Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Kepolisian Militer Distrik 7


__ADS_3

Pagi pun menyingsing dari ufuk timur. Dan pagi ini aku menatap cermin untuk waktu yang lama. Rambutku yang hitam telah mengkilap setelah aku memakai minyak rambut yang saat ini sedang tren di kalangan anak muda.


Aku mengenakan baju hem lengan panjang, tetapi lengan baju tersebut kulipat sebatas siku. Karena, cara berpakaian ini sedang tren juga sekarang. Satu hal lagi, sebenarnya aku berniat mengenakan celana jeans, namun aku mengurungkan niatku.


Aku kurang menyukai celana jeans. Alasannya sederhana, karena jenis celana tersebut sesak dan tebal sehingga menyebabkan gerah di bagian kakiku.


Aku menatap diriku sekali lagi sebelum akhirnya aku pergi. Dan dengan tergesa-gesa aku berangkat.


Aku tidak ingin membuat Maya menunggu.


Dengan segera, aku melangkah ke tempat pertemuan. Di perempatan jalan dekat lampu merah, seorang gadis berdiri mematung tanpa peduli dengan keadaan sekitarnya.


Gadis tersebut mengenakan pakaian berwarna putih dengan renda yang imut di beberapa bagian bajunya. Sementara di bagian bawahnya, dia mengenakan rok A-line skirt putih yang senada dengan warna bajunya.


Dia membawa sebuah tas kecil dan menyandangnya di bahu. Matanya yang sayu tidak menoleh siapapun yang berlalu lalang di sekitarnya. Sepertinya dia sedang menunggu seseorang.


Tunggu? Bukankah aku yang ditunggu gadis tersebut? Aku segera berlari menuju ke arahnya karena tidak ingin membuat gadis itu menunggu lebih lama.


Tiba-tiba aku menabrak seseorang. Aku pun tersungkur untuk sesaat.


Astaga aku sangat ceroboh! Beberapa orang melihat ke arahku. Beruntung pria yang kutabrak tidak terjatuh.


"Kau tidak apa-apa?"


Pria tersebut melihat ke arahku dengan senyuman ramah. Dia mengenakan sebuah baju mekanik berwarna biru dengan helm ADP seperti di perusahaan batu bara yang pernah kulihat.


Aku mengangguk sambil menyembunyikan rasa maluku. "Maafkan aku."


Pria itu mengangguk. Matanya terlihat sedikit menyipit saat dia melihat ke arahku.


"Hei, bukankah kita pernah bertemu sebelumnya?"


Aku melihatnya dengan lebih seksama. Aku mengingat pria ini. Dia adalah pria yang sama yang kutabrak beberapa hari yang lalu.


Aku kembali menundukkan kepalaku. "Mohon maafkan aku untuk kejadian waktu itu juga."


Pria tersebut menjadi salah tingkah karena sikapku.


"Kau tidak perlu mempermasalahkannya. Jadi jangan terlalu dipikirkan. Oke?"


Dia pria yang baik bagaikan malaikat.


"Aku harus pergi. Jadi sampai jumpa."


Pria tersebut kemudian pergi menuju ke sebuah apartemen dengan santai seperti tidak ada yang terjadi.


Aku menghela napasku. Beruntung, pria itu baik. Jika itu orang lain, mungkin aku akan kena marah. Apalagi bukan hanya sekali, tapi dua kali aku menabraknya karena kecerobohanku.


Di belakangku, aku merasakan aura yang tidak mengenakkan muncul tiba-tiba. Ketika aku berpaling, Maya telah berdiri menatapku dengan tatapan paling sinis yang dimilikinya. Tangannya melipat di depan dadanya yang mungil.


"Tidak kusangka kau begitu ceroboh."


Aku menundukkan kepalaku. Karena, apa yang dia katakan adalah benar. Aku ceroboh sekali.

__ADS_1


"Yah lupakan saja. Aku tidak begitu peduli tentang kejadian hari ini. Selama kau bisa kupakai."


Apa yang dia katakan tadi? Kupikir aku mendengar sesuatu tentang bisa dipakai. Ini seperti aku akan menjadi pionnya. Setelah kupikirkan lagi, selama ini aku sepertinya telah lama menjadi pionnya tanpa kusadari.


"Sekarang ikuti aku."


Dia pun melangkah ke suatu tempat. Dengan pasrah, aku mengikutinya di belakang tanpa tau kemana tujuannya.


Kami tiba di sebuah gedung pencakar langit yang sangat besar. Gedung tersebut memancarkan aura yang mengancam. Di sekitarnya berdiri mondar-mandir beberapa pria berseragam rapi. Mereka adalah anggota dari Kepolisian Militer Distrik 7.


Untuk apa Maya membawaku kemari?


Gadis tersebut yang melihatku berdiri terpesona dengan kemegahan gedung ini segera menarik lenganku.


"Aria, apa kau ingin memainkan sebuah permainan?"


Aku melihatnya dengan bingung. "Permainan apa?"


Maya tersenyum kecil. Dan, melihat dari senyumannya aku dapat menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku menyesal telah bertanya.


"Sederhana. Ayo kita mainkan sebuah teka-teki. Pertanyaannya adalah, Apakah aku dapat melompat lebih tinggi dari gedung ini, atau tidak?"


Terakhir kali aku bertaruh dan aku kalah. Sekarang, tentu saja aku akan menggelengkan kepalaku. Sebelum aku dapat berkata tidak, dia melanjutkan perkataannya.


