Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Negosiasi Yang Gagal


__ADS_3

Amelia kemudian menyarankan beberapa cara untuk bernegosiasi dengan kelas yang tersisa. Jika gagal, cara terakhir adalah dengan menggunakan ancaman seperti sebelumnya.


Sambil mendengarkan rencana dari Amelia, saat ini aku kembali memikirkan puisi buatan Maya.


Kesimpulanku sebelumnya hanya dapat memecahkan petunjuk tentang tempat yang telah ditentukan oleh Maya untuk bertemu denganku nanti. Selain tempat, memangnya apa lagi yang biasanya ditentukan oleh kedua belah pihak sebelum bertemu?


Aku mencoba untuk mengubah sudut pandangku ke sudut pandang seseorang yang ingin bertemu dengan orang lain.


Tunggu, bukankah aku sedang dalam pertemuan. Bukankah pertemuanku saat ini sebelumnya telah direncanakan. Sebelum bertemu dengan Kak Virga dan yang lain, aku telah merencanakan tempat untuk bertemu, yaitu kantin sekolah.


Selain hal tersebut, kami juga merencanakan hal lainnya yang diperlukan sebelum bertemu.


Dan itu adalah... waktu untuk bertemu. Waktunya adalah saat istirahat hari ini. Mungkin, inilah yang kurang dari kesimpulanku sebelumnya.


Sebelumnya aku hanya berhasil memecahkan satu tempat yang telah ditentukan oleh Maya untuk pertemuan kami dari petunjuk yang ditinggalkannya. Sekarang, tinggal waktunya. Kemarin malam, aku tidak dapat menemui Maya di toko es krim sekolah karena waktunya yang kurang tepat.


Ketika aku mengingat puisi buatan Maya. Aku teringat satu kalimat. Yaitu, 'Indahnya bulan purnama'.


Itu adalah kalimat pertama dari puisi buatannya. Satu-satunya kalimat yang menunjukkan waktu dalam puisi tersebut hanya ada pada kalimat tersebut. Kupikir, alasannya sederhana. Karena di waktu itulah aku harus bertemu dengan Maya. Yaitu di saat bulan menunjukkan purnamanya yang sempurna.


Dan, kapan tepatnya purnama akan terjadi? Mungkin waktunya adalah pada malam hari di tanggal 15 atau pertengahan bulan. Saat kulihat kalender, tanggal tersebut jatuh pada besok malam.


Akhirnya kesimpulanku berakhir.


Ketika aku tersadar, Kak Virga dan yang lainnya telah melihatku dengan penasaran.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak memperhatikan penjelasanku?!"


Ini gawat!


Amelia telah mengeluarkan aura yang menakutkan. Sepertinya perjuanganku telah berakhir. Aku memasrahkan diri kepada takdir. Kuharap aku dapat selamat dari amukan Amelia.


Tiba-tiba beberapa murid datang menghampiri kami.


"Virga, ketua kami dari kelas 2B ingin bertemu denganmu sekarang juga. Silahkan bawa teman-temanmu juga."


Kami pun dibawa ke meja pertemuan dengan ketua kelas 2B. Ketika kami sampai, Noah dan Leo telah menunggu kami.

__ADS_1


Kenapa para anggota Central itu ada di sini? Apakah rencana kami telah bocor?


Pengkhianatan yang selama ini telah berusaha kucegah, akhirnya terjadi. Siapapun yang telah melanggar perjanjian dengan kami sepertinya telah membocorkan rencana kami.


Apa aku harus menyelidiki seluruh kelas yang tergabung ke dalam aliansi kami? Tidak, jika itu kulakukan dan ketahuan, maka akan terjadi perpecahan dalam aliansi kami.


* * *


Ketika aku melihat Leo dan Noah, aku sadar akan satu hal. Salah satu dari mereka adalah Ketua Kelas 2B yang baru. Sebenarnya Unit Salamander di bawah kepemimpinan Kak Virga telah menyelidiki seluruh data Ketua Kelas, dan tidak ada satupun yang menjadi anggota Central.


Namun saat ini kelas 2B telah mengganti ketua kelasnya dengan salah satu anggota Central. Sepertinya mereka telah mengantisipasi taktik yang kami gunakan untuk membentuk aliansi.


Tentu saja, rencana aliansi akan terhambat dan terganggu jika ada beberapa kelas yang tidak mau bergabung bersama kami.


"Mungkin ini pertanyaan konyol karena aku sudah tau jawabannya. Tapi, ya sudahlah. Apa kau berniat bergabung ke dalam aliansi kami?"


