
Maya dan Amelia datang bersama ke kantin. Untuk sebagian orang, ini bukanlah hal yang istimewa dan menarik. Namun, bagiku ini adalah pemandangan yang langka.
"Silahkan."
Kak Virga menggeser tempat duduknya dan memberikan ruang untuk Amelia. Maya menatapku dengan tajam. Aku pun menggeser tempat dudukku dan memberikan ruang untuknya.
"Terima kasih sa...yang...."
Prusshhh....
Terdengar suara minuman menyembur dari beberapa orang.
"Uhuk-uhuk." Kak Virga terkejut sampai tersedak.
Beberapa kali dia terbatuk-batuk.
Amelia diam membeku. "A...apa maksudnya ini Aria?"
Aku menyerahkan serbet di dekatku kepada mereka. "Anu...sebenarnya Maya adalah pacarku sekarang."
"Sudah kuduga."
"Aku tidak menyangka bahwa kau benar-benar semenarik ini." Kak Virga telah berhenti batuk sekarang.
Ngomong-ngomong masalah 'tidak sangka', aku menoleh ke arah Maya.
"Aku tidak menyangka kau pergi ke kantin."
Maya terlihat sedikit kesal. "Seseorang memaksaku kemari."
Dia melirik Amelia dengan penuh dendam. Aku hanya berharap semoga Amelia dapat selamat dari amukannya.
Amelia yang telah tenang dengan santai menujukkan pose tangan 'peace' sambil tersenyum lebar.
"Sebagai ketua kelas yang baik, aku ingin berubah dan mengayomi murid di kelasku. Bahkan jika itu Maya sekalipun."
Dia mengatakannya seolah-olah Maya merupakan murid terburuk di kelas kami. Memang murid yang membuat guru menangis berkali-kali seperti Maya merupakan salah satu sikap murid yang tidak patut untuk dicontoh.
"Ngomong-ngomong kalian sedang ngobrol tentang apa?" tanya Maya sambil menikmati jus jeruk yang dia pesan.
"Kami hanya mengobrol ringan saja," jawab Kak Virga dengan santai.
Kak Virga kemudian berpikir sejenak. "Sebenarnya, ada yang membuatku penasaran."
"Wee~ apa itu? Aku penasaran dengan apa yang membuat kak Virga penasaran," jawab Amelia dengan antusias.
"Kalian tahu Pak Alex?" Bisik Kak Virga.
Seingatku dia adalah pembina Komite Disiplin. Dia juga mengajar matematika di kelas 2. Dia adalah guru yang tegas dan sosok yang menakutkan. Untungnya dia tidak mengajar di kelasku. Aku tahu dia saat insiden penganiayaan di kelas 1B kemarin.
"Hari ini dia marah-marah di kelasku Karena tidak ada satu murid pun yang dapat mengerjakan soalnya. Seingatku, kelasku memang masih belum belajar tentang soal hari ini sih."
Aku terkejut. Tidak kusangka murid sepintar dan selicik dia kesulitan menghadapi seorang guru. Aku menoleh ke arah Maya yang menelungkupkan badan.
Seandainya itu Maya, dia mungkin akan keluar kelas dengan santai lalu membolos atau malah tidur di kelas.
"Wee~ aku tidak tahu kalau beliau seperti itu. Padahal yang kutahu dari kakak kelas di komite disiplin, meskipun beliau tegas kepada murid, beliau juga tegas kepada diri sendiri. "
__ADS_1
"Kau betul, karena itulah aku penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Pak Alex marah kepada kami?" Kak Virga melihat ke arahku.
Aku membuang muka dan tidak ingin terlibat. Kemungkinan besar, gadis di sampingku juga begitu.
"Hey Aria, bukan kah aku sudah membayarmu dengan itu." Kak Virga menunjuk ke piringku.
Jadi traktirannya tadi untuk ini. Dia memang benar-benar licik selicik rubah gurun afrika.
Ya sudahlah. Kupikir ini tidak akan berlangsung lama.
Sejenak aku berpikir. "Anggap saja Pak Alex telah menandai materi yang disampaikan di kelas Kak Virga, agar beliau mengingatnya. Oh iya, Kak Virga, kau kelas berapa?"
"Oooh langsung mulai." Kak Virga tertawa kecil dengan nada mengejek
Aku mengangguk
"Aku kelas 2A."
"Jadi anggap saja dia menuliskan begini: tanggal 2/6 kls 2A. Karena Pak Alex telah mengajar matematika di kelas 2 sebelum kita semua masuk, jadi kemungkinan ada tanda dibuku beliau dari tahun sebelumnya."
"Eitss." Kak Virga memotong omonganku. "Jika yang kau maksud itu beliau salah tahun, itu tidak mungkin."
"Kenapa?"
