Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Kematian Kapten Coki 1


__ADS_3

Hiruk pikuk keributan kota mulai terdengar mengganggu. Terdengar suara klakson mobil dan teriakan pengemudinya yang marah karena mobil di depannya berhenti seenaknya. Hal itulah yang membangunkanku dari tidur. Biasanya tidak begini.


Di asrama aku dapat kembali tidur di akhir pekan. Letak komplek sekolah SMA Rajawali berada di pinggiran kota, karena itulah tidak ada suara yang mengganggu. Tidak ada suara kemacetan seperti itu. Yang ada hanyalah suara sepi yang menenangkan dan mengantarkanku kembali ke alam mimpi, sebelum akhirnya aku terbangun di tengah hari karena perutku yang berteriak meminta untuk diisi.


Suara di luar begitu berisik. Aku mengalihkan pandanganku ke kamar tamu yang diberikan oleh Kapten Coki untukku menginap. Kamar ini tampak suram. Mungin karena dinding kamar yang di dominasi oleh warna biru malam yang tampak kusam.


Di tambah dengan cahaya remang-remang matahari yang terlihat dari balik gorden menambah kesan suram. Semalaman aku tidur tanpa nyala lampu. Aku masih mengingat dengan jelas ekspresi cengengesan kapten Coki saat dia tahu lampu kamar ini tidak menyala.


“Ahh, sepertinya lampu ini sudah bakar.” Dia menggerutu setelah beberapa kali memainkan saklar.


Namun gerutu tersebut hanya berlangsung sebentar.


“Yah mau gimana lagi.” Dia mengedikkan bahu.


“Tidak ada lagi kamar di apartemen ini yang layak untuk tamu selain ini. Kau tau, kamarku lebih menyeramkan dibandingkan kamar ini.”


Kupikir dia membual. Namun aku salah. Ketika dia memperlihatkan kamarnya, itu bahkan lebih terlihat suram dibandingkan wahana rumah hantu yang pernah kukunjungi.


Terdapat beberapa kaleng minuman di sana sini serta seprai yang menggumpal. Ada beberapa celana dalam bertebaran di lantai. Dan bagian yang paling menjijikannya adalah terdapat binatang berantena dengan warna hitamnya yang mengilap. Makhluk itu terbang ke arahku. Aku pun segera menutup pintu dan menjauh saat kecoa itu mendekatiku.


Ketika mengingat kejadian semalam, aku bersyukur karena diberi kamar ini. Mendengarkan ocehan panjang Kapten Coki yang tidak berguna mirip seperti hukuman untukku. Jadi aku sangat tidak ingin tidur di kamar itu karena itu akan menjadi neraka di duniaku.


Ngomong-ngomong, dimana pria itu?


Dengan sifatnya yang ‘unik’, rasanya tidak mungkin apartemen ini menjadi begitu hening tanpa suara. Aku pun memutuskan untuk menjelajahi apartemen ini.


Aku memeriksa setiap ruangan sambil memanggil si empunya rumah. Kamar demi kamar. Namun, tidak ada jawaban. Alasanku mencarinya adalah untuk berpamitan.


Sebelum Maya datang, aku harus pergi dari tempat ini. Aku tidak ingin direpotkannya lebih dari ini. Rencanaku untuk meminta bantuannya perihal Voting Kelas pun sedikit demi sedikit luntur.


Aku memutuskan untuk pasrah. Toh, aku tidak dirugikan sedikit pun. Sepertinya jiwa aptisku menang.


Setelah aku mencari keberadaan Coki ke setiap kamar, dan tidak menemukannya, aku memutuskan untuk pulang tanpa berpamitan. Namun sesuatu di depan pintu membuatku terkejut.


Kapten Coki sedang bertelungkup di depan pintu. Tangannya seperti sedang meraih gagang pintu yang terbuat dari besi.


Aku segera bergegas mendekatinya.


“kapten Coki... Bangunlah!”


Tidak ada jawaban.

__ADS_1


“Heyy... jangan bercanda Kapten Coki. Ini tidak lucu!”


Aku mengguncang-guncang tubuhnya, tetapi tidak ada jawaban. Aku juga memeriksa denyut nadinya. Namun, itu tidak terasa. Keringat dingin pun mulai mengucur deras dari pori-pori tubuhku. Ini mungkin adalah situasi paling buruk setelah aku ditinggalkan ayahku.


Jika aku pergi sekarang, maka kemungkinan besar aku akan diperiksa. Kemungkinan terburuknya, polisi akan menuduhku sebagai tersangka.


Mungkin aku tidak akan dijadikan sebagai tersangka, tetapi akan ada banyak rumor berbahaya tentangku yang nantinya akan menyebar. Satu-satunya hal yang dapat kulakukan adalah, ahh aku benci mengakuinya. Namun aku harus segera menelepon Maya.


Aku meraih ponsel di saku celanaku. Dan segera menelepon gadis tersebut.


Bip....


Setelah bunyi bip yang panjang akhirnya muncul suara yang sedikit kuharapkan.


“Setidak sabar itukah kau ingin bertemu denganku. Saat ini aku sedang berdandan, jadi bisakah kita bicara nanti.”


Oh, itu perkataan narsis yang memuakkan. Namun ada hal penting yang harus kuberitahukan kepadanya.


