
Aku dengan terburu-buru melangkah menyusuri trotoar kota. Awan mendung tiba-tiba saja menyelimuti langit dan menghalangi cahaya bulan.
Gelapnya malam sungguh menyiksa pandanganku. Beruntung, terdapat lampu-lampu jalan yang memberikan sedikit cahaya untuk pejalan kaki sepertiku. Namun, karena letaknya yang berjauhan, terdapat beberapa area yang gelap.
Ini adalah perjalananku menuju asrama Kak Virga.
Dalam kegelapan, secara tidak sengaja aku menabrak seseorang. Dia adalah seorang pria dengan postur kurus berumur sekitar 30an. Dia menjatuhkan sesuatu di tanah.
Karena ini salahku, aku secara spontan mengambilkan barang tersebut. Benda itu adalah sebuah perhiasan kaca berbentuk hati dengan warna merah menyala.
"Cantik sekali."
Tidak sengaja aku bergumam seperti itu. Benda tersebut benar-benar sangat cantik dengan kilaunya yang memikat. Beruntung, benda tersebut tidak pecah. Aku menyerahkan perhiasan itu kepadanya.
"Tolong, maafkan aku." Aku menundukkan kepalaku.
Sungguh, aku menyesal.
Pria tersebut tersenyum dengan hangat.
"Tidak masalah. Benda ini akan kuberikan kepada istriku. Jadi aku bersyukur kalau benda ini tidak rusak."
Setelah mengatakan hal tersebut, pria itu pun bergegas pergi dan menghilang di balik kegelapan malam.
* * *
Setelah menunjukkan surat izin, akhirnya aku diperbolehkan sekuriti untuk melewati gerbang sekolah. Benar, sekarang aku sedang berada di sekolah. Tempat yang kutuju adalah tempat penjualan es krim.
"Sebenarnya, aku ragu Maya ada di sini."
Seseorang bergumam di belakangku. Dia menoleh ke sana dan kemari seolah sedang mewaspadai sesuatu.
"Bagaimanapun juga, lebih baik aku bertindak dan mengetahui kebenarannya daripada tidak melakukan apapun dan menyesal di kemudian hari."
Benar, itulah yang kurasakan setelah apa yang kujalani sampai saat ini. Kemungkinan-kemungkinan tidak terduga dapat terjadi di masa depan.
Karena itulah aku memutuskan untuk melakukan persiapan untuk menghadapinya.
Dia bertepuk tangan. "Kata-kata yang menakjubkan."
Orang ini sepertinya tidak dapat diam. Jadi, kuputuskan untuk tidak menanggapinya.
Malam pun semakin larut.
Cahaya remang-remang dari lampu di koridor menambahkan kesan seram dan angker. Dentang jam yang berbunyi dari gedung utama membuat Kak Virga terkejut.
__ADS_1
"Aria, ayo kita pergi dari sini."
Aku merasa heran dengan sikapnya yang ingin segera pergi dari sini.
"Kak Vir, jangan-jangan kau takut?"
Akhirnya pertanyaan tersebut keluar dari mulutku.
"Te...tentu saja tidak."
Dia berkacak pinggang dengan sikap berani, meskipun aku ragu dengan perkataannya tersebut.
Tiba-tiba lampu di koridor mati secara serentak. Untuk beberapa saat keadaan menjadi gelap gulita. Seseorang memeluk lenganku dengan erat.
"Kak Virga, sudah kubilang kau tidak perlu ikut."
"Aku tidak takut."
Ya sudahlah, karena dia menaksa untuk ikut, aku pun membiarkannya dan meneruskan langkahku.
Saat lampu kembali menyala, aku telah sampai di depan tempat penjualan es krim di sebelah kantin. Tidak ada siapapun di sini.
Kupikir, mungkin ada semacam petunjuk yang ditinggalkan oleh gadis itu di sini.
Kak Virga diam mematung melihatku mondar-mandir. Wajahnya pucat pasi seputih kertas. Jangan-jangan dari tadi dia benar-benar menahan rasa takutnya. Aku merasa bersalah. Namun, untuk sekarang aku harus fokus ke tujuan awalku. Menemukan keberadaan Maya.
Kak Virga sepertinya dapat mengetahui isi pikiranku saat ini. Karena itulah dia mengatakan sesuatu.
"Aria, apa kau yakin Maya meninggalkan petunjuk di sini? Terlepas dari kesimpulan yang kau buat, kupikir dia tidak mungkin meninggalkan petunjuk untukmu di tempat umum seperti ini. Karena petunjuk tersebut dapat ditemukan oleh orang lain."
