Murid Dari Whiteroom

Murid Dari Whiteroom
Taktik


__ADS_3

Kantin saat ini sedang ramai. Berbanding terbalik dengan perpustakaan yang sepi dan hanya ada tumpukan buku. Di tengah keramaian kantin Aku mendiskusikan Voting Kelas bersama Amelia dan Kak Virga.


"Jadi Aria, bagaimana cara kita menghadapi voting kelas nanti?" Amelia memulai pembicaraan. Dia terlihat sangat khawatir.


"Aku tidak ingin ada teman sekelas kita yang dikeluarkan," sambungnya.


Sejenak aku berpikir. Mungkin akan lebih bagus jika kusampaikan taktik baru yang telah kupikirkan.


Setelah beberapa kunyahan donat, aku pun menyampaikan rencanaku.


"Setiap siswa di kelas kita dapat bekerja sama dan membuat perjanjian dimana kita tidak akan memberikan voting satu sama lain."


Amelia menggebrak meja. "Tetap saja, murid dari kelas lain dapat memberikan voting kepada teman sekelas kita."


Dia membuatku takut. Rasa percaya diriku tiba-tiba lenyap tanpa jejak. Aku lengah karena tidak memikirkannya.


"Mungkin, kita dapat membangun aliansi dengan kelas lain. Semakin banyak kita memiliki aliansi dengan kelas lain, semakin kecil pula kemungkinan siswa kelas kita akan menerima voting dari siswa dari kelas lain."


Namun, rencana ini hanya memperkecil kemungkinan. Tidak menghapuskan kemungkinan pengeluatan sama sekali. Walaupun begitu, kupikir ini adalah rencana awal yang bagus. Setidaknya kelas kami harus memperkecil permusuhan dengan siswa dari kelas lain agar dapat bertahan dengan jumlah murid yang masih utuh. Dan, akan lebih baik lagi jika seluruh kelas bekerja sama untuk menghadapi Voting Kelas nanti.


Kak Virga mengetuk kepalaku. "Jika kalian ingin beraliansi, kelasku siap kapan saja menerimanya. Karena kita memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk mencegah teman kita dikeluarkan."


Amelia yang tadinya terlihat mengkhawatirkan sesuatu, sekarang menjadi sangat bahagia. "Itu ide yang bagus. Dengan begini pasti seluruh siswa di kelas kami akan setuju."


Dia menggenggam erat kedua tangannya seperti sedang berdoa. Matanya berbinar penuh harap.


"Ya...yah akan kuusahakan. Ini juga bakal menguntungkan kelas kami sih," ucap Kak Virga.


Amelia kemudian mengalihkan perhatiannya ke ponsel. Dia menghubungi seseorang.


Dan, beberapa menit kemudian seorang gadis datang menghampiri kami. Matanya sipit, dengan rambut hitam panjang yang tergerai mirip Amelia. Tatapannya dingin, dan tidak ada senyum di wajahnya. Amelia berdiri dan menyambut kedatangannya.


"Semuanya. Perkenalkan dia adalah Asuna. Temanku dari kelas 1B."


Asuna, sepertinya aku pernah mendengar namanya.


Kak Virga menepuk punggungku. "Aria, dia adalah korban dari kasus penganiayaan dua minggu lalu. Kau ingat? "


Kak Virga memberitahuku tentang gadis tersebut seolah tahu apa yang sedang kupikirkan. Jadi, mau apa gadis dengan banyak musuh ini mendatangi kami?


"Heh. Kupikir Amelia hanya mau berteman dengan seseorang yang tinggi derajatnya seperti Kak Virga, ternyata dia juga mau berteman dengan rakyat jelata seperti siswa ini."

__ADS_1


Dia menunjukku. Aku dan Kak Virga saling pandang. Penampilanku memang seperti murid kebanyakan. Aku juga tidak menonjolkan diriku di bidang lain selain pelajaran.


Karenanya dia menganggapku murid biasa. Amelia merupakan anggota komite disiplin, sementara Kak Virga terpilih sebagai sekretaris OSIS karena nilainya. Aku tidak dapat menyalahkannya jika dia menganggapku tidak pantas berteman dengan mereka.


Namun, apa-apaan dengan sikapnya tersebut. Itu berlebihan.


Kak Virga tidak dapat menahan tawanya. "Rakyat jelata ini Sungguh menarik sekali, Kau tahu?


"Cih." Asuna terlihat mendecak. "Aku tidak punya banyak waktu. Cepatlah!"


Dia duduk di samping Amelia.


Amelia pun mengangguk. "Jadi begini. Untuk menghadapi Voting Kelas nanti, kami berencana untuk membuat aliansi dengan banyak kelas."


Asuna mengangguk pelan. "Jadi begitu. Lalu?"


"Apa kau dan teman-teman di kelasmu mau bergabung?"


Asuna menundukkan kepala. "Karena sikapku yang terkadang kasar...."


Kadang?