"Soalnya setiap buku ajar, diganti setiap tahun. Sehingga buku ajar di setiap angkatan berbeda-beda."
Cih. Dia memang senior yang cerdas.
"Ngomong-ngomong Kak Virga, soal yang diberikan beliau seperti apa?" tanya Amelia.
"Ahh kau benar. Aku lupa memberitahu kalian." Dia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kecil.
"Sepertinya aku pernah mendengar tentang materi itu sebelumnya dari kakak kelas di komite disiplin, mereka benar-benar kewalahan mempelajarinya," kata Amelia.
Kak Virga mengusap dagunya tanpa dia sadari. "Kemungkinan besar, murid di kelas 2D sudah mempelajarinya."
Jadi seperti itu. Kelas A belum mempelajarinya sementara kelas D telah mempelajarinya.
"Ini hanya pendapatku, sepertinya beliau salah membaca huruf. Soal yang beliau berikan sebenarnya adalah untuk kelas D."
"Menarik," kata Kak Virga. Dia mengusap-usap dagunya seperti sedang memikirkan berbagai macam hal.
Amelia terlihat bingung. Dia mengambil buku kecil di sakunya. "Kenapa bisa begitu?"
"Hei kau bawa buku?" tanyaku.
Amelia mengangguk.
"Aku selalu membawa buku kecil ini kemana-mana. Kalau-kalau ada yang harus kucatat atau kuingat."
Alasan yang bagus. Mungkin aku juga harus mempunyai buku saku juga sepertinya.
Dia menuliskan seperti ini di buku kecilnya:
Tanggal 2/6 kelas 2D
Tanggal 2/6 kelas 2A
__ADS_1
Dia menaruh bukunya di tengah meja agar kami dapat melihatnya.
"Bagaimana mungkin Pak Alex dapat salah membedakan antara huruf A dan D?" tanya Amelia.
"Karena dia guru matematika. Guru matematika mempunyai kesempatan lebih besar untuk salah dalam membedakan antara huruf A dan D."
Aku menuliskannya di buku Amelia. Amelia dan Kak Virga menungguku dengan penasaran. Sementara Maya menelungkup di meja dengan acuh tak acuh. Setelah mereka melihat tulisanku, akhirnya mereka mengerti.
a dan d.
"Pak Alex kemungkinan besar menuliskan huruf 'a' seperti huruf 'd' atau sebaliknya."
"Ahh jadi huruf kecil yah, pantas saja," Kak Virga mengangguk puas.
"Sepertinya kesimpulanmu benar. Sebenarnya aku juga sering mendapatkan nilai jelek karena tulisan huruf h dan n ku yang mirip membuat guruku sulit membedakannya," kata Amelia.
Tunggu? Sesering apa Amelia mendapatkan nilai jelek? Apa yang kulihat adalah nilai sempurna yang selalu dia dapatkan di setiap kuis dan ulangan.
"Akhirnya aku lega. Terima kasih Aria, tidak sia-sia aku mentraktirmu makan."
"Aku juga berterima kasih atas makanannya. Namun jangan menjebakku seperti itu lagi."
Kak Virga terkekeh. "Aku tidak berjanji."
Bel masuk berbunyi.
"Maya, bangunlah."
Aku berusaha membangunkan Maya karena dia bergeming.
"Ada apa?" tanya Amelia.
Aku mulai khawatir. "Sejak tadi Maya hanya diam."
Saat kusentuh dahinya. Rasanya panas sekali. Apa dia menahan demamnya selama ini? "Dia demam. Dahinya panas sekali."
Amelia terkejut.
"Maafkan aku Aria, karena aku masih ada tugas, jadi...." kata Kak Virga.
"Aku yang akan membawanya ke ruang UKS."
"Ahh kau mengerti rupanya. Kalau begitu mohon bantuannya." Kak Virga segera berlari menuju kelasnya.
Amelia menatapku. "Setelah kau mengantar Maya ke UKS, kau boleh ke kelas. Aku yang akan menemaninya."
Aku mengangguk setuju.
Dan aku pun menggendong Maya. Kupikir dia jauh lebih ringan, tetapi dugaanku salah. Dia jauh lebih berat dari yang kuduga. Ah, sepertinya isi pikiranku ini tidak sopan. Karena membicarakan berat badan seorang wanita adalah hal yang tabu.
Amelia berlari dengan tiba-tiba menuju ke ruang guru. Sementara dengan hati-hati aku menggendong Maya ke ruang UKS.
"Ughh...." Maya merintih pelan di gendonganku.
Wajahnya memerah karena kepanasan. Pipinya yang merona membuat jantungku berdegup kencang.
Apa-apaan dengan suasana ini?
__ADS_1
Dalam hati kecilku, aku ingin menikmati suasana ini selamanya.