
Hari Jumat ini saat istirahat, Amelia dan Kak Virga berencana untuk mengadakan negosiasi dengan kelas 2C. Namun ketika waktu itu tiba, Amelia tiba-tiba menghilang. Sehingga, dengan paksa Kak Virga membawaku bersamanya.
Dia mengajakku untuk menemui ketua kelas 2C di kelasnya. Ini adalah pertama kalinya aku berkunjung ke kelas lain.
Kelas dua dan satu tidak memiliki perbedaan yang mencolok. Namun saat aku tiba di kelas Kak Virga, ruang kelas ini telah diatur sedemikian rupa untuk pertemuan ini sehingga beberapa meja telah disisihkan ke pinggir.
Empat buah meja yang sama rata disusun menyerupai persegi sehingga membentuk satu buah meja berukuran besar.
Beberapa kursi pun telah disiapkan untuk negosiasi kali ini. Kak Virga sepertinya telah menjadi pemimpin yang sangat dihormati di kelas ini. Dengan santai aku menunggu kedatangan ketua kelas 2C.
Zen, ketua kelas 2C pun tiba.
“Ah Zen akhirnya kau datang juga.” Kak Virga langsung berdiri dan menyalami siswa tersebut.
Zen dengan semangat menyahut.
“Tentu saja. Aku telah mendengar desas-desusnya. Kudengar kau telah membentuk sebuah aliansi kelas untuk menghadapi Voting Kelas nanti.”
“Sudah-sudah. Pembahasan seperti ini tidak dapat dibahas sambil berdiri disini bukan?”
Zen mengangguk. Kami bertiga pun akhirnya duduk di meja perundingan. Beberapa siswa dari kelas 2A berjaga-jaga di depan kelas. Zen menatapku dengan penasaran. Seolah mengerti, Kak Virga pun tersenyum kecil.
“Sebelum kita melanjutkan perundingan ini, aku ingin memperkenalkanmu kepada temanku dari kelas satu ini. Dia adalah Aria.”
Aku menundukkan kepalaku sedikit. “Aria.”
“Zen. Salam kenal,” jawabnya singkat.
Kami berdua pun saling berjabat tangan. Kak Virga pun memulai kembali pembicaraan.
“Seperti desas-desus yang kau dengar, aku telah membentuk aliansi besar antar kelas. Sekarang ini hampir seluruh kelas telah bergabung bersama kami.”
Zen pun terlihat tertarik. “Jadi apa manfaat dari pembentukan Aliansi ini?”
Kak Virga tersenyum. “Kita dapat mencegah pengeluaran siswa dari hasil voting.”
“Jika kami memutuskan untuk tidak ikut ambil bagian, dan memberikan voting kepada kau. Bagaimana?” Zen memasang wajah yang biasa digunakan para pedagang untuk berunding.
“Maka kami akan memberikan kau voting dengan seluruh suara yang kami punya, sehingga kau dengan pasti akan dikeluarkan dari sekolah.” Dengan santai Kak Virga mengatakan hal tersebut.
Zen terkejut. “Hei, bukankah itu ancaman?!”
“Kami harus melakukannya. Karena menurut ahli strategi kami, dengan bergabungnya kelas kalian ke dalam aliansi kami, itu dapat mencegah setidaknya 4 dari 9 orang dari pengeluaran.”
Zen pun mengangguk. Sepertinya dia telah menyadari keuntungan yang akan dia dapatkan.
“Menarik.” Zen pun tersenyum kecil.
"Bagaimana cara kalian memperhitungkan hal tersebut?"
__ADS_1
"Jika kalian memutuskan untuk bergabung ke dalam aliansi kami. Kami berasumsi bahwa kelas 2B hanya dapat memberikan setidaknya paling sedikit lima suara kepada masing-masing target mereka untuk memastikan pengeluaran target tersebut. Jadi dengan jumlah 25 suara yang dimiliki kelas 2B, mereka hanya dapat mengeluarkan 5 orang siswa."
Zen mengangguk kecil untuk sesaat. "Meskipun ini hanya asumsi, sepertinya tidak ada ruginya kelas kami untuk bergabung."
Kak Virga pun tersenyum puas.
“Sebelum pembicaraan ini selesai, aku mau menanyakan sesuatu. Siapakah ahli strategi yang tadi kau katakan?”
Kak Virga menoleh ke arahku. "Dialah orangnya."
Zen menatapku dengan tidak percaya.
"Benarkah? Kau tidak sedang bercanda kan Vir?"
Kai Virga mengangguk. "Kau tahu aku kan?"
Seolah mengerti Zen pun menghela nafas panjang.
“Baiklah kalau begitu. Tolong berikan aku waktu untuk berpikir.”
Setelah beberapa waktu berlalu, Zen akhirnya memutuskan untuk bergabung ke dalam aliansi kami. Aku pun mengeluarkan lembar kontrak untuk membuat perjanjian tertulis.
Zen tertawa ketika melihatnya. “Sepertinya aliansi kalian benar-benar tidak dapat dilanggar yah?”
Kak Virga juga ikut tertawa. “Ahli strategi kami ini benar-benar sangat waspada kau tahu.”
