Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Misteri Puisi Buatan Maya


__ADS_3

Di hari kedua, seluruh siswa di Kelas 2A telah setuju untuk berkerja sama dengan kami. Sehingga kelas 1A mempunyai total suara sebanyak 50 suara.


Kuharap kelas lain juga mau beraliansi dengan kami. Karena musuh yang sebenarnya adalah pihak Central. Jika seluruh kelas beraliansi, maka kami dapat melakukan sinkronasi sehingga kami dapat menyamaratakan jumlah voting tidak suka kepada siswa.


Dengan penyamarataan ini, pihak Central tidak dapat mengeluarkan para siswa karena setiap siswa memiliki jumlah vote tidak suka yang sama.


Begitulah rencanaku. Namun, itu hanyalah rencana cadangan. Aku juga memiliki rencana utama, yaitu dengan cara golput atau tidak memilih. Seandainya seluruh siswa tidak memilih, maka tidak ada siswa yang perlu dikeluarkan.


Kekalahan yang sebenarnya ada pada Central dan apapun yang mereka rencanakan dibalik Voting Kelas akan berakhir dengan kegagalan. Setelah Amelia dan Kak Virga mendengar rencana ini, mereka segera melakukan negosiasi dengan kelas lain yang belum bergabung.


Negosiasi mereka tampaknya berjalan dengan lancar. Hampir semua kelas telah bergabung dalam aliansi kami. Yah, ada juga yang bergabung dengan sedikit paksaan. Karena, kami telah memiliki suara pasti berjumlah 50 suara, ini adalah gabungan suara dari kelasku, kelas 1A dan kelas kak Virga, kelas 2A.


Dengan begini, kami dapat mengancam ketua kelas dari kelas lain dan memaksa mereka untuk bergabung. Contohnya adalah kelas 1B, dimana kami memberikan sedikit tekanan kepada ketua kelas mereka.


Awalnya negosiasi berjalan alot, karena yang menjadi perwakilan kami di kelas mereka adalah Asuna, murid paling dibenci di kelas mereka. Namun, setelah Amelia mencoba untuk membujuk mereka. Akhirnya mereka mau bergabung sepenuhnya.


Sementara Kak Virga telah berhasil membujuk seluruh siswa di kelas 3 untuk bergabung dengan kami. Total suara yang telah kami dapatkan berjumlah 150 suara. Untuk sekarang, aliansi kami menjadi lebih kuat.


Namun, cerita itu tidak berkaitan lagi denganku. Aku telah menyerahkan masalah negosiasi kepada Amelia dan Kak Virga.


Untuk saat ini aku sedang memikirkan masalah lain. Aku memegang secarik kertas.


Kertas ini adalah isi dari amplop yang diberikan oleh Maya sebelum dia menghilang secara misterius.


Makna di Balik Kata


Indahnya bulan purnama


Namun yang kurasakan hanya sunyi direlung jiwa.


Galau, gelisah dan merana.


Gantikan rasa bahagia.


Aku menjerit.


Rasa sunyi menyelimuti jiwa.


Ingin kuhapus derita.


Saat nanti kita berjumpa.


Itulah yang ditulis oleh Maya pada kertas tersebut. Apa yang sedang dipikirkannya? Dia membuat puisi ini seolah dia sedang jatuh cinta kepada seseorang.


Namun, yang kubicarakan ini adalah Maya. Gadis itu tidak mungkin mengalami sesuatu seperti mencintai seseorang. Atau mungkin, itulah yang kuharapkan. Mungkin aku hanya tidak ingin Maya mencintai orang lain.

__ADS_1


Lupakanlah!


Pokoknya, puisi ini pasti memiliki maksud tersembunyi. Seperti sebuah petunjuk dalam permainan kata. Puisi ini pasti berisi hal tersebut.


Untuk memecahkan misteri dalam puisi ini, aku membutuhkan orang yang tepat dan ahli dibidang sastra. Ketika aku memikirkan orang yang tepat untuk membantuku, bel masuk berbunyi. Seorang guru dengan tergesa-gesa memasuki kelas. Kacamatanya tampak miring sebelah. Dia adalah Ibu Reflesia, guru Sastra Klasik.


* * *


Hari ketiga pun tiba. Kemarin setelah kelas selesai, Aku telah membuat janji untuk bertemu dengan Ibu Reflesia di perpustakaan pada hari ini. Sebagai guru Sastra, dia pasti ahlinya dalam menilai karya sastra semacam ini.


Beliau telah menungguku di salah satu kursi di perpustakaan. Dia melambaikan tangan ke arahku saat aku datang.


"Baiklah, coba kulihat puisinya."


Itulah yang dia katakan ketika aku datang sambil menyodorkan tangannya.


Aku menyerahkan kertas puisi tersebut kepadanya. Beliau mulai membaca puisi tersebut dengan serius. Beberapa kali dia mengangguk-angguk dan bergumam kecil.


