
Suara seseorang menggema di penjuru ruangan sehingga membangunkan saya. Suara itu muncul dari speaker yang ada di balik dinding putih. Dinding tempat munculnya suara tersebut memiliki banyak lubang kecil agar suara dapat masuk ke kamar saya. Sebuah gambar atau mungkin video, muncul di dinding kamar saya.
Dinding tersebut punya semacam sistem sehingga memungkinkan sebagian dinding berfungsi sebagai layar monitor yang dapat menampilkan video.
Sekarang pada monitor dinding tersebut terdapat sebuah video yang menampilkan seseorang yang menyebut dirinya sebagai “Guru”.
Dia selalu mengajari saya tentang berbagai hal yang ada di dunia luar. Sehingga walaupun saya terkurung di ruangan ini, saya mengetahui banyak hal darinya tentang sejauh mana peradaban di luar sana telah berkembang.
Hari ini dia menampilkan sebuah film dari dunia luar. Sebelumnya dia juga pernah menampilkan beberapa film sebagai media pembelajaran. Film tersebut menceritakan tentang sebuah pencurian.
Saya kagum dengan sang pencuri yang dapat membuka pintu hanya dengan sebuah kawat. Suatu saat nanti, saya berharap dapat melakukannya juga.
Dan pembelajaran hari itupun selesai saat film tersebut berakhir.
Saya melahap sarapan yang telah tersedia di nampan sejak saya bangun. Mungkin sarapan tersebut di letakkan saat saya masih tidur.
Hari ini menu yang saya makan adalah nasi dan susu. Saya kira makanan ini dipilih karena warnanya yang putih.
Sepanjang yang saya ingat, saya tidak pernah melihat warna lain selain putih sepanjang hidup saya. Whiteroom tidak pernah membiarkan saya melihat warna lain di ruangan ini, kecuali dari layar monitor.
Ini mungkin dimaksudkan agar saya dapat fokus ke layar monitor di dinding. Karena, hanya dari layar di dinding itulah saya dapat melihat warna-warninya kehidupan.
Sambil memikirkan hal tersebut, saya melahap makanan yang disediakan. Nasi yang saya makan terasa hambar, begitu pula dengan rasa susu murni yang hambar dan sedikit amis. Saya yakin, guru dan para peneliti di luar sana telah memikirkan gizi yang ada pada makanan ini. Hanya saja, mereka sepertinya tidak begitu peduli dengan rasanya.
Saya tidak pernah melihat makanan lain yang berwarna-warni dengan rasanya yang beraneka ragam. Namun, dari beberapa film yang pernah saya lihat di monitor dinding, banyak penduduk di luar sana yang mengalami kelaparan parah. Bahkan mengalami gizi buruk dengan tubuh kurus mereka yang hanya tulang berbalut kulit.
Saya bersyukur masih dapat menikmati makanan yang bergizi seperti sekarang. Dan beruntung, saya dapat memahami betapa banyaknya orang-orang yang hidup dengan memikul beratnya beban hidup. Sebab hal tersebut merupakan salah satu bentuk pelajaran yang diberikan oleh "guru" agar saya dapat lebih bersyukur dan tidak mengeluh dengan makanan yang saya dapatkan.
Akhirnya sarapan saya pun selesai. Untuk sesaat, saya menemukan sebuah benda yang unik. Benda tersebut mirip dengan benda yang ada di film tadi. Mungkin benda inilah yang dinamakan dengan kawat.
__ADS_1
Warnanya putih mengkilap, berbeda dari warna putih yang ada di ruangan ini. Samar-samar benda tersebut dapat memantulkan cahaya seperti cermin. Saya pun segera bergegas menyimpannya di saku celana saya. Karena, saya merasa benda ini begitu istimewa. Warnanya yang mengkilat begitu menarik.
Tidak lama kemudian rasa kantuk mulai saya rasakan. Ini mungkin disebabkan oleh obat tidur yang telah dicampurkan ke dalam makanan yang saya makan.
Sejauh yang dapat saya bisa ingat, rutinitas saya di ruangan ini hanya sedikit. Yaitu tidur, makan, dan belajar. Terkadang, saya juga mandi dan buang air di kamar mandi yang ada di kamar saya. Sisanya saya gunakan untuk menatap warna putih dengan pikiran kosong.
Mungkin, inilah yang dinamakan dengan kedamaian semu. Secara kasar, inilah rasa sunyi, sepi dan hampa yang sebenarnya.
Saya telah berada di ruangan ini dari kecil. Saya tidak pernah merasakan hal yang penuh emosi seperti kasih sayang orang tua.
Mungkin hal yang saya lihat pertama kali saat bayi bukanlah timang ayah bunda, tetapi putihnya warna ruangan ini.
Untuk sekarang, bagi saya belajar adalah segalanya.
