
Sudah sangat lama sekali novel ini gak update. Hal ini terjadi karena kesibukan kuliahku di dunia nyata yang menakutkan untuk diingat 😫
Jadi untuk memancing semangatku menulis, aku menulis cerita sampingan ini. Yah meskipun cerita utamanya belum selesai sih 🤣
Oke selamat membaca dan Selamat HUT KEMERDEKAAN INDONESIA YANG KE-75.
* * *
Besok adalah Hari Pendirian Negara Federasi Calendsia bersatu atau biasa disebut Hari Pendiri. Tepatnya tanggal 17 Agustus tahun 300 pada kalender Regenerasi. Penanggalan ini disebut Regenerasi karena umat manusia telah berhasil bertahan dari kepunahan masal akibat Perang Besar 3 abad yang lalu.
Setiap sekolah sedang sibuk menyiapkan perayaan untuk besok, termasuk SMA Rajawali. Sebagai sekolah favorit, tentu saja kami akan mengadakan festival besar untuk perayaan besok.
Ngomong-ngomong yang sedang bicara saat ini, yaitu saya, sedang melangkah dengan hati-hati menuju kantin. Tentu saja saya harus waspada kalau-kalau ada guru yang melihat. Saat ini belum waktunya untuk istirahat sehingga tidak ada siswa yang berada di luar. Karena itulah saya harus waspada kalau-kalau ada guru yang melihat.
Ketika saya tiba di kantin, suasana cukup sepi. Yah saya dapat menakluminya jika tidak ada pelanggan. Namun yang menjadi masalah adalah tidak ada seorang pun penjaga kantin. Hanya ada satu gelas kopi hitam di dekat meja kasir.
Bagimana saya memesan?!
Saya berteriak marah di dalam hati. Menggerutu karena perjuangan saya untuk kemari sia-sia.
Saya pun pergi dengan kecewa.
* * *
Kemana perginya Maya?
Ketika kelas berlangsung, tiba-tiba dia menyelinap pergi dengan dalih buang air. Waktunya demikian cepat sehingga aku tidak menyadari rencananya.
Cih, Amelia bakal marah lagi nih kayaknya.
Aku bergumam di benakku. Aku pun segera pergi keluar kelas saat bel istirahat berbunyi. Ketika aku hendak melangkah keluar, aku menabrak seorang siswa.
"Ahh maaf," responku secara spontan.
"Cih."
Aku dapat mendengar decakan sebelum siswa itu pergi. Yah itu salahku jadi aku tidak dapat protes. Ada sedikit noda di sepatunya. Mungkin karena aku menginjaknya secara tidak sengaja. Entahlah siapa yang tahu.
Dia sepertinya sedang tergesa-gesa. Mungkin karena alasan itulah dia marah kepadaku.
Aku pun bergegas pergi. Tujuanku adalah perpustakaan. Saat aku sampai di depan perpustakaan, ada keributan kecil di kantin.
Apa yang terjadi?
Ahh sial. Rasa penasaranku mempermainkanku. Aku pun mengurungkan niatku untuk masuk ke perpustakaan dan menuju ke kantin.
"Apa yang terjadi?" tanyaku pelan.
"Huh kamu rupanya. Sepertinya ada pencurian."
Yang menjawab adalah Asuna dengan nada sinisnya. Ah sepertinya aku dibenci dewi fortuna. Sebelumnya aku tertabrak dan dipandang sinis. Dan sekarang, aku disikapi juga dengan sinis.
Yah sudahlah.
Di dekat mesin kasir yang terbuka, aku melihat Ibu Kantin yang kukenal sedang duduk bersengguguk. Matanya bengkak karena menangis. Di samping mesin kasir ada sebuah cangkir yang berisi kopi hitam penuh. Sepertinya belum ada yang meminumnya.
Dari yang kulihat Ibu Kantin sepertinya telah kehilangan sejumlah uang. Hal ini dapat dilihat dari mesin kasir yang terbuka dan tidak ada yang berinisiatif untuk menutupnya kembali. Itu berarti mesin itu telah kosong.
Setelah mengetahui duduk perkaranya aku pun memandang ke sekitar. Dan mataku bertemu dengan Asuna yang melihatku seolah menunggu susuatu.
"Cepatlah." Matanya seolah mengatakan hal tersebut kepadaku. Alasannya mungkin agar masalah di sini beres sehingga dia dapat memesan makanan secepatnya.
Yah aku mengerti hal itu karena niat para siswa sepertiku kemari yah untuk makan. Kami para siswa jarang membawa bekal, karena itu merepotkan. Lebih efektif untuk membawa uang jajan yang mudah dibawa dan membeli makanan di kantin.
Pandanganku beralih ke arah siswa lain yang tersenyum licik ketika aku melihatnya. Dia adalah Virga yang berada di samping Ibu Kantin.
