Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Menyusup Ke Sekolah


__ADS_3

Senja telah menghilang di balik cakrawala. Tenggelam bersama cahaya matahari menuju ke ufuk barat nun jauh di sana. Beruntung bulan purnama saat ini sedang bersinar dengan terang sehingga aku dapat melihat dengan kebih baik.


Bermodalkan cahaya bulan dan senter yang remang-remang aku melangkah dengan berjingkit. Di depanku, Kak Virga juga berjalan dengan cara yang sama. Kami melakukan hal ini agar tidak ketahuan oleh para sekuriti yang berjaga dan berlalu-lalang di sekitar sekolah.


Kata Kak Virga, dia mengetahui satu jalan yang dapat digunakan untuk menyusup ke dalam sekolah. Karena itulah, aku mengikutinya.


Kak Virga pun berhenti di samping tembok tinggi yang mengelilingi sekolah.


"Ada apa kak?"


Aku tidak berpikir kalau dia akan menyuruh kami untuk memanjat tembok ini. Selain dindingnya yang licin, tembok ini juga sangat tinggi. Sehingga mustahil bagi kami untuk memanjatnya. Belum lagi ada kawat berduri yang terpasang di atas tembok. Pasti sangat sulit untuk melewatinya.


Di balik kegelapan. Aku dapat melihat senyum puas Kak Virga. "Kita telah sampai."


Yang dia maksud adalah, kami telah sampai di pintu masuk ke dalam sekolah. Ini masih separuh perjalanan.


Dia berjongkok. Di depannya terdapat sebuah lubang untuk masuk ke saluran pembuangan. Kak Virga menutup hidungnya dan terjun ke dalam saluran pembuangan tersebut.


Jalan inilah yang akan kami lalui untuk dapat menyusup ke dalam sekolah. Saluran pembuangan air ini sudah lama tidak diurus. Bahkan mungkin telah terlupakan. Karena itulah, kami memilih untuk melewati jalan ini untuk menyusup ke dalam.


Setelah Kak Virga masuk, aku pun meloncat masuk menyusulnya. Di dalam sini gelap dan lembab. Lumut tumbuh dengan bebas di dinding saluran ini. Karena bentuknya yang melingkar di penuhi oleh lumut, jalannya pun menjadi licin.


Sebaiknya aku berhati-hati melewati jalan ini. Cahaya yang kami punya hanyalah senter kepala yang kami pakai. Bau busuk menyengat dari berbagai sampah dan limbah yang tidak terurus.


"Kak Virga, apa benar ini jalannya."


Kak Virga diam mematung.


"A...Aria, kupikir sebaiknya kita kembali saja."


"Kenapa?"


Aku bingung. Kami sudah setengah perjalanan untuk menyusup ke sekolah.


Kak Virga gemetar. "Aku baru menyadarinya. Aku takut kegelapan."


Aku menghela nafasku. "Aku akan melanjutkan perjalanan. Kau dapat kembali."

__ADS_1


Dengan cepat kami bertukar posisi. Sekarang, aku berada di depan dan melangkah maju, sementara Kak Virga kembali ke luar.


Aku tidak dapat menyalahkannya, sebab tempat ini memang menakutkan. Jika ada hantu yang muncul, aku tidak akan terkejut lagi. Karena tempat ini lebih menyeramkan dibandingkan arena rumah hantu yang pernah kumasuki.


Akhirnya aku menemukan jalan untuk keluar. Tutup salurannya sedikit macet. Aku sempat gugup, tetapi dengan sedikit usaha aku mendorongnya agar terbuka. Beruntung, tutup saluran tersebut dapat kubuka.


Ketika aku keluar, aku telah berada di belakang kantin. Selain dari lampu koridor, aku dapat melihat cahaya remang-remang dari toko es krim.


Aku pun mendekat. Pintu toko es krim tersebut tidak terkunci. Di dalam ada seseorang telah menungguku.


Ketika aku masuk, di sanalah dia berdiri seperti boneka. Dia diam tidak bergerak di bawah cahaya lampu yang menyala.


"Maya."


Gadis tersebut mengeluarkan seulas senyum. "Jadi kau telah memutuskan untuk datang."


"Maya, kemana saja kau?"


Aku menghampirinya. Dia tampak lelah. Tiba-tiba dia mendekat ke arahku dan menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Itu adalah isyarat untuk diam. Maya segera mematikan lampu di dekatnya dan menunduk. Aku melihat sekeliling.


