Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Seorang Pengkhianat


__ADS_3

Seluruh bangunan di bawah tanah ini berwarna abu-abu. Beberapa lumut menempel di dinding yang tak pernah terurus. Ada juga bau busuk menyengat yang datang dari mayat yang telah lama membusuk.


Itu mayat siapa?


Aku berpikir harus membuat ini ke dalam laporanku. Namun, dari gelagatnya, sepertinya gadis tersebut tidak akan mau menyetujuinya.


Ini adalah ruangan yang banyak menyimpan sisi kelam dan gelap di sekolah kami. Kami menikmati masa muda kami di atas tumpukan mayat ini tanpa mengetahui apapun. Tidak ada siapapun siswa di sekolah yang mengetahui keberadaan ruangan ini. Tidak ada, kecuali seorang gadis yang sedang berdiri tanpa sepatah katapun dan memandang dinding lorong seolah sedang bernostalgia.


Maya berdiri dan berjalan ke sebuah ruangan. Di ruangan tersebut dia diam terpaku menatap dinding putih yang juga telah menjadi abu-abu. Dia berjalan perlahan menatap dinding dan langit-langit ruangan seperti sedang bernostalgia.


Setelah mendengar ceritanya sebelumnya, kupikir di ruangan ini lah dia dibesarkan. Aku merasa bersimpati kepadanya. Di saat orang lain menikmati kasih sayang orang tua yang berlimpah, dia dibesarkan di tempat penuh kesunyian ini sendirian.


Hanya ada warna putih yang menjadi teman setianya semasa kecil. Aku merasa kalau rencananya untuk menghancurkan pihak Yayasan Kehidupan adalah karena balas dendam. Menjadikan Maya sebagai kelinci percobaan dalam penelitian mereka yang berbahaya ini adalah sesuatu yang salah.


Dia memalingkan wajahnya kepadaku.


"Aria, bisa kau jelaskan kepadaku apa yang telah terjadi di sekolah setelah aku pergi."


Mungkin yang dia maksud adalah tentang pemberontakan pihak Central. Jadi aku pun menceritakan semua yang aku tahu kepadanya, termasuk taktikku dalam menghadapi Voting Kelas.


Aku berharap, dia mau membantu karena namanya telah dimasukkan ke dalam daftar nama yang akan diberikan voting oleh kelas 2B. Maya dengan ekspresi datarnya bertanya kepadaku.


"Menurutmu, apakah ada penghianat di antara teman-teman di aliansimu?"


Sejenak aku berpikir. Awalnya aku ingin menolak gagasan tersebut, tetapi setelah mengingat semua yang terjadi. Aku akhirnya mendapatkan kesimpulan terakhir.


Aku mengangguk pelan.


"Siapa yang menurutmu telah menjadi penghianat tersebut?"


Aku berusaha menebak dan menganalisa semua informasi yang kutahu untuk menemukan jawabannya.


Awalnya aku menduga kalau penghianatan bisa saja ada dan dilakukan oleh seseorang dari kelas yang kami ancam untuk beraliansi. Namun, ada beberapa strategi yang kusembunyikan dari mereka dan hanya diketahui oleh beberapa orang. Dan, para ketua kelas yang kami ancam tersebut tidak mengetahui strategiku yang sebenarnya.


Sementara, yang menyebabkan rencanaku gagal adalah karena bocornya rencana dan strategi rahasia tersebut. Tersangka pun mulai mengerucut kepada hanya orang-orang yang mengetahui rencanaku. Itu berarti, ada seseorang di antara teman-temanku yang berhianat.


Aku mulai mencurigai seseorang.


"Kupikir, mungkin Asuna yang telah berhianat. Ada juga kemungkinan lain seperti Virga dan Amelia, tetapi aku tidak dapat memikirkan motif mereka."


Maya tersenyum dengan senyum yang sama dengan saat dia memikirkan rencananya yang manipulatif. Dan, disini aku meningkatkan kewaspadaanku.


"Kau telah mencurigai teman-temanmu sendiri? Mungkin, ikatan di antara kalian memang begitu lemah. Karena itulah aku tidak tertarik."