"Jika kau dapat menjawab pertanyaanku dengan benar, kau dapat mengajukan sebuah permintaan. Namun jika kau gagal menjawabnya, kau harus menuruti satu permintaanku untuk hari ini."


Ahh dia licik.


Ini memang taktik yang selalu dia pakai, dan aku selalu terkena jebakannya. Kali ini pun taktiknya sama. Dia memancingku ke dalam permainan yang tidak mungkin kutolak. Karena hadiahnya adalah dapat bebas dari perjanjian pacaran ini.


"Kuberi kau waktu 3 menit."


Dia menunjuk ke sebuah gedung tinggi. Di gedung tersebut terdapat sebuah jam besar yang saat ini menunjukkan pukul 9 kurang 3 menit. Jadi, jika jam tersebut berdentang, waktuku pun habis.


Aku mengangguk setuju.


Kembali ke pertanyaan Maya, apakah dia dapat melompat lebih tinggi daripada gedung tersebut?


Aku masih belum mengetahui seluruh kemampuan Maya, namun aku dapat dengan jelas melihat bagaimana kemampuan akademiknya saat pelajaran olahraga. Kondisi fisik Maya merupakan kebalikan dari kemampuan berpikirnya.


Jadi, melompat lebih tinggi daripada gedung pencakar langit adalah tidak mungkin. Jika dia berbohong dan menjawab dia dapat melakukannya, maka yang perlu kutanyakan hanyalah buktinya. Jika dia beralasan tidak dapat menunjukkan buktinya, maka itu skakmat baginya.


Aku pun menahan senyumku yang hampir keluar. Aku dengan sedikit bersemangat menjawab pertanyaan gadis tersebut.


"Tentu saja kau tidak dapat melakukannya."


"Yakin?"


"Yap."


"Baiklah. Aku akan mencoba untuk melompat."


Mari kita lihat, setinggi apa dia dapat melompat. Maya bersiap-siap mengambil ancang-ancang. Dia mengangkat sedikit roknya yang cukup panjang dan dia pun melompat.

__ADS_1


Aku hampir tertawa melihatnya mencoba melompat setinggi mungkin. Namun, ketinggian yang dia capai hanya setinggi ujung rambutku. Dan, tentu saja itu masih jauh dari ketinggian dari gedung pencakar langit yang dia tantang.


"Nah, aku menang," ucapnya.


Tentu saja ucapannya tersebut membuatku bingung.


"Maksudmu?"


Dengan santai dan ekspresi wajah yang datar agak lesu dia menjawab. "Aku berhasil melompat lebih tinggi dari lompatan sebuah gedung pencakar langit."


"Tunggu, itu-"


"Jika kau tidak mengakui kemenanganku. Coba kau suruh gedung mana saja untuk melompat lebih tinggi dariku."


Dia menantangku dengan seulas senyum kecil yang menggambarkan kelicikannya.


Tentu saja, tidak ada satu gedung pun yang dapat melompat. Aku pun menyerah dan pasrah dengan kekalahanku. Seharusnya aku tidak menerima tantangannya dan bertaruh.


Untuk sesaat aku kembali memandangi gedung pencakar langit tersebut.


Gedung ini benar-benar seolah mencakar langit tinggi, gumamku dalam hati.


Maya yang melihatku berdiri terpaku dengan tingginya gedung ini segera menarikku untuk masuk. Namun, aku menolaknya dengan lembut.


"Maafkan aku, kau pergi saja duluan. Aku ingin ke toilet."


Dia pun dengan tanpa beban melewati pintu depan dengan santai meninggalkanku di luar. Sementara aku pergi ke sebuah toilet umum di dekat gedung tersebut.


Beberapa menit kemudian, aku telah berada di samping Maya. Seorang pria segera menghampiri kami. Sepertinya pria tersebut merupakan sekuriti tempat tersebut.


"Ada urusan apa kalian kemari?"


Dari nada bicaranya, dia sepertinya meremehkan kami. Meskipun aku tidak menyukai sikapnya, tetapi pertanyaannya telah mewakili perasaanku juga. Untuk apa kami kemari?


"Aku ingin menemui Hans."


Pria yang menanyai kami terkejut. "Ada janji?"


Maya mengangguk. "Dia yang memintaku untuk kemari."


Pria tersebut segera pergi dengan ekspresi tidak percaya. Dan saat dia kembali, dia berdiri di belakang seorang perwira Pol Mil.


Hal tersebut dapat kulihat dari jumlah bintang yang berjejer di bahu bajunya. Juga dari lencana yang terpasang di saku bajunya.


Apa mungkin dia-


"Ahh nak Maya. Senang bertemu denganmu."


Pria tersebut menyalami Maya dengan ceria. Dalam bayanganku, dia mirip dengan seseorang yang kukenal. Dia seperti Kak Virga. Itu hanyalah imajinasiku saja.


Pria itu menundukkan kepalanya. "Terima kasih telah datang."


Aku terkejut.

__ADS_1


"Tidak masalah. Bisakah kita berbicara tentang urusan kita. Bukankah ada kasus yang ingin kau selesaikan?"


Aku dan pria yang tadi sempat meremehkan kami terkejut. Kami berdua tidak dapat menahan rasa penasaran karena Maya begitu berani berbicara seperti itu di depan seorang perwira. Maya menoleh ke arahku dan berjalan pergi. Dengan cepat aku mengikuti langkahnya.


__ADS_2