
Aku melihat ke pintu. “Karena hanya kau yang dapat keluar-masuk ruang OSIS saat pintu terkunci.”
“Kau menuduhku mengambil uangnya karena hal itu? Seperti yang kita lihat pencuri tersebut menerobos ruangan ini melalui jendela.”
Amelia mengangguk. Saat kulihat dia, mata kami saling bertemu.
“Anu... Amelia, apa yang kau lihat di depan dan di dalam ruangan ini?”
Dia terlihat berpikir sejenak. “Mmm... coba kuingat. Di depan aku melihat kaca jendela yang pecah, dan di ruangan ini ada meja dan kursi yang berantakan.”
“Apakah ada kejanggalan disini?”
“Aku tidak tahu Aria!” Amelia berteriak membentakku. Hal itu membuatku terkejut dan sedikit takut. Tidak, sebenarnya aku sangat ketakutan. Bahkan angin pun enggan menyapa karena dia tahu aku sedang menggigil karena rasa takut.
“Ba...baiklah kalau kau tidak tahu." Aku berusaha menenangkannya. Tubuhku gemetar ketakutan melihatnya marah seperti itu.
"A...aku hanya ingin mengatakan bahwa tidak ada pecahan beling di lantai ruangan ini. Seandainya pencurinya masuk ke ruangan ini melalui jendela, maka seharusnya pecahan beling sudah memenuhi lantai ruangan ini. Jadi yang dapat kupastikan adalah kaca jendela ini sudah dipecahkan dari dalam. Satu-satunya orang yang dapat masuk ke ruangan ini adalah Kak Virga karena dialah yang memegang kuncinya.”
Amelia masih bingung. "Aku masih belum mengerti?"
Aku berusaha menjelaskannya kembali. "Jadi gini Mel, jika pencuri memecahkan kaca jendela dari luar, maka setidaknya ada pecahan kaca di ruangan ini karena dorongan dari luar oleh pelaku. Namun kenyataannya tidak ada sedikit pun pecahan kaca yang berserakan di ruangan ini."
Amelia terpaku dalam diam. "Ahh jadi begitu. Sepertinya aku mulai paham. Kalau begitu Aria, aku minta maaf karena tadi sedikit emosi."
Amelia sepertinya mulai tenang. Namun sebaliknya, aku masih merasa ketakutan.
Kak Virga menengadah menatap langit-langit ruangan dengan tatapan kosong. “Ternyata ketahuan yah.”
Binggo, dia akhirnya mengakui perbuatannya.
“Sebenarnya ada seseorang yang ingin kutolong. Jadi aku benar-benar membutuhkan uang. ”
Kak Virga melihat ke arahku. “Aku akan mengembalikan uang tersebut ke OSIS.”
Kejadian ini membuatku memiliki satu teka-teki untuk kebebasanku dari jerat perjanjianku dengan Maya. Namun, aku tidak ingin orang lain tahu bahwa aku telah bermain detektif-detektifan dengan salah satu anggota OSIS.
Jadi....
“Bisakah kalian merahasiakan kejadian hari ini. Aku tidak ingin menjadi bahan omongan orang lain. Dan kak Virga, kau juga tidak ingin hal ini sampai bocor ke publik bukan?”
Kak Virga mengangguk. Ketika aku melihat ke arah Amelia, dia juga mengangguk. "Yah mau bagaimana lagi, karena pencurinya dari anggota OSIS itu sendiri, komite disiplin tidak akan ikut campur dalam masalah internal organisasi lain."
Untuk sesaat, aku melihat Amelia tertawa kecil.
__ADS_1
“Apa?”
“Tidak ada, aku hanya merasa lucu saat kau bersikap seperti detektif tadi. Sikap tegas bercampur pengecut saat kubentak tadi benar-benar menghibur.”
Dia tertawa sampai air matanya menetes. Aku merasa malu saat dia mengatakannya.
“Tolong lupakan kejadian tadi.”
Amelia menggeleng. “Tidak akan." Dia berlari keluar dan membiarkan rambutnya diterpa angin.
Meskipun ada sedikit keanehan dalam kasus ini, tetapi itu tidak masalah. Aku sudah memecahkan misteri ini, mungkin?
***
Aku mencari Maya di kelas. Dia sedang asyik bermain game di gadgetnya dengan wajah datar. “Ma...Maya!”
Dia menoleh sebentar, dan sepersekian detik kemudian dia kembali ke posisi awal. Sebelum dia kembali tenggelam dalam permainannya, aku menyentuh tangannya.
“apa?”
“Aku menemukan sesuatu yang menarik untukmu.” Aku menarik kursi dan duduk di sampingnya.
“Jika yang kau maksud itu tentang kasus pencurian di ruang OSIS, aku sudah memecahkan masalahnya.”