Oh tidak! Dia menuju ke arahku.
Dia menangkapku tanpa perlawanan yang berarti. Tidak tentu saja aku melakukan perlawanan, tetapi itu sia-sia.
Dia telah berteriak kepada orang-orang untuk menahanku.
Secara spontan murid di sekitarku menahan gerakanku seolah mereka terhipnotis untuk sesaat. Dan, saat para siswa itu sadar dan melepaskanku, dia telah di depanku.
Aku dicengkram kuat oleh tangan Kak Virga. Kemudian dia menarikku keluar dari kerumunan dan membawaku ke ruang pegawai.
"Kau tunggu di sini yah."
Dia tersenyum. Namun matanya tidak tersenyum sedikit pun.
Ruangan pegawai tersebut berada di belakang meja tempat para murid biasa memesan. Dari dalam ruangan aku dapat melihat dengan jelas Kak Virga sedang menenangkan Ibu Kantin yang masih menangis
Beberapa saat kemudian, Ibu Kantin juga masuk ke ruangan tersebut.
"Ibu Maria, berapa uang yang hilang?"
Aku masih dapat mendengar suara isak tangis dari beliau. Dan Virga dengan acuh tak acuh langsung bertanya ke intinya.
Yah menurutku setidaknya dia harus menghibur dan menenangkan Ibu Maria sebelum bertanya.
__ADS_1
Tunggu, sepertinya dia telah melakukannya. Yah sudahlah.
Ibu Maria pun menjawab sambil tergagap. Jumlah uang yang dia sebutkan sekitar satu setengah juta. Dia juga menjelaskan alasan dia meninggalkan meja kasir adalah untuk buang air.
Ah alasan klasik, pikirku. Namun jika itu kenyataan, mau bagaimana lagi?
"...Itu termasuk uang untuk konsumsi lomba besok."
Virga tersenyum sehingga membuat orang bertanya-tanya apa yang membuatnya bahagia.
"Wah gawat itu." Dia menoleh kepadaku. Dia melirikku dengan senyum nakal di wajahnya.
Tunggu, sepertinya aku dapat menebak apa yang sedang dipikirkannya. Ah sial. Aku terjebak dalam situasi yang tidak menguntungkan ini.
"Nah Aria. Apakah kau ingin festival besok berjalan lancar?"
Matanya mengintimidasi. Membuatku mengangguk beberapa kali. Biar bagaimanapun dia tetaplah seorang senior. Apalagi di ruangan ini dijaga oleh beberapa anggota OSIS dan Komite Disiplin atas perintahnya.
"Jadi berhubung kau di sini, aku ingin kau memecahkan kasus ini."
Dia mendekati telingaku.
"Kau bisa, kan?" Dia bertanya, tetapi sepertinya tidak akan menerima jawaban tidak. Karena beberapa siswa telah menjaga satu-satunya pintu keluar.
Jadi sebenarnya, dia memberikan perintah di balik pertanyaannya.
"Aku meminta imbalanku."
Aku memintanya dengan lirih. Karena tidak ada celah untuk menolak, aku hanya dapat meningkatkan keuntungan di sisiku. Menurutku menolak permintaannya juga tidak akan berguna dalam situasi seperti ini.
Dia mengangguk setuju.
Seolah dia telah mengetahui apa yang kuinginkan, dia memalingkan perhatiannya kepada Ibu Maria. "Mohon maaf yah bu. Saya harus meminta Ibu membuat donat dan jajanan lainnya meskipun kondisi anda sedang kacau."
Hei bagaimana dia mengetahui dengan tepat apa keinginanku?! Seolah dia membaca isi hatiku seperti membaca buku.
Ibu Maria yang telah berhenti sesenggukan setelah melihat obrolan kami terlihat bingung. Namun segera mengangguk dan melangkah ke dapur di luar.
Sekarang hanya ada aku, Kak Virga dan bawahannya.
"Kau harus mengungkap kasus ini sampai Ibu Maria selesai memasak. Mengerti?"
Aku hanya ingin mencari Maya. Namun karena keingintahuanku menyebabkan aku terjebak di dalam masalah ini. Ah hatiku rasanya dipermainkan oleh takdir yang kejam.
Aura intimidasi di sini begitu mencekam, membuatku tidak tahan. Aku harus merencanakan sesuatu.
"Itu saran yang lucu? Kau hanya ingin mengurangi jumlah kami di sini bukan?"
Aku menggeleng sekeras mungkin sebagai jawaban. Jika rencanaku ketahuan maka habislah aku. Dia memandangku dengan ragu.
