Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Antara 'Aku' dan 'Saya'


__ADS_3

Bel masuk telah lama berbunyi.


Aku berlari, menuruni tangga lalu menyusuri koridor dengan rasa cemas. Namun aku tetap berusaha menyempatkan diri untuk ke kantin karena janjiku kepada Maya.


Sebenarnya aku juga telah yakin bahwa saat ini guru telah masuk ke kelas. Jadi, aku ke kantin dan tidak, itu tidak ada bedanya. Aku tetap terlambat. Dan, seperti dugaanku, Ibu Yuri telah masuk ke kelas. Dia adalah istri Pak Alex.


Ketika aku tiba di kelas, seluruh siswa menatap ke arahku yang berdiri di muara pintu.


“Maafkan aku karena terlambat.”


“Jadi, apa alasanmu terlambat? Tergantung alasanmu, aku bisa saja melarangmu mengikuti pelajaranku seperti Maya.”


Sepertinya aku tidak akan mengikuti pelajarannya. Aku tidak dapat menjadikan kegiatan detektifku di ruang OSIS sebagai alasan. Aku juga tidak dapat menjelaskan bahwa aku baru datang dari kantin.


Tunggu sebentar? Maya juga tidak ada di kelas? Ini aneh. Kemana dia pergi. Bukan berarti aku mengkhawatirkannya. Namun, firasatku tidak nyaman tentang hal ini. Ahh aku tidak memiliki waktu untuk mengkhawatirkannya. Karena sekarang masalah nyata ada di depan hidungku. Bu Yuri menunggu jawabanku.


Keringat dinginku mulai mengucur deras. Aku hanya dapat diam membisu menunggu nasib dengan pasrah. Sekarang, aku merasa takut dengan tatapan tajam dari Ibu Yuri.


“Sebenarnya aku....”


Ponsel Bu Yuri berdering. Aku bersyukur karena benda itu telah menyelamatkanku dari ketegangan ini.


Setelah dia menerima panggilan, sesaat kemudian dia tersenyum. "Katanya kau sudah membantu pihak OSIS. Meskipun mereka tidak menjelaskan bantuan apa yang kau berikan, tetapi mereka sampai menelponku agar kau dapat masuk ke kelasku. Itu berarti kau sudah melakukan sesuatu yang sangat besar bagi OSIS. Kau boleh duduk."


Aku lega. Saat aku akan masuk, Ibu Yuri menyetopku. "Apa itu di tanganmu?"


Ini gawat!! Aku melupakan minuman yang kupegang.

__ADS_1


"I...ini...."


"Kau baru datang dari mana?" Ibu Yuri menatapku dengan tajam. Dia menunggu jawabanku.


Aku merasa sangat gugup. Tatapan dari siswa di kelas seakan menusuk ke hati.


Aku akan mengakui perbuatanku. "Ka...kantin."


Ibu Yuri "Kau tau kan apa hukumannya?"


"Maafkan aku. Aku akan menerima hukuman tidak mengikuti pelajaran Ibu. Pe...permisi."


Aku segera bergegas ke luar kelas dan mencari Maya. Es pada minumannya mulai mencair. Rasa dinginnya bakal hilang jika minuman ini tidak segera kuberikan kepada gadis itu. Sebenarnya dimana dia. Berpikirlah Aria. Gunakan otakmu sekarang. Sebelumnya dia sedang membaca buku, mungkin dia ada di sana.


Aku berlari menyusuri lorong. Akhirnya aku tiba di perpustakaan SMA Rajawali. Tidak ada satupun murid di sini, karena pembelajaran sedang berlangsung. Tidak ada satupun kecuali seorang gadis yang duduk di sudut ruangan. Tubuhnya yang mungil membuat siapapun yang melihatnya ingin melindunginya.


Dia terlihat sedang asik membaca buku novel di tangannya. Aku berusaha duduk di sampingnya tanpa membuatnya terganggu.


"Maya."


"N...nih minumanmu. Aku membelikannya tadi."


Matanya nampak berbinar. "Te...terima kasih."


Dia menutupkan buku ke wajahnya. Jantungku kembali berdegup kencang melihatnya tersipu malu. Sekarang, mungkin adalah waktuku untuk menemaninya. Bukan berarti aku ingin, hanya saja ada teka-teki yang harus kusampaikan kepadanya.


Maya terlihat menghirup napas dalam sebelum akhirnya berkata, "jadi ada teka-teki lagi untukku?"

__ADS_1


Anggukan dariku mengawali pembicaraan. Aku pun menjelaskan kasus penganiayaan yang baru saja kuselesaikan. Namun, tentu saja, mudah baginya untuk memecahkan teka-tekiku.


Sepulang sekolah aku mendapatkan pesan singkat dari Kak Virga.


“Pelaku penganiayaan Asuna ternyata memang Manuk. Ambillah donat di kantin yang telah kubeli. Selain itu, kau juga telah mendapatkan rasa terima kasihku. Kami sangat tertolong. - Virga”


* * *


Hari ini Ibu Yuri yang mengajar. Tentu saja saya membolos kali ini karena pembelajaran Ibu Yuri sangatlah menakutkan. Saya tidak menyukainya. Sehingga saya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan agar dapat membaca novel dengan tenang.


Novel yang saya pinjam dari perpustakaan ini sangat bagus. Baru kali ini saya mengetahui ada banyak hal yang bisa saya dapatkan dari novel.


Saya mulai tenggelam dalam dunia novel yang saya baca. Sayup-sayup terdengar langkah kaki seseorang. Namun saya tidak peduli. Saya pikir itu hanyalah seorang petugas keamanan yang sedang berpatroli.


Saya kembali melanjutkan membaca novel di tangan saya. Adegan serunya baru saja dimulai, saat Holmes pergi ke suatu daerah. Dia menemukan berbagai hal acak yang secara mengejutkan menjadi petunjuk untuk memecahkan misterinya.


"Maya." Suara lembut memanggil saya.


Saat saya menoleh, seorang siswa duduk di samping saya dengan menenteng minuman es. Dia terlihat gugup. Wajahnya pun memerah. Saat mata kami saling bertemu, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya.


Melihatnya gugup ingin membuat saya tertawa. Namun saya berusaha menahannya sekuat tenaga.


Dia menyerahkan minumannya kepada saya. Ah, saya ingat. Saya memang menyuruhnya untuk membelikan saya minuman es.


Sepertinya kegugupannya bertambah. Dan hal itu membuat saya semakin ingin tertawa lepas. Buku yang saya pegang saya tutupkan ke wajah untuk menahan tawa saya.


Perasaan apa ini? Rasanya baru pertama kali saya merasa sesenang ini. "Te...terima kasih."

__ADS_1


Saya harus mengatur napas. "Jadi ada teka-teki untukku?


Dia mengangguk. Saya menikmati waktu ini. Rasanya saya dapat membayangkan diri saya menjadi holmes di buku. Dengan petunjuk yang sedikit, saya harus memecahkan misteri ini. Agar saya dapat menikmati waktu ini sedikit lebih lama.


__ADS_2