Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Kematian Kapten Coki 2


__ADS_3

Semua orang tampak sibuk. Ada personel dari Kepolisian Militer berjaga dengan senjata lengkap, ada tim medis, serta tim forensik. Apartemen ini sangat ramai dibandingkan sebelumnya. Namun tragis, pemilik apartemen ini telah meninggal dunia ini dalam keheningan.


Tim forensik telah menyimpulkann bahwa Kapten Coki telah meninggal pada waktu subuh. Sementara tim medis telah menyelidiki penyebab kematiannya. Yaitu serangan jantung.


Jasad Kapten Coki telah diamankan. Sementara lantai bekas jasad Kapten Coki terbaring telah digambar sketsa tubuh menggunakan benda sejenis kapus yang tidak dapat dihapus kecuali menggunakan zat kimia tertentu. Ini merupakan peralatan forensik terbaru.


Kemudian tentang aku. Aku berada di sebuah kamar yang disiapkan untuk proses interogasi. Oh nasibku yang sial.


"Hei... Jawab pertanyaanku!"


Teriak seseorang.


Dia merupakan personel polisi militer yang sekarang sedang duduk berhadapan denganku. Dia terlihat masih muda. Namun sikapnya sangat berbeda dibandingkan dengan Kapten Coki.


Aku gugup ketika dia berteriak.


"Mo...mohon maaf pak. Pertanyaan bapa tadi apa yah?"


Dia mendengus kesal. "Memangnya kau pikir aku bapakmu!?"


Aku menggeleng.


"Makanya kalo orang bicara tuh dengerin. Jangan ngelamun. Jadi begini, kamu tadi malam ngapain sama Dik Coki."


Dik? Mungkin orang ini kenalannya Kapten Coki. Kupikir sepertinya dia kawan dekatnya atau sejenisnya. Oleh sebab itu dia marah-marah kepadaku. Karena masih ada dugaan kalau akulah pembunuhnya. Meskipun hasil otopsi dari dokter forensik mengatakan kalau Kapten Coki terkena serangan jantung.


Untuk pertanyaannya tersebut, walaupun aku sedikit kesal dengan sikapnya, aku pun menceritakan semua yang kulakukan bersama kapten Coki tadi malam. Bahkan aku pun memberikannya informasi tentang keadaan kamar Kapten Coki yang berantakan.


Personel itu mengangguk-angguk kecil ketika aku selesai bercerita. Sepertinya dia tidak meragukan ceritaku. Terlihat mendesah pelan, dia kemudian berguman kecil.


"Sepertinya anak itu belum berubah. Seharusnya dia segera mencari pasangan."


Jadi itu yang dia sesalkan atas kematian Kapten Coki?


"Yah aku sendiri berharap dia segera punya pasangan. Dia tampan dan punya pendapatan tetap untuk menunjang ekonomi keluarga. Seharusnya ada seseorang di luar sana yang tertarik kepadanya. Jika dia berkeluarga, mungkin keadaan apartemennya ini tidak akan seperti ini."


Mata personel yang menginterogasiku ini terlihat berbinar


"Yah sayang, dia telah meninggal sebelum merasakan kebahagiaan seperti itu."


Obrolan kami pun semakin dalam. Aku merasakan hubungan yang dekat dengan personel ini. Dia banyak menceritakan pengalamannya saat masih satu regu dengan Kapten Coki.


Ngomong-ngomong, personel yang menginterogasiku ini bernama Roy.


* * *


Satu jam telah berlalu. Dari luar seorang personel polisi militer bergegas masuk diikuti sekelompok personel lainnya. Dari kelompok tersebut aku melihat Komandan Han dan kseorang gadis di sampingnya. Gadis tersebut terlihat begitu anggun di balik baju kasualnya yang berwarna putih. Mereka tampak akrab.


Aku dapat melihat kilauan keemasan di matanya saat mata kami bertemu.

__ADS_1


Tunggu?!


Dia Maya? Dia tampak berbeda. Aku mengingat dia berdandan sebelum dia kemari. Kupikir itu hanyalah basa-basi bagian dari leluconnya yang buruk. Namun, sepertinya dia berdandan dengan serius.


Aku merasa dadaku berdegup kencang. Dia berjalan ke arahku saat Pak Han sibuk mendengarkan laporan dari bawahannya.


"Jadi bagaimana kejadiannya Ar?"


Oh dia langsung ke intinya tanpa sedikitpun basa-basi. Apakah dia tidak berusaha menenangkanku atau memujiku setelah proses interogasi yang melelahkan ini?


Oh sepertinya aku terlalu naif. Mengharapkan sesuatu yang romantis dari Maya seperti menunggu ayam jantan bertelur. Tidak ada gunanya.


Aku pun menceritakan kejadiannya.


"Apakah dia benar-benar terlihat seperti habis memegang gagang pintu luar?"


