan tangannya dan ekspresinya kembali ceria.


"Ariaa! Kemarilah~." Dia menuju ke arahku dengan gembira.


Aku merasakan tatapan yang menusuk dari semua murid di kantin itu. Dengan cepat aku membungkam mulutnya dan membawanya duduk ke pinggir.


"Jadi ada apa?"


"Mmmmhhhppp." Perkataannya tidak jelas. Ah, mungkin karena saat ini tanganku mendekap erat mulutnya.


"Baik-baik, akan kulepaskan. Jadi tolong jelaskan kepadaku siapa mereka tadi?"


Aku melepaskan tanganku dari mulutnya.


"Hmmp ah. Kau ini tidak ingin menanyakan keadaanku dulu?"


Aku menggeleng.


Kak Virga menggerutu kecil. "Cih. Dasar kau ini. Mereka tadi dari Fraksi Noah. Siswa yang berdebat denganku adalah salah satu tangan kanan Noah yang bernama Leo. Mereka mengancam akan membubarkan OSIS."


Sambil mengatakan hal tersebut Kak Virga tersenyum kecil.


"Tidak kusangka hal ini terjadi sesuai dengan prediksi gadis itu." Kak Virga bergumam.


"Gadis itu siapa?" tanyaku.


"Ahh bukan siapa-siapa." Dia mengalihkan pandangannya dariku.


"Ngomong-ngomong biar kutebak. Kau kemari karena ingin membeli donat kan?"


Kenapa dia bisa mengetahuinya? Apa itu jelas terlihat di wajahku? Ini akan menjadi misteri baru dalam hidupku.


"Sayang sekali, donat di kantin sudah habis," kata Kak Virga.


Aku terkejut. "Be...benarkah?"


Kak Virga mengangguk.


Setelah aku bertanya ke pelayan di kantin, ternyata dia benar. Donat yang ingin kubeli telah habis terjual. Aku hanya dapat pasrah menerima pahitnya takdir.


Kak Virga menepuk bahuku. "Jangan terlalu kecewa seperti itu. Kalau mau aku tau toko di luar yang menjual donat yang sangat manis dan enak. Bagaimana, kau mau ikut denganku?"


"Te...tentu saja." Mataku berbinar.


Tentu saja hal ini karena perkataannya barusan. Dia seperti memberikan secercah harapan ketika nasib pahit menimpaku beberapa detik yang lalu.


Kami berdua memutuskan untuk pergi ke toko donat kenalannya setelah pulang sekolah. Aku tidak sabar menunggu datangnya waktu tersebut. Bel panjang yang menandakan pulang sekolah pun berbunyi.


* * *

__ADS_1


Setelah kami membeli donat Kak Virga mengajakku ke asramanya.


Setiap murid SMA Rajawali mendapatkan satu buah kamar asrama lengkap dengan ranjang tidur dan dapur kecil untuk memasak. Kamar asrama murid untuk setiap angkatan berada di gedung yang berbeda, sehingga aku tidak pernah melihat kamar dari angkatan lain.


Kamarku berada di gedung baru. Sementara kamar Kak Virga berada di gedung lama. Kamarnya hampir mirip denganku. Hanya saja, warna catnya tampak mengelupas.


Setelah masuk ke kamarnya, aku duduk bersender di samping ranjangnya.


"Jadi bagaimana keadaan pacarmu?" Kak Virga memulai pembicaraan sambil menyiapkan minum di dapur. Dari dapur dia dapat melihat ke arahku dari jendela besar yang memisahkan dapur dan kamar tidur.


"Ahh, keadaan Maya saat ini mulai membaik. Hanya saja dia harus banyak beristirahat agar dapat pulih sepenuhnya."


Karena pembicaraan ini aku jadi teringat dengan teka-teki yang diajukan Maya.


Carilah sesuatu miliknya yang hanya ada saat aku tidak mengetahuinya, begitulah bunyi teka-tekinya. Setelah kupikir-pikir, kemungkinan sesuatu itu bukanlah sebuah benda fisik. Aku masih memikirkannya.


Kemungkinan sesuatu itu adalah sebuah kata, entah itu kata kerja atau kata sifat.


Kak Virga menepuk bahuku. "Hey, Aria. Kau melamun? Kau tau, melamun itu tak baik bagi kesehatan."


