
Situasi saat ini sangatlah hening. Tidak ada yang berusaha untuk bicara. Yang terdengar hanyalah suara ketukan tangan Maya di meja. Virga memandang kami satu per satu.
"Silahkan selesaikan masalah kalian di sini. Aku akan pergi."
Dia mencoba untuk kabur setelah memberikan informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Karena itulah sebelum dia keluar, aku menghentikannya. Agar dia bertanggung jawab dengan situasi yang dibuatnya.
"Kak Virga, bukankah saat ini ketua OSIS dirahasiakan keberadaannya. Kenapa kau memberitahu Amelia tentang posisi Maya?"
Kak Virga terkejut dengan protesku. "Oh ternyata kau sudah mengetahuinya?"
Aku mengangguk.
"Aku memberitahu Amelia tentang siapa sebenarnya ketua OSIS kita karena Maya sendiri yang menyuruhku. Kau tau, sejak tadi dia seenaknya saja memerintahku berbagai hal dengan isyarat ketukan di meja."
Jadi, sepertinya itu bukan salahnya.
Kupikir ketukan tadi hanyalah keisengan belaka karena bosan. Namun, ternyata dengan cara itu mereka berkoordinasi bahkan saat mengintrogasi kami. Aku tidak akan meremehkan siapapun lagi selama menimba ilmu di SMA Rajawali.
Kak Virga yang kukira ceroboh dan sedikit licik ternyata memiliki kepintaran yang luar biasa karena memahami isyarat kode morse milik Maya. Begitu juga dengan Maya yang kukenal dengan sifat pemalas dan suka membolosnya ternyata malah murid paling pintar dan terpilih sebagai ketua OSIS.
"Baiklah kalau begitu aku akan pergi."
Kak Virga dengan cepat pergi sebelum aku dapat menghentikannya. Suasana di ruang ini menjadi hening. Keheningan ini memekakkan telinga. Aku harus menjelaskan situasinya kepada Amelia.
"Mel."
Amelia melihat ke arahku dengan tatapan kosong. "A...apa? Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Kupikir sebelum kau terkejut lagi, kau harus menenangkan dirimu dan bersiap."
Amelia mengangguk pelan. "Ahh akan kucoba. Namun sepertinya ini tidak akan mudah."
Dia mencoba mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya dengan perlahan.
Sepertinya dia benar-benar syok mendengarkan informasi tadi. Tentu saja aku mengalami hal yang sama saat di ruang UKS tadi.
"Amelia. Apakah kau mau bergabung ke dalam Badan Intelijen OSIS?" Ucapan Maya memecahkan keheningan.
"Se...sekolah kita punya yang seperti itu juga?"
Suara Amelia bergetar. Rasa terkejut sebelumnya sepertinya belum menghilang. Sekarang dia kembali menerima informasi dengan tiba-tiba.
Maya mengangguk. "Jika kau berjanji untuk bergabung bersama kami. Maka akan kuberitahu rencana rahasia kami ke depannya."
Amelia terdiam sejenak. Dia seperti sedang berpikir keras untuk menghadapi situasi ini.
Sementara Maya tetap tenang dengan ekspresi wajahnya yang datar.
"Oh iya, jika kau tidak ingin bergabung, maka kau akan menjalani proses hipnotis sederhana agar dapat melupakan seluruh kejadian yang terjadi pada hari ini. Kebetulan aku dapat melakukannya."
Aku dan Amelia tersentak. Tidak kusangka Maya akan menggunakan ancaman yang mengerikan seperti itu. Menurutku mengutak-atik pikiran orang lain adalah hal yang jahat.
"Aku tidak setuju dengan rencana tersebut."
Maya melihat ke arahku. "Kau tidak dapat menghentikanku."
Tatapannya dingin sekali sampai membuatku takut. Aku sedikit merasa bersalah karena memang tadi salahku yang telah bersin sehingga Amelia mengetahui keberadaan kami.
__ADS_1
Kuharap Amelia memilih untuk bergabung. Karena jika dia menolak untuk bergabung, kemungkinan terburuk yang dapat kupikirkan akan terjadi. Pengendalian pikiran melalui hipnotis itu benar-benar mengerikan.
Aku menatap Amelia dengan penuh harap.
"Baiklah."
Anggukan pelan dari Amelia melegakan hatiku yang cemas. Namun itu hanya sebentar. Dia masih marah.
"Namun sebelum itu, kalian berdua berhutang penjelasan tentang yang terjadi di ruang UKS."
Aku segera membuang muka ketika dia melotot ke arahku.
"Oh itu, bukankah wajar bagi kami melakukan hal ini dan itu sebagai sepasang kekasih?" jawab Maya seenaknya.
Muka Amelia memerah. "Ini dan itu apa?!"
"Ra...ha...si...a." Maya tersenyum.
"Jangan mengatakan hal yang membuat orang salah paham!" Aku mengomelinya.
Setelah puas menggerutu aku melihat ke arah Amelia dan menjelaskan semuanya. Tentu saja untuk masalah perjanjianku dengan Maya tetap kurahasiakan. Beruntung Amelia dengan cepat mempercayaiku.
"Jadi begitu. Ya sudahlah. Aku akan bergabung. Sepertinya aku juga tidak punya kesempatan untuk menolak."
Sekarang aku dapat bernafas lega.
"Lalu Maya, apa rencana rahasia yang tadi telah kau sebutkan?"
"Cih." Maya menggerutu.
"Badan Intelijen OSIS," aku membenarkannya.