“May... cepatlah kemari. Kapten Coki tidak sadarkan diri di sini. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Namun sepertinya dia telah meninggal.”


Aku mengatakan kalimat tersebut dengan gemetar. Aku kembali menatap Kapten Coki yang dia membisu. Kuharap dia segera bangun dan kembali berbicara tanpa henti seperti malam tadi.


“Hoho. Hanya semalam kau kutinggalkan dengan dia dan kau membunuhnya. Sepertinya kesehatan mentalmu perlu dipertanyakan.”


Hei, ini bukan waktunya untuk bercanda. Itu lelucon yang buruk untukku saat ini.


“Itu lelucon yang buruk. Aku tidak melakukan apapun. Saat aku mencarinya, aku menemukan dia telah tergeletak tidak sadarkan diri di depan pintu dengan posisi tangan ingin meraih gagang pintu.”


Tidak ada jawaban. Tidak, aku serius, Maya telah memutuskan panggilan setelah mendengarkan penjelasanku. Sekarang apa yang harus kulakukan?


Aku hanya dapat menunggu. Dadaku berdegup kencang. Mau bagaimana lagi, di depanku ada mayat seseorang yang kukenal. Dan aku memiliki kemungkinan untuk dituduh sebagai tersangka.


Ketika aku semakin memikirkan tindakanku selanjutnya, sayup-sayup aku mendengar suara sirine berbunyi di kejauhan. Bantuan sepertinya akan datang. Kuharap mereka dapat menyelamatkan Kapten Coki dengan segera.


* * *


Saya pikir dia hanya bercanda dan ingin menjebakku agar segera datang. Namun setelah dia menjelaskan detailnya, saya segera menyadari bahwa Aria telah terjebak dalam kondisi yang menegangkan saat ini. Saya pun segera menutup telepon dan menghubungi Komandan Hans.


Setelah beberapa saat, panggilanku pun dijawab.


“Ada apa nak?”

__ADS_1


Terdengar sebuah sapaan hangat bagaikan seorang ayah kepada anaknya. Mungkin benar kalau dia memang telah menganggapku sebagai anaknya karena berbagai hal. Namun itu hanya anggapan sepihak.


“Bisa kau kirimkan satu regu Kepolisian Militer ke rumah Kapten Coki.”


“Lo kenapa?”


Bisakah dia tidak bertanya dan melakukan apa yang saya katakan?!


Tidak, saya tidak akan mengatakan hal itu, karena bagaimanapun dia adalah Komandan Militer.


“Temanku sepertinya sedang dalam kesulitan. Dan anak buah kesayanganmu sepertinya telah tewas.”


“Apa?!”


Terdengar suara terkejut penuh tanda tanya dari lawan bicaraku di telepon. Yah saya yakin saat ini dia sedang menganalisa yang kukatakan.


Untuk beberapa saat dia diam.


Ini menimbulkan keheningan sesaat yang membuang-buang waktu.


“Apa kau serius?”


Pernahkah saya bercanda? Oh ternyata pernah. Saya pun sedikit menganggukan kepala, meskipun itu tidak akan dilihat olehnya karena kami berkomunikasi lewat telepon.


“Aku serius.”


Itu adalah kalimat singkat yang mengakhiri obrolan kami pagi ini. Saya pun segera bersiap-siap dan bergegas pergi menemui teman saya. Sepertinya pemuda itu harus terjebak dalam situasi genting ini. Yah meskipun ini masih sesuai dengan prediksi saya.


* * *


Tujuh orang prajurit berseragam lengkap dari satuan Kepolisian Militer segera masuk ke dalam apartemen, sementara dua orang berjaga di luar.


Para prajurit tersebut telah dilengkapi dengan bodi armor untuk menghadapi baku tembak. Mungkin ini terlihat berlebihan. Namun mereka mendapatkan perintah seperti itu karena atasan mereka telah mendapatan laporan bahwa salah satu prajurit mereka telah tewas.


Belum dapat dipastikan apakah ini kematian karena penyakit, kecelakaan atau pembunuhan. Namun mereka harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Ini adalah bentuk kedisiplinan mereka.


Masing-masing dari mereka dipersenjatai AK-12. Mendengar nama AK mungkin yang terbesit di dalam pikiran adalah senjata dengan daya tahan bandel dan stopping yang besar. Persenjataan ini digunakan sebagai tindak pencegahan. Apalagi korbannya adalah anggota kepolisian. Dengan sedikitnya informasi yang diperoleh, ada kemungkinan pembunuh berbahaya berkeliaran di kamar. Meskipun nyatanya yang ada hanyalah seorang pemuda biasa dengan garis takdir yang sial.


Ketika mereka berjalan masuk, suara dari sepatu yang mereka kenakan tidak dapat terdengar. Ini karena latihan penyusupan yang telah mereka lakukan di akademi militer selama bertahun-tahun. Dengan cara ini, beberapa penghuni apartemen di lantai atas tidak akan terganggu.


Dan, mungkin mereka tidak akan mengetahui bahwa di gedung yang sama dengan yang mereka tinggali telah terjadi pembunuhan. Aku yakin mereka tidak akan mengetahuinya sebelum mereka keluar dari kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2