
Beberapa hari kemudian kabar tentang Central menyebar dengan cepat. Seperti air bah yang mengalir tanpa dapat dibendung. Sebagian murid telah menerima keberadaan mereka menggantikan OSIS, bahkan ada yang sampai fanatik mendukung mereka.
Hal ini karena pihak Central menjanjikan keanggotaan terhadap seluruh murid. Setiap siswa dapat menjadi anggota mereka tanpa terikat ketentuan nilai.
Inilah yang membedakan antara OSIS dan Central. Central memberikan angin segar kepada para murid yang memiliki nilai rendah, tetapi ingin menjadi anggota mereka. Dan, tentu saja, banyak murid berandalan yang ingin menjadi anggota Central.
Selama mereka loyal terhadap organisasi, mereka dijanjikan dapat dengan mudah menjadi anggota Central. Namun, semua itu hanyalah janji manis tanpa bukti.
Dukungan terhadap mereka kian meningkat, sementara keadaan OSIS cukup suram. Mereka mengungsi ke gudang tak terpakai milik komite disiplin. Tempat itu berada di samping ruang Komite Disiplin di lantai dua.
* * *
Ini adalah hari senin. Awal yang baru untuk kelahiran Central. Namun, aku tidak terlalu memikirkannya sih karena semua itu tidak berhubungan langsung denganku. Dengan tenang aku pergi ke kantin untuk membeli donat kesukaanku.
Ketika aku menyusuri lorong di antara gedung utama dan Kantin, aku melihat segerombolan siswa bergerumuk di depan papan pengumuman. Sepertinya mereka sedang memperhatikan sebuah pengumuman yang baru dibuat.
Ini akan merepotkan. Jika kerumunan ini menghalangiku, aku akan kehabisan donat kesukaanku. Dengan usaha, aku berusaha menerobos melewati kerumunan tersebut untuk pergi ke kantin.
Namun usahaku sia-sia. Aku malah terseret arus siswa tersebut dan membuatku berada di depan papan pengumuman. Di sana telah tertulis pengumuman dari pihak Central.
Kepada seluruh Murid.
Senin depan, kami dari pihak Central akan mengadakan kegiatan Voting Kelas.
Aturan voting ini sebagai berikut.
a. Setiap murid mendapatkan hak suara untuk memberikan voting kepada murid yang mereka benci. Hak ini disebut Voting Tidak Suka.
b. Setiap murid dapat memberikan voting kepada siswa dari kelas/angkatan yang berbeda.
c. Seorang Murid dengan voting terbanyak di setiap kelas akan dikeluarkan.
d. Anggota OSIS selama masih aktif, tidak memiliki hak voting. Namun dapat di voting oleh murid lain. Jangka waktu terakhir anggota OSIS untuk mengundurkan diri adalah sehari sebelum pengambilan suara.
e. Para siswa anggota Centuri tidak dapat di voting. Namun memiliki hak vote.
Aku terkejut setelah melihat pengumuman tersebut. Ini masalah besar. Kegiatan vote itu tentu saja bertujuan untuk melemahkan organisasi OSIS. Kupikir mereka merencanakan untuk mengurangi jumlah anggota OSIS secara paksa dengan aturan di poin keempat tersebut.
Tentu saja saat anggota OSIS berjumlah nol, organisasi itu akan bubar dengan sendirinya.
"Menarik."
Seseorang bergumam di sampingku. Dia tersenyum seperti seolah segalanya telah menari di telapak tangannya. Dialah Maya.
Aku menepuk bahunya. "Apa kau tidak takut?"
__ADS_1
Maya menunjukkan ekspresi aneh yang lucu. Dia seolah menantang siapapun yang ingin melawannya. Dan tanpa sadar dia menarikku keluar dari kerumunan.
* * *
Perpustakaan sedang mengalami penyusutan pengunjung. Hanya ada beberapa orang siswa yang terlihat berlalu-lalang di sini. Aku duduk di salah satu sudut perpustakaan bersama Maya. Hal ini mengingatkanku tentang peristiwa di sini beberapa hari yang lalu.
Entah kenapa dia lebih suka duduk di lantai dibandingkan duduk di kursi yang tersedia untuk pengunjung.
Keheningan di sini sungguh membuat hati damai. Maya saat ini sedang asik membaca Hamlet, sebuah kisah tragedi berdarah dengan akhir yang sungguh ironis.
"Menurutmu bagaimana cara menghadapi Voting Kelas nanti?"
Dia mengedikkan bahu. "Entahlah. Menurutmu sendiri bagaimana?"
Aku yakin dia merencanakan sesuatu. Namun, aku tidak ingin terlibat.
"Mungkin kami dapat membuat seluruh siswa di kelas untuk memilih murid dari kelas lain. Kami tidak akan membiarkan satu murid pun dikeluarkan dari kelas kami."
Maya mengusap dagunya dengan tatapan mata kosong. "Ide bagus. Tapi itu masih kurang. Murid dari kelas lain bisa saja memberikan voting untuk siswa dari kelas kita."
Dia tersenyum. Ini adalah senyuman termanisnya yang pernah kulihat. Seolah ada aura kewanitaan yang terpancar darinya. Dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya.
"Kau juga harus berhati-hati dari pengkhianatan di kelas. Jika satu orang saja berkhianat dan memberikan voting kepada teman sekelas, akan ada yang dikeluarkan nantinya."
Yang dikatakannya masuk akal. Terlebih aku tidak memiliki kekuatan untuk memaksa semuanya mengikuti ideku. Saat ini ada banyak hal yang harus kupikirkan. Bahkan, jika seandainya kami sekelas kompak tidak memberikan voting satu sama lain. Akan ada yang memberikan voting tidak suka kepada siswa di kelas kami dari kelas lain.
Sebelum melangkah lebih jauh. Aku harus merencanakan sesuatu untuk mencegah pengkhianatan di kelasku sendiri.
"Kau masih bingung?"
Aku mengangguk. "Aku masih memikirkan tindakan pencegahan, agar tidak ada pengkhianat di kelas kita."
Maya tersenyum lagi. Kali ini senyumannya sedikit menakutkan. "Hanya kali ini aku akan membantumu."
"A...apa maksudmu?"
Dia akan membantuku? Sungguh?
"Kau hanya perlu membuat kontrak perjanjian dengan semuanya-"
"Hanya itu?"
Maya mencubitku. "Secara tertulis."
Rasanya nyeri. Cubitannya benar-benar membuatku kesakitan. Memang hal itu karena salahku karena telah memotong perkataannya sehingga aku tidak punya hak untuk marah.
__ADS_1
Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. "Terima kasih Maya."
"Jangan berhenti berterima kasih kepadaku."
Tunggu? Dia menyuruhku untuk tidak berhenti untuk berterima kasih? Aku yakin ada tanda koma pada kalimat tersebut.
Namun, aku merasa bimbang. Tentu saja hal seperti ini akan terjadi. Karena aku berurusan dengan Maya. Kupikir aku akan berhutang budi kepadanya.
Tunggu sebentar!
Jadi begitu rencananya. Dia ingin membuatku berhutang kepadanya.
Sepertinya aku benar. Sekarang, Maya tersenyum puas setelah melihatku berterima kasih.
"Maya, bisa kau beritahu aku apa rencanamu?"
"Coba kupikir."
Cara berpikirnya terlihat seperti sedang bercanda.
"Mungkin aku akan menghancurkan Yayasan ini sampai ke akarnya."
Sekali lagi aku tersentak kaget.
"Menghancurkan Yayasan? Bukan Central?"
Maya mengangguk dengan senyum kecil seolah rencananya tersebut adalah hal yang biasa saja. Berbeda jauh dengan isi pikiranku saat ini. Aku menoleh ke segala arah untuk memastikan tidak ada yang menguping pembicaraan kami.
"Itu hal yang berbahaya Maya. Kenapa kau mau melakukannya?! Maksudku kau, ingin menghancurkan lembaga yang kedudukannya lebih tinggi dibandingkan sekolah kita sendiri."
"Karena mereka telah mengusik kehidupanku."
Dia menjawabnya dengan dingin.
Namun, aku tetap tidak setuju dengan tindakannya. Aku mengkhawatirkannya walaupun hanya sedikit.
"Jangan lakukan hal yang berbahaya. Karena di sini, aku mengkhawatirkanmu." Tanpa sadar aku menggenggam tangannya.
"Jika kau menghancurkan Yayasan, akan banyak pelajar di sekolah kita yang menderita dan kehilangan tempat yang dapat mereka sebut sebagai rumah."
Aku memikirkannya. Ada beberapa pelajar yang tidak mempunyai rumah. Mereka masuk ke sekolah ini hanya karena pihak sekolah menyediakan asrama.
Jika Yayasan Kehidupan dihancurkan oleh monster kecil ini, maka akan ada banyak para pelajar yang akan kehilangan tempat tinggal mereka.
Maya menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Menurutmu, akankah semuanya berakhir tragis seperti Hamlet, atau berakhir seperti The Tempest?"
Aku menggeleng tidak tahu, karena memang aku tidak dapat memprediksi masa depan seenak udel. Setelah menyerahkan sebuah amplop, Maya berdiri. Dan tanpa sepatah kata pun, dia pergi meninggalkanku terdiam membisu.