"Kami dapat melakukan hal tersebut jika kau menemukan seorang tersangka. Kami dapat merazia kelas si tersangka itu untuk melihat apakah pelaku bekerja sama dengan orang lain atau tidak. Namun, kau harus menemukan tersangka itu untukku. Jika kami melakukan razia di kelas yang salah. Pelaku akan mengetahui rencana kami dan melarikan diri. Itu juga merepotkan untuk kami jika kami merazia seluruh sekolah."
Aku pun berpikir untuk menunggu jam sampai bel akhir istirahat berbunyi. Namun, sepertinya dia akan dapat mengatasinya. Yah sepertinya aku harus menggunakan otakku lagi.
"Bolehkah aku memeriksa sekitar kasir?"
Kak Virga mengangguk.
"Lakukan semua yang kau perlukan."
Dia menemaniku melakukan pemeriksaaan. Tidak, sebenarnya dia menjagaku agar tidak kabur.
Sebenarnya aku hanya ingin menanyakan tentang kopi hitam di gelas di samping kasir. Karena itu menyebabkan rasa penasaran yang membuatku tidak dapat memikirkan hal lain. Yah rasa penasaran itu juga yang menyebabkan malapetaka ini.
Aku menanyakan air itu kepada Ibu Maria yang sedang memasak di belakangku.
Ngomong-ngomong kantin telah sepenuhnya ditutup sehingga suasana menjadi sepi.
Aku memeriksa secangkir kopi hitam yang ada di samping meja kasir.
"Mengapa kopi ini ada di sini?"
"Oh itu kopi hitam yang kubuat. Aku sangat menyukai aroma kopi hitam."
Untuk seorang wanita dewasa, seleranya membuatku terkejut. Namun kemudian dia mengatakan sesuatu kepadaku.
"...yah meskipun aku tidak meminumnya."
Itulah yang dia katakan. Ini kesempatanku untuk menaiki tangga kedewasaan. Yah bukan berarti meminum secangkir kopi hitam dapat membuatmu menjadi dewasa. Apalagi jika kau menambahkan krimer dan susu.
Ngomong-ngomong aku pun mengambil kopi tersebut. "Boleh aku minum?"
"Silahkan. Aku dapat membuatnya lagi nanti. Toh aroma kopinya juga sudah menghilang."
Aku penasaran dengan rasa dewasa dari kopi hitam. Seperti yang dikatakan oleh Ibu Maria, aroma kopinya telah menghilang. Mungkin karena suhu ruangan.
Aku pun meneguk air itu. Ada sensasi manis, dan pahitnya kopi serta rasa asin yang bercampur menjadi satu seolah itu adalah hal yang paling normal sedunia. Itu hanya sesaat karena sedetik kemudin aku meludahkan semuanya di tong sampah.
Itu rasa paling menjijikan yang luar biasa. Sepertinya aku tidak akan pernah meminum kopi hitam lagi karena rasa itu membuatku trauma.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?"
Ibu Maria dan Kak Virga bergegas mendatangiku.
"Ap... Pehh... Asin."
Kedua orang itu menunjukkan raut wajah penuh tanda tanya.
"Maksudmu?"
Kak Virga pun mengambil gelas di tanganku dan merasakan sendiri sensasi rasa asin dan pahitnya kopi yang menyatu dalam harmoni yang menjijikan.
Namun saat aku mengingat kembali rasa asin yang kurasakan. Itu terasa familiar. Bukan asin garam. Namun sesuatu yang...
"Pehh... Asin" Kak Virga melepeh dan menggerutu. "Kaya ada kecap di dalamnya."
Aku mengangguk. Sepertinya memang itulah rasa yang kuingat di dalam kopi tersebut.
"Ibu Maria, saat kau tiba di sini apakah ada sesuatu seperti kopi yang berceceran?"
"Yah sepertinya begitu. Ada air kopi yang berceceran di lantai. Karena berantakan maka aku mengepel dan membereskannya."
Ahh pantas saja.
"Ini hanya dugaan saya. Namun sepertinya pelaku yang mencuri uang kas kantin tau betul kalau ibu tidak meminum kopi yang ibu buat. Apa ada orang selain kami yang mengetahui kebiasaan Ibu ini? Karena saya merasa pelakunya ada di antara mereka"
"Ahh sepertinya begitu. Ada beberapa siswa yang Ibu tidak ingat. Yah yang kuingat hanya Maya. Karena dia datang kemari saat jam pelajaran. Oh ada juga beberapa siswa berandalan seperti Muji, dan kawannya yang satunya."
Maya memang nakal. Namun dia tidak akan bertindak kriminal. Setidaknya aku yakin dia bukan pelakunya. Jadi jelas yang lain dapat menjadi tersangka.
"Maya memang nakal. Namun dia tidak akan bertindak kriminal. Setidaknya aku yakin dia bukan pelakunya. Jadi jelas yang lain dapat menjadi tersangka."