Beberapa saat kemudian setelah selesai membaca puisi tersebut, Ibu Reflesia memberitahuku sesuatu.


"Sepertinya puisi ini menggunakan akhiran huruf 'a' di hampir seluruh puisinya. Kecuali pada kalimat ini."


Dia menunjuk kalimat 'aku menjerit'. Setelah kuperhatikan, memang benar apa yang dikatakannya. Hampir seluruh kalimat pada puisi tersebut memiliki akhiran huruf 'a'.


Kupikir, kalimat ini memiliki semacam petunjuk. Bukan, bukan hanya pada kalimat ini. Seluruh puisi ini pasti memiliki banyak sekali misteri dan teka-teki.


Dia tersenyum menunggu jawabanku.


Aku, merasakan firasat buruk tentang ini. Ibu Reflesia pernah menjadi korban Maya bukan?


Saat aku memberitahu beliau bahwa Mayalah yang telah membuatnya, dia segera menjauh beberapa langkah dariku. Atau lebih tepatnya dari secarik kertas yang kubawa.


"A...ada apa bu?" Aku mengkhawatirkannya saat ini.


"Ti...tidak ada." Dia menoleh ke sekitar seolah mewaspadai sesuatu. "M...mana dia?"


Aku mengedikkan bahu. "Dia tiba-tiba menghilang begitu saja."


Setelah itu beliau pergi dengan berbagai alasan yang terlihat jelas kebohongannya. Sepertinya dia sangat takut kepada Maya. Maya memang menakutkan. Namun, dibalik semua sikapnya, aku tahu dia adalah gadis yang baik dan sedikit misterius.


Setelah beliau pergi, Aku kembali fokus untuk memecahkan puisi buatan Maya. Sekarang aku melihat kembali puisi tersebut. Aku telah menemukan petunjuk setelah menyelidiki akhiran puisi tersebut berkat bantuan Ibu Reflesia.


Namun, beliau telah kabur sebelum semuanya terpecahkan. Sekarang, aku ingin menyelidiki huruf awal di setiap baris puisi tersebut.


I, N, G, G, A, R, I, S.

__ADS_1


Itulah kumpulan huruf awal dari setiap baris puisi buatan Maya. Sepertinya kumpulan huruf tersebut seperti sebuah kata yang kukenal.


Setelah aku membuang huruf 'A' dari awalan kalimat 'Aku menjerit', aku menemukan kata baru, yaitu Inggris. Sepertinya ini bukanlah sebuah kebetulan. Masih banyak hal yang belum kupecahkan.


* * *


Malam pun tiba. Setelah membaca puisi buatan Maya, entah mengapa hatiku tergerak ingin melihat langit malam. Melalui jendela kecil, aku membiarkan cahaya bulan masuk ke kamarku. Cahayanya cukup terang meskipun tidak secerah bulan purnama. Aku membiarkan angin malam berhembus masuk ke kamarku.


Di tanganku, terdapat puisi yang dibuat oleh Maya.


Aku menjerit dan Inggris.


Aku memikirkan hubungan yang mungkin dari kedua kata tersebut. Setelah aku membuka kamus, kalimat aku menjerit dalam bahasa inggris berarti I Scream. Kepingan misteri mulai terkumpul.


Aku menggumamkan kalimat tersebut beberapa kali untuk memastikan makna dari kata tersebut.


Aku menyadari satu hal, kalimat tersebut mirip dengan kata es krim. Sepertinya ini adalah sebuah permainan kata dari Maya. Ini memang ciri khasnya, sehingga wajar jika dia meninggalkan petunjuk seperti itu.


Jadi apa arti dari kata es krim?


Mungkin nama tempat?


Satu-satunya tempat yang terpikirkan olehku setelah sampai sejauh ini adalah tempat penjualan es krim di samping kantin. Mungkin, Maya ada di sana. Atau mungkin, di tempat itulah Maya menyuruhku untuk menemuinya.


Malam itu, aku menelepon Kak Virga. Untuk saat ini dialah orang yang dapat membantuku.


"Halo."


Sepertinya panggilanku telah diangkatnya.


"Ada apa Aria?"


"Kak Vir, aku mau kau membantuku."


"Hoo~ sepertinya menarik."


Dari suaranya, aku dapat membayangkan lawan bicaraku ini sedang tersenyum dengan licik.


"Tolong, berikan aku surat izin untuk masuk ke sekolah malam ini."


"Malam ini?! Untuk apa?"


Aku pun menceritakan tujuanku.


"Ja...jadi begitu." Di seberang sana terdengar sebuah helaan napas yang panjang.

__ADS_1


"Baiklah. Kau dapat datang mengambil surat tersebut malam ini."


Dan, sebelum malam semakin larut, aku segera bergegas pergi menuju tempatnya.


__ADS_2