Di luar para penjaga sedang berpatroli, aku juga menundukkan kepalaku agar tidak ketahuan.


Itulah jawabannya. Setelah para penjaga menjauh, dia kembali berdiri dengan percaya diri.


"Aria, tidak kusangka kau dapat memecahkan petunjuk yang kuberikan."


Aku menghela nafasku yang masih lelah. "Aku memecahkan isi puisimu dengan susah payah lho. Setidaknya hitunglah ini sebagai bagian dari teka-teki yang harus kujawab untuk kebebasanku."


Maya merasa heran dengan perkataanku. "Bukankah kau telah gagal menjawab pertanyaanku sebelumnya?"


Kali ini, aku lah yang bingung dengan perkataanya. "Maksudmu?"


"Ingat saat aku bertanya tentang akhir dari semua ini. Kau menjawab tidak tahu. Pada saat itulah kau mengucapkan selamat tinggal kepada kebebasanmu."


Aku terjatuh berlutut. Tidak kusangka aku dengan mudah menjawab pertanyaan dari Maya dengan kalimat tidak tahu.


Dia menarik lenganku. Dengan putus asa mengikutinya menuju ke sebuah ruangan di dalam.

__ADS_1


"Aria, coba kau geser lemari ini. Dan pastikan untuk tidak menimbulkan suara."


Aku melihat ke arah lemari yang dia maksud.


"Tidak mungkin aku dapat melakukannya." Lemari tersebut sangat besar dan berisi banyak buku dan arsip.


"Heh dasar lemah."


Maya pun maju dan mendorong sisi lemari tersebut. Aku terkejut karena dengan mudah lemari tersebut bergeser. Sepertinya ada semacam roda yang memudahkan lemari tersebut untuk dipindahkan.


Maya tersenyum dengan bangga. "Nah lemah, bukankah aku kuat."


Aku memalingkan mukaku. Karena, jika aku menanggapinya, dia akan semakin menjadi-jadi. Sekarang ini aku masih belum mengetahui apa yang akan dilakukan dan direncanakannya. Diam adalah pilihanku satu-satunya.


Raut wajah Maya tiba-tiba berubah saat lemari yang bergeser beberapa inci. Aku dapat melihat sebuah pintu tersembunyi di bekas belakang lemari tersebut.


"Aria, berjanjilah kau akan merahasiakan semua yang akan kau lihat nanti dari siapapun."


Aku penasaran dengan apa yang perlu kurahasiakan nanti. Serta alasannya. "Memang kenapa?"


Maya berdecak dengan kesal. "Cih."


Dia terlihat kesal.


"Baiklah aku berjanji."


Dia pun membuka pintu. Suara derit terdengar dari engsel pintu yang berkarat. Pintu ini tampaknya sudah lama tidak dibuka. Ketika pintu terbuka, aku dapat melihat sebuah tangga yang menurun menuju ruang bawah tanah. Sepertinya di bawah sana ada sesuatu yang harus aku rahasiakan.


Maya pun menuruni tangga tersebut. Aku mengikutinya di belakang. Ketika aku hampir sampai di bawah tanah, aku mencium bau anyir yang menyengat. Maya tampak menutup hidungnya.


Dalam kegelapan, Maya berusaha mencari saklar. Ketika lampu menyala, aku terkejut dengan pemandangan yang kulihat. Aku melihat sebuah lorong memanjang. Seluruh lorong ini berwarna putih dengan perabotan yang juga berwarna putih.


Namun, bukan hal itu yang membuatku terkejut. Yang membuatku terkejut adalah warna bercak darah yang menempel di beberapa sudut ruangan dan dinding lorong yang berwarna putih.


"Bersiaplah Aria."


Sikap Maya terlihat tenang. Berbeda denganku yang sudah mulai gugup. Aku menerka-nerka apa yang nanti akan kulihat. Maya berjalan dengan cepat dan memandang setiap sudut seolah dia mengingat masa lalu.

__ADS_1


"Aria, sebenarnya aku dibesarkan di ruangan ini."


Aku terkejut dengan perkataannya. Namun, yang tak kalah membuat rasa terkejutku berada di puncaknya adalah saat aku melihat mayat yang bergelimpangan tak terurus telah menjadi kerangka dan membusuk.


__ADS_2