Itu perkataan Kak Virga. Persis seperti dia menyalin ucapannya dari pikiranku.
Aku menatapnya dengan kecurigaan bahwa dia memiliki kemampuan membaca pikiran. Namun, akhirnya aku tidak mempermasalahkannya dan kembali memikirkan kasus di depanku.
Aku akan menyusun informasi tentang kasus ini agar semuanya tampak jelas.
"Jadi bagaimana Aria, apa kau telah menemukan kesimpulannya?"
Virga bertanya dengan penuh harap.
Semuanya beres jika aku serius, mungkin perkataan itulah yang tampak dari ekspresiku saat ini. Harapannya terkabul dengan anggukan kecilku. Kemudian aku pun mulai menjelaskan situasinya dari informasi yang kudapatkan.
Tentang kopi yang dicampur dengan kecap, itu mungkin untuk mengelabui penyelidikan, karena petunjuk tentang kopi yang berceceran di lantai hanya kami dapat setelah aku menyadari bahwa kopi itu telah berkurang. Kecap digunakan untuk menutupi kekurangan kopi tersebut sehingga kopi tersebut terlihat penuh seperti biasa. Toh tidak akan diminum juga, mungkin itu yang dipikirkan oleh si pelaku.
Kopi yang berceceran mungkin sedikit sehingga Ibu Maria tidak curiga dan langsung membersihkannya. Secara tidak sadar Ibu Maria telah menghapus jejak si pencuri.
Beruntung ada aku, pikirku dengan sedikit kebanggaan.
Mungkin si pelaku menumpahkan kopi ketika dia mengambil uang di kasir. Mungkinkah...?
"Kak Vir. Tolong razia kelas 1B."
"Hoo? Kau sepertinya mencurigai seseorang?"
Aku mengangguk. "Yah kau bisa melihat setelah pelakunya ditemukan."
Kak Virga pun memberikan perintah kepada para siswa dan bersiap. Segera setelah itu mereka pun bergegas menuju kelas 1B.
Sementara dia sibuk, aku menyelinap pergi. Meskipun aku merasa ada sesuatu yang kurang untuk kubawa. Yah kuharap tidak akan berdampak fatal jika aku melarikan diri sekarang.
Aku menuju ke tempat tujuan pertamaku, perpustakaan. Di sana aku melihat Maya sedang duduk keringkuk di sudut ruangan.
Rambutnya yang agak kecokelatan tergerai sampai ke lantai. Mata keemasannya yang familiar seolah tidak berkedip menatap buku dengan ok khusyu'. Dia begitu fokus ke buku di depannya seolah menganggap dunia tak berharga.
Aku memanggilnya dengan lembut, dengan jeweran di telinga.
"Aa...aduh. Apa-apaan kau Aria?"
Apa dia marah? Nada bicaranya terdengar datar dan malas. Aku benar-benar iri dengannya.
"Cepatlah ke kelas. Kau juga harus bekerja buat besok."
Dia memalingkan wajahnya dengan enggan. Tanpa basa-basi aku menarik lengannya.
"Tsk...."
Dia terlihat memberontak dan menggerutu. Namun kau tahu? Kemarahan Ketua Kelasku, Amelia, jauh lebih menakutkan.
Begitu kami sampai di depan kelas, pihak OSIS yang melakukan razia di kelas sebelah menemukan sejumlah uang di tas seorang siswa. Siswa tersebut adalah Manuk, siswa yang sebelumnya kutabrak. Dan juga teman dekat Muju. Yah semua orang tahu dia dan dua kawannya merupakan berandalan daru kelas 1B.
Aku melihat ada noda di sepatunya. Itu adalah noda kopi hitam yang kemungkinan disenggolnya saat dia mencuri sejumlah uang dari mesin kasir saat Ibu Maria tidak ada di kantin. Karena hanya ada sedikit kopi yang berceceran di lantai, maka dia tidak mempermasalahkannya.
Namun, kopi yang tadinya penuh telah berkurang. Walaupun tidak mencolok, tetap dapat terlihat perbedaannya. Karena itulah dia menambahkan kecap untuk mengisi ruang kosong yang ada di cangkir kopi. Dia tahu kalau Bu Maria tidak akan meminum kopinya, oleh sebab itu dia dengan percaya diri menambahkan kecap tersebut. Yah dia tidak mungkin menyangka, aku akan meminum kopi keramat dengan rasa paling 'unik' sedunia itu.
Ngomong-ngomong acara besok dapat berjalan lancar. Hanya saja ada sedikit penyesalan. Aku melupakan upahku. Dan ketika aku menagihnya ke Kak Virga, dia beralasan kalau aku kabur sehingga upah yang dijanjikannya batal.
Oh akhir yang buruk untukku.
__ADS_1