Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Pencurian di Ruang OSIS


__ADS_3

Ulangan Akhir Semester (UAS) telah berakhir. Masa-masa tegang telah selesai. Hari ini adalah hari pengumuman serta pembagian hasil UAS. Para murid berkerumun di depan papan pengumuman di depan kantor guru dengan antusias. Aku menerobos kerumunan siswa yang menggila di depan papan pengumuman. Ketika kulihat hasil UAS kemarin, aku berada di peringkat tiga kelas. Cukup memuaskan, pikirku. Peringkat satu tetap dipegang oleh si Ketua Kelasku, Amelia Anastasya. Namun ketika aku melihat peringkat kedua. Aku melihat nama Maya Evangeline tertera di sana.


Kejutan! Aku melihat kembali kertas pengumuman tersebut. Namun tidak ada perubahan. Maya tetap menduduki peringkat dua. Sepertinya aku kalah taruhan. Ngomong-ngomong dimana dia? Aku harus menjauh darinya untuk sementara. Aku segera menuju ke kantin.


Namun sebelum sampai di kantin. Seseorang menghentikan langkahku di koridor.


"Aria!"


Aku mengenali suara tersebut. Itu, Maya.


"Aria! Apa kau mencoba kabur?"


“Te... Tentu saja tidak.”


Aku hanya dapat mengeluarkan seulas senyum terpaksa. Bagaimana mungkin dia mendapatkan peringkat yang lebih tinggi dariku? Padahal dia tidak banyak belajar dan persiapan. Begitulah isi pikiranku saat ini.


Maya mendelikkan matanya dan membuatku takut. "Kau tahu Aria, aku tidak bodoh. Aku hanya malas menunjukkan kepintaranku."


Dia berkata seolah mengetahui isi pikiranku. “Aku tidak mengatakan apapun.”


Dia berjalan beberapa langkah sampai jarak antara wajah kami menjadi sangat dekat. Jika orang lain melihat kami, mereka mungkin akan mengira kami akan berciuman. Namun, perasaanku saat ini sangat takut. Aku belum pernah sedekat ini dengan perempuan.


“Tapi isi pikiranmu tadi baru saja meremehkanku, kan?”


Aku menggeleng.


Tidak kusangka ini akan menjadi sulit. Bagaimanapun juga aku masih belum mengetahui tingkat kecerdasan Maya yang sebenarnya. Sepertinya keputusanku untuk bertaruh dengannya salah. Namun pada akhirnya penyesalan hanya datang di akhir cerita.


Dia mundur beberapa langkah. Sambil tersenyum dia berkata, "Jadi sekarang kita telah resmi pacaran. Selamat!! Kau akan bebas dari perjanjian ini jika kau menemukan teka-teki yang tidak dapat kupecahkan, tapi dapat kau pecahkan.”


“Benarkah? Ka...kau serius? Aku hanya perlu membuat sebuah teka-teki?”


Maya mengangguk, "atau kau ingin sebaliknya? Tidak masalah. Jika kau meminta, aku dapat membuat teka-teki dan kau harus memecahkannya."


Maya menyeka keringat yang menetes di dahinya.“Untuk sekarang kau harus melakukan apapun yang kuminta. Contohnya...." Dia seperti memikirkan sesuatu. "Tolong belikan aku minum. Aku haus."


Untuk sekarang, sepertinya aku hanya dapat memasrahkan diri. Aku menengadahkan tangan. "Uangnya?"


"Bukankah kita pacaran? Kukira itulah fungsi pacar." Dia menyeringai. Belum pernah aku melihat Maya menyeringai seperti itu sejak aku sekelas dengannya.


Jadi ini yang dimaksudnya dengan berpacaran. Sepertinya dia lebih menganggapku sebagai pembantu dibandingkan pacar. Sekarang aku telah terjebak dalam kisah cinta komedi romantis ini. Meskipun aku yakin kisahku tidak memiliki bumbu romantis sedikit pun nantinya.


* * *


Aku mengangguk lemah. “Maaf. Aku gagal membujuk Maya.”


Saat ini aku dan Amelia sedang berdiskusi di kantin.


Meskipun dia terlihat tidak peduli. Aku dapat melihat pancaran harapan dari matanya. Sayang sekali, aku tidak dapat membujuk Maya seperti harapannya.


“Yah sudahlah. Kita kesampingkan dulu masalah Maya. Aku punya sedikit masalah.” Amelia terlihat lesu.