Dia sepertinya telah selesai menyiapkan minuman untuk kami berdua. Sehingga dia duduk di atas ranjang dan memulai kembali pembicaraan. "Jadi ada yang bisa kubantu?"


"Saat ini aku harus memecahkan sebuah teka-teki dari Ma- seseorang." Tanganku dengan sigap menutup mulutku. Hampir saja aku membocorkan rahasiaku dan Maya.


"Ahh begitu. Jadi, apa soal dari teka-teki tersebut?"


"Ini berkaitan dengan sesuatu yang hanya ada saat aku tidak mengetahuinya."


Kak Virga berpikir. Setelah itu dia menghempaskan diri ke kasur. Sepertinya dia menyerah.


"Ngomong-ngomong Kak Virga mari kita lupakan teka-teki sulit tadi karena kupikir kau tidak dapat menjawabnya."


"Kau meremehkanku ya?"


Agar aku dapat lebih fokus untuk menjawab pertanyaan yang diberikan Maya, aku harus melepaskan semua rasa penasaranku. Jika itu mungkin.


Begitu banyak hal yang kupikirkan. Ada juga beberapa kepingan yang masih janggal di benakku. Mungkin ini adalah salah satunya.


"Oh iya Kak Vir, ada sesuatu yang membuatku penasaran."


Kak Virga terlihat senang menanggapi perkataanku. "Tidak kusangka ada sesuatu yang tidak dapat diselesaikan si detektif ini."


Dia tersenyum licik penuh dengan kepuasan setelah mengejekku.


Aku ingin memasang ekspresi wajah poker, yaitu wajah datar tanpa ekspresi yang biasanya di pasang oleh Maya. Dia selalu memasang wajah itu, bahkan saat menciumku. Mengingatnya saat ini membuat ulu hatiku menjerit malu.


"Bukankah kau yang telah mencuri uang kas OSIS, kenapa tidak ada tindakan apapun yang pihak OSIS lakukan untuk menghukummu?"


Kak Virga mengusap tangannya ke dagu seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sebenarnya, bukan aku yang melakukan pencurian tersebut."


Jawabannya membuatku terkejut. Tunggu, sudah berapa kali aku diberikan kejutan seperti ini. Semakin sering aku mendapatkan kejutan seperti ini, potensiku untuk terkena serangan jantung bakal meningkat.


Ah gawat!


Dengan banyaknya kebenaran yang terungkap, aku merasa semakin takut. Mungkin ada benarnya pepatah yang pernah kudengar. Pepatah tersebut berbunyi, ketidaktahuan membuatmu merasa lebih aman.


"Jadi sebenarnya, apa alasanmu menjadikan dirimu sendiri sebagai seseorang yang dicurigai sebagai tersangka? Dan jika kau dapat melakukan hal tersebut, bukankah ini berarti kau telah mengetahui tersangkanya?"


Virga menggeleng, "Maafkan aku. Sebenarnya, ini adalah rencana seseorang untuk membuat taktik berputar seperti ini. Aku tidak dapat memberitahumu lebih lanjut karena ini adalah rahasia internal OSIS."

__ADS_1


Setelah apa yang dikatakannya, aku mendapatkan kesimpulan baru untuk kasus pencurian tersebut. Kalimat terakhir yang dia katakan sepertinya bukan hanya untuk rencana yang dia katakan. Namun juga tersangkanya. Karena inti dari rencana tersebut adalah untuk menyembunyikan pelaku yang sebenarnya dariku dan Amelia yang merupakan seseorang yang berasal dari luar OSIS.


Mengapa si pelaku tersebut harus repot-repot disembunyikan? Aku mendapatkan kesimpulan baru.


"Apakah pelakunya adalah anggota OSIS juga?"


Kak Virga terkejut dengan kesimpulanku. Dari ekspresinya tersebut aku dapat mengonfirmasi bahwa kesimpulanku benar.


Aku melanjutkan kesimpulan yang kudapat.


"Setelah kupikirkan baik-baik. Sangat jarang seorang sekretaris menghitung uang kas suatu organisasi. Umumnya pekerjaan dari sekretaris adalah untuk mengurus surat menyurat. Jadi siapakah yang sebenarnya menghitung uang kas OSIS saat itu? Kupikir dia pasti bendahara OSIS yang aktif saat kejadian tersebut."


Akhirnya Kak Virga buka suara. Dia memberitahuku bahwa bendahara yang telah pencuri uang kas OSIS adalah seorang murid dari fraksi Noah.


Mendengar hal tersebut aku semakin merasa khawatir. Aku teringat dengan kejadian di kantin hari ini. Pihak yang melakukannya sama, yaitu Fraksi Noah.


Ini seperti pertarungan antara dua kubu yang berbeda. Entah siapa yang menang, aku tidak diuntungkan. Namun, sepertinya ada seseorang yang membuatku terseret ke tengah konflik ini.


"Kak Virga, bagaimana cara kau mengatasi ancaman siswa di kantin siang tadi? Kalau tidak salah namanya Leo, mungkin."


Ini adalah rasa penasaranku yang baru. Orang yang membuatku terseret, sepertinya telah berhasil memancing rasa penasaranku untuk keluar.


Kak Virga semakin menenggelamkan wajahnya ke kasur.


"Khauthidakpherluthaus." Perkataannya sangat tidak jelas. Yang kudengar hanyalah gerutu tanpa makna.


Kak Virga kemudian duduk. "Sebenarnya ini rahasia. Namun kupikir tidak ada salahnya memberitahumu."


Rahasia? Dia akan memberitahukannya kepadaku? Dia serius?


Ekspresi Kak Virga mulai serius. Belum pernah aku melihatnya seserius ini saat dalam pembicaraan denganku.


"Untuk menanggapi ancaman mereka, OSIS saat ini telah membentuk tim rahasia bernama Unit Salamander."


Nama unit ini sangat keren. Saking kerennya aku ingin bergabung di dalam organisasi tersebut. Membayangkannya saja aku sangat senang.


"Jujur saja, unit ini telah dibentuk sejak pergantian ketua OSIS periode ini. Unit ini telah diisi oleh beberapa orang murid pilihan. Kemungkinan besar, nanti kau akan menjadi salah satu anggotanya."


Aku anggotanya? Benarkah? Ini akan semakin menarik. Aku mendengarkan penjelasan Kak Virga sambil memakan donatku dengan semangat.


Dari penjelasannya aku mendapatkan beberapa informasi. Fungsi Unit Salamander adalah sebagai badan intelijen OSIS. Unit ini telah menyelidiki rencana penggulingan OSIS oleh Fraksi Noah. Dan dalam rencana tersebut, mereka didukung oleh Divisi Rahasia Yayasan Kehidupan.


"Divisi Rahasia?"


"Yup. Menurut data yang kami temukan, Yayasan Kehidupan mempunyai Divisi Pengembangan Rahasia. Divisi inilah yang mendukung gerakan Fraksi Noah. Alasannya masih kami selidiki."


SMA Rajawali merupakan sekolah dibawah maungan Divisi Pendidikan Yayasan Kehidupan. Dan Yayasan Kehidupan sendiri memiliki banyak divisi di berbagai bidang.


Aku pernah mendengar rumor bahwa salah satu ruangan di SMA Rajawali pernah dijadikan tempat uji coba manusia milik Divisi Pengembangan pihak yayasan. Namun itu hanyalah kabar angin yang tidak begitu jelas sumbernya.


Aku menundukkan kepalaku sejenak. "Sepertinya aku telah megetahui sesuatu yang tidak seharusnya kuketahui."


Kak Virga mengangguk. "Karena itulah, jangan beritahu siapapun tentang masalah ini."


Ting....


Tiba-tiba Aku menemukan jawaban dari teka-teki milik Maya. Aku menemukannya dengan cara tidak biasa.


Sesuatu yang hanya ada saat aku tidak memgetahuinya adalah... "Rahasia."


"Apa?"

__ADS_1


Aku segera meralat apa yang kukatakan. "Tidak ada. Aku hanya bergumam."


Sekarang saatnya untuk menemukan apa yang dirahasiakan oleh Maya? Kupikir, teka-teki pertama ini harus dijawab dengan dua kali berpikir. Huh, ini adalah kecurangan yang tak nampak dari Maya. Setelah menemukan jawabannya, aku akan protes berat kepadanya.


__ADS_2