
Teori kak Virga memang bagus. Namun masih dapat dipatahkan. Karena bisa saja Muji membelikan pisau untuk Ibunya.
"Ada apa, Ar? Apakah teoriku salah?"
Aku menggeleng. "Teorimu mungkin tidak salah. Namun kupikir teorimu masih jauh dari kebenaran. Dia mengatakan kalau dia senang Asuna telah dianiaya oleh seseorang seperti ini. Menurutku itu artinya dia bukanlah pelakunya. Dia hanya memiliki dendam kepada Asuna dan tugasmu adalah mengawasinya. Karena kemungkinan besar, dia juga akan melakukan hal yang seperti ini kepada Asuna."
"Jadi begitu. Yah mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki bakat untuk menjadi detektif sih." Kak Virga tertawa kecil.
"Kak Virga, bisakah aku izin sebentar." Aku butuh udara segar untuk menjernihkan pikiranku.
"Asalkan kau kembali." Dia pun masuk kembali ke dalam.
Aku berjalan pelan melintasi lorong dan menuruni tangga sambil memikirkan banyak hal. Tanpa sadar aku sudah berada di depan ruang kelasku. Di ambang pintu aku melihat Maya sedang asik membaca buku misterinya.
Ada sesuatu yang menarik dari buku yang dibacanya. Buku sherlock holmes merupakan buku misteri detektif yang memiliki bahasa yang sederhana. Semua misterinya memiliki petunjuk yang tidak ditutup-tutupi.
Kemungkinan kasus ini mempunyai petunjuk yang serupa. Mungkin di tempat kejadian ada sebuah benda yang tercecer, kode pesan, atau saksi mata yang bertingkah aneh.
Nah itu dia, seruku dalam hati. Jawabannya ada di depan mataku selama ini. Buku detektif itu membuka pikiranku. Petunjuknya ada di kelas B, tepatnya....
"Ar? Mana minumanku?" Aku terperanjat ketika tangan mungil Maya menarik kain bajuku. Kapan dia mendekatiku?
Mata kami saling bertemu untuk sesaat. Karena malu, aku segera memalingkan wajahku.
"Ma...maafkan aku. Setelah ini aku akan membelikannya." Jantungku berdegup kencang. Keringat menetes di dahiku. Aku tidak tahan dengan keadaan ini.
"Baiklah kalau begitu." Gadis mungil itu kembali ke tempat duduknya.
Tunggu, aku menyadari bahwa sebenarnya Maya tidaklah terlalu mungil. Yang menyebabkan dia terlihat mungil mungkin....
Ah sudahlah.
Kuputuskan untuk segera kembali ke ruang OSIS di lantai tiga dengan berlari. Napasku tersengal-sengal. Kak Virga nampaknya telah mengetahui kalau aku akan kembali. Jadi, dia telah menungguku di luar ruang OSIS.
"Jadi, apa kau menemukan petunjuk?"
"Ya. Aku menemukannya."
"Coba kau jelaskan kepadaku siapa si pelaku
ini dan bukti apa yang kau dapat."
Aku berusaha memilah kata yang tepat. "Kak Vir, apa kau ingat tulisan angka 26A berwarna merah di lantai kelas B."
__ADS_1
"Iya aku ingat."
"Seingatku di buku misteri seperti sherlock holmes, tulisan seperti itu dapat disebut dying message."
"Dying message. Pesan kematian. Wee~ bukankah Asuna belum mati?" Kak Virga menjulurkan lidahnya meledekku.
"Jangan begitu lah kak. Kau pasti mengerti maksudku."
Kak Virga tertawa lebar setelah mengejekku seperti itu.
"Berdasarkan waktunya, kode tersebut muncul di hari setelah insiden penganiayaan, jadi tidak salah lagi kalau kode itu pesan dari Asuna. Lalu apa kau tahu apa artinya?"
Aku belum mengetahuinya. Sudah sampai sejauh ini aku menyelidikinya. Namun, aku merasa buntu. Apa arti 26A itu? Apa itu semacam kode? Atau nomor absen? Rasanya donat yang dijanjikan Kak Virga semakin menjauh hanya karena angka dan huruf tak masuk akal itu.
"Kak Virga, coba kau periksa absen. Siapa nomor absen ke 26 di kelas B?"
Kak Virga menggeleng. "Jika kode itu berarti nomor absen. Maka kau salah. Jumlah murid di setiap kelas telah dibatasi maksimal 25 murid per kelas. Sehingga angka 26 itu sudah melampaui jumlah murid per kelas."