“Masalah apa?” Sambil mendengar ceritanya aku menyeruput teh hangatku yang sudah mulai dingin.


Beberapa orang masih berdesakan mengantri di meja kantin. Beruntungnya aku karena telah memesan makanan sebelum antriannya sepanjang itu.


“Kau tahu kan kalau selain menjadi ketua kelas, aku juga bergabung dalam komite disiplin.”


Aku mengangguk.

__ADS_1


Amelia menghela napas. “Hari ini seseorang telah mengambil uang kas dari ruangan OSIS. Karena itu sepertinya aku akan sedikit sibuk hari ini.”


Aku tidak menduga kalau ada pencurian di sekolah ini. Ngomong-ngomong sekolah ini memiliki gerbang Sekolah yang dijaga ketat oleh sekuriti. Belum lagi di sekolah ini ada organisasi komite disiplin yang ikut bertugas untuk menjaga keamanan. Jadi, akan sulit bagi pencuri masuk tanpa ketahuan, kecuali pencuri tersebut juga seorang murid atau salah satu pegawai sekolah ini.


“Kapan itu terjadi?”


Amelia berdiri sambil menghela napas lelah.


“Sepertinya baru saja, tadi aku mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Karena itu aku akan pergi ke ruang OSIS untuk menyelidiki kebenarannya.”


“Mungkin aku dapat membantumu.”


“Maksudmu?”


“Mungkin aku dapat membantumu menyelidiki masalah ini. Hitung-hitung sebagai permintaan maafku, jika memungkinkan aku dapat membantumu menyelidiki hal ini.”


Sejenak dia terlihat berpikir.


"Sepertinya ini menarik," gumamnya dengan suara kecil.


Dia pun setuju dengan senyum lebar. “Baiklah. Ayo kita pergi. Tapi biar kuingatkan kepadamu. Jangan remehkan tugas dari komite disiplin.”


Amelia dengan semangat berjalan di depanku.


***


Ruang OSIS masih tampak berantakan. Terdapat kaca jendela yang retak dan pecahan kaca yang berserakan di depan ruangan tersebut.


Sementara di dalam ruangan, ada beberapa meja dan kursi yang berantakan. Dengan ini kami menyimpulkan bahwa pesan yang diterima Amelia ternyata benar.


Amelia membuka pintu dengan santai. Di sana ada seorang siswa yang lebih tua dibandingkan denganku dan Amelia sedang sibuk mengerjakan beberapa dokumen OSIS.


Murid tersebut menghentikan pekerjaannya dan mengalihkan pandangannya kepada kami.


“Hai, Mel. Apa kabar?”


“Kabarku baik kak Virga. Kakak sendiri bagaimana?”


“Seperti yang kau lihat. Aku harus membuat laporan keuangan kami di tengah kekacauan ini. Parah! Aku tidak dapat membereskan ruangan ini sendirian.” Dia terlihat mengeluh dengan tugasnya yang menumpuk.


Dia melihat ke arahku. Seolah mengerti, Amelia memperkenalkanku.


"Aria, nama kakak ini Virga, dulu kami satu sekolah di SMP, jadi kami saling kenal. Saat ini dia menjabat sebagai sekretaris OSIS."


Kak Virga mendekati kami dengan tersenyum hangat.


“Kak Virga, ini teman sekelasku, Aria. Dia kemari untuk membantuku memyelidiki masalah disini. ”


Dengan malas Amelia memperkenalkanku dengan kakak kelas ini.


“Meskipun sebelumnya kecerdasannya telah dikalahkan oleh seorang siswi dari kelasku.”


Oi-oi jangan bawa-bawa hasil ulanganku kemari Ketua Kelas. Begitulah gerutuku dalam hati. Saat aku melihatnya dia tersenyum mengejek.


Kak Virga tertawa kecil. Wajahku mungkin memerah saat ini. Dia menyodorkan tangan untuk bersalaman denganku. “Terima kasih, Aria.”


Aku mengangguk. “Ahh tidak masalah.”


Setelah bersalaman, Aku memaksakan diri untuk tersenyum. Mungkin saat ini aku telah membentuk raut wajah yang aneh.

__ADS_1


“To...tolong ceritakan kepadaku kejadiannya.”


“Wah sepertinya kau benar-benar ingin memecahkan misteri ini.”


Kak Virga kembali tertawa kecil sebelum akhirnya bercerita.


