
"Maya, kau adalah ketua OSIS."
Tidak kusangka, aku menyampaikan hal konyol seperti itu. Ini untuk pertama kalinya aku menjawab secara asal. Mata Maya terbelalak karena mendengar jawabanku. Namun, itu hanya sebentar.
"Ahh lupakan saja." Aku segera meralat perkataanku. Tentu saja dia terkejut dengan jawabanku. Sepertinya cara untuk menghapus perjanjian antara aku dan Maya telah pupus.
"Kau benar."
Apa? Jawabanku benar? Padahal, aku menjawabnya secara asal.
"Apa katamu?"
Dia tersenyum. "Padahal kau sendiri yang menyimpulkan hal tersebut. Namun sepertinya kau sendiri terkejut?"
Dia yang selama ini sedikit kuremehkan, menjabat sebagai ketua OSIS? Tentu saja aku tidak ingin percaya. Namun, hati kecilku menyimpulkan hal yang sama. Setiap petunjuk yang ada mengarah kepada hal ini.
Sepertinya aku telah mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya aku tahu. Karena ketidaktahuan, akan membuat kita merasa lebih aman.
"Sebenarnya, aku benar-benar hanya mengalami nasib sial saja saat ini. Yang sebenarnya kuinginkan hanyalah seorang teman dan hidup damai."
Dia menghela nafas panjang. "Lagipula, ada banyak hal dalam kehidupan ini yang lebih penting daripada sebuah nilai."
Tidak kusangka perkataan tersebut keluar dari mulutnya. Senyum di wajah Maya perlahan memudar. Untuk pertama kalinya, aku bersimpati kepadanya.
Namun itu hanya sesaat. Suara langkah kaki terdengar mendekati pintu. Kami berdua saling menatap. Maya menarikku dengan cepat ke dalam lemari di ruangan tersebut.
"Aria! Maya! Apa kalian di dalam?"
Pintu berderit terbuka. Amelia memasuki kamar untuk memeriksa.
* * *
Tempat ini gelap, sesak, penuh debu dan memiliki bau yang tidak sedap. Maya berada di pangkuanku. Helaan nafas kami terdengar pelan bersahut-sahutan. Seolah kami berebut oksigen yang terbatas di dalam sini.
Aku merasa deg-degan. Dadaku berdegup lebih kencang dari biasanya. Aku terkejut saat menyadari wajahnya sangat dekat denganku.
Kami terjebak dalam situasi ini karena pada saat Amelia masuk ke kamar UKS, Maya langsung menarikku dan bersembunyi di dalam lemari.
Amelia masih belum keluar. Dia duduk di ranjang melamunkan sesuatu.
"Cih."
Maya terdengar menggerutu. Dalam kegelapan sayup-sayup terlihat wajahnya yang putih sedikit memerah. Sepertinya dia sedikit kesal dengan tingkah Amelia yang tidak segera pergi. Ada apa dengan situasi ini?
"Shht...." Maya membisikkan sesuatu.
"Apa?"
Maya menyenggolku. "Pelankan suaramu."
"I...iya deh."
Amelia berdiri lalu berjalan ke arah pintu. Sebentar lagi dia akan keluar. Tinggal beberapa langkah lagi.
__ADS_1
"Aria, aku ingin mengatakan sesuatu. "
Aku terkejut. "A...apa?"
Maya mencubitku.
"A...aduh."
"Pelankan suaramu."
"Ba...baiklah."
Aku mengangguk. Hal tersebut menyebabkan kepalaku terbentur dinding lemari. Lemari kami pun bergetar. Suara derit pintu terdengar perlahan, dan sepertinya Amelia kembali.
Debu pun beterbangan.
"Sepertinya aku mendengar sesuatu disini?"
Amelia masuk dan melihat kamar ini dengan seksama.
Tiba-tiba hidungku terasa sangat gatal. Hal ini akibat dari debu yang terkumpul di sini.
"Maya," bisikku. "Aku ingin bersin."
Maya menatap tajam ke arahku. Tentu saja dia marah. Tangannya dengan cepat mendekap mulut dan hidungku. Menahanku agar tidak bersin.
"Tahanlah!"
Maya, maafkan aku!
Amelia masih berada di kamar ini. Dia membungkuk untuk memeriksa di bawah ranjang. Aku berpikir cepat atau lambat sesuatu di hidungku akan keluar dan menyebabkan bencana besar.
Maya menutup mulut dan hidungku dengan erat. Aku bahkan hampir kehabisan nafas karena ulahnya.
Namun, sepertinya apa yang kami berdua lakukan sia-sia. Rasa gatal telah menguasai hidungku. Sesuatu akan keluar.