__ADS_1


Dingin sekali perkataannya, pikirku. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam diriku setelah dia mengatakannya. Mungkin, ini adalah rasa marah dan kesal. Aku merasa marah saat dia mengejek ikatan pertemanan yang telah kubuat.


Namun, aku berusaha menahan diri. Lagipula, apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah. Aku tidak pernah mempercayai Kak Virga yang licik, apalagi Asuna yang selalu memandang rendah orang lain. Yang kulihat dari Amelia juga sepertinya ada yang salah.


Aku melihat gadis tersebut seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Jadi, temanku yang sebenarnya- sepertinya tidak ada satupun dari mereka yang dapat kusebut teman.


Aku menyedihkan yah.


"Jadi siapa menurutmu pelakunya?"


Aku membalikkan pertanyaannya. Jujur, aku tidak dapat menemukan penghianat ini. Apalagi tersangkanya adalah teman-temanku sendiri yang sejak awal mendukungku. Aku mungkin curiga kepada Asuna, tetapi setelah kupikir baik-baik.


Tidak ada untungnya baginya untuk menghianati aliansi ini. Karena perjanjian kami dapat mencegah dia dikeluarkan. Sehingga dengan aliansi yang kami bentuk, dia sangat diuntungkan.


Maya pun menjawab pertanyaanku. Satu nama telah disebutkannya sebagai penghianat dalam aliansi yang kubentuk. Namun aku merasa tidak percaya dengan yang kudengar. Padahal, perkataannya masih bergema di kepalaku.


"Amelia. Dialah penghianatnya."


Itulah kalimat yang dia katakan. Aku ingin membantahnya, tetapi tidak ada bukti yang kuat bahwa Amelia tidak berhianat. Bahkan beberapa fakta justru mendukung perkataannya tersebut. Seperti fakta bahwa Amelia tidak dipilih oleh kelas 2B sebagai target pemberian voting. Padahal, dia merupakan salah satu pondasi aliansi kami yang berada di depan umum, sama seperti Kak Virga dan Asuna.


Seolah langit hancur berantakan, aku merasa sangat kecewa. Sejak kapan Amelia menghianatiku. Apakah sejak awal? Apakah semuanya telah dia rencanakan? Apa motifnya?


"Kau pasti bertanya-tanya apa motif dia melakukan penghianatan ini. Sebenarnya, ini semua karena aku."


Aku berusaha mencerna apa yang baru saja dia katakan. Motif Amelia berkhianat adalah karena Maya? Mungkin ada sebuah kesepakatan antara Amelia dan Fraksi Noah.


Itulah alasan mengapa kelas 2B akan memberikan voting kepada Maya, padahal, di luar dari isi pikirannya, Maya hanyalah gadis yang tampak biasa. Bahkan cenderung tidak populer.


Untuk apa gadis seperti Maya ditargetkan?


Namun, setelah Amelia mengetahuinya.... Ah benar.


Maya memotong isi pikiranku.


"Dia berhianat karena mengetahui ada seseorang yang jauh melampaui dirinya dan membahayakan kedudukannya sebagai peringkat 1. Tanggapannya yang terlalu berlebihan saat mengetahui bahwa aku adalah ketua OSIS adalah buktinya. Dia syok bukan karena fakta itu terlalu mengejutkan. Namun karena fakta tersebut mengatakan ada seseorang yang dapat mengalahkannya dengan mudah."


Dia mengatakannya dengan nada angkuh, meskipun wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun. Dia juga sedikit membusungkan dadanya yang menyedihkan.


"Kau ingat apa yang terjadi di ruang OSIS sebelumnya. Sikapnya yang sangat berlebihan hanya muncul saat dia mengetahui fakta kalau aku ketua OSIS. Setelah mengetahui kalau sekolah ini punya badan intelijen dan adanya gerakan pemberontakan terhadap OSIS, sepertinya dia tidaklah begitu terkejut dan dapat mengendalikan diri. Padahal, fakta tersebut cukup mengejutkan bagi sebagian orang."


Matanya memandang ke arah lain.


"Bukankah kau yang lebih mengetahui tentang sifatnya tersebut?"

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Maya membuatku teringat tentang sebuah kejadian yang melibatkanku dan Amelia.


Aku mengangguk. "Sebenarnya ada sebuah kejadian pencurian bukuku dimana Amelia lah yang menjadi pelakunya."


Benar, untuk pertama kalinya aku melihat sedikit sifat tersembunyi yang dimiliki oleh Amelia.


"Alasannya sederhana, karena dia mencurigai potensiku untuk menjadi peringkat satu setelah aku mengungkap pelaku pencurian di ruang OSIS."


Tanpa dapat ditahan, Maya tertawa kecil.


"Sepertinya itu berlebihan."


Kalau melawanmu, tentu saja aku akan kalah, pikirku. Namun, kalau melawan yang lain, mungkin saja ada kemungkinan bahwa aku dapat mencapai peringkat tertinggi di kelas. Yah, jika aku belajar dengan sangat keras, tidak ada yang mustahil kan? Selama aku tidak melawan Maya.


Benar, perkataannya saat sebelum perjanjian yang kami buat adalah, kerja keras tidak akan menghianatimu, namun dapat menghianati harapanmu. Pada akhirnya kerja keras akan kalah dengan takdir dan keberuntungan.


Sekarang aku mengerti hal itu. Itu bukanlah omong kosong, tetapi sebuah fakta yang sulit untuk diterima. Bagi sebagian orang, berada di puncak merupakan sebuah impian yang harus dicapai dengan kerja keras. Namun, bagi sebagian yang lain, mereka dapat mencapai puncak tanpa harus bekerja keras.


Fakta ini seperti seolah-olah takdir menertawakan kerja keras manusia selama ini.


"Kupikir, dia adalah gadis yang berbahaya. Dia akan melakukan apapun untuk menjaga kedudukannya."


Perkataan Maya memecahkan keheningan dan menyadarkanku dari monolog pikiran yang terus bicara tanpa dapat kuhentikan.


Mendengar perkataan tersebut darinya membuatku merinding. Sekarang, Amelia semakin membuatku takut. Untuk saat ini, aku harus bersikap seolah tidak mengetahui apa yang terjadi. Itu adalah caraku untuk mengamankan diri.


Maya tertawa kecil melihatku yang sedikit gemetar. "Apa kau kedinginan? Mungkin sebaiknya kita keluar dari sini."


"Setelah ini Apa yang akan kau lakukan?"


Maya berpikir sebentar. "Kupikir aku akan menghancurkan Lembaga ini, tetapi karena kau akan marah jadi mungkin aku hanya akan memberikan pelajaran bagi beberapa orang."


Itu lebih baik. Tunggu, pelajaran seperti apa yang akan diberikannya? Membayangkannya saja aku takut.


Maya tersenyum kecil, seperti saat dia merencanakan banyak hal.


Kemudian dia kembali memasang ekspresi datar dan menarik lenganku untuk pergi dari tempat tersebut. Setelah itu kami berdua berhasil menyusup dan keluar melewati para penjaga.


Sebelum kami berpisah, kami berdua berdiri di perempatan jalan lampu merah di kota. Beberapa lampu jalan menerangi tempat tersebut. Ada juga lampu-lampu redup yang menyala di gedung-gedung pencakar langit di sekitar kota.


"Aria, besok pagi temui aku di sini. Ingatlah, ini akan menjadi kunci apakah kau mau bekerja sama denganku atau tidak. Jika kau tidak datang, kuanggap itu sebuah tantangan untukku."


Setelah mengetahui sejauh mana tingkat kejeniusan gadis itu, aku hanya dapat mengangguk menghadapi ancamannya.

__ADS_1


Kupikir dia akan melakukan hal besar besok. Dan, setelah beberapa waktu berlalu, apa yang direncanakannya jauh diluar ekspektasiku. Aku tidak dapat membayangkan dia dapat melakukan hal tersebut.


__ADS_2