Benar juga. Jika angka 26 itu merupakan nomor absen. Lalu apa arti huruf A setelah angka?
Aku mengintip ke dalam. Di dalam ruang OSIS, interogasi masih berlanjut. Aku melihat Manuk menjelaskan sebutan hinaan yang dilontarkan Asuna kepadanya.
Ada banyak sebutan seperti hitam, dekil, kotor, dan negro bahkan pribumi. Sepertinya siswi bernama Asuna ini tidak memiliki tata krama sama sekali. Yah memang dia orang luar negeri. Jadi dia tidak mengetahui adab di nusantara karena dia orang Jepang.
Jepang. Negro. 26A. Sepertinya semuanya terhubung. Aku berusaha menghubungkan kepingan petunjuk yang kudapatkan.
"Sepertinya aku mengetahui siapa pelaku penganiayaan ini."
Kak Virga terlihat penasaran. "Jelaskan!"
"Tidak perlu kau suruh pun aku akan menjelaskannya."
Aku mengambil napas dalam-dalam dan mulai merangkai kata untuk menjelaskan pecahan petunjuk yang sudah kususun.
"Semua misteri ini terletak pada kode yang ditinggalkan oleh Asuna, yaitu 26A."
Kak Virga mengangguk. "Namun, kita harus memecahkan maksud dari kode tersebut bukan?"
Aku mengangguk. "Sebenarnya kode yang ingin ditulis oleh Asuna Bukanlah 26A."
"Menurutku dia ingin menulis sebuah kata. Dengan singkatan seperti ini, 2GA."
Kak Virga mengernyitkan dahi. "Jadi angka 6 itu sebenarnya huruf G?"
__ADS_1
"Memang teori ini seperti dipaksakan. Namun kupikir dalam keadaan terdesak, sulit rasanya korban menuliskan huruf G dan menuliskan angka 6 jauh lebih mudah."
Kak Virga sepertinya mulai memahami apa yang kumaksudkan.
"kita telah mengetahui pesan sebenarnya dari Asuna. Namun, aku masih belum mengetahui artinya. Apa kau sudah tahu?"
Aku mengangguk. "Setelah aku mengingat bahwa Asuna merupakan orang Jepang. Aku mendapatkan jawabannya."
"Jadi sebelumnya kau bahkan lupa korban berasal dari luar negeri?"
"Sebenarnya aku bahkan hampir lupa nama korban."
Kak Virga tertawa lepas setelah aku mengatakan hal tersebut.
"Tidak dapat kupercaya. Orang sepertimu menarik perhatiannya."
Aku? Menarik perhatian siapa?
"Bisa kuteruskan?"
Setelah cukup lama. Kak Virga dapat kembali tenang.
"Jadi angka dua dalam bahasa Jepang berarti ni. Sehingga pesan yang ditinggalkan oleh Asuna adalah Niga, atau harus kusebut nigga. Karena dia sedang terluka, dia menyingkat tulisan dari kata nigga tersebut sehingga menjadi 2GA."
"Nigga? Memang apa artinya itu?"
"Nigga secara singkat adalah olok-olokan untuk Negro. Istilah ini populer di Amerika dan luar negeri. Menurutmu siapa yang pernah dihina Asuna dengan sebutan Negro?"
"Aku mendengar dari Manuk kalau Asuna melontarkan hinaan negro kepadanya," kata Kak Virga.
Aku mengangguk. "Aku juga mendengarnya. Asuna, dalam keadaan terdesak pun dia memberikan kita petunjuk dengan hinaan."
Setelah berpikir seperti itu, aku merasa sangat bersimpati kepada Manuk dan para tersangka. Satu-satunya orang yang salah dalam kejadian ini sehenarnya adalah Asuna itu sendiri. Jika sikapnya tidak berubah, mungkin kejadian seperti ini akan kembali menimpanya.
Kak Virga menepuk punggungku. "Tidak masalah. Yang penting dia telah berjuang dengan keras untuk mengirimkan dying messege kepada kita. Kau juga, Aria. Kau telah berjuang keras untuk mengungkapkan kode yang merepotkan ini."
"Boleh aku mendapatkan imbalanku?" Aku menagih janji Kak Virga.
Dia hanya menganggapiku dengan tertawa lepas.
"Haha, aku akan memberikannya nanti. Aku berjanji."
Kuharap dia akan menepati janjinya.
__ADS_1
“Ya sudahlah, aku akan kembali ke kelas. Kau keberatan?”
Kak Virga menatapku untuk beberapa saat. Lalu dia tertawa “Silahkan. Terima kasih, kami sangat tertolong.”