Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Pencurian Harta Negara


__ADS_3

Ruangan ini begitu mewah. Sebanding dengan orang yang menjadi pemiliknya yang seorang komandan. Tumpukan dokumen dan berkas berbaris rapi di lemari. Ada juga beberapa guci dan lukisan yang menghiasi ruangan ini.


Dan, tidak lupa ada sebuah foto seseorang paling berpengaruh di Calendsia. Dia adalah Fuhrer negeri ini, Iskandar Agung.


Setelah saling berkenalan, Komandan Hans mempersilahkanku dan Maya masuk.


Aku duduk di sofa di samping Maya. Sementara Komandan Hans sedang membaca berkas di tangannya di seberang dudukku. Di antara kami ada sebuah meja persegi panjang yang membatasi kami.


"Ahh ini dia berkasnya."


Komandan Hans berseru. Dia menunjukkan berkas tersebut kepada Maya. Setelah itu dia pun menjelaskan isi kasus tersebut dengan santai.


"Saat ini kami sedang menyelesaikan sebuah kasus pencurian. Sebuah Liontin berbentuk hati milik istri Gubernur Jendral telah dicuri."


Mungkin yang dia maksud adalah-


"Red Heart."


Seorang gadis bergumam di sampingku.


Komandan Hans mengangguk. "Itu dia namanya. Liontin itu begitu besar dan mahal karena dibuat dari batu delima merah."


Maya mengangguk. "Jika ditaksir, harganya kemungkinan mencapai 1 miliar. Mungkin lebih."


Aku terloncat. Komandan Hans dan Maya kompak melihat ke arahku.


"Ada yang bisa kubantu?"


"Aria, tolong jangan membuatku malu."


Itulah tanggapan dari mereka berdua. Maya menatapku dengan sinis, sama seperti sebelumnya. Aku meminta maaf setelah itu dan berusaha untuk tidak ceroboh lagi.


Maya pun membaca berkas kasus tersebut dengan serius. Disitu sepertinya ada beberapa rincian seperti tersangka, dan orang yang terlibat dalam kasus ini.


"Mungkin aku harus menghubungi Kopral Coki?"


Komandan Hans mengangguk. "Tentu saja. Dia merupakan orang yang mengetuai segala hal ihwal kasus ini."


Untuk beberapa saat, Maya menarik napas panjang seolah sedang mempersiapkan diri.


Apa yang terjadi? Sepertinya akan ada bahaya yang datang.


"Aria, sekarang pekerjaan kita baru dimulai. Jadi, seriuslah."


Dia sepertinya telah mahir berurusan dengan kepolisian. Jadi, aku tidak dapat berkata apapun dan hanya dapat mengekor saja di belakangnya.

__ADS_1


Tanpa pamit Maya pergi begitu saja dari ruangan Komandan Hans. Setidaknya sebelum pergi, aku sempat memberikan menundukkan badanku dan berpamitan.


Lagipula, aku benar-benar tidak mengetahui alasan mengapa aku harus ikut Maya menyelidiki hal ini. Namun, dia telah mengancamku dan aku tidak ingin melawannya. Jujur saja, dengan kemampuanku saat ini, aku tidak akan mampu untuk mengalahkannya.


* * *


Kami sampai di sebuah apartemen mewah di kota dekat perempatan jalan. Menurut berkas yang dibaca oleh Maya, kopral Coki sepertinya tinggal di sini. Ini adalah apartemen yang sama yang dituju oleh pria baik yang kutemui sebelumnya. Setelah menaiki lift, kami berdua telah sampai di depan kamar Kopral Coki di lantai 6.


Aku tidak berani membayangkan kalau aku harus menaiki anak tangga untuk menuju kemari. Setelah memencet bel, pintu pun terbuka. Seseorang yang tampaknya masih muda muncul dari balik pintu.


"Selamat siang. Kami berdua merupakan kenalan komandan Hans."


Maya menyapa pemuda tersebut. Dia tampak terkejut.


"Komandan? Apa kalian suruhannya komandan?"


Maya mengangguk.


"Huh jadi begitu. Padahal aku berharap komandan membiarkanku menyelidiki kasus ini tanpa bantuannya. Tapi ya sudahlah."


Dia menggerutu. Meskipun targetnya mungkin bukan kami, tetap saja ini tidak mengenakkan.


"Ohh maafkan aku. Perkataan tadi kutujukan untuk komandan."


Dia menundukkan kepalanya beberapa saat.


Maya mengedikkan bahu dan memalingkan pandangannya seolah tidak ingin ikut campur.


Ya sudahlah. Lagipula setelah itu pemuda tersebut telah kembali berdiri tegap dan menyalami kami berdua.


"Perkenalkan, aku Coki, salah satu kopral yang sekarang sedang memipin penyelidikan kasus pencurian red heart."