“Sebelum uang kas kami hilang, di ruangan OSIS ini hanya ada aku yang sedang bertugas menghitung uang kas OSIS. Setelah selesai, dan memasukkannya ke amplop aku menaruh uang tersebut di meja, karena aku harus pergi sebentar untuk mengurus tugas di kelasku. Saat aku kembali, ruangan ini benar- benar berantakan seperti saat ini.”


Aku melihat sekitar. Di luar ruangan, lorong lantai 3 ini tampak sepi. Tidak terlihat ada orang yang berlalu lalang. Tidak banyak siswa kelas dua dan satu yang kemari. Selain ruang OSIS, di lantai ini ada ruang kelas tahun ketiga dan OSIS serta organisasi lainnya.


“Apakah pintu tersebut terkunci?” tanya Amelia.


“Yah tentu saja. Aku berani meninggalkan uang tersebut di ruang OSIS karena kupikir uang tersebut akan aman di sini. Aku tidak berpikir kalau pencurinya akan bersikap brutal seperti ini.” Kak Virga menunjuk kaca jendela yang telah pecah.


“Apakah ruangan ini memiliki kunci duplikat?” tanya Amelia.


Kak Virga terlihat seperti mengingat sesuatu. Matanya melirik ke benda di sebelah kiriku dengan tatapan kosong. “Seingatku kami tidak memiliki kunci duplikat. Ruangan ini hanya memiliki satu buah kunci.”


Kak Virga menunjukkan kuncinya kepadaku dan Amelia.


“Oi Aria, bukankah kau juga bertindak sebagai detektif disini. Kenapa jadi hanya Aku yang mengajukan pertanyaan?”


"Ma...maafkan aku."


Aku terkejut dengan perkataan mendadak yang dilontarkan Amelia kepadaku. Jadi secara spontan aku menyahutnya dengan meminta maaf. Namun setelah kupikirkan, menyelesaikan masalah ini memang tugasnya sebagai komite disiplin.


“Kak Virga, bagaimana nasib OSIS dengan keuangan kas yang seperti ini?” tanyaku.


Sepertinya pertanyaanku sangat tidak penting. Sebenarnya aku sudah dapat menebak pelakunya. Namun, Amelia bisa marah jika aku tidak mengajukan satu pertanyaan pun.


Wanita memang sulit dimengerti. Mereka bagaikan sebuah cermin. Dia dapat memberitahu kekurangan dan kelebihanku. Namun jika aku menyentuhnya dengan kasar, dia akan melukaiku. Dan jika dia telah rusak, sekeras apapun usahaku tidak akan memperbaikinya. Jadi, sedapat mungkin aku tidak ingin berurusan dengan cermin tersebut agar tidak terluka.


“Kami akan mengajukan dana ke pihak sekolah untuk menggantinya.”


“Dan kalau sekolah tidak mau memberikan dana tambahan, bagaimana?”


Sambil tersenyum kecil dia berkata, “Mungkin akan ada iuran wajib bagi seluruh siswa.”


Dalam pandanganku, senyuman kecilnya tersebut adalah gambaran bahwa dia benar-benar licik dan penuh tipuan.


"Kak Virga, apa kau ingin aku mengungkap pelakunya?"


Kak Virga mengangguk. "Yah tentu saja."


"Yakin? Jika aku benar-benar mengungkap pelakunya, mungkin dia akan kehilangan pengaruhnya di sekolah ini. Kemungkinan terburuknya adalah dia mungkin akan dikeluarkan."


"Hoo~ sepertinya kau sudah memiliki kesimpulan."


Aku mengangguk. Senyum terbaik kukeluarkan untuk membalas senyum liciknya.


"Menurutku kau lah pelaku pencurian ini."


“Apa maksudmu, Aria?!” Bukan Kak Virga yang marah, tetapi Amelia. Ekspresi wajahnya seperti meminta penjelasan. Aku terkejut saat memperhatikan Kak Virga masih dapat bersikap tenang.


“Maafkan aku jika tidak sopan. Namun aku memang yakin Kak Virga lah yang mencuri uang tersebut.”


Kak Virga menatap tajam ke arahku. Senyumannya menghilang. “Menarik. Mengapa kau mengatakan bahwa aku yang mengambil uangnya?”


Aku melihat ke arah pintu dan jendela. Tempat segalanya dimulai. Dari sanalah segala kesalahpahaman ini terjadi. Kesalahpahaman tersebut kemudian membentuk sebuah alibi yang melindungi si pencuri sesungguhnya dari jerat kasus ini.

__ADS_1


__ADS_2