Maya membuang muka. "Itu merepotkan."
Tentu saja Amelia marah. Wajahnya memerah. Urat kepalanya terlihat.
Beruntung setelah itu Kak Virga kembali.
"Jadi apa semuanya beres?"
Kami mengangguk.
"Baiklah sudah saatnya aku menjelaskan rencana kita menghadapi Fraksi Noah dan Central."
"Central? Apa lagi itu?"
Setelah penjelasan panjang dari Kak Virga, Amelia mengangguk-anggukan kepala seperti telah mengerti sesuatu.
"Wee~ aku baru tahu kalau ada rencana untuk menggulingkan OSIS seperti itu. Yah sebenarnya itu bukanlah hal yang penting menurutku. Toh dampaknya hanyalah pergantian kekuasaan dari pihak OSIS ke pihak Central. Anggap saja sekarang ini seperti pergantian pemimpin di OSIS sebelumnya."
Kak Virga menggelengkan kepalanya. "Amelia, kau belum mengetahui rencana pihak Central selanjutnya."
"Jadi mereka mempunyai tujuan lain?"
Kak Virga mengangguk lemah. "Ketika mereka berhasil menggulingkan OSIS, hal selanjutnya yang akan mereka lakukan adalah mempertahankan kedudukannya dengan cara mengeluarkan murid yang menentang bagaimanapun caranya.
Saat ini, yang dicurigai bakal menentang Central adalah murid anggota OSIS dan bawahan mereka, Komite Disiplin. Sampai sini kau paham?"
__ADS_1
"Wee~ bukankah itu gawat?"
Amelia bergumam kecil. Perkataannya terlalu pelan sampai aku tidak dapat mendengarnya. Kemudian dia menoleh ke arah Kak Virga. "Aku mengerti."
Amelia sepertinya sudah dapat beradaptasi dengan semua informasi yang diterimanya dari penjelasan Kak Virga. Dia tidak syok lagi seperti sebelumnya.
"Jadi bagaimana rencana kita menghadapi hal tersebut? Sepertinya ini akan sulit."
"Kau akan menjadi agen ganda. Tetaplah berada di komdis bahkan saat OSIS telah dibubarkan nanti," kata Maya. "Aku akan meminta bantuanmu untuk ke depannya."
"Apa maksudnya itu?"
"Lakukan saja. Nanti kau akan mengetahuinya."
Amelia mengangguk setuju.
Tiba-tiba terjadi keributan di ruang utama OSIS. Kak Virga bergerak dengan cepat untuk mengendalikan situasi. Maya pun tidak kalah cepat untuk bergerak mengunci ruangan ini setelah Kak Virga keluar.
Sepertinya dia berniat mengunci ruangan ini agar keberadaan kami tidak diketahui oleh musuh.
"Cih. Tidak kusangka mereka akan bergerak secepat ini." Maya menggerutu dengan suara kecil.
Aku dan Amelia diam membisu. Sementara di luar telah terjadi keributan besar.
"Kami dari Central." Seseorang yang tidak kukenal mulai berbicara. Kami di ruangan ini hanya dapat menguping.
"Kami datang untuk memberitahu kalian bahwa seluruh kegiatan OSIS telah dibekukan. Kewenangan OSIS akan diambil alih oleh kami dari Central di bawah dukungan Divisi Pengembangan Yayasan Kehidupan. Kalian semua kami beri waktu 3 hari untuk mengosongkan ruangan ini."
Sayang sekali kami mengunci diri di sini. Aku tidak dapat melihat kejadian di luar. Sepertinya sesuatu yang menarik telah terjadi.
"Bisakah pihak OSIS tetap memegang wewenang untuk memberi izin masuk dan keluar para siswa. Karena sepertinya organisasi kami hanya dibekukan. Tidak dibubarkan."
Itu suara Kak Virga. Sepertinya dia berniat untuk melakukan negosiasi.
"Baiklah. Aku tidak tertarik dengan hal itu jadi silahkan kalian yang menjalankannya. Kalian dapat memberi izin masuk dan keluar kepada para murid tanpa perlu melewati Central. Namun kami juga dapat membatalkan izin tersebut jika mengancam keberadaan organisasi kami."
"Terima kasih."
"Namun kalian tetap harus mengosongkan ruangan ini secepatnya. Kalian dapat menggunakan gudang di ruang komdis."
Aku dapat mendengar suara tawa dari beberapa murid. Sayup-sayup terdengar pula suara protes dan gerutu.
Di dalam, Maya tersenyum puas. Sepertinya segalanya sesuai dengan yang diinginkannya. Sementara Amelia terlihat pucat.
"Ja...jadi mereka adalah Central yang menjadi lawan kita. Sepertinya mereka terdengar menakutkan."
Beberapa langkah kaki segera meninggalkan ruangan. Setelah keributan mulai mereda, Maya membuka kunci pintu.
Ruang utama OSIS berantakan. Lebih berantakan dibandingkan saat kasus pencurian OSIS dulu.
"Kak Virga. Bukankah ini pelanggaran serius?"
Kak Virga mengedikkan bahu. "Yah tentu saja ini termasuk ke dalam perusakan fasilitas sekolah. Namun wewenang untuk memberikan hukuman ada di tangan mereka. Tentu saja saat ini Komite Disiplin juga berada dibawah naungan mereka."
Dia menoleh ke arah Amelia.
Amelia menghela nafas panjang. "Jadi ini yang dimaksud agen ganda tadi."
__ADS_1