Dia bertanya setelah kuceritakan semuanya. Aku pun memberikan jawaban dengan anggukan. Dia tersenyum puas. Dia mengalihkan perhatiannya kepada Pak Han.


"Komandan, tolong kemari sebentar."


Dia memanggil Pak Han dengan santai dan menyuruhnya kemari seolah itu perintah. Bukannya marah, Komandan Han justru menurutinya dan tidak lagi peduli dengan laporan bawahannya.


"Ada apa nak Maya?"


Komandan Han terlihat penuh sayang seperti orang tua Maya. Namun, Maya terlihat acuh tak acuh.


Komandan Han mengangguk dan akan segera pergi. Namun Maya segera menghentikan langkahnya. "Satu hal lagi. Cari data penggunaan listrik mereka kemarin dan hari ini."


"Baiklah Nak Maya."


Dengan semangat muda yang seperti terlahir kembali, Komandan Han segera memberikan perintah kepada bawahannya.


Ngomong-ngomong, Roy sekarang diam membeku. Mungkin dia terkejut karena Maya memerintahkan atasannya seenak udel. Yah aku tidak heran.


Aku membayangkan seorang siswa memerintah Kepala Sekolah dengan santai.


Tunggu?!


Aku tidak ingin membayangkan skema dimana Maya memerintah Kepala Sekolah seperti yang dia lakukan kepada Komandan Han.


"Ba...bagaimana kau dapat memerlakukan Komandan Han dengan santai seperti itu."


Akhirnya Roy bergumam pelan setelah beberapa saat diam seribu bahasa.


Maya mengedikkan bahu tanpa ada tanda kalau dia akan menjawab pertanyaan itu. Dia juga hanya melirik Roy sekilas sebelum matanya yang keemasan menangkapku.


"Aria, menurutmu, apakah Kapten Coki meninggal karena sakit?"


Aku mengerikkan bahu. "Mungkin. Penyakit seperti serangan jantung dapat kumat tanpa ad tandanya. Tau-tau penderitanya meninggal aja gitu."

__ADS_1


Maya pun mengeluarkan profil dari Kapten Coki. Dokumen ini mirip dengan apa yang kulihat di kantor Komandan Han kemarin. Dan, sekali lagi Roy terkejut.


"Hey...hey apa-apaan kalian? Bagaimana kalian bisa mengakses dokumen militer?"


Karena Maya tidak memedulikan pertanyaan tersebut, aku pun ikut bermain dengannya dan menganggap itu angin lalu.


Dalam profil ini, Maya menunjukkanku data riwayat penyakit dari Kapten Coki. Disitu dimuat tentang beberapa penyakit remeh seperti flu, dan amandel. Yah penyakit-penyakit tersebut tidak dapat dibandingkan dengan kanker. Itu informasi yang sepele.


Namun dengan data ini aku mengetahui apa yang dipikirkan oleh Maya.


Melihatku menatapnya, dia pun tersenyum nakal. "Sepertinya kau mulai mengerti apa yang kumaksud, kan?"


Aku mengangguk.


"Sekarang biar kutanya sekali lagi, apa kau berpikir Kapten Coki terkena serangan jantung?"


Itu masih mungkin. Namun keyakinanku langsung menurun dibandingkan sebelumnya. Dengan data yang kupegang ini....


"Kecil kemungkinan Kapten Coki terkena serangan jantung."


Ups. Sepertinya isi pikiranku keluar tanpa sengaja. Namun hal tersebut membuat Maya mengangguk puas. Seolah dia menungguku untuk mengatakannya.


"Kau harus ikut bersamaku dalam proses introgasi nanti."


Aku masih memikirkan kemungkinan Kapten Coki dibunuh oleh seseorang sebelum perkataan Maya kutangkap dengan jelas.


""Tunggu? Apa katamu?""


Aku dan Roy berkata secara bersamaan seolah kami tidak memercayai pendengaran kami.


"Haruskah aku mengatakannya lagi. Aku ingin kau ikut bersamaku saat introgasi nanti."


"Kenapa aku harus...."


"Tentu saja. Dua pikiran lebih baik dibandingkan hanya satu."


"Sebenarnya kalian ini siapa?"


Aku dapat menebak siapa yang bertanya terakhir. Namun aku yakin pertanyaan tersebut tidak akan pernah terjawab. Maya menarik lenganku dan membawaku pergi meninggalkan Roy dalam keheningan.


* * *


Afterword


Akhirnya bisa juga nih novel di update 😂. Entah kapan novel ini selesai. Namun yang pasti, cerita dalam novel ini untuk selanjutnya akan dipenuhi fantasi. Yah kan genrenya emang fantasi. Jadi yah harus ada lah fantasinya 🤣


Oke mungkin cukup sekian afterword dari saya sebagai penulis.


see you later ☺️

__ADS_1


__ADS_2