Dengan mempelajari hal baru dari video yang ditampilkan di dinding, saya dapat membayangkan betapa menyenangkannya kehidupan diluar. Meskipun begitu saya telah menganggap tempat ini sebagai “rumah” sehingga tidak ada alasan bagi saya untuk pergi dari sini.
Perlahan, penglihatan saya mulai meredup. Kantuk yang menjalar semakin kuat dan memaksa saya untuk kembali tidur. Melawan rasa kantuk ini tidak ada gunanya. Saya pun membiarkan kantuk ini menyeret saya ke alam mimpi.
* * *
Sebuah getaran dahsyat telah membangunkan saya. Saya merasakan ruangan yang saya tempati bergoyang. Ini pertama kalinya saya merasakan sesuatu seperti ini. Rasanya ada sesuatu di dalam diri saya yang memerintahkan saya untuk pergi. Namun, pergi kemana? Pintu ruangan yang saya tempati selalu terkunci.
Saya pun teringat dengan film yang baru saja saya tonton. Bukankah si pencuri dalam film tersebut dapat dengan mudah membuka pintu hanya dengan sebuah kawat?
Saya pun akan mencoba untuk melakukan hal yang sama.
Hal pertama yang saya lakukan adalah memastikan ukuran dari lubang kunci. Lalu. kawat yang saya punya pun saya buat menjadi bengkok.
Dengan hati-hati saya memasukkan kawat ke dalam lubang kunci. Saya telah memperkirakan cara membuat pin yang ada di dalam kunci dapat terangkat sehingga dapat membuka kunci pintu. Setelah beberapa saat saya menggerakkan kawat, terdengar bunyi klik dari pintu. Saya pun akhirnya dapat membuka pintu tersebut.
__ADS_1
Ini pertama kalinya saya keluar dari kamar ini. Saya melihat banyak pintu berjejer di sepanjang lorong. Sepertinya masih banyak anak-anak seperti saya yang hidup di ruang putih.
Namun, ini bukan saatnya untuk bersimpati. Karena kebebasan saya pun masih belum terjamin.
Tiba-tiba saya kembali merasakan getaran yang hebat. Lampu-lampu yang tergantung di lorong bergoyang dengan kencang. Akhirnya listrik pun memadamkan seluruh cahaya yang ada di sini. Keadaan menjadi gelap gulita.
Untuk pertama kalinya, tempat ini mengalami guncangan yang sangat kuat seperti ini. Tempat itu kembali bergetar beberapa kali setelah itu.
Dengan perlahan saya mencari pintu keluar. Namun, setelah lama mencari, saya tidak menemukannya. Yang saya temukan hanyalah pintu-pintu kamar yang sama seperti milik saya.
Dengan cepat saya berpikir, karena setelah getaran tersebut berhenti, para pekerja yang mengelola tempat tersebut akan kembali. Dan, saya pun akan dipaksa untuk kembali ke ruangan putih dan terkurung di sana sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Saya tidak ingin kembali sebelum saya dapat melihat dunia luar. Itu adalah keputusan bulat saya. Karena itu adalah ambisi saya setelah beberapa kali saya menonton video tentang dunia luar.
Tentang betapa hijaunya hutan, birunya lautan, dan merdunya kicauan burung-burung. Saya ingin melihat itu semua.
Semuanya demi menambah pengetahuan saya tentang dunia. Keingintahuan telah ditancapkan oleh "guru" kepada saya dari beberapa video yang diputarkannya di layar dinding.
Saya pun menyelidiki, alasan saya tidak menemukan puntu keluar. Getaran masih sedikit terasa, tetapi di tempat yang jauh mungkin ada getaran yang lebih besar sedang terjadi. Mungkin saat ini saya berada di sebuah bungker bawah tanah. Sambil menduga hal tersebut, saya. Mencocokkan dugaan saya dengan beberapa adegan yang pernah saya lihat di layar dinding.
Ada beberapa bungker bawah tanah yang tahan terhadap gempa. Namun ada juga beberapa peristiwa alam yang dapat menggetarkan kokohnya bungjer bawah tanah.
Salah satunya adalah....
Oke. Akan saya periksa dengan mata saya sendiri. Saya memutuskan bahwa tempat ini memanglah sebuah bungker bawah tanah. Karena, mencari pintu pun tidak ada gunanya.
Saya pun menaiki tangga dengan bertaruh bahwa di atas sana ada sebuah kebebasan. Tepat seperti yang saya duga. Getaran demi getaran semakin terasa saat saya telah menaiki beberapa anak tangga.
Untuk pertama kalinya saya melihat dunia luar. Semilir angin menyambut saya dengan tenang. Para bintang berhamburan di langit malam. Di kejauhan terdapat beberapa puing bangunan yang roboh.
__ADS_1
Di kejauhan saya melihat sirine lampu mobil berkelap-kelip. Salah satu penumpang mobil tersebut kemari mendatangi saya. Bantuan sepertinya telah datang. Saya dapat bebas dari whiteroom dengan memanfaatkan proses evakuasi ini. Ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali.