Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Insiden Penganiayaan


__ADS_3

Malam telah tiba dan akhir pekan pun telah berakhir. Dengan rasa penat menjalar di seluruh tubuh. Saya menghempaskan diri ke kasur.


Krink....


Ponsel saya berdering. Walaupun sudah saya lempar jauh-jauh, ponsel itu tetap terdengar dan mengganggu. Dengan enggan saya memaksa tubuh saya untuk bangkit dan mengambil ponsel di meja.


Terdapat beberapa panggilan tidak terjawab dan sebuah pesan.


“Maya, hari ini ada sebuah kasus penganiayaan terhadap siswi kelas 1B. Besok akan dilakukan introgasi. Aku ingin kau membantu OSIS untuk menyelesaikan masalah ini.“


Pesan itu dari Virga, sekretaris OSIS SMA Rajawali. Sejenak saya berpikir. Mungkin akan menarik jika dalam masalah ini saya tidak ikut campur.


“Aku tidak akan membantu. Aku hanya akan mengamati dari jauh.“


Begitulah saya membalasnya. Saya harap Virga setuju dengan keputusan saya. Di saat saya ingin berbaring, tiba-tiba ponsel saya kembali berdering.


"Cih."


Ah, rasa kesal saya sudah tidak tertahankan lagi. Di ponsel saya terlihat nomor tidak dikenal sedang menelpon saya.


"Halo."


"Selamat malam. Kami dari kepolisian militer ingin berbicara dengan anda."


Malam telah larut. Detak jarum jam pun terdengar lebih nyaring dari biasanya. Dalam kesunyian malam, saya menerima telepon dari seseorang yang tidak disangka-sangka.


* * *


Hari ini begitu ramai saat aku tiba di depan kelasku. Terdapat kerumunan orang yang berkumpul di depan kelas 1B, di samping kelasku, Kelas 1A. Ada kejadian apa? Pikirku.


Beberapa murid yang penasaran segera mencari tahu dan melihat ke kelas B dan menyebabkan kerumunan bertambah banyak di depan kelas tersebut. Aku memasuki kelasku. Di sini suasananya hening. Hanya ada seorang siswi yang tak peduli dengan keramaian di kelas sebelah dan duduk dengan tenang. Sayup-sayup suara berisik masih terdengar di kelas sebelah.


"Maya, apa yang terjadi di sebelah?"


Maya menggeleng, "Entahlah. Aku tidak peduli."


Dia memegang buku sherlock holmes di tangan dan mulai tenggelam dengan dunianya sendiri. Melihat buku yang dibacanya tersebut aku jadi mengingat kejadian beberapa waktu lalu, ketika aku memecahkan misteri pertamaku di ruangan OSIS.


Hatiku jadi tergelitik untuk melihat misteri yang nanti akan kutemui di kelas sebelah. Setelah menaruh tasku di meja, aku berjalan ke arah kerumunan murid yang menggila. Menembus kerumunan itu membuatku hampir kehabisan napas.


Di kelas B, aku melihat Bapak Alex dan Kak Virga sedang mengintrogasi tiga orang murid. Pak Alex merupakan salah satu guru yang terkenal garang. Karena itulah, para murid selalu menghindarinya.


Tatapan matanya yang tajam saja sudah membuat bulu kuduk berdiri. Selain itu, dia juga menjadi pembina Komite Disiplin. Beberapa murid yang berjaga di depan kelas 1B kemungkinan merupakan anggota dari Komite Disiplin. Namun, aku tidak melihat Amelia. Sepertinya dia masih belum datang.


Sekilas Kak Virga melirik ke arahku. Dia kemudian mendekat.


“Ahh si detektif, teman Amel, kebetulan sekali.” Kak Virga menarikku dari kerumunan siswa. Beberapa anggota OSIS dan komite disiplin ikut membantunya.


Aku berusaha melepaskan diri. “Hei ada apa ini? Lepaskan aku.”


“Kebetulan kau kemari.”


Sekilas aku melihat tulisan 26A di lantai. Apa itu menunjukkan kelas? Tidak. Bukan itu yang harus kupikirkan. Sekarang yang harus kulakukan adalah lepas dari jerat rencana licik Kak Virga.


Pak Alex terlihat bingung “Vir, siapa dia?”

__ADS_1


“Rahasia.” Virga tersenyum licik. “Oi kalian, bawa murid ini ke ruang OSIS.”


Dua murid anggota OSIS segera membawaku ke ruangan mereka. Kenapa aku dibawa? Aku meronta, berusaha melepaskan diri. Namun cengkeraman dua murid ini begitu kuat. Tanpa sadar aku sudah tiba di depan ruang OSIS.


Ruangan ini terlihat lebih rapi dibandingkan saat terakhir kali aku kemari.


Ruangan ini begitu luas sehingga dapat menampung puluhan siswa saat rapat. Kaca yang pecah minggu lalu pun sudah diganti. Sepertinya keuangan OSIS sudah mulai membaik.


Aku memiliki sedikit rasa penasaran. Kak Virga masih memiliki pengaruh sebagai sekretaris. Seharusnya, setelah kejadian pencurian minggu lalu, dia diberhentikan dari OSIS.


Orang yang kubenci tersebut akhirnya tiba.


“Maafkan aku atas perlakuan tadi.”


“Sebenarnya apa yang terjadi?” Aku menatap tajam Kak Virga.


Dia terlihat cengengesan. "Hey, jangan menatapku seperti itu. Aku jadi merasa bersalah.”


Pak Alex masuk ke ruangan ditemani beberapa murid.


“Ada kasus penganiayaan yang terjadi kemarin. Korbannya adalah seorang siswi yang sekarang di rawat di rumah sakit."


Aku melihat tiga orang diseret masuk secara paksa ke ruangan ini, sama sepertiku.


"Mereka adalah para tersangka pelaku penganiayaan."


Aku mengerti dengan penjelasan Pak Alex. Jadi peristiwa tersebut yang menjadi penyebab terbentuknya kerumunan sisiwa tadi. Sekarang, aku ingin meminta Kak Virga memberikan penjelasan.


“Jadi, apa alasanku dibawa kemari?”


Pak Alex mengernyitkan dahi. “Aku juga ingin tahu. Apakah dia termasuk salah satu tersangka?” Kami berdua kompak menatap Kak Virga.


Aku takut dijadikan tersangka oleh Pak Alex


Kak Virga kembali tertawa kecil, “Dia hanya kenalanku saja.”


Dia mendekati telingaku. “Tolong tunjukkan kepadaku kemampuan detektifmu minggu lalu, jika kau menolak itu menunjukkan kalau kemampuanmu itu hanyalah keberuntungan semata.”


Begitulah bisiknya kepadaku. Dia berusaha memprovokasiku. Namun aku tidak mudah diprovokasi seperti itu. "Maaf Kak Virga, aku tidak mudah diprovokasi. Aku akan pergi."


Kak Virga menahan lenganku. "Akan kuberi imbalan yang pantas kau dapatkan jika kau berhasil menyelesaikan masalah ini."


Setelah penawaran yang diberikannya itu, yang dapat kubayangkan adalah donat manis dari kantin sekolah. Harum serta renyahnya roti dibalut manisnya toping coklat dan seres warna-warni. Aku dapat membayangkan betapa nikmatnya memakan donat itu.


"Ba...baiklah. Akan kubantu. Namun imbalanku adalah donat spesial dari kantin."


Kak Virga mengangguk. "Hanya itu?"


Aku mengangguk.


Virga tersenyum puas. Pak alex memalingkan pandangannya ke arah para tersangka yang duduk di kursi


“Berdasarkan data yang kami dapat, kalian bertiga menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan yang terjadi di kelas B kemarin. Korban bernama Asuna merupakan siswi pindahan dari Jepang. Kalian menjadi tersangka karena hubungan kalian dan korban cukup buruk. Korban pernah beberapa kali mencemooh kalian.”


Hmm, jadi begitu. Motif pelakunya adalah balas dendam. Kupikir motifnya hanya iseng atau justru karena masalah percintaan yang rumit.

__ADS_1


Kak Virga membuka catatannya. “Manuk, kau pernah di cemooh negro oleh Asuna karena rambut ikal dan kulit hitammu.”


Manuk mengangguk. "Itu merupakan pelanggaran SARA."


"Masalah ini dan itu berbeda. Jika kau memang nanti dinyatakan sebagai pelaku, kau tetap akan dihukum."


Aku mengenali murid itu. Dia memang berambut ikal dan berkulit gelap. Sepertinya dia berasal dari Distrik 3 di wilayah timur.


“Lalu Tito, kau pernah disebut Asuna pedofil karena sering bersama gadis dibawah umur.”


Tito menapak meja dengan keras. “Itu adikku!! Aku harus mengantarkan adikku ke sekolah setiap hari. ” Wajahnya merah padam karena marah. Dia terlihat emosi.


“Ehem. Bisa kulanjutkan?" tanya Kak Virga.


Pak Alex dan anggota komite disiplin lainnya mengangguk.


"Yang terakhir adalah Muji, kau pernah dikatakan mirip preman karena penampilanmu yang urakan.”


Muji tersenyum dengan sinis. “Aku bersyukur dia mengalami kejadian ini.”


“Kau tahu, perkataan seperti itu membuatmu lebih dicurigai lagi,” jawab Kak Virga.


“Aku tidak peduli. Aku hanya ingin melihat gadis itu menderita.”


Aku merasakan hawa dendam yang nyata di matanya. Sepertinya gadis bernama Asuna ini memiliki banyak musuh.


Pak Alex melangkah ke depan para tersangka. “Jadi sebelum kalian diintrogasi, apakah ada yang mau mengakui perbuatannya?”


Sejenak semuanya hening. “Baiklah, kalau tidak ada. Lebih baik kita mulai introgasinya,”


perintah Pak Alex


Kak Virga mengangguk. Beberapa anggota Komite Disiplin yang tidak kuketahui ikut membantu menginterogasi para tersangka dengan menanyakan berbagai pertanyaan, seperti apa yang mereka lakukan saat waktu kejadian. Dan begitulah proses interogasi itu berjalan tanpa hasil.


Meskipun begitu, aku mendapatkan banyak pengalaman baru di sini. Aku melihat proses interogasi Pak Alex yang cukup menakutkan. Tatapan matanya benar-benar membuatku takut. Tidak terasa kakiku melangkah ke luar. Aku tidak tahan dengan proses inerogasi yang rumit dan penuh tekanan ini. Otakku berpikir keras mencari pelaku.


Tiba-tiba ponselku berdering.


"Belikan aku minuman di kantin. Aku haus, namun aku tidak dapat ke kantin sekarang karena buku sherlock holmes yang kubaca sangat bagus. – Maya."


Itulah isi pesannya.


Aku mengeluh, “Ternyata aku memang dianggap pembantu olehnya.”


Bukan berarti aku ingin dianggap lebih. Namun, Maya cukup cantik. Seandainya sikapnya tidak menyebalkan, aku mungkin akan senang memiliki hubungan dengannya.


Kak Virga tersenyum menghampiriku. "Apa kau dapat menduga siapa pelakunya?"


Aku menggeleng. “Sepertinya aku memang tidak dapat mengungkapkan siapa pelakunya dengan mudah.”


“Wee~, wajar sih. Kau tidak melihat seluruh proses wawancara para tersangka. ”


Proses wawancara? Mungkin maksudnya adalah proses interogasi di dalam. Menyamakan antara wawancara dan interogasi, itu adalah lelucon yang menakutkan.


"Kak Virga, bisakah kau memberikan pendapatmu tentang kasus ini. Seperti perkiraan siapa pelakunya?"

__ADS_1


“Menurutku sih pelakunya adalah Muji, karena dia sendiri mengatakan bahwa kemarin dia membeli pisau di pasar Minggu. Untuk apa pisau tersebut kira-kira? Dia juga senang karena Asuna tertimpa musibah seperti ini.”


Untuk sejenak aku berpikir. Keraguan muncul di benakku. Teori kak Virga memang bagus. Namun aku ragu kalau memang seperti itu kebenarannya.


__ADS_2