Setelah mendengarkan perkataan Kak Virga, aku merasa ragu dengan kesimpulanku sendiri. Perkataan Kak Virga masuk akal. Jika Maya memang meninggalkan petunjuk di sini, ada kemungkinan orang lain yang menemukan dan mengambilnya, dan tentu saja petunjuk tersebut tidak akan pernah sampai kepadaku. Aku yakin Maya tidak seceroboh itu. Jadi, kesimpulanku lah yang salah.
Berlama-lama di sini tidak ada gunanya. Ketika aku mengajak Kak Virga untuk pulang, dia segera menyetujuinya dan menarikku pergi.
Kupikir, datang kemari malam ini tidak sepenuhnya sia-sia. Setidaknya aku akhirnya mengetahui kelemahan Kak Virga. Sambil tersenyum, aku menyembunyikan tawa jahatku di dalam hatiku yang terdalam.
* * *
Aku kembali mengevaluasi petunjuk yang kutemukan dari puisi buatan Maya. Es krim, atau tepatnya adalah tempat penjual es krim. Itu merupakan tempat pertemuan yang telah ditentukan oleh Maya. Aku yakin dengan kesimpulanku ini. Hanya saja, sepertinya aku masih kekurangan petunjuk.
Apa yang kurang dari kesimpulanku?
Sambil memikirkan hal tersebut, aku berjalan menuju ke kantin untuk menemui Kak Virga dan Amelia serta Asuna.
Aku ingin mengetahui perkembangan dari Aliansi Kelas. Karena itulah kami telah membuat janji untuk bertemu saat waktu istirahat. Percaya atau tidak, akulah yang membentuk aliansi tersebut dari balik layar.
__ADS_1
Memikirkan hal tersebut membuatku sedikit senang karena untuk pertama kalinya aku menjadi dalang di balik layar. Aku merasakan sedikit sifat angkuh mulai tumbuh di benakku.
Yah ini mungkin adalah bentuk kepuasan sendiri. Selama ini, akulah yang selalu menari di telapak tangan seseorang. Seseorang yang kumaksud tentu saja gadis itu.
Sebelum masuk ke kantin, aku melihat ke arah toko es krim dengan harapan Maya ada di sana. Namun, itu hanyalah harapan hampa. Tempat itu sama seperti biasanya. Tidak ada hal yang membuatnya istimewa.
Aku pun menemui teman-teman yang sudah menungguku.
"Hei kau rakyat jelata. Akhirnya datang juga kau."
Seorang gadis dengan berkacak pinggang telah menyambutku. Bisakah si rakyat jelata ini mendapatkan sambutan hangat dengan senyum manis dari dua gadis di sini?
Itulah apa yang kupikirkan saat ini. Di sebelah Asuna ada seorang gadis yang tampak khawatir sedang duduk.
"Ada apa Aria? kau tampak murung."
Bukan aku yang menjawab pertanyaan dari Amelia, tetapi Kak Virga lah yang segera menjawabnya.
"Fufu~. Sebenarnya Malam tadi kami ke sekolah. Kau tahu, Aria sangat ketakutan saat lampu mati. Beruntung aku menemaninya."
Dia menepuk dadanya dengan bangga. Namun, hei bukankah dia memutarbalikkan fakta.
"Sudah kuduga."
"Kau keren Kak Virga. Kau memang bagaikan pangeran."
Ketika aku melihat mata Amelia dan Asuna yang berbinar, aku yakin membela diri tidak ada gunanya. Pembelaan diriku tidak akan dipercaya oleh mereka. Aku dapat merasakan kekaguman mereka terhadap Kak Virga yang begitu besar. Mereka telah fanatik terhadapnya.
Aku hanya dapat menghela napas dan duduk di samping Kak Virga.
"Jadi, bagaimana perkembangan Aliansi?"
Aku menanyakan hal tersebut.
Amelia membuka buku catatannya. "Rencana kita telah berjalan dengan baik. Seluruh kelas tiga dan kelas satu telah bergabung dalam Aliansi kita. Yang tersisa hanya kelas 2B dan 2C."
Kak Virga yang tadinya terlihat bangga, mendadak berubah ekspresi. "Jadi sisa kelas 2 yah."
Itulah yang digumamkannya. Dia tampak khawatir.
"Ada apa?"
Amelia sepertinya juga menyadari ada yang salah dengan Kak Virga.
Dia menggeleng. "Tidak ada. Aku hanya memiliki firasat buruk tentang ini."
__ADS_1
Sepertinya memang ada sesuatu yang disembunyikannya. Ini hanyalah dugaan tanpa bukti. Namun, aku juga merasakan firasat buruk yang akan terjadi ke depannya. Mungkin, apa yang saat ini kucemaskan sama seperti yang dia cemaskan
Memangnya apa yang sekarang kucemaskan?