"Kebanyakan murid di kelasku menjauhiku. Jadi dapat dipastikan, kalau aku akan menjadi target voting tidak suka mereka. Jadi tidak mungkin aku dapat meyakinkan mereka untuk beraliansi dengan kalian."


Kak Virga terkekeh dengan percaya diri.


"Mungkin sudah saatnya kalau Aria menunjukkan sedikit taktik liciknya kepada kita. Aria, dengan ini aku memerintahkanmu untuk mencegah Asuna dikeluarkan."


Dia menepuk bahuku. Sepertinya dia telah terpengaruh oleh suasana suram yang dibuat oleh Asuna. Gadis tersebut benar-benar menakutkan.


"Jangan menyuruhku seenak jidat." Aku memberikan tatapanku yang paling dingin dan menakutkan.


Dan, setelah itu Kak Virga akhirnya meminta ampunanku berkali-kali.


Aku menghiraukannya dan dengan santai mengunyah donat yang tadi kubeli. Sejenak aku berpikir. Tidak ada salahnya untuk membuat aliansi dengan kelas lain, termasuk kelas 1B. Dengan begitu, siswa di kelas kami akan aman dari ancaman pengeluaran.


Namun, apakah tepat menjadikan Asuna sebagai perwakilan kelas 1B? Aku merasa bimbang.


Untuk taktiknya sendiri, mungkin kami harus memancing mereka dengan harapan, kemudian mengikat mereka dengan perjanjian seperti yang dilakukan oleh Maya kepadaku.


"Kita dapat membuat perjanjian aliansi tertulis yang ditandatangani oleh seluruh murid dari kelas 1A dan 2A yang beraliansi, dengan begitu hak suara untuk para murid dapat sepenuhnya berada di tangan kita. Dengan hak suara tersebut, kita dapat mengancam ketua kelas 1B agar mau bergabung dengan aliansi kita."

__ADS_1


Amelia, Kak Virga bahkan Asuna terdiam untuk sesaat.


"Tidak kusangka rakyat jelata sepertinya memiliki taktik yang cukup hebat."


"Yah seperti biasanya, dia selalu memikirkan rencana yang menarik."


Komentar-komentar seperti itu bergumam entah dari mulut siapa. Dan, saat kulihat Amelia, dia merasa puas dengan rencana ini.


* * *


Aku melihat kursi kosong di sampingku. Di jam terakhir ini, Maya menghilang tanpa alasan. Aku merasa sunyi tanpa kehadirannya. Rasanya seolah ada sesuatu yang menghilang. Hatiku bercampur aduk antara rasa kesepian dan penasaran.


Namun, untuk sekarang aku tidak seharusnya memikirkan hal ini. Aku harus fokus. Rapat kelas 1A pun dimulai setelah pembelajaran terakhir selesai. Amelia menyuruh semua siswa untuk tetap di kelas karena ada sesuatu yang akan disampaikannya.


Dia berdiri di depan. Seluruh tatapan siswa mengarah kepadanya.


"Jadi, untuk persiapan Voting Kelas nanti, aku ingin menjelaskan strategi kita."


Semuanya saling menatap dengan penasaran dan penuh pertanyaan.


Setelah penjelasan panjang dari Amelia, para murid di kelas bersorak gembira.


Kekhawatiran mereka sepertinya telah lenyap. Umpan kami berhasil. Meskipun hanya harapan, sepertinya semuanya memiliki keinginan yang sama untuk saling melindungi. Kami, berhasil menyatukan perasaan kami.


Aku merasa sedikit terharu. Dalam diam, aku bersyukur memiliki teman-teman sekelas yang putih hati seperti mereka.


Amelia kembali melontarkan pernyataan.


"Jadi, kelas kita akan membentuk perjanjian tertulis dimana seluruh siswa kelas 1A akan memberikan hak votingnya kepada perwakilan kelas."


Dan perjanjian tertulis pun dibuat. Sebelum pulang, para siswa dengan senang hati menandatangani perjanjian tersebut. Dengan begini, kelas kami memiliki satu suara dengan jumlah 25 suara. Jumlah ini tentu saja akan memberikan ancaman kepada kelas lain.


Apalagi, kami akan beraliansi dengan kelas 2A, kelasnya Kak Virga. Dan jangan lupa aliansi dengan Asuna dari kelas 1B. Kuharap, para murid di kelas mereka dapat bekerja sama dengan kami.


* * *


Dalam gelapnya malam, seorang murid duduk dengan tenang sambil menikmati secangkir teh di sebuah rumah mewah. Dia adalah Noah, pemimpin dari Central.


Seorang siswa masuk untuk memberikan laporannya. Siswa itu merupakan salah satu pelayan di rumahnya. Dialah kepercayaan Noah.


Siswa tersebut melaporkan tentang gerakan Virga yang telah membentuk sebuah aliansi dengan kelas lain untuk menghadapi Voting Kelas. Noah hanya tertawa kecil menanggapinya.

__ADS_1


"Sepertinya rencanaku akan berjalan dengan lancar."


Malam semakin larut dan tawa Noah pun lenyap ditelan sepi malam.


__ADS_2