Dan begitulah hasilnya, negosiasi kami dengan kelas 2C pun berhasil. Zen menerima aliansi kami dengan tangan terbuka.
Benar, menurutku untuk membujuk para siswa di kelas 3, dibutuhkan keahlian dalam bernegosiasi. Namun, dari negosiasi tadi, kemampuan Kak Virga dalam bernegosiasi tadi tidaklah istimewa.
Kak Virga tertawa bangga sambil menepuk-nepuk dadanya.
“Aku hebatkan.”
Zen yang masih berada di tempat tersebut terlihat cengar-cengir.
“Be...benar juga yah. Kemampuanmu dalam merayu wanita sangat menakutkan.”
Kak Virga segera membungkam mulutnya.
“Maksudnya?”
Jika aku tidak salah dengar, tadi Kak Zen mengatakan sesuatu yang berhubungan denga rayuan. Kak Virga dengan terpaksa melepaskan tangannya.
“Sebenarnya, ada seorang putri yang sangat cantik di kelas 3, namanya adalah Luna. Seluruh siswa menyukainya, sementara para siswi lainnya menghormatinya. Kupikir, Virga telah merayunya dan dengan bantuan Luna lah Virga akhirnya dapat membujuk para siswa dari kelas 3. ”
Kak Virga berusaha untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Be...benar-benar ****** sejati."
__ADS_1
Tanpa kusadari aku mengatakan hal tersebut.
"Aku bukan ******!" Kak Virga terlihat marah. Mukanya merah padam.
Tiba-tiba saat kami akan beranjak pergi, salah satu siswa dari kelas 2A yang berjaga di luar datang dengan tergesa-gesa.
“Virga, beberapa murid dari kelas 2B mencoba untuk masuk.”
Dan setelah itu apa yang dikatakan oleh siswa tadi terjadi. Beberapa siswa menerobos masuk ke kelas 2A. Di antara mereka tersebut ada satu siswa yang kukenal. Dia adalah Leo.
Kak Virga memperlihatkan senyuman liciknya.
“Hey...hey... bukankah menerobos kelas orang lain itu tindakan yang tidak sopan.”
Leo mendengus. Dengan berlipat tangan dia berkata dengan nada sombong.
“Kudengar kalian sedang berunding dengan kelas 2C disini. Jadi aku menawarkan ketua kelas 2C untuk bekerja sama denga kami dan membatalkan kerja samanya dengan kelas 2A.”
Dia melihat ke arah Zen. Zen pun melangkah ke depan. “Maafkan aku, tapi kelas kami telah mengadakan perjanjian untuk beraliansi secara resmi.”
Leo terlihat kesal. “Apa kau menolak untuk bekerja sama dengan kami?”
Zen pun mengangguk. “Lagipula aku juga sedikit kesal dengan cara kalian yang menerobos kemari untuk menggagalkan perundingan kami.”
Dengan sedikit emosi Leo mengumunkan sesuatu.
“Baiklah kalau itu mau kalian. Kami dari kelas 2B akan memberikan voting kepada 5 orang siswa. Mereka adalah Virga, Luna, Asuna, Zen, dan Maya.”
Semua siswa yang ada di tempat tersebut terkejut dengan yang Leo sampaikan.
Setelah mengumumkan hal tersebut dia pun mengajak gerombolan anak buahnya untuk meninggalkan tempat itu.
“Bagaimana ini Vir?”
Kak Virga menepuk bahu Zen. “Aku akan memikirkan cara untuk mencegah kita dikeluarkan. Tenang saja.”
Zen pun meninggalkan tempat itu dengan cemas. Segera setelah itu para siswa kelas 2A dengan cekatan membereskan tempat tersebut untuk pembelajaran di jam berikutnya.
Aku masih merasa khawatir dan bingung. Mengapa mereka memberikan voting kepada Maya?
Aku berpikir sepertinya ada sesuatu yang tidak kuketahui telah terjadi di balik layar. Namun, aku kekurangan informasi. Untuk saat ini sepertinya aku memiliki sedikit keuntungan.
Karena pihak musuh telah mengumumkan nama para siswa yang akan mereka berikan voting, kami dapat memberikan suara kepada beberapa siswa untuk menyamakan suara sehingga dapat memcegah pengeluaran siswa.
Namun, cara ini sangat beresiko. Bisa saja pihak musuh telah berbohong dan suara dari kamilah yang justru menyebabkan pengeluaran siswa. Kami juga tidak dapat menghiraukan kelas lain yang tidak mereka sebutkan. Percaya 100% kepada perkataan Leo bukanlah hal yang bagus. Hanya saja aku tidak memiliki rencana lain.
Aku juga harus segera mengungkap pengkhianat di dalam internal aliansi kami. Karena ini akan mempengaruhi kerja sama kami ke depannya.
Apa yang harus kulakukan?
__ADS_1
Satu-satunya cara yang muncul di kepalaku adalah meminta bantuan Maya. Lagipula, namanya juga telah disebutkan oleh Leo sebagai siswa yang akan menerima Voting dari kelas 2B. Jadi anggap saja dia harus menyelamatkan dirinya sendiri.