Aku ingin memastikan, sampai sejauh mana dia mengetahuinya. Dengan enggan Maya menghentikan aktifitasnya. Kemudian dia memejamkan mata sambil mengingat sesuatu.
“Pada kasus pencurian di ruang OSIS itu, mula-mula Si Pencuri masuk lewat pintu dan mengambil uang kas, lalu dia mengunci pintu dari dalam dan keluar lewat jendela dengan memecahkan kacanya, hal ini juga akan membentuk alibi bahwa pencuri masuk lewat jendela setelah memecahkannya sehingga tidak mungkin seseorang yang memiliki kunci ruangan akan dituduh sebagai pencuri. Karena itu kau dapat melihat pecahan beling di luar ruangan OSIS. Pelakunya adalah anggota OSIS itu sendiri.”
Hebat. Dia sudah tahu sampai sejauh itu. Tidak kusangka dia akan menjelaskan urutan kejadiannya serinci itu. “Kau tau hal itu dari mana?”
“Aku melintasi tempat itu tadi.”
Dia hanya melintasi tempat itu dan telah mengetahui kasus pencurian OSIS sampai sejauh ini. Untuk beberapa saat rasa penasaranku muncul. Sebenarnya dia ini siapa?
Ini untuk kesekian kalinya aku kalah darinya. Yang pertama aku dipaksa kalah pada saat Ujian Semester, dan yang kedua, aku gagal memberikan teka-teki yang tidak dapat dipecahkannya. Sepertinya aku memang tidak dapat mengalahkannya.
Aku menghela nafas dan menyiapkan hatiku untuk menerima kekalahan.
“Anu... Maya."
Dia menoleh. "Apa lagi?"
Aku menggeleng.“Ah tidak jadi.”
__ADS_1
Waktuku bersama Maya masih panjang. Jadi, rasa penasaranku ini masih dapat kujawab suatu hari nanti.
* * *
Awan mendung mulai pudar digantikan cahaya. Setelah menemui seseorang, saya menaiki tangga menuju ruang OSIS, karena seseorang mengundang saya secara paksa. Virga, dia adalah kakak kelas yang bodoh dan suka ikut campur urusan saya.
Dia menunggu saya di depan ruang OSIS. Terdapat pecahan beling yang berserakan di depan ruangan tersebut dan kaca jendela yang pecah.
“Biar kutebak, kau mengundangku untuk memecahkan masalah ini,” tunjuk saya ke jendela yang sepertinya kebobolan maling ini.
Virga tertawa. “Haha... seperti yang kuharapkan dari seorang jenius.”
“Jangan memanggilku seperti itu di tengah orang banyak.”
“kenapa? Bukankah kau benar-benar jenius. Melihat dari nilai Ujian Semestermu yang tiba-tiba meningkat, aku yakin kalau kau ingin kepintaranmu dilihat oleh orang lain. Suatu saat akan ada seseorang yang menyadari kejeniusanmu yang sudah setingkat monster itu.”
Dia mungkin benar. Saya ingin seseorang melihat saya. “Aku hanya ingin bermain-main dengan seseorang.”
Virga tersenyum aneh “weh~ aku jadi ingin bertemu dengan orang yang menarik perhatianmu.”
“Dia akan kemari.”
“Aku jadi tidak sabar. Oh iya sebenarnya Ini tentang pencurian uang kas yang dicuri saat bendahara kita keluar sesaat setelah dia menghitungnya. Aku ingin kau menemukan pelakunya.”
Sepertinya ini akan menarik. “Tapi sebelumnya aku punya syarat.”
“Kau benar-benar membuatku kerepotan.” Dia tertawa kecil sebelum akhirnya mengeluh panjang.
Saya tidak peduli dia kerepotan atau tidak.
“Saat temanku datang dan ingin memecahkan misteri ini, Aku ingin kaulah yang mengaku menghitung uang kas, bukan Si Bendahara.”
“Sepertinya kau telah memecahkan segalanya bahkan sebelum aku menjelaskan dengan detail masalah ini. Apakah aku benar?”
“Aku tidak peduli. Dan satu lagi, saat dia menuduhmu sebagai pelaku, berarti dia menuduh Si Bendahara yang mencurinya.”
Melihat lokasi kejadian yang seperti itu dan sedikit informasi dari Virga, ini adalah hal yang mudah untuk dipecahkan bahkan oleh orang biasa sekalipun.
”Semuanya akan terungkap saat si Detektif itu menjelaskannya.”
“Kuharap dia sesuai dengan ekspektasi yang kau berikan kepadaku.”
Tidak perlu berharap. Dia memang sesuai dengan ekspektasinya. Karena dia orang yang telah menarik perhatianku.
__ADS_1