Sepertinya dia masih berumur 20an. Namun, pangkatnya sudah cukup tinggi jika dibandingkan dengan umurnya yang masih muda.


Aku sedikit iri dengannya.


Dia juga telah menjadi ketua penyelidikan sebuah kasus besar. Ini adalah pencapaian yang kuharapkan nantinya.


Kami berdua pun dipersilahkan masuk ke dalam apartemennya. Sepertinya Coki tinggal sendiri di sini. Aku hanya berharap semoga dia dapat meninggalkan kehidupan yang penuh kesendirian ini dengan menikahi gadis yang dia cintai. Karena, aku melihat betapa suramnya tempat ini jika ditinggali sendiri.


"Baiklah, karena kalian akan menginap, jadi santai saja yah."


Aku memandang ke arah Maya. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain saat dia tahu aku melihat ke arahnya. Dasar licik, gerutuku dalam hati. Sepertinya Maya telah mengetahui kalau kami akan dipaksa untuk menginap.


Mungkin saja hal ini telah dijelaskan di berkasnya. Jadi ini bahaya yang mengancam kami. Menggerutu pun sia-sia, karena semuanya sudah terlambat.

__ADS_1


Coki menyuruh kami duduk dan mengajak kami untuk mengobrol. Dia sepertinya sangat senang berbicara. Bahkan dia menceritakan semua tetangganya di gedung apartemen ini.


"Kau tau, di sini aku memiliki banyak tetangga yang baik dan unik."


Dia mulai bercerita. Sepertinya dia ini adalah orang yang tidak dapat dihentikan ketika sudah mulai berbicara. Ini salah satu tipe orang yang aku enggan memiliki hubungan dengannya.


"Di sebelah kiri kamarku ini ada seorang pengurung. Sangat jarang sekali dia keluar dari kamarnya. Mungkin, inilah yang disebut dengan introvert."


Maya terlihat mengantuk saat mendengarkannya bicara. Tentu saja, orang ini merupakan satu-satunya orang yang dapat mengalahkan Maya hanya dengan bicara. Sungguh, ini pemandangan yang mengangumkan saat Maya tidak dapat menghindari kejadian ini.


Aku penasaran dengan alasannya melakukan banyak hal hari ini.


"Oh iya, selain tetangga yang introvert, aku juga mempunyai tetangga unik lainnya. Misalnya seorang karyawati yang sangat pelupa. Kau tahu, dia bahkan bolak-balik dari depan gedung ke kamarnya beberapa kali karena banyaknya barang yang tertinggal."


Coki tertawa kecil. Aku hanya dapat tersenyum menanggapi perkataannya. Sungguh, dibenakku aku bertanya-tanya tujuan Maya melakukan ini semua.


"Oh iya yang terakhir adalah seorang teknisi. Dia mungkin cukup handal memperbaiki berbagai alat elektronik."


Sepertinya tetangga terakhirnya cukup normal. Tidak ada yang salah dari teknisi tersebut.


Justru aku merasa khawatir dengan keadaan Coki yang lebih dari separuh kenalannya adalah orang 'unik'.


Ketika Coki telah selesai bercerita, dia pun segera mempersiapkan kamar.


Di tengah kesibukan si tuan rumah, Maya segera berdiri dan mengendap-endap menuju ke arah pintu. Setelah dia memegang gagang besi pintu tersebut, dia segera berkata dengan cepat.


"Oh iya, sebenarnya aku tidak dapat menginap malam ini, karena ada urusan keluarga. Jadi untuk kalian, bersenang-senanglah."


Dia dengan mendadak mengatakannya. Sebelum pergi, dia mengedipkan matanya dengan imut, namun genit. Dan dia pun bergegas pergi setelah itu.


"Tunggu. May-"


Dia telah meninggalkan kamarnya dan pergi meninggalkanku berdua dengan Kopral Coki. Ini adalah hari tersuram yang pernah kumiliki.


Sial!


* * *


Malam pun tiba. Saya bersyukur dapat selamat dari petaka tersebut. Sayang, rekan saya harus menerima nasibnya yang malang. Saya tidak dapat menyelamatkannya, karena saya harus memilih.


Selamatkan dia atau selamatkan diri sendiri. Saya cukup egois dengan tidak memilih pilihan yang pertama.


Jika saya seorang tokoh di anime shounen, mungkin saya akan memilih menyelamatkan teman saya dan mengorbankan diri. Namun, saya tidak senaif itu. Karena, dunia itu kejam.


Ada banyak hal yang membuat dunia ini berputar, dan salah satunya adalah kelicikan.

__ADS_1


Saya telah melihat semuanya sejak awal, tetapi sekarang semuanya menjadi semakin jelas.


Sepertinya saya telah menemukan seseorang yang sangat menarik sebagai mainan, maksud saya sebagai rekan. Kau tahu 'rekan'?


__ADS_2