"Hhaaaachhuuuh...!"
Ah, mati aku!
Amelia berdiri dan melangkah ke depan lemari. Ketika dia membuka pintu, semuanya berakhir.
"Aahhhh!" Dia berteriak. "Apa yang kalian lakukan di situ!?"
Wajahnya merah padam.
Maya memelukku. "Kami sedang bercumbu."
Dengan santai dia menarik kerah bajuku. Dan sesaat kemudian aku merasakan sesuatu yang hangat di bibirku. Aku dapat merasakan bibirnya yang lembut menyentuhku. Dadaku kembali berdegup kencang. Badanku pun terasa semakin panas.
Maya menciumku. Ini ciuman pertamaku. Dan, dia mengambil ciuman pertamaku dengan santai.
"Sebagai anggota komdis, aku akan membawa kalian ke ruang OSIS. Kak Virga pasti akan memberikan hukuman yang layak kepada kalian."
__ADS_1
Aku dan Maya saling menatap.
Amelia menyeret kami dan membawa kami ke ruang OSIS. Dia menarik lengan Maya dan kerah bajuku dengan kuat sehingga kami tidak dapat nelepaskan diri.
Hak tersebut membuat beberapa murid menatap kami dengan penasaran. Ahh tidak, ini memalukan.
"Kak Virgaa!"
Seorang pemuda dengan tergesa-gesa membukakan kami pintu. "Ada apa Mel?"
Amelia menyeretku dengan kesal. "Mereka telah berbuat tidak senonoh!"
"Ti...tidak! Bukan begitu. Ini cuma salah paham."
"Apanya yang salah paham dasar mesum!?"
Kak Virga yang terlihat bingung pun mempersilahkan kami masuk.
Aku tidak pernah memperhatikan betapa besarnya ruangan ini. OSIS memiliki ruangan yang cukup besar. Bahkan di sini terdapat ruangan khusus untuk ketua OSIS yang saat ini digunakan oleh Kak Virga. Di ruang utama terdapat banyak sekali murid yang sibuk dengan tugasnya sebagai anggota OSIS.
Kemungkinan ini terjadi karena isu tentang rencana mengkudeta OSIS telah menyebar dengan cepat. Kak Virga menyuruhku untuk masuk ke ruang ketua OSIS.
Ruang ketua OSIS terlihat lebih kecil dibandingkan dengan ruangan utama. Di sini terdapat meja bundar dan beberapa sofa untuk duduk. Selain itu, di ruangan ini juga terdapat banyak sekali dokumen yang berjejer rapi di lemari.
Aku duduk di antara Maya dan Amelia. Sementara Kak Virga duduk di seberang dipisahkan oleh meja berbentuk oval. Aku dan Amelia saling pandang. Dia menatapku dengan jijik. Sementara Maya hanya terdiam lesu sambil mengetuk-ngetuk meja dengan malas.
"Jadi Amelia, Aria, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi."
Amelia pun menjelaskan situasi sesuai sudut pandangnya. Bahkan dia menjelaskan bahwa aku memangku Maya dengan penuh nafsu. Jujur, hal tersebut separuh benar. Namun tidak semuanya. Dan karena itulah aku dan Amelia berdebat.
"Tolong berhenti!" Seorang gadis di sampingku bersuara memotong seluruh perdebatan kami.
Kak Virga dengan seketika menundukkan kepalanya.
"Ada apa ini?" Amelia bertanya dengan kebingungan. Apalagi melihat respon dari Kak Virga.
Kak Virga lalu menjelaskan situasinya.
"Seperti yang kau tahu. Pihak OSIS dapat menghukum siswa yang bermasalah dan mengeluarkan mereka. Itu wewenang yang besar, bahkan para guru di sekolah ini tidak memiliki wewenang seperti itu. Namun, hukuman tersebut memerlukan persetujuan dari ketua OSIS."
Kak Virga melirik sekilas ke arah Maya. Aku mengerti maksud dari lirikannya. Namun tidak dengan Amelia.
"Lalu, kalau begitu panggil saja si ketua OSIS," jawab Amelia.
"Dia disini." Kak Virga menunjuk ke arah Maya.
Amelia terlihat bingung. Dalam hati aku memaklumi hal tersebut. Aku juga pernah mengalami hal seperti ini, pikirku.
"Aa...apa maksudmu?"
"Amelia, dialah ketua OSIS SMA Rajawali."
Amelia terdiam seribu bahasa. Sementara Maya menggerutu kecil dengan nada malas. Aku yang berada di tengah-tengah mereka hanya dapat berharap kesalahpahaman ini cepat selesai.
__ADS_1