Leo tertawa menanggapi pertanyaan dari Kak Virga. Tidak, sepertinya dia menertawakan kami semua karena tidak berdaya. Kami tidak dapat mengancamnya jika dia memutuskan untuk tidak bergabung. Dan, ini berbahaya.


"Aku tidak seperti ketua kelas lain yang dapat kau ancam seenaknya. Karena aku juga anggota Central."


Bisa saja dia memerintahkan kami untuk membubarkan aliansi dan menawarkan perlindungan oleh Central. Namun, sepertinya itu tidak mungkin. Karena permusuhan antara Kak Virga dan pihak Central adalah hal yang nyata.


"Itu benar, aku tidak mempunyai hak untuk memaksamu bergabung dengan kami."


Kak Virga menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya dia terlihat takut dengan sesuatu.


Aku juga dapat melihat Noah tersenyum penuh kemenangan di samping Leo.


Leo menatap Kak Virga dengan curiga.


"Virga. Kudengar kemarin malam kau telah memasuki sekolahan dengan wewenangmu. Apa yang kau rencanakan?"


Kak Virga membuang muka seolah tidak tahu apapun.


"Itu bukan urusanmu. Lagipula kau tidak mempunyai minat untuk bergabung dengan kami bukan?"


Leo terlihat menahan emosinya. Noah yang berada di sampingnya tampak menahan gerakan Leo yang tersulut emosi. Aku bersyukur karena sepertinya dia berhasil.

__ADS_1


"Baiklah. Kalau itu maumu. Dengan wewenangku, seluruh wewenang OSIS telah kucabut. Termasuk pemberian izin masuk dan keluar."


Noah dengan cepat mengambil alih kemudi pembicaraan. Dengan keputusannya tersebut, OSIS hanya akan menjadi organisasi tanpa tujuan.


Saat ini, organisasi tersebut telah kehilangan banyak anggotanya karena adanya Voting Kelas. Hanya beberapa anggota yang masih bertahan. Termasuk Kak Virga. Namun, dengan keputusan Noah, kupikir tidak ada gunanya untuk bertahan di OSIS.


Rombongan murid dari Central tersebut segera meninggalkan kami tanpa basa-basi dan mengakhiri negosiasi kami yang berujung kegagalan.


Semua terjadi begitu cepat seolah takdir telah menyelamatkanku dari amukan Amelia sebelumnya dengan cara yang tak terduga. Bukan berarti aku merasa bahagia. Hanya saja, hatiku saat ini mulai mempercayai bahwa keajaiban itu nyata.


Lupakan kesenanganku saat ini, kondisi Kak Virga justru sebaliknya. Dia tampak murung.


"Bagaimana ini Aria? Apa yang harus kita lakukan?"


"Kupikir, jalankan saja rencana kita seperti sebelumnya. Karena tujuan awal kita adalah untuk mengurangi pengurangan siswa. Aku juga telah menduga kalau kejadian seperti ini akan terjadi."


Aku tidak dapat berpikir lagi. Meskipun aku bersyukur karena dapat menghindari kemarahan Amelia, aku juga merasa kesal karena rencana yang kususun telah gagal.


Rencanaku setidaknya dapat mengurangi tingkat pengeluaran siswa. Dan jika hanya ada satu kelas yang tidak bergabung dengan kami. Setidaknya hanya ada sekitar 5 orang siswa yang akan dikeluarkan menurut prediksiku.


Namun, ini didasarkan kepada keputusan kelas 2C yang ikut bergabung ke dalam aliansi kami.


Sekarang, aku harus fokus untuk memikirkan rencana untuk menyusup ke sekolah. Karena, saat ini hanya Maya yang dapat membantu kami.


"Kak Virga, jika wewenangmu dicabut, itu berarti kau tidak dapat membantuku seperti kemarin donk?"


Kak Virga mengangguk. "Tentu saja aku tidak dapat memberimu surat izin. Namun, aku tahu jalan rahasia yang dapat kita gunakan untuk menyusup."


Kita?


"Kau yakin mau ikut lagi, bukankah kemarin malam kau...."


Tidak sempat aku menyelesaikan perkataanku, Kak Virga membungkam mulutku.


"Apa yang kau bicarakan Aria? Tentu saja aku akan menemanimu."


Dia berusaha untuk tersenyum tegar di depan Asuna dan Amelia. Jauh di lubuk hatiku yang terdalam, aku bersyukur akhirnya Kak Virga kembali bersikap ceria dan licik.